Yulan datang membawa daftar mas kawin, lalu berkata pelan, “Dalam setahun ini, Anda sudah mengeluarkan lebih dari enam ribu tael perak tunai untuk membantu rumah ini. Tapi toko, rumah, dan tanah semuanya masih utuh. Surat deposito yang dulu disimpan almarhum Nyonya di bank, juga surat kepemilikan rumah dan tanah, semuanya ada di dalam kotak yang sudah terkunci rapat.”
“Baik.” Chenxi menatap daftar itu dalam diam. Mas kawin yang dulu diberikan ibunya begitu banyak, semua itu karena sang ibu takut putrinya akan menderita setelah menikah. Hatinya terasa nyeri setiap kali mengingatnya.
Yulan yang berdiri di samping menatapnya sedih. “Nona, nanti kita akan ke mana? Apa kita harus kembali ke kediaman Marquis? Atau... kita pulang saja ke Gunung Shan?”
Bayangan darah yang membanjiri rumah dan tubuh-tubuh yang bergelimpangan tiba-tiba melintas di benaknya. d**a Chenxi terasa sesak. “Ke mana pun boleh, asal bukan di sini.”
“Kalau Nona pergi, berarti Nona telah memberi jalan untuk mereka berdua bersama” ucap Yulan lirih.
Chenxi tersenyum samar. “Kalau itu bisa membuatku tenang, biarlah begitu. Kalau aku tetap di sini, aku hanya akan menyiksa diri sendiri seumur hidup, menyaksikan mereka bermesraan setiap hari. Yulan, sekarang hanya aku yang tersisa dari keluarga Marquis. Aku harus hidup dengan baik agar arwah ayah, ibu, dan kakak-kakakku bisa tenang di alam sana.”
“Nona...” Yulan tak kuasa menahan tangis. Ia lahir dan besar di rumah Marquis, dan saat pembantaian itu terjadi, semua orang yang dikenalnya, termasuk keluarganya sendiri, tewas tanpa tersisa.
Jika mereka benar-benar meninggalkan kediaman Jenderal, ke mana lagi mereka bisa pergi? Kediaman Marquis kini hanya menyisakan kenangan pahit dan darah. Setiap sudutnya menyayat hati.
“Apakah benar-benar tak ada jalan lain, Nona?” tanya Yulan lirih.
Tatapan Chenxi menjadi dalam. “Ada. Aku akan menghadap Kaisar. Aku akan memohon atas nama jasa ayah dan kakakku agar Baginda mencabut keputusan ini. Jika Kaisar menolak, aku akan menabrakkan kepalaku ke tiang emas di balairung istana.”
Yulan terperanjat lalu segera berlutut. “Jangan, Nona! Jangan lakukan itu!”
Namun Chenxi tersenyum tenang. “Kau pikir aku akan benar-benar melakukannya? Aku hanya akan memohon izin untuk bercerai.”
Wen Bang menikahi Mei Lin karena perintah Kaisar. Maka perceraian pun harus kudapatkan dengan perintah yang sama. Aku ingin pergi dengan terhormat, bukan diam-diam seperti orang yang diusir.
Warisan keluarga Marquis sudah cukup untuk menjamin kehidupannya tanpa kekurangan. Ia tak perlu lagi bertahan dalam penghinaan.
Dari luar, terdengar suara seorang pelayan. “Nyonya, Nyonya Tua memanggil Anda!”
Yulan berbisik, “Itu Cui’er, pelayan pribadi Nyonya Tua. Mungkin beliau ingin membujuk Anda.”
Chenxi menarik napas panjang. “Kalau begitu, mari kita pergi.”
****
Sinar senja di luar berwarna merah tua seperti darah. Angin musim gugur berembus dingin, membawa hawa kesepian yang merayap ke hati.
Kediaman Jenderal dulunya adalah hadiah dari Kaisar terdahulu untuk kakek Wen Bang. Dulu rumah itu megah dan berwibawa, namun kini perlahan kehilangan kemilaunya.
Sebagian besar lelaki di keluarga Wen berkarier di medan perang. Hanya sedikit yang memilih jalur sipil. Ayah Wen Bang, Wen Ji, gagal meniti karier di istana. Paman keduanya, Wen Er, hanya menjabat sebagai pejabat rendah di Kantor ibukota. Hanya Wen Bang dan kakaknya, Wen Da, yang cukup menonjol di dunia militer, meski sebelum kemenangan perang terakhir, pangkat mereka pun tak lebih dari jenderal tingkat empat.
Keluarga besar itu belum berpisah rumah. Cabang utama dan cabang kedua masih tinggal bersama, karena mereka tahu, memisahkan diri hanya akan mempercepat keruntuhan keluarga.
Chenxi bersama Yulan memasuki kamar Nyonya Tua. Kondisi wanita tua itu tampak lebih baik. Ia setengah berbaring di tempat tidur, tersenyum lembut melihat Chenxi. “Kau datang juga.”
Di dalam ruangan itu, selain Nyonya Tua, ada Wen Da dan istrinya, Nyonya Li, juga adik perempuan ketiga, Wen Mei, serta beberapa anak dari para selir. Nyonya Tua dari cabang kedua, Nyonya Liu, duduk di sisi lain dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Chenxi menunduk sopan dan memberi salam. “Ibu, Bibi Kedua, Kakak, Kakak Ipar.”
“Chenxi, kemarilah.” Nyonya Tua menepuk tempat di sampingnya. Ia menggenggam tangan Chenxi hangat-hangat. “Sekarang Beiwang sudah pulang, kau akhirnya punya sandaran lagi. Setahun ini pasti sangat berat bagimu. Apalagi keluarga Marquis juga tertimpa musibah. Kini hanya kau seorang yang tersisa dari keluarga Marquis. Syukurlah semuanya sudah berlalu.”
Nyonya Tua memang pandai berbicara. Kata-katanya terdengar lembut, tapi maknanya jelas. Keluargamu sudah tiada, jadi mulai sekarang kau sepenuhnya harus bergantung pada keluarga Wen.
Chenxi perlahan menarik tangannya. Dengan nada datar ia berkata, “Apakah Ibu sudah bertemu dengan Jenderal Mei Lin hari ini?”
Pertanyaan itu terlalu langsung. Senyum Nyonya Tua sempat kaku, tapi segera ia menutupinya dengan tawa ringan. “Sudah. Ia memang agak kasar, dan tentu saja tak secantik dirimu.”
Chenxi menatapnya lekat-lekat. “Kalau begitu, Ibu tidak menyukainya, kan?”