Aula keluarga Qin kembali dipenuhi suara tepuk tangan saat Qin Zhenshi, ayah Raven, menyelesaikan pengumuman tentang restrukturisasi internal perusahaan. Semua orang tampak bersorak, tetapi Raven tahu di balik senyum mereka, ada pikiran yang sedang bergerak cepat.
Setiap senyuman adalah masker.
Setiap tepuk tangan adalah pisau.
Setiap tatapan adalah hitungan mundur menuju pengkhianatan.
Sementara ayahnya berbicara dengan para senior, Raven memalingkan wajah dan matanya langsung bertemu dengan Lin Yuxi.
Ia berdiri tidak jauh darinya, mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya diikat rendah, aura gadis muda yang manis dan polos terpancar jelas. Senyum kecil muncul di bibirnya ketika ia melambaikan tangan.
“Raven! Aku mencarimu sejak tadi,” katanya sambil mendekat.
Raven menatapnya tanpa ekspresi.
Lin Yuxi hampir terkejut.
Dalam kehidupan sebelumnya, Raven akan langsung tersenyum hangat dan menyambutnya.
Tapi kini, tatapan yang ia terima… dingin. Terukur. Penuh jarak.
Namun Raven membungkuk sopan sopan secara formal, bukan dengan kehangatan.
“Maaf. Aku sibuk mendengarkan pengumuman.”
Yuxi mengetuk lengannya pelan, seperti mencoba mencairkan suasana.
“Kau terdengar aneh hari ini. Tidak seperti biasanya.”
“Begitukah?”
“Ya. Biasanya kau lebih… hangat.”
Ia tertawa kecil.
“Sekarang kau seperti… CEO besar yang sedang melakukan negosiasi penting.”
Raven tidak menjawab.
Dalam pikirannya, ia melihat dua sisi Lin Yuxi:
gadis polos berusia 17 tahun ini dan wanita dingin bergaun putih yang menendang tubuhnya pada hari kematiannya.
Yuxi tidak menyadari tatapan Raven yang menilai setiap geraknya.
Ia hanya tersenyum lembut.
“Jadi… nanti kita jadi ke perpustakaan? Aku sudah memilih buku yang ingin kupinjam.”
---
Sebelum Raven sempat menjawab, sebuah suara berat memanggil dari belakang.
“Raven!”
Raven menoleh.
Paman Ketiga Qin Haoran datang dan menghampiri dengan senyum mengembang.
“Keponakanku yang cerdas,” katanya sambil menepuk bahu Raven terlalu akrab.
“Aku dengar kau mendapat nilai tertinggi di kampus. Hebat! Kau memang sangat berbakat.”
Raven tersenyum tipis.
“Terlalu banyak pujian tidak baik untuk anak muda, Paman.”
Qin Haoran terdiam sepersekian detik, kemudian tertawa.
“Ah! Kau bercanda! Kau makin dewasa rupanya.”....Dewasa?
Kalau saja dia tahu siapa yang sebenarnya sedang berdiri di depannya…
Lin Yuxi mundur sedikit untuk memberi ruang, tetapi memperhatikan interaksi itu dengan mata cermat.
Raven melihat sekilas Yuxi tampak sangat berhati-hati pada Qin Haoran.
(…menarik.)
Dalam kehidupan sebelumnya, ia tahu Lin Yuxi lah yang menjual data perusahaan kepada Paman Ketiga.Namun sekarang…
Tatapan Yuxi terhadap Qin Haoran berbeda. Seperti ia memandang pria itu dengan waspada bahkan sedikit takut.
(Atau dia memang aktris ulung.)
Qin Haoran menepuk bahu Raven untuk kedua kalinya.“Besok, datanglah ke kantor paman. Paman ingin menunjukkan proyek baru.”
“Baik,” jawab Raven, meski dalam hatinya hanya ada satu kata:Tidak mungkin.
Qin Haoran melirik Lin Yuxi.
“Oh? Yuxi juga di sini. Kalian semakin dekat rupanya.”
Wajah Yuxi memerah sedikit.
“Paman Haoran, jangan menggoda.”
Hati Raven terasa dingin,Dulunya, ia menyukai momen-momen seperti ini.
Sekarang, ia hanya melihat dua serpihan masa depan satu pengkhianat, satu manipulator.
Qin Haoran pergi dengan tawa keras.
Raven memperhatikan punggung pamannya itu pergi…dan untuk sesaat, tatapan Raven berubah.Tajam. Dingin. Penuh ancaman tak terlihat.
“Dia tidak akan lolos kali ini,” gumamnya pelan.Lin Yuxi mendengarnya.
“Hmm? Apa kau berkata sesuatu?”
“Tidak.”
---
Setelah acara usai, para tamu mulai keluar dari aula. Lin Yuxi berjalan di samping Raven, langkahnya ringan dan penuh energi.
“Hey, kau yakin baik-baik saja?” tanya Yuxi lembut.
“Kau terlihat… berbeda. Tatapanmu seperti menyimpan sesuatu.”
Raven menatapnya sebentar.
Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya bukan senyum lembut, tetapi senyum yang sulit ditebak.
“Aku hanya… melihat dunia dengan cara berbeda.”
Yuxi mengerutkan alis.
“Kau bilang begitu seperti… kau baru saja melewati banyak hal.”
(Oh, kau tidak tahu separuhnya.)
Raven memalingkan wajah.
“Yuxi, aku harus pergi ke suatu tempat.”
Yuxi tampak sedikit kecewa.
“Tidak ke perpustakaan…?”
“Besok.”
“Janji?”
(Tentu. Janji yang akan berakhir dengan pemutusan hubungan tunangan.)
Tapi Raven tidak mengatakan itu.
Ia hanya menjawab:
“Ya.”
Yuxi tersenyum kecil, tapi ada sesuatu di matanya.Seolah ia sedang mencoba membaca Raven.Namun Raven sudah melangkah pergi.Yuxi hanya berdiri, memperhatikan punggungnya menjauh, lalu berbisik:
“Apa yang terjadi padamu, Raven…?”
---
Saat keluar dari mansion, suara sistem muncul tiba-tiba di kepalanya jernih, dingin, seperti mesin tanpa emosi.
[Misi Utama 01 Aktif]
Judul: “Penyelamatan di Persimpangan Takdir”
Deskripsi: Dalam 3 jam dari sekarang, seorang gadis berusia 12 tahun akan diculik dan dibunuh.]
Posisi: Distrik Barat, gang perbatasan area pasar.]
Raven berhenti berjalan,darahnya membeku sesaat gadis 12 tahun?....Tunggu
[Informasi Tambahan:]
Gadis ini akan berperan sebagai 'pemicu perubahan masa depan'.
Jika diselamatkan → ia menjadi adik angkatmu.Jika gagal diselamatkan → masa depanmu akan mengalami deviasi fatal.]
Jadi ini dia gadis kecil itu.Adik perempuan yang akan mengubah hidupnya.Dalam hidup sebelumnya, Raven tidak pernah bertemu gadis ini.Mungkin karena ia mati terlalu cepat.Atau mungkin karena jalur hidupnya tidak pernah mengarah ke sana.
Namun kini Sistem memberinya peran baru.
[Hadiah Misi:] Identitas Tambahan: Lisensi Operatif Bayangan
Kemampuan: Shadow Perception Lv.1 (Deteksi ancaman tersembunyi)
Fitur Sistem Baru akan terbuka]
Raven menghela napas.
“Jadi ini alasannya aku dikembalikan… bukan hanya untuk balas dendam.”
[Waktu tersisa: 2 jam 59 menit]
Raven menyelipkan tangan ke saku. Langkahnya perlahan berubah,Cepat dan Tegas.Dunia terasa berbeda.
Langit tampak lebih gelap.Bayangan lebih panjang.Dan kota di depannya seperti labirin baru yang siap ia taklukkan.
Satu langkah…dua langkah…lalu ia berlari.
Menuju ke arah Distrik Barat.Menuju gadis kecil itu.Menuju awal kisah yang tidak pernah ia jalani di kehidupan pertama.
---
Di dalam kantor besar mansion, Paman Ketiga mengamati Raven yang pergi melalui jendela lantai dua.Ia menyuruh asistennya mendekat.
“Kau lihat itu?”
“Asal Anda… apa maksudnya?”
Qin Haoran menyipit.
“Anak itu… berubah.”
“Asal Anda… yakin? Dia masih terlihat seperti remaja.”
“Justru itu.” Haoran memutar cincin di jari kelingkingnya.
“Tatapannya. Caranya bicara. Cara ia melihatku. Ada sesuatu yang tidak kuketahui.”
Sang asisten menelan ludah.
“Apa kita harus… menyelidikinya?”
Haoran tersenyum dingin.Matanya penuh racun dan kalkulasi.“Tentu. Mulai hari ini… pantau setiap langkahnya.”
Ia memandang ke arah pintu keluar mansion.
“Qin Raven…
jika kau menghalangiku,
aku akan memastikan kehidupanmu berakhir dengan cara paling menyakitkan.”
---
Di sisi lain kota Raven tiba di Distrik Barat.Gang-gang sempit.Lampu-lampu redup.Suara pasar yang pelan-pelan memudar saat ia memasuki area yang bahkan polisi enggan datangi.
Dan di sinilah [Waktu tersisa: 1 jam 12 menit.]
Ia mempercepat langkah.Tiba-tiba, sistem mengirimkan notifikasi baru.
[Peringatan Bahaya!]
Ancaman tingkat menengah terdeteksi dalam radius 40 meter.]
Raven menegakkan tubuhnya dan matanya perlaman mulai memperhatikan sekitar dengan cermat. Ada suara kecil mungkin suara langkah cepat.Suara seseorang berlari.
Kemudian suara teredam seorang gadis.
“Lepaskan aku…! Jangan…!”
Raven langsung menoleh ke kiri.Matanya melihat bayangan tiga pria besar menyeret seorang anak kecil ke gang gelap.Gadis itu tampak ketakutan, tubuhnya gemetar, rambutnya berantakan.Usianya tidak lebih dari 12 tahun.
Raven menatap tanpa berkedip.Itu dia.
Gadis kecil yang akan menjadi adiknya.
Yang harus ia selamatkan…
atau masa depan akan berubah ke arah paling gelap.Ia melangkah maju.Satu langkah maju dua langkah.
Namun saat ia perlahan berjalan semakin mendekat Pria bertopeng menarik pisau ke leher gadis itu.
“Diam atau kubunuh!”
Gadis itu membeku dan pada saat itu dan pada detik itu juga..
[Shadow Perception Lv.1 aktif]
Raven merasakan semuanya arah angin, jarak, kecepatan, detak jantung para penculik, titik buta di sekitar gang, bahkan celah kecil saat pisau itu bergerak.
Kemampuan yang tidak ia miliki sebelumnya.
Ia mengangkat kepalanya perlahan, matanya dingin seperti pembunuh profesional.Lalu ia berkata dengan suara rendah yang membuat para penculik menahan napas:
“Lepaskan gadis itu…”Ia melangkah maju.
“…atau kalian akan mati di sini.”
Para penculik tertawa.Anak kecil 18 tahun mau jadi pahlawan?”
Raven tersenyum tipis.
“Tidak.”
“Aku datang sebagai pembalasan pertama.”
Dan malam itu gang gelap di Distrik Barat menjadi awal dari segalanya.
Awal dari kebangkitan seorang raja