Hari H datang dengan langit tanpa bintang, ditutupi awan tebal yang Joko bilang adalah berkah. "Tidak ada bulan. Tidak ada bayangan tajam. Malam terbaik untuk jadi tidak terlihat." Pukul sepuluh malam, mereka berkumpul di bengkel untuk terakhir kalinya sebelum berpencar. Tidak ada pidato. Reza hanya menatap satu per satu wajah mereka, dan setiap orang membalas dengan caranya sendiri. Joko mengangguk mantap. Pak Gun, sudah dalam kursi roda yang dimodifikasi, tersenyum lelah. Nina menghindari tatapan. Sigit, seperti biasa, tidak menunjukkan apa pun.
Sebelum mereka bergerak, Hendra muncul untuk terakhir kalinya, menyerahkan sebuah kotak logam kecil seukuran kotak rokok kepada Sigit, bukan kepada Reza. "Sidik jari pemilik," kata Hendra datar, seakan menyerahkan kunci mobil. "Cetakan gel, segar, dibuat sumber Tuan B kurang dari dua jam lalu. Sigit yang memegangnya sampai pintu siap. Itu perintah." Reza menatap kotak itu pindah ke tangan Sigit, dan rasa dingin yang sudah ia duga sejak hari-hari survei akhirnya punya bentuk. Lapis ketiga, lapis paling mustahil dari Gunung, sekarang ada di genggaman satu-satunya orang di tim ini yang ia tahu adalah tukang bersih. Tuan B telah menaruh kunci terakhir di tangan algojonya. Bukan kelalaian. Itu desain.
Mereka bergerak.
Pukul sepuluh lewat empat puluh, Joko menurunkan Reza, Nina, Pak Gun, dan Sigit di belakang gedung mekanikal, menyamar sebagai mobil servis pendingin. Kartu akses Pak Darto yang sudah disalin Nina bekerja sempurna pada pintu samping. Mereka masuk ke perut bangunan, ke koridor yang berbau logam dan udara dingin yang diolah mesin. Sigit di belakang, kotak logam di sakunya, mata datarnya menyapu setiap sudut.
Pukul sebelas kurang tiga menit. Celah pergantian sif. Di layar kecilnya, Nina melihat dua belas penjaga berkumpul di pos utama untuk laporan. "Empat menit," bisiknya. "Mulai sekarang."
Reza mendorong kursi roda Pak Gun menyusuri koridor mekanikal. Nina di depan, alat di tangannya menonaktifkan sensor getar satu per satu, lampu hijau kecil di alatnya menjadi nadi mereka. Setiap langkah dihitung. Setiap detik adalah hutang yang harus dibayar dengan ketepatan. Di sinilah, Reza menyadari sambil mendorong roda di lorong dingin itu, dan hanya di sinilah, ia merasa hidup sepenuhnya, bukan rasa takut melainkan kejernihan yang dingin, dunia yang menyusut menjadi hanya tugas di depan mata. Ia mengerti sekarang kenapa ia tidak pernah benar-benar bisa berhenti.
Mereka mencapai tangga darurat. Turun. Bawah tanah satu. Bawah tanah dua. Setiap lantai lebih dingin, lebih sunyi, udara semakin terasa seperti milik tempat yang tidak seharusnya dimasuki manusia. Pak Gun harus digendong di bagian tangga, tubuh ringkihnya nyaris tanpa berat, tapi napasnya memburu. Reza melihat keringat di dahi orang tua itu dan berdoa pada apa pun yang mau mendengar agar jantung itu bertahan beberapa jam lagi.
Bawah tanah tiga. Dan di sana, di ujung lorong yang diterangi lampu darurat berwarna merah samar, berdiri Gunung.
Foto tidak adil padanya. Pintu baja melingkar itu jauh lebih besar dari yang Reza bayangkan, mengkilap tumpul, roda pemutarnya seperti kemudi kapal raksasa. Sesuatu di dada Reza mengencang. Ini dia. Hal yang katanya mustahil. Lima tahun ia menjadi montir, dan tubuhnya tidak pernah lupa momen ini, saat berdiri di hadapan sesuatu yang seharusnya tidak bisa dibuka, dan tahu bahwa hanya tangannya di seluruh dunia yang punya kesempatan.
"Mulai," kata Pak Gun pelan, memasang alat dengar ke telinga Reza. "Pelan, Nak. Gunung tidak ke mana-mana. Yang ketiga berbohong. Dengarkan."
Reza meletakkan jari di roda dingin itu. Logam menyentuh kulitnya seperti jabat tangan dari musuh lama. Ia menutup mata, dan dunia menjadi suara. Gerigi pertama. Klik halus. Putar. Gerigi kedua. Pak Gun bernapas di sampingnya, membaca getaran lewat alat yang sama. "Bagus. Lebih pelan." Gerigi ketiga, yang berbohong, suaranya nyaris menipu, tapi Reza sudah belajar mendengar kebohongan itu. Ia melewatinya. Keempat. Kelima.
Di sebelahnya, Nina sudah mencolok ke kotak elektronik, jari-jarinya menari di papan ketik, layar memantulkan cahaya di wajahnya yang tegang. "Kode dua belas jam... aku dapat. Memasukkan sekarang." Lampu di kotak itu berkedip dari merah ke kuning.
Tujuh menit dua puluh detik. Roda berhenti dengan bunyi berat dari dalam, suara mekanisme yang menyerah. Reza membuka mata. "Roda terbuka. Kode masuk."
"Tinggal dua lapis yang menahan kita," kata Pak Gun. "Time lock, lima belas menit. Dan biometrik." Matanya, yang biasanya jernih meski tubuhnya rapuh, berpindah ke Sigit. Ke kotak logam yang kini sudah ada di tangan besar itu.
Sigit melangkah maju, membuka kotak. Di dalam, di atas bantalan busa, sebuah cetakan gel bening berbentuk ujung jari, garis-garis sidik jari tercetak halus di permukaannya. "Bagian Tuan B," kata Sigit, suaranya datar seperti biasa. "Sidik jari pemilik. Kita tempelkan ke pemindai begitu time lock selesai." Ia menatap Reza dengan mata yang tidak menunjukkan apa pun. "Sumber Tuan B mengambilnya tadi sore. Jangan tanya bagaimana. Kamu tidak mau tahu."
Reza menatap cetakan itu, dan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. Selama berminggu-minggu, lapis ketiga adalah lubang kosong dalam rencananya, satu-satunya bagian yang tidak ia pegang sendiri. Sekarang lubang itu terisi, tapi terisi oleh tangan yang paling tidak ia percaya, pada saat ia paling tidak bisa mundur. Inilah jebakan yang ia ramalkan sejak hari-hari survei, mengambil bentuknya yang sesungguhnya. Bukan kebetulan bahwa orang yang memegang kunci biometrik adalah orang yang dikirim untuk membereskan saksi. Kunci dan pisau berada di genggaman yang sama. Begitu pintu terbuka, Sigit tidak lagi membutuhkan siapa pun.
"Time lock," kata Pak Gun, membaca pikiran Reza dari ekspresinya. "Lima belas menit. Sekarang kita menunggu, dan ini bagian terburuknya. Bukan karena lama. Tapi karena selama lima belas menit ini, kita semua tahu apa yang menunggu di ujungnya."
Lima belas menit. Mereka berdiri di perut bumi, di depan brankas yang sudah menyerah dua lapis tapi belum membuka, dengan dua belas penjaga bersenjata di atas kepala yang sif barunya kini sudah mulai berpatroli, dan satu cetakan sidik jari di tangan seorang tukang bersih. Setiap detik menetes seperti air dari keran yang bocor. Reza memandang jam. Empat menit berlalu. Lima. Tidak ada yang bicara. Bahkan napas pun ditahan.
Lalu radio kecil di saku Reza, yang menghubungkannya dengan Joko di luar, berdesis hidup. Suara Joko, tegang, lebih cepat dari biasanya:
"Za. Ada masalah. Ada mobil masuk kompleks. Bukan jadwal patroli. Tiga mobil. Hitam. Dan mereka tidak menuju gedung. Mereka menuju pintu mekanikal. Pintu yang sama dengan kalian masuk."
Reza membeku. Tidak ada yang seharusnya tahu pintu itu. Tidak ada dalam rencana mana pun. Ia menatap Nina, yang wajahnya sudah sepucat lampu darurat, lalu ke Sigit, yang untuk pertama kalinya tidak menatap balik. Dan di telinganya, suara Pak Gun pelan, hampir seperti doa:
"Time lock masih sembilan menit, Nak. Kita tidak bisa maju, dan kita tidak bisa mundur."