Senyum di wajah Nyonya Tua tampak agak dipaksakan.
“Suka atau tidak suka, baru bertemu sekali saja, mana bisa langsung membicarakan hal seperti itu? Tapi karena ini pernikahan titah dari Yang Mulia, semua sudah menjadi kenyataan. Nantinya, dia dan Wen Bang akan berjuang bersama di medan perang, sementara kau mengurus rumah, menikmati hasil kerja keras mereka berdua. Bukankah itu hal yang baik?”
Chenxi tersenyum tipis. “Tentu saja baik. Hanya saja, kasihan juga Jenderal Mei Lin yang harus menjadi selir.”
Nyonya Tua terkekeh kecil. “Ah, anak ini, mana mungkin menjadi selir? Ini pernikahan titah Kaisar. Lagi pula, Mei Lin adalah pejabat militer, tak mungkin dijadikan selir. Statusnya tetap istri sah, tidak ada bedanya.”
Chenxi menatapnya tanpa ekspresi. “Benarkah? Sejak kapan di kerajaan kita ada aturan seperti itu?”
Senyum di wajah Nyonya Tua perlahan menghilang. “Chenxi, kau kan biasanya pengertian. Sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluarga Wen, seharusnya bisa menempatkan kepentingan keluarga di atas segalanya. Lagipula, setelah diverifikasi oleh Kementerian Militer, jasa Mei Lin dalam perang kali ini jauh lebih besar dari Wen Bang. Nantinya mereka berdua akan saling mendukung sebagai suami istri, dan denganmu yang mengurus urusan rumah tangga, keluarga kita bisa kembali berjaya seperti masa kakeknya dulu menjadi keluarga jenderal yang termasyhur.”
Tatapan Chenxi berubah dingin. “Kalau begitu, sepertinya urusan ini memang sudah tidak ada hubungannya denganku.”
Nada suara Nyonya Tua mengeras. “Bagaimana bisa tidak ada hubungannya? Bukankah kau masih memegang urusan rumah tangga keluarga jenderal?”
“Dulu memang begitu,” jawab Chenxi tenang. “Karena Kakak Ipar sedang sakit, aku hanya menggantikan sementara. Sekarang beliau sudah sembuh, jadi urusan rumah tangga sebaiknya dikembalikan padanya. Besok aku serahkan semua pembukuan, setelah itu aku tidak akan ikut campur lagi.”
Mendengar itu, Nyonya Li cepat-cepat menimpali. “Jangan begitu. Aku belum benar-benar pulih. Lagi pula, selama ini semua orang puas dengan cara kau mengatur. Biarlah tetap seperti sekarang.”
Chenxi tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Puas? Tentu saja puas. Karena selama ini dia yang terus mengeluarkan uang untuk menutupi semua kebutuhan rumah.
Sebagian besar habis untuk biaya pengobatan Nyonya Tua. Obat dari tabib dewa obat tidak murah, dan tidak semua orang bisa memintanya datang. Sekali berobat bisa menghabiskan lebih dari seratus tael perak. Dalam setahun, hanya untuk obat saja sudah lebih dari seribu tael.
Belum lagi kebutuhan lain. Kain, sutra, bahan pakaian semuanya sering dia bantu. Kebetulan keluarganya punya usaha tekstil, jadi setiap musim mereka mengirimkan kain terbaik untuk dijadikan pakaian baru bagi seluruh keluarga. Dulu dia tidak merasa berat, karena saat itu dia memang ingin hidup baik bersama Wen Bang.
Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda. Ia tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang hanya dimanfaatkan.
Chenxi berdiri, suaranya tenang namun tegas. “Sudah diputuskan. Besok aku serahkan semua pembukuan dan urusan rumah tangga. Setelah itu, aku tidak akan ikut campur lagi.”
“Tunggu dulu!” suara Nyonya Tua meninggi. Wajahnya mengeras. “Chenxi, kau ini benar-benar tidak tahu diri. Laki-laki mana yang tidak punya tiga atau empat istri? Kalau hal sekecil ini saja tidak bisa kau terima, orang luar akan bilang kau sempit hati, cemburuan, dan tidak tahu tempatmu.”
Selama ini, Chenxi selalu lembut dan menahan diri. Mungkin karena itulah mereka mengira ia akan tunduk hanya dengan sedikit nada keras. Tapi kali ini, Chenxi tetap tenang.
“Mulut orang lain bukan urusanku. Mereka mau bilang apa pun, silakan. Aku tidak peduli.”
Nyonya Tua begitu marah sampai batuk-batuk. Biasanya, di saat seperti ini, Chenxi akan segera maju menepuk punggungnya. Tapi kali ini, dia hanya berdiri diam. Cahaya senja dari luar jendela jatuh di wajahnya, membuatnya tampak seperti sosok dalam lukisan indah tapi dingin.
“Kakak Ipar! Lihat, kau membuat Ibu marah seperti ini!” seru Wen Mei, adik perempuan Wen Bang, sambil melangkah maju. Wajah gadis muda itu masih menyisakan sedikit kepolosan, tapi matanya penuh amarah. “Lagi pula ini bukan hal besar. Kau pikir keluarga Marquis masih semegah dulu? Ayah, ibu, dan saudara laki-lakimu sudah tiada, hanya tersisa kau seorang. Kalau kau masih bersikap seperti bangsawan tinggi hati, tidak takutkah kalau Kakak nanti menceraikanmu?”
Chenxi menoleh perlahan. Gadis itu mengenakan gaun sutra kuning muda gaun yang dulu ia sendiri pesan untuknya di awal musim gugur. Sekarang, mengenakan pakaian pemberiannya, gadis itu justru berdiri di hadapannya dengan nada meremehkan.
Chenxi tersenyum samar. “Kalau begitu, lepaskan dulu pakaian yang kau kenakan itu. Setelah itu baru bicara padaku dengan nada seperti tadi.”
Wajah Wen Mei langsung memerah. “Siapa juga yang minta darimu?! Aku tidak butuh bajumu! Nanti akan kukembalikan semuanya!”
“Baik,” kata Chenxi pelan. “Sekalian juga kembalikan perhiasan di kepalamu. Semuanya.”
Hening sejenak. Tatapan Chenxi menyapu seluruh ruangan. Hanya Nyonya Kedua yang masih tampak tenang, sementara yang lain menatapnya dengan wajah masam.
“Kalau tidak ada hal lain, aku pamit dulu,” ucapnya datar. Ia berbalik dan melangkah pergi.
Suasana di ruangan itu langsung hening. Hanya tatapan-tatapan tak suka yang mengiringi kepergiannya.