Chenxi berlutut di ruang kerja kaisar, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Kaisar Wuling menatap gadis di hadapannya. Ia teringat keluarga Marquis yang dulu berjasa besar bagi kekaisaran, namun kini hanya menyisakan Chenxi seorang. Rasa iba pun muncul di hatinya.
“Bangunlah, bicara saja dengan tenang,” ujarnya lembut.
Chenxi tetap menunduk, kedua tangan terlipat di depan d**a, lalu bersujud.
“Hamba tahu kedatangan hamba kali ini lancang, tetapi mohon kemurahan hati Yang Mulia.”
Kaisar menghela napas perlahan. “Chenxi, aku sudah mengeluarkan titah pernikahan itu. Tidak mungkin ditarik kembali.”
Chenxi menggeleng pelan. “Hamba tidak meminta Yang Mulia menarik titah itu. Hamba hanya memohon satu hal: izinkan hamba berpisah dari Jenderal Wen.”
Kaisar muda itu tertegun. “Berpisah? Kau ingin bercerai?”
Ia sempat mengira Chenxi datang untuk membatalkan pernikahan sebelum terlaksana, ternyata ia justru memohon izin untuk mengakhirinya.
Chenxi menunduk, menahan air matanya. “Yang Mulia, Jenderal Wen dan Jenderal Mei menerima pernikahan ini karena jasa mereka di medan perang. Hari ini bertepatan dengan hari peringatan wafat ayah dan kakak hamba. Maka, dengan jasa mereka pula, hamba ingin memohon satu anugerah: agar hamba diizinkan berpisah. Mohon kemurahan hati Yang Mulia.”
Kaisar menatapnya lekat-lekat, suaranya melembut. “Chenxi, kau tahu apa yang akan menantimu setelah bercerai?”
Nada lembut itu membuat d**a Chenxi bergetar. Sudah lama ia tak mendengar suaranya memanggil namanya seperti itu. Dulu, ketika kaisar masih menjadi putra mahkota, ia sering berkunjung ke rumah ayahnya. Setiap kali datang, ia selalu membawa hadiah kecil untuknya: permen, pita, atau mainan kayu sederhana. Namun sejak Chenxi pergi ke Gunung Meishan untuk belajar, mereka tak pernah bertemu lagi.
“Hamba tahu,” jawabnya lirih. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang tampak getir. “Tapi orang berhati luhur akan membantu sesamanya menemukan kebahagiaan. Hamba mungkin bukan orang sebaik itu, namun hamba juga tidak ingin menjadi duri di antara Jenderal Wen dan Jenderal Yi yang saling mencintai.”
Kaisar terdiam sejenak. “Keluarga Marquis Chen sudah tiada. Kalau kau berpisah, kau akan tinggal di mana? Pernahkah kau memikirkan masa depanmu?”
“Hamba sudah memikirkannya,” sahut Chenxi tenang. “Hari ini hamba pulang untuk berziarah, dan mendapati rumah sudah lama terbengkalai. Hamba ingin tinggal di sana, menjaga rumah itu, lalu mengangkat seorang anak laki-laki untuk meneruskan garis keluarga. Dengan begitu, ayah dan kakak hamba tidak akan kehilangan penerus untuk berdoa bagi mereka.”
Kaisar sempat terdiam. Ia menyangka gadis itu berbicara karena marah dan kecewa, ternyata semua sudah ia pikirkan dengan matang.
“Padahal kau adalah istri utama,” ucapnya perlahan, berusaha membujuk. “Mei Lin tidak bisa menggantikan posisimu. Kau tak perlu sampai bercerai.”
Chenxi menatapnya dengan mata lembap, namun sorotnya penuh keteguhan. “Yang Mulia, itu semua tak berarti lagi. Hamba tidak ingin menjalani hidup tanpa cinta. Ayah dan kakak hamba hidup dengan kehormatan dan keberanian. Hamba pun ingin menjalani hidup seperti mereka, bukan bertahan hanya karena nama.”
Kaisar menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Tapi aku tahu, kau menyukai Wen Bang. Benarkah kau sanggup melepaskannya?”
Chenxi tersenyum tipis. “Menyukai? Mungkin dulu hanya kekaguman. Hamba menghormati para prajurit yang gagah berani. Ibu hamba berharap hamba menikah dengan orang baik agar bisa hidup tenang, maka hamba menerima pernikahan itu.”
Ia menatap kaisar dengan tenang, senyumnya teduh namun dingin, seperti bunga yang mekar di tebing batu. “Kalau dia bisa melepaskan hamba, maka hamba pun bisa melepaskannya.”
Kaisar terdiam. Di balik kelembutan wajah Chenxi, tersimpan keteguhan yang membuatnya tertegun. Ia teringat pada gadis kecil yang dulu selalu berlari di halaman sambil memanggilnya kakak pangeran. Kini, gadis kecil itu sudah menikah, dan sebentar lagi akan menjadi seorang perempuan yang dicap “Janda.”
Dunia tidak pernah mudah bagi perempuan seperti Chenxi. Apalagi, pernikahannya dulu dimohonkan secara terbuka oleh Jenderal Wen di depan umum. Siapa yang berani melamarnya lagi setelah ini, ketika keluarganya pun telah tiada?
Kaisar menarik napas panjang. Ia teringat jasa besar keluarga Marquis di medan perang, betapa ayah Chenxi pernah menyelamatkan nyawanya, dan ia pernah berjanji akan membalas budi itu. Rasa hormat dan kenangan lama membuat hatinya luluh.
“Baiklah,” katanya pelan akhirnya. “Aku kabulkan permintaanmu. Pulanglah dulu. Dalam beberapa hari, titah perceraian akan dikirim ke kediaman Jenderal.”
Chenxi menunduk dalam-dalam, napasnya bergetar lega. “Hamba berterima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia.”
Kaisar menatapnya lama, pandangannya dipenuhi kenangan masa kecil. Gadis kecil yang dulu selalu tersenyum kepadanya kini bersujud memohon kebebasan. Hatinya terasa berat.
“Chenxi,” katanya lembut, “kalau nanti ada yang berani menindasmu, datanglah ke istana dan temui aku.”
Chenxi kembali bersujud. “Hamba berterima kasih, Yang Mulia.”
Kali ini ia bersujud dengan hati yang tenang. Ia tahu, hidup di depan tak akan mudah, tapi setidaknya, ia telah memilih jalan yang benar jalan miliknya sendiri.