Hari itu pun tiba. Kaivan membawa Hani memasuki rumah mewahnya yang ia tinggali bersama Sarah. Rumah yang sangat besar dua lantai dengan pemandangan bak istana negeri dongeng. Hani terperangah tak percaya melihat pemandangan itu. Rasanya tak mungkin, ia bisa tinggal dan menetap di rumah yang harganya tak pernah terbayangkan oleh dirinya sebelumnya.
"Ini rumah kita. Kamu berhak untuk tinggal disini," ujar Kaivan. Ia mulai menjelaskan mengapa Hani berhak tinggal disana. Karena posisi Hani sama seperti Sarah. Hani juga istri sahnya walau belum diakui oleh negara.
"Mbak Sarah bagaimana reaksinya, mas?" tanya Hani penasaran. Bibirnya mengulum menantikan jawaban Kaivan.
"Reaksinya? Kamu bisa tebak sendiri," jawabnya sambil menepuk bahu Hani. Satu lengannya merangkulnya dari samping dan mengajaknya masuk kedalam rumah. Satu tangannya yang lain menyeret koper milik Hani dan satu tas ia yang ia sandarkan di bahu.
Hani gugup. Tangannya mulai meremas-remas gaun cantiknya hingga kusut sebagian. Bibirnya berkomat-kamit mengucap doa agar ia tak dimarahi oleh istri pertamanya Kaivan. Hani berjalan pelan memasuki ruang tamu lalu berhenti tepat di depan pintunya. Kepalanya menoleh menatap suaminya yang menaikkan satu alis.
"Kenapa, sayang?" tanya Kaivan. Hani menunduk. Kaivan melepas rangkulannya dan menggenggam tangan Hani lalu mengeratkannya.
"Mas.." rengek Hani. Kaivan mengecup sekilas dahi Hani dan mengajaknya kembali masuk kedalam.
"Ada mas yang bantu kamu. Percaya kan?" pinta Kaivan. Hani mengangguk pelan mencoba percaya dengan kata-kata suaminya.
Tiba di depan sebuah kamar di lantai satu, Hani dibawa oleh Kaivan masuk kedalam beserta koper yang mereka bawa. Mata Hani tertuju pada interior mewah kamar tersebut. Ranjang ukuran besar, lemari pakaian yang juga sama besarnya dengan deretan pakaian di dalamnya. Juga dengan kamar mandi yang ukurannya dua kali kamar Hani saat di rumah sederhananya dulu.
"Woah. Ini kamar untuk Hani?" tanya wanita cantik itu yang diangguki oleh Kaivan. Suaminya itu menarik tangan Hani menuju jendela besar dengan kaca tembus pandang ke halaman belakang rumah yang pemandangannya langsung tertuju pada rumput hijau dan deretan mawar merah yang tersusun rapi membentuk sebuah taman kecil.
"Suka bunganya?" Kaivan menunjuk ke arah tanaman merah cantik berduri yang menarik atensi Hani. Tentu saja wanita itu suka, mawar adalah salah satu bunga kesayangannya.
"Suka sekali, mas. Terima kasih," jawab Hani antusias. Ia ingin sekali berlari kesana tapi tangan Kaivan yang melingkar di pinggang rampingnya menahannya.
"Semuanya buat kamu. Kalau kamu sedang suntuk, kamu silakan berkebun. Mau kamu hias seperti apa, aku serahkan semuanya. Aku yakin hasilnya pasti cantik. Seperti kamu," rayu Kaivan. Ia mencolek hidung mancung milik Hani lalu mencubitnya.
"Benar mas? Kalau aku tambahkan bunga anggrek atau krisan, tidak masalah?" tanya Hani merayu. Kaivan mengangguk. Ia membalik tubuh Hani agar menghadapnya dan bertatapan langsung dengan matanya.
"Mas bahagia sekali bisa kenal, jatuh cinta dan akhirnya bisa menikahi kamu. Sosok seperti kamulah yang mas cari sebagai istri dan calon ibu bagi anak mas kelak. Terima kasih mau menerima mas yang penuh kekurangan ini," ujar Kaivan meyakinkan pilihannya.
Hani tersenyum. Ia merasa suaminya sangatlah mencintai dirinya walau ada satu sekat yang menghalangi mereka.
"Hani juga bahagia bisa bertemu mas Kaivan," jawab Hani yang diakhiri dengan pelukan antara keduanya. Pelukan hangat sepasang suami istri.
Tak berlangsung lama tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan mereka berdua. Rupanya Sarah sudah berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya di d**a. Matanya tajam menatap Hani yang kebetulan ia kenal karena pernah melihatnya di kantor sang suami beberapa tahun lalu.
"Sudah lovey dovey nya?" sindir Sarah. Hani segera melepaskan pelukan lalu membungkuk memberi hormat pada Sarah dan tak lupa ia pun menyapanya.
"S-selamat siang mbak," sapanya sedikit terbata. Sarah tak merespon. Ia malah menghampiri Kaivan dan mencium bibir suaminya itu tepat di hadapan Hani.
Kaivan melihat raut wajah Hani yang kecewa bercampur bingung dan mungkin sedikit rasa cemburu melihat adegan mesra antara ia dan Sarah. Buru-buru ia menepis tangan Sarah yang mulai menahan tengkuk lehernya.
"Jawab dulu salam Hani. Kamu kenapa tidak sopan sih?" perintah Kaivan pada Sarah yang segera mendapat respon delikan mata tajamnya.
"Hah? Tidak sopan? Seharusnya dia yang kamu ajarkan sopan santun. Baru kali ini aku lihat maling yang seenaknya masuk rumah orang yang dimalinginya lalu tidur di dalamnya," sindir Sarah. Matanya melirik ke arah Hani yang kini tertunduk menahan perihnya sindiran Sarah.
Kaivan tak menggubris. Ia menarik tangan Hani dan mengajaknya ke luar kamar. Sekarang waktunya makan siang dan Hani harus makan tepat waktu agar sakit maagnya tidak menggangu janin yang sedang dikandungnya.
Kaivan mendorong satu kursi dan menyuruh Hani untuk duduk. Ia pun ikut duduk di samping Hani dan menuangkan nasi serta lauk pauk dan sayurnya.
Kehadiran Hani rupanya membuat bibi yang bekerja di rumah Kaivan melongo kaget. Hampir saja tangannya masuk kedalam kuah panas kalau saja Kaivan tak menegurnya.
"Bi, kenalkan. Ini Hani, istri saya. Dia sedang hamil muda usia dua bulan. Jika ada yang diinginkan oleh dia, tolong bantu carikan. Satu lagi, Hani dilarang kerja terlalu berat," pesan Kaivan pada salah satu pembantu rumah tangga yang biasa melayani ia dan Sarah.
"Iya, tuan." bibi menunduk dan memberi salam pada Hani dan dibalas hangat oleh Hani.
"Salam kenal ya, bi." Hani menyapa ramah diiringi senyuman hangat.
Sarah mengintip dari balik kamarnya, menyaksikan kemesraan suaminya dan istri keduanya yang sedang asik melahap makan siang mereka. Kaivan lupa eksistensi Sarah di rumah ini hingga ia lupa menawari istri pertamanya untuk makan bersama.
"Bi, nanti Sarah tolong ditanyakan ingin makan apa. Sekalian dimasakkan juga kalau dia ingin sesuatu. Saya dan Hani mau istirahat dulu," perintah Kaivan pada bibi yang cepat diangguki oleh wanita paruh baya itu.
Hani menyikut lengan Kaivan yang hampir mengenai perut atasnya. Kaivan berpura meringis lalu tersenyum menanggapi rajukan istrinya.
"Kenapa sayang? Hmm.." rayu Kaivan ditambah kedipan matanya. Hani merengut sebal. Niatnya setelah makan siang, ia ingin berkebun atau sekedar melihat indahnya taman bunga di belakang kamarnya. Tapi, Kaivan malah mengajaknya tidur siang.
"Aku kan mau berkebun, mas. Belum ngantuk," rajuk Hani. Ia mencebikkan bibirnya hingga membentuk bulatan lucu nan gemas.
"Nanti sore saja. Mas lagi ingin dipeluk sama Hani. Sekalian usap dedek bayi. Kangen," rayu Kaivan. Hani bergidik geli melihat perubahan manja Kaivan yang seperti anak kecil. Biasanya kalau sudah keluar sifat seperti ini, tandanya Kaivan memang sudah sangat ingin dituruti permintaannya.
"Ya sudah, tapi nanti aku boleh berkebun," rengek Hani. Kaivan mengangguk. Keduanya pun melanjutkan makannya kembali.
Seolah mencari kesempatan agar bisa bicara dengan Kaivan, Sarah datang dengan gaun pesta dan langsung duduk di hadapan Kaivan sambil melirik Hani di sampingnya. Kaivan sudah mengenal sifat Sarah, ia memilih mengabaikan tingkahnya daripada meladeni hingga kepalanya sakit.
"Hari ini ada undangan pernikahan teman aku, dia juga undang kamu. Acaranya pukul tiga sore," ajak Sarah pada Kaivan.
"Aku capek, mau tidur. Kamu saja yang pergi," tolak Kaivan. Sarah menggeram marah. Bibirnya mengatup dengan gigi yang terdengar bergemeletuk menahan ledakan marahnya.
"Biasanya kamu tidak pernah menolak, kenapa sekarang kamu tiba-tiba ingin tidur siang?" sindir Sarah. Matanya tetap tertuju pada Hani, membuat wanita itu terdiam dan menunduk tak berani melihatnya.
"Terserah aku dong. Yuk, sayang kita ke kamar." Kaivan menarik lembut tangan Hani dan mengajaknya masuk kedalam kamar mengabaikan Sarah yang hampir meledak marahnya. Tangan Sarah sudah menggenggam sendok serta garpu yang siap ia lempar ke arah manapun. Ia benci diabaikan, ia benci diperlakukan tidak layak.
"Awas kau, Kaivan!!" teriaknya hingga terdengar ke seluruh ruangan. Kaivan menoleh sebentar lalu berbisik pada Hani yang menghentikan langkahnya karena teriakan itu.
"Kamu tahu kan, alasan aku menikah lagi?" tunjuk Kaivan pada Sarah yang mengamuk di ruang makan. "Aku sering dimaki, dilempar, diamuk oleh wanita kasar macam Sarah. Inginnya aku ceraikan, tapi aku sudah terlanjur janji sama ayah mertua untuk tetap bersama dia."
Hani tak tahu harus merespon bagaimana. Di satu sisi ia merasa kasihan pada suaminya, satu sisi lagi ia juga kasihan pada Sarah yang terlihat seperti wanita kesepian..
"Mas, aku rasa aku punya solusinya," tawar Hani.
"Apa?" Kaivan penasaran.
"Persahabatan. Aku mau coba, mas."