Rahasia itu seperti air dalam beton. Selama bertahun-tahun ia bisa diam, tak terlihat. Tapi begitu suhu naik, begitu tekanan datang, ia mencari celah terkecil dan mulai merembes. Tekanan dalam tim Reza naik setiap hari menjelang hari H, dan retakan pertama muncul dari arah yang paling tidak ia duga.
Reza tidak bisa tidur malam itu. Ia kembali ke bengkel pukul dua dini hari untuk memeriksa peralatan, dan menemukan lampu menyala redup di ruang belakang. Nina ada di sana, sendirian, di depan laptopnya, wajahnya disinari layar dalam gelap. Ia tidak mendengar Reza masuk. Dan di layar itu, Reza melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku: bukan denah Sentral Garda. Bukan kode brankas. Melainkan rekening bank. Banyak rekening. Dan di salah satunya, nama yang ia kenal: namanya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan?" suara Reza pelan, tapi cukup untuk membuat Nina terlonjak dan menutup layar dengan satu gerakan refleks.
"Reza. Aku—" Ia menarik napas, dan Reza melihat perhitungan cepat di matanya, perhitungan apakah harus berbohong atau jujur. Nina memilih sesuatu di antaranya. "Aku melacak aliran uang. Pembayaran kita. Aku mau tahu dari mana uang Tuan B datang, supaya kita tahu kita berhadapan dengan siapa."
"Lalu kenapa namaku ada di layar?"
Nina diam sejenak. "Karena aku menemukan sesuatu, Za. Dan aku belum tahu cara mengatakannya padamu." Ia membuka kembali layar. "Rekening pembayaran kita semua sudah dibuat. Dengan nama asli kita. Termasuk kamu. Itu aneh. Klien profesional tidak pernah memakai nama asli. Kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali mereka ingin ada jejak. Kecuali mereka ingin, kalau ada yang salah, polisi menemukan rekening atas nama kita, penuh uang hasil rampokan, dengan tanggal yang cocok. Kita tidak sedang dibayar, Za. Kita sedang dijebak jadi kambing hitam."
Reza menatap layar itu lama. Logika Nina masuk akal, terlalu masuk akal. Tapi ada satu hal yang mengganjal. "Bagaimana kamu bisa masuk ke rekening Tuan B kalau dia sehati-hati ini? Orang yang menyembunyikan wajahnya tidak meninggalkan rekening yang bisa diretas anak buahnya sendiri."
Nina tidak menjawab cukup cepat. Dan dalam jeda itu, retakan kedua terbuka. Reza menyadari sesuatu yang seharusnya ia sadari sejak awal. "Kamu sudah mengenal Tuan B sebelum pekerjaan ini. Iya, kan?"
Wajah Nina mengeras. Lalu, perlahan, runtuh. "Tiga tahun lalu," katanya pelan, "aku terjebak. Pekerjaan yang gagal di Jakarta. Aku berutang pada orang yang sangat berbahaya, dan aku tidak punya cara membayar. Tuan B membayar utangku. Tanpa diminta. Dia bilang suatu hari aku akan berguna." Ia menatap Reza, dan untuk pertama kalinya ada ketakutan murni di matanya. "Pekerjaan ini, dia tidak menawarkannya padaku. Dia memerintahkan. Aku tidak punya pilihan untuk menolak seperti kamu. Dan dia menyuruhku satu hal lagi yang belum kuceritakan."
"Apa?"
"Mengawasimu. Melaporkan setiap gerakanmu. Dia tidak percaya padamu, Za. Sejak awal. Aku adalah matanya, bukan Sigit. Sigit cuma untuk membuatmu mengira matanya ada di tempat yang salah."
Reza merasa lantai bergeser di bawahnya. Ia sudah mengira Sigit adalah pisau yang diselipkan. Ternyata Sigit hanya umpan, dan pisau yang sebenarnya adalah orang pertama yang ia rekrut, orang yang ia kira paling ia percaya karena pernah melindunginya dari polisi.
"Kenapa kamu cerita sekarang?" tanya Reza, suaranya rata, menyembunyikan badai di dalamnya.
"Karena aku tidak mau jadi pisaunya," kata Nina. "Aku menemukan rekening jebakan itu, dan aku sadar dia tidak berencana membayar kita. Dia berencana mengubur kita. Termasuk aku. Orang yang mengubur timnya juga akan mengubur matanya, karena mata tahu terlalu banyak. Aku cerita karena satu-satunya cara aku selamat adalah kalau kamu selamat. Dan satu-satunya cara kamu selamat adalah kalau kamu tahu kebenarannya."
Reza memandang perempuan di depannya. Setengah dari dirinya berkata Nina sedang memainkan permainan lain, membangun kepercayaan baru hanya untuk dikhianati lagi nanti. Tapi setengah lainnya, setengah yang Pak Gun bilang akan membunuhnya, melihat ketakutan asli di mata itu dan ingin percaya.
"Kalau kamu sungguh memihakku," kata Reza pelan, "buktikan dengan sesuatu yang tidak bisa kamu tarik kembali. Bukan kata-kata. Tindakan."
Nina menatapnya, lalu, perlahan, memutar laptopnya menghadap Reza. "Saluran lapor ke Tuan B. Yang dia pakai untuk mendengar setiap rapat kita." Jari-jarinya bergerak, dan di layar terbuka sebuah jendela penuh kode. "Aku tidak akan memutusnya. Kalau kuputus, dia langsung tahu aku berbalik. Tapi aku bisa menyisipkan saringan di sini, di antara mikrofon dan dia. Mulai malam ini, dia tidak lagi mendengar suara asli kita. Dia mendengar apa yang aku izinkan dia dengar." Ia menekan satu tombol. "Sudah. Sekarang antara kita dan telinga Tuan B ada aku. Dan aku berdiri menghadapmu, bukan dia. Kalau ini ketahuan, aku orang pertama yang dia bunuh. Itu buktiku, Za. Aku baru saja menggali kuburku sendiri di depan matamu."
Reza menatap layar itu, lalu menatap Nina. Ia tidak punya cara untuk yakin seratus persen, tidak akan pernah punya, tidak dengan orang seperti Nina. Tapi tindakan itu nyata. Saringan itu nyata. Dan kalau Nina masih bermain dobel, ia baru saja menyerahkan satu kartu yang bisa membuat Tuan B membunuhnya. Pengkhianat tidak melakukan itu. Pengkhianat menjaga semua pintunya tetap terbuka.
"Mulai sekarang," kata Reza akhirnya, "kamu tetap jadi matanya di permukaan. Kamu lapor ke Tuan B seperti biasa, lewat saringanmu. Tapi yang dia dengar adalah apa yang aku ingin dia dengar. Kita ubah matanya jadi mata kita." Ia menatap Nina tajam. "Tapi kalau aku salah mempercayaimu, Nina, kalau saringan ini cuma sandiwara lain, aku ingin kamu tahu satu hal. Aku sudah menyiapkan satu jalan keluar yang tidak diketahui siapa pun, bahkan kamu. Dan di jalan itu, hanya ada tempat untuk satu orang."
Nina menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia melihat Reza bukan sebagai montir tua yang baik hati, tapi sebagai sesuatu yang lebih dingin, yang selamat dari penjara dan pengkhianatan karena selalu menyimpan satu pintu yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun.
Hari H tinggal tiga hari lagi. Dan tim itu, yang sudah retak dari dalam, harus berpura-pura utuh cukup lama untuk membobol sesuatu yang katanya tidak bisa dibobol.