Orang-orang di keluarga Wen saling berpandangan, tak seorang pun menyangka bahwa Chenxi, yang selama ini dikenal lembut dan penurut, tiba-tiba menunjukkan sikap setegar itu. Bahkan nasihat ibunya sendiri pun tak lagi ia dengarkan.
Nyonya tua menatap tajam dan berkata dengan dingin, “Dia akan menurut juga pada akhirnya. Dia tak punya jalan lain.”
Ucapan itu ada benarnya. Kini Chenxi sudah tak punya keluarga untuk bersandar. Satu-satunya tempat yang bisa ia tinggali hanyalah kediaman keluarga Wen. Lagi pula, di mata orang luar, keluarga Wen tidak memperlakukannya buruk. Ia tetap istri sah, nyonya besar di rumah seorang jenderal.
Keesokan paginya, Chenxi bersama pelayannya, Yulan, kembali ke kediaman Marquis.
Halaman tampak muram, dedaunan kering berserakan di mana-mana. Dalam waktu setengah tahun tanpa perawatan, rerumputan liar sudah tumbuh setinggi d**a orang dewasa.
Saat melangkah melewati ambang pintu rumah itu, d**a Chenxi terasa sesak. Seolah setiap hembusan angin membawa kembali kenangan yang menoreh luka.
Enam bulan lalu, ketika kabar pembantaian keluarganya sampai ke telinganya, ia hampir kehilangan kewarasan. Ia berlutut di depan jasad nenek dan ibunya yang sudah membeku tanpa sedikit pun kehangatan. Setiap sudut rumah berlumur darah, seolah langit sendiri menangis untuk mereka.
Kini, di rumah itu telah didirikan ruang sembahyang. Di sana terpajang papan arwah para leluhur Marquis, juga ibunya yang tercinta.
Dengan tangan bergetar, Chenxi dan Yulan menyiapkan persembahan. Air mata mereka menetes satu per satu, membasahi lantai kayu yang dulu sering mereka bersihkan bersama.
Setelah menyalakan dupa, Chenxi berlutut di depan papan arwah, menundukkan kepala lama sekali. Ketika akhirnya ia mendongak, matanya masih basah, namun sorotnya kini mantap dan dingin.
“Ayah, Ibu… bila arwah kalian masih mendengar di atas sana, maafkan keputusan yang akan kuambil. Bukan karena aku ingin menentang takdir, tapi karena Wen Bang bukan lelaki yang pantas kupercayakan hidupku. Namun tenanglah, aku dan Yulan akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi.”
Yulan yang berlutut di sampingnya tak kuasa menahan tangis. Bahunya bergetar, dan isaknya memenuhi ruangan yang sepi itu.
Setelah bersembahyang, mereka naik ke kereta dan berangkat menuju istana kekaisaran.
Menjelang tengah hari, matahari musim gugur terasa panas menyengat. Chenxi dan Yulan berdiri di depan gerbang istana, diam seperti dua patung kayu.
Mereka menunggu lebih dari satu jam, tapi tak ada seorang pun yang keluar memanggil mereka.
Yulan melirik tuannya dengan cemas. “Nona, sepertinya Baginda tidak ingin menemui Anda. Mungkin beliau mengira Anda datang untuk menentang pernikahan itu. Anda belum makan sejak semalam, pagi pun belum sempat sarapan… apakah tubuh Anda masih kuat? Izinkan aku membelikan sedikit makanan, ya?”
Chenxi menggeleng pelan. “Aku tidak lapar,” ucapnya datar. Suaranya tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan tekad yang tak tergoyahkan: ia ingin bercerai dan pergi.
Yulan menunduk, menghela napas panjang. “Jangan menyiksa diri seperti ini, Nona. Kalau sampai jatuh sakit, apa gunanya semua perjuangan Anda?”
Ia sempat ragu, lalu menambahkan lirih, “Atau… mungkin sebaiknya kita biarkan saja? Anda tetap istri sah, nyonya besar di rumah Jenderal. Dia meski dijadikan istri setara, tetap tidak lebih dari selir. Mungkin bertahan akan lebih aman.”
Tatapan Chenxi menajam, dingin dan tegas. “Yulan, kalau kau masih bicara seperti itu, lebih baik diam.”
Yulan terkejut, lalu menunduk dalam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa menghela napas, merasa kasihan sekaligus tak berdaya. Dulu ia kira, setelah Jenderal pulang dari medan perang, tuannya akhirnya bisa hidup damai. Siapa sangka, semua justru berbalik menjadi rumit seperti ini.
Di dalam ruang kerja Kaisar Wuling, kepala Kasim Lu sudah tiga kali melapor, “Baginda, Nyonya Wen masih menunggu di luar gerbang istana.”
Kaisar meletakkan dokumen di tangannya, memijat pelipis dengan wajah lelah. “Aku tidak bisa menemuinya. Titah sudah dikeluarkan, aku tak mungkin menariknya kembali. Suruh dia pulang.”
Kasim Lu menunduk hormat. “Prajurit penjaga sudah mencoba membujuk, tapi beliau menolak pergi. Ia Sudah berdiri lebih dari satu jam tanpa bergerak sedikit pun.”
Wuling terdiam lama. Hatinya ikut terusik. “Wen Bang meminta pernikahan itu sebagai hadiah atas jasanya di medan perang. Awalnya aku enggan menyetujui, tapi jika kutolak, dia dan Jenderal Mei Lin akan kehilangan muka. Bagaimanapun, mereka berdua telah berjasa besar bagi negeri ini.”
Kasim Lu menatap hati-hati. “Baginda, kalau bicara soal jasa perang, tak ada yang bisa menandingi Marquis Chen dan Jenderal Xing.”
Kaisar tak menjawab. Pikirannya melayang ke masa lalu. Ia masih ingat Chen Gong, sang Marquis yang dulu menjadi penuntunnya di medan perang pertama sebagai putra mahkota. Dan Chenxi… gadis itu sudah dikenalnya sejak kecil, saat baru berumur enam atau tujuh tahun. Kulitnya seputih porselen, senyumnya lembut seperti boneka hidup.
Kaisar Wuling bukan orang yang hidupnya tanpa luka. Ia naik tahta setelah melewati lautan darah dan kehilangan banyak orang kepercayaannya. Ia tahu betapa getir hidup seorang prajurit. Karena itu, ketika Wen Bang datang memohon pernikahan itu sambil membawa nama jasa perang, ia sempat ragu, namun akhirnya mengangguk juga.
Kini, selain adiknya Pangeran Sun, tak ada lagi jenderal kuat yang tersisa di istana. Dalam perang terakhir melawan pasukan luar, Jenderal Xing kehilangan satu lengannya, sedangkan putra ketujuh dari Jenderal lainnya gugur di medan tempur. Semua itu disembunyikan agar rakyat tidak kehilangan semangat.
Namun apa yang dikatakan Kasim Lu memang benar. Dibanding Wen Bang atau Mei Lin, jasa Marquis jauh lebih besar.
Kaisar menarik napas panjang. “Baiklah. Suruh dia masuk. Jika dia mau menerima pernikahan ini, apa pun yang dia minta akan kuberikan. Gelar kehormatan, pangkat, apa saja, asal dia rela.”
Kasim Lu menunduk dengan lega. “Baginda sungguh bijaksana.”