Malam ini Sarah melampiaskan kekesalannya pada Kaivan dengan menenggak minuman beralkohol cukup banyak. Ia memang tidak mudah mabuk namun dia akan terus meracau tak henti-henti dan sedikit membuat keributan di tempat itu.
Para sahabatnya tentu saja senang jika Sarah meracau tanpa henti. Berbagai informasi berhasil mereka dapatkan dari kebiasaan Sarah tersebut. Mulai dari info keuangan suaminya hingga hal-hal yang bersifat rahasia dan sedikit ambigu.
"Memangnya, udah berapa lama Kaivan tidak menyentuh kamu?" tanya Nadya salah satu sahabat Sarah sejak SMA. Nadya tertawa cekikikan dibarengi suara tawa yang lain dan salah satunya merekam video kejadian itu.
"Udah satu tahun kayaknya. Sejak dia punya 'pelakor'. Sialan, dia berani nikah lagi tanpa aku tahu," racaunya. Semua yang mendengar hal itu membulatkan bibirnya serentak. Fakta baru yang belum pernah mereka dengar.
"Kok kamu tahu? Dari siapa?" tanya Ethan, oknum yang merekam racauan Sarah. Ia tersenyum di balik kamera videonya sambil menaikkan alis dan mengacungkan jempolnya pada oknum yang lain.
"Ya tahu. Dia yang cerita sendiri, bahkan si pelakor lagi hamil. Sumpah kalau aku sampai ketemu dia, aku ambil gunting biar kutusuk itu perutnya," ancamnya. Para sahabat yang mendengarkan itu sedikit bergidik membayangkan Sarah menusuk perut buncit seorang wanita hamil yang ia yakini istri kedua Kaivan.
"Jangan, Sarah. Lebih baik kamu minta penjelasan dulu mengapa mereka sampai hati melakukan hal seperti itu di belakang kamu," usul Nadya.
"Kaivan bilang, ini semua karena aku tidak bisa hamil. Hiks, Kaivan ingin punya anak tapi aku tidak bisa memberinya," ujarnya melankolis. Sarah menangis. Para sahabatnya berusaha menenangkan. Nadya memeluk Sarah dan memberi kode pada Ethan untuk mematikan videonya.
"Sarah, kamu boleh cerita sama aku dan teman-teman kamu yang lain. Jangan dipendam sendiri ya?" usul Nadya yang diangguki Sarah.
"Kalau saja aku tidak menggugurkannya waktu itu, pasti sekarang aku tidak akan kehilangan rahim dan bisa membahagiakan suamiku." Sarah menangis. Ethan dan Nadya ikut bersedih. Bisa dibayangkan mereka di posisi Sarah dengan keputusan yang sulit diambil namun beresiko jika dibiarkan.
Hati istri mana yang tidak sakit, ketika melihat suaminya lebih bahagia dengan wanita lain dan mengabaikannya. Hati istri mana yang tidak sakit ketika mendengar suaminya tertawa karena wanita lain.
"Semua itu sudah masa lalu. Bukankah Kaivan sudah tahu? Tapi mengapa dia yang bersikap menyalahkan semuanya sama kamu?" tanya Nadya.
"Kaivan memang tahu. Awalnya dia menerima, tapi sekarang dia menentangnya," jawab Sarah sesenggukan. Ethan mengembus napas panjang.
"Aku bicara sebagai pihak laki-laki dan berusaha fair menanggapi rumah tangga kalian. Menurut aku, wajar seorang laki-laki usia matang dan sudah menikah menginginkan keturunan. Hanya laki-laki tidak waras yang tidak menginginkan anak," ketus Ethan. Nadya mendelik kearahnya. Ethan berpura tak tahu dan tak peduli.
"Ethan!! Sarah lagi sedih malah disalahin," protes Nadya dengan pose ingin menjitak kepala Ethan.
"Aku kan berusaha fair. Tentang caranya yang salah, itu bukan urusan aku," tambah Ethan.
Detik berikutnya suasana pun hening. Sarah yang sudah setengah sadar dan ingat kata-kata Ethan segera bangkit dan berdiri. Tangannya menyambar tas dan ponsel yang tergeletak di meja lalu tersenyum miring ke arah para sahabatnya, terutama Ethan.
"Ternyata, sepicik itu seorang laki-laki dalam merendahkan wanita. Saat si wanita lemah, dia akan berbuat sesuka hatinya dengan alasan kepentingannya yang harus diutamakan. Tapi saat si laki-laki lemah, dia akan bersujud memohon pada wanitanya agar tak meninggalkannya," ujar Sarah menohok.
Ethan dan yang lain tak membalas, mereka hanya melihat kepergian Sarah yang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sarah memang terlihat biasa saja malam ini. Wajah dan penampilannya tampak seperti wanita normal yang sedang kesepian. Setibanya di rumah, Sarah merebahkan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu. Ia tak punya lagi tenaga hanya untuk berjalan masuk kedalam kamarnya. Lagipula, untuk apa ia tidur disana. Ranjangnya selalu dingin tiap malam.
Lampu ruang tamu menyala. Sarah membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Saat sudah terbuka seluruhnya, ia terperanjat kaget melihat seseorang berdiri di depannya sambil membungkukkan tubuhnya.
"Mabuk lagi?" ketusnya. Sarah tak bergeming. Ia beranjak dari tidurnya dan duduk dengan tangan memijit pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba pusing. Ia menarik-narik tangan Kaivan yang hendak pergi dari hadapannya.
"Aku mau minum," rengek Sarah. Kaivan menghempas kasar tangan Sarah dan berjalan ke arah dapur. Lima menit kemudian ia datang dengan segelas air di tangannya.
Sarah tersenyum. Ternyata suaminya tak sepenuhnya berubah. Kaivan tetap suami yang baik dan mau menuruti apa keinginannya.
"Ini." Kaivan menyodorkan gelas minuman itu dengan kasar dan mata yang menghindari tatapan Sarah.
"Terima kasih." Sarah mengembalikan gelas yang isinya sudah habis tak tersisa. Kaivan beranjak pergi meninggalkan Sarah dan kembali ke kamarnya. Tak berniat membangunkan sedikitpun istrinya agar ikut tidur bersama dirinya. Ia masih kesal dengan sikap Sarah yang tak pernah mau menghilangkan sifat dan kelakuan buruknya.
Sarah sadar jika Kaivan tak mengajaknya ke kamar. Suaminya pasti marah besar, pikirnya. Batas kesabaran Kaivan sudah sampai di tahap tak peduli dan bisa jadi saat ini Kaivan sudah diatas tahap itu.
Sarah berdiri dan berjalan dengan tubuh terhuyung ke dalam kamar. Bisa dengan jelas ia melihat Kaivan sedang menyelimuti dirinya dan mendengkur halus. Sarah menghampiri Kaivan dan berdiri di samping ranjangnya.
Matanya memerah basah. Sesekali ia usap pipinya. Detik berikutnya ia bersimpuh di dekat suaminya lalu terisak memandang wajah damai Kaivan. Tangannya terulur menyentuh tangan Kaivan yang salah satunya menjulur lalu diciumnya tangan itu berulang kali sambil diusapkannya ke pipi.
"Maafkan aku yang sering berlaku kasar sama kamu. Mas, aku sayang dan cinta sama kamu. Aku tidak ingin berbagi dengan wanita lain. Hiks," isaknya meratapi kesalahan masa lalunya sendiri dan berharap Kaivan mau memaafkannya.
Kaivan sendiri sadar jika Sarah sedang meminta maaf padanya. Ia tak tega melihat wanita yang dulu dicintainya bersimpuh memohon maaf, meleburkan sifat egoisnya bertahun-tahun lalu.
"Mas, jangan tinggalkan aku," tambahnya. Detik berikutnya tangis Sarah memecah keheningan malam yang menyeruak masuk kedalam kamar dan membangunkan Kaivan yang setengah sadar dari tidurnya.
Kaivan mengusak matanya. Melihat dengan jelas Sarah sedang duduk bersimpuh di lantai kamar yang dingin. Rambut dan pakaiannya acak-acakan dengan riasan yang sudah tak jelas bentuknya.
"Kamu kenapa?" tanya Kaivan dengan suara seraknya. Sarah menengadahkan wajahnya lalu menghambur ke pelukan Kaivan. Ia menangis lagi di d**a suaminya itu dan membenamkan kepalanya disana. d**a suaminya hangat dan rasanya masih tetap sama seperti dulu.
"Maafkan aku, mas. Aku salah," isaknya kembali. Kaivan tak tega membiarkan Sarah seperti ini. Tapi, ia tak tahu pasti apakah istrinya ini sedang berakting atau ini dirinya yang sebenarnya.
"Kamu tidur. Sudah mau pagi," jawab Kaivan tanpa mau membalas permintaan maaf Sarah. Ia melepas pelukan dan menyuruh Sarah untuk tidur. Sarah mengangguk menuruti perintah suaminya. "Besok, Hani akan pindah kemari. Aku harap kamu menerimanya dengan baik."
Kalimat terakhir yang diucapkan Kaivan membuat mata Sarah terbuka lebar. Ia berbalik dan menatap suaminya yang duduk bersandar kepala ranjang. Kaivan dengan santainya membuat keputusan yang bertolak belakang dengan keinginannya.
"Apa? Wanita pelakor itu akan tinggal disini? Tidak, aku tidak mau berbagi ranjang dengannya," elak Sarah. Ia terus menggelengkan kepalanya. Tak peduli, Kaivan menurunkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Sarah mengguncang-guncang tubuh Kaivan hingga tubuhnya bergerak kiri kanan. Kaivan terganggu lalu mendorong kasar tubuh Sarah.
"Aku tidak setuju," protes Sarah.
"Memangnya aku minta pendapat kamu?" bentak Kaivan yang sudah jengah dengan sikap Sarah yang mulai berubah seperti sedia kala.
"Aku istri kamu," teriaknya tak kalah keras.
"Tapi Hani juga istri aku," sahut Kaivan.
Keduanya terlibat adu mulut tak berhenti hingga lebih dari setengah jam. Keduanya pun lelah. Akhirnya, diberi jalan tengah oleh Sarah agar keduanya bisa saling menerima.
"Tapi, jangan suruh aku mengakui dan menyayangi anak itu. Walaupun itu anak kandung kamu, tetap saja ada darah daging wanita pelakor," usulnya.
"Tak peduli kamu akan terima atau tidak karena itu bukan urusanmu. Jika terjadi sesuatu pada Hani karena ulahmu, maka aku akan pergi dari rumah ini dan tak akan kembali selamanya. Camkan itu!!" ancam Kaivan yang membuat Sarah menciut nyalinya.
Kaivan melanjutkan tidur tak peduli racauan Sarah. Ia bahkan menaruh bantal di telinga agar tak mendengar apa yang istrinya racaukan.