Sembilan menit. Dalam keadaan normal, sembilan menit cukup untuk meneguk kopi dan melamun. Di bawah tanah ketiga Sentral Garda, sembilan menit adalah jarak antara hidup dan kuburan tanpa nama. Reza memaksa pikirannya bekerja melawan panik yang merayap dari perutnya. Tiga mobil hitam menuju pintu masuk mereka. Bukan polisi, polisi tidak datang diam-diam. Ini sesuatu yang lain.
"Nina," desisnya. "Kamera. Kamu masih bisa lihat?"
Jari Nina sudah bergerak, menarik umpan dari kamera keamanan ke layarnya. Wajahnya berubah saat gambar muncul. "Orang-orang bersenjata. Bukan seragam Garda. Mereka..." Ia berhenti. Lalu ia menoleh, dan saat itulah Reza melihat tempat Sigit tadi berdiri sudah kosong. Kotak logam berisi cetakan sidik jari tergeletak terbuka di lantai, busanya kosong. Sigit lenyap ke dalam bayang lorong saat semua mata tertuju pada radio Joko. "Za, Sigit pergi. Dia naik. Dan dia bawa cetakan sidik jarinya."
Tukang bersih. Sigit yang katanya tangan tambahan kalau keadaan jadi keras. Sekarang Reza paham semuanya sekaligus, seperti gerigi yang akhirnya jatuh ke tempatnya. Sigit bukan untuk saat keadaan jadi keras. Sigit yang membuat keadaan jadi keras, pada saat yang sudah ditentukan sejak awal. Tuan B menaruh sidik jari di tangan Sigit bukan karena percaya pada Sigit, melainkan supaya pada momen yang tepat, ketika roda sudah terbuka dan kode sudah masuk dan time lock sudah berjalan dan tim tidak bisa lagi mundur, Sigit bisa membuka pintu masuk untuk pasukan Tuan B dan membawa kabur satu-satunya lapis yang masih dipegang Reza dan timnya. Tuan B tidak pernah berencana membayar mereka. Ia berencana membiarkan mereka melakukan bagian tersulit, membuka dua lapis Gunung, lalu mengirim orang untuk menyelesaikan lapis ketiga dengan cetakan yang ia simpan sendiri, mengambil isinya, dan mengubur saksinya.
Di layar Nina, kamera menangkap Sigit muncul di lantai dasar, membuka pintu mekanikal dari dalam. Orang-orang bersenjata berhamburan masuk. Salah satu menepuk bahu Sigit, dan Sigit menyerahkan kotak logam itu kepadanya. Lapis ketiga, sekarang, ada di tangan musuh.
"Pak Gun," kata Reza cepat, "berapa lama lagi time lock?"
"Tujuh menit."
"Terlalu lama." Reza menatap lorong di belakang mereka, satu-satunya jalan masuk dan keluar. Dalam tujuh menit, orang-orang Sigit akan turun tiga lantai dan sampai di sini, membawa sidik jari yang membuat mereka tidak butuh Reza lagi. Begitu pintu terbuka dan jari ditempelkan, tim Reza tidak lebih dari empat orang yang tahu terlalu banyak di ruang tertutup tanpa jalan keluar.
Di saat seperti ini, otak Reza yang dingin, otak yang membuatnya bertahan di dunia ini lebih lama dari kebanyakan orang, mengambil alih. Ia tidak membiarkan dirinya merasakan pengkhianatan. Itu untuk nanti, kalau ada nanti. Sekarang hanya ada satu pertanyaan: bagaimana mengubah jebakan menjadi jalan keluar.
"Nina, kamu bilang kamu bisa membuat sesuatu hilang dari kamera," kata Reza. "Bisa kamu lakukan kebalikannya? Bisa kamu buat sesuatu muncul?"
Nina mengerti dalam sedetik. Itu yang membuatnya berbahaya, dan sekarang, berharga. "Alarm palsu. Aku bisa memicu sistem kebakaran di lantai atas. Itu akan mengunci tangga darurat secara otomatis, prosedur kebakaran. Pintu tahan api turun di setiap lantai. Orang-orang Sigit akan terjebak di antara lantai."
"Lakukan."
Jari Nina menari. Beberapa detik kemudian, dari kejauhan di atas, terdengar dengungan alarm yang teredam oleh lantai-lantai beton. Di layar Nina, gambar menunjukkan pintu baja tahan api turun perlahan di tangga darurat lantai bawah tanah satu, menjepit orang-orang Sigit di tengah turunan mereka. Beberapa berhasil lewat. Sebagian besar terjebak. Dan yang membawa kotak logam, Reza melihat dengan lega yang dingin, ada di sisi yang salah dari pintu itu, terkurung di atas.
"Itu cuma menahan mereka beberapa menit," kata Nina. "Mereka akan cari jalan lain, atau mendobrak. Dan begitu mereka turun, mereka punya sidik jarinya. Kita tidak."
"Beberapa menit yang kita butuhkan." Reza menatap jam. Lima menit time lock. Lalu ia menatap Pak Gun, dan jantungnya jatuh.
Orang tua itu telah merosot di kursi rodanya. Wajahnya membiru lagi, tangannya mencengkeram dada, tapi kali ini ia tidak bisa meraih tasnya. Botol pil terjatuh, menggelinding ke kegelapan lorong. "Pak!" Reza berlutut, menangkap wajah tua itu. Mata Pak Gun setengah terbuka, mencari wajah Reza.
"Tinggalkan... aku," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Janji... ingat janjimu, Nak."
"Saya tidak akan—"
"Dengar dulu. Tidak banyak waktu." Pak Gun mencengkeram lengan Reza dengan sisa tenaga yang entah dari mana datangnya. "Ingat yang aku bilang... tiap brankas tua punya satu rahasia... yang cuma dibawa satu orang. Gunung punya satu. Pengaman lama, tidak tercatat di mana pun. Aku yang bawa selama dua puluh tahun. Sekarang aku berikan padamu. Cuma padamu." Napasnya tersengal, tapi matanya menatap Reza tajam, memastikan Reza menyerap setiap kata. "Saat time lock selesai, pintu akan minta diputar penuh ke kanan dulu, baru ditarik. Itu yang benar. Tapi kalau kamu mau menutupnya kembali dan menguncinya supaya tidak ada yang bisa membukanya lagi... kamu tarik langsung tanpa memutar. Itu memicu pengaman darurat. Pintu mengunci diri, dan cuma orang yang tahu urutan reset yang bisa membukanya lagi." Sebuah senyum samar, kemenangan kecil terakhir. "Tuan B tidak tahu ini. Sumbernya tidak tahu. Tidak ada di catatan. Cuma aku... dan sekarang cuma kamu. Itu... perlindunganmu, Nak. Bukan rodanya. Bukan kodenya. Ini."
Reza menggenggam tangan tua itu, dan untuk sesaat seluruh kekacauan di atas kepala mereka lenyap. Ia mengerti sekarang kenapa Pak Gun menahannya selama ini, di survei, di latihan. Rahasia diberikan di saat yang tepat, atau ia jadi racun. Dan saat yang tepat adalah sekarang, di napas terakhir, ketika rahasia itu satu-satunya hal yang bisa menjaga Reza tetap hidup.
"Kenapa baru sekarang?" bisik Reza, suaranya pecah.
"Karena sebelum ini... kamu belum butuh. Dan rahasia yang diberikan terlalu cepat... selalu bocor." Tangan tua itu mulai melemas. "Kamu sudah jadi tangan yang tenang, Nak. Sekarang jadilah tangan yang... selamat."
Tangan itu lepas. Mata yang tadi menyala kini menatap langit-langit beton, tak melihat apa pun. Pak Gun, ahli brankas terakhir, mati di perut bumi dengan tangan kotor oleh debu, bukan bubur panti, persis seperti yang ia minta, setelah memberikan satu-satunya warisan yang berharga: bukan emas, melainkan rahasia yang membuat muridnya tetap bernyawa.
Reza tidak punya waktu untuk berduka. Ia menutup mata Pak Gun dengan satu gerakan, dan rasa kehilangan itu ia kunci jauh di dalam, di ruang yang akan ia buka nanti. Di layar Nina, orang-orang Sigit sudah mulai mendobrak pintu tahan api. Di brankas, time lock menunjukkan dua menit.
Lalu radio berdesis lagi. Tapi kali ini bukan suara Joko. Suara yang tenang, dalam, asing. Suara yang belum pernah Reza dengar tapi langsung ia kenali, karena hanya satu orang yang bisa masuk ke saluran radio mereka.
"Reza," kata suara Tuan B, halus seperti sutra di atas pisau. "Kamu sudah bekerja dengan sangat baik. Lebih baik dari dugaanku. Sayang sekali pekerjaan baik selalu harus diakhiri. Orangku akan turun sebentar lagi dengan sidik jari yang kamu butuhkan. Buka pintu itu, lalu mundur tiga langkah, dan mungkin malam ini tidak harus berakhir dengan kamu di samping orang tua itu."