Peluru melesat seperti kilat. Tapi Qin Raven sudah melangkah sebelum dunia sempat mengejarnya.Suara DOR memecah udara seperti ledakan kecil. Waktu seolah melambat.
Raven meraih Yuwei dengan satu tangan, memeluknya erat sambil memutar tubuh, menekan gadis kecil itu ke dadanya untuk melindungi kepala dan punggungnya. Tangan satunya mendorong He Ruyin hingga ia terjatuh ke samping, menjauh dari garis tembak.
TING!
Peluru menghantam pagar besi di belakang mereka, meninggalkan lubang kecil dan percikan api.Dalam sepersekian detik, Raven mengangkat wajah, matanya langsung menatap titik asal tembakan.
Di atas gedung sekolah, siluet seorang pria muncul hitam, berpakaian ketat, dengan sniper laras panjang. Anginnya berdesir, membawa ujung kain hitam yang berkibar.
“Penembak jitu…” gumam Raven lirih.
[System] Ancaman Tingkat Tinggi.
Mode Peringatan: Aktif.
Penembak akan mengisi ulang dan menembak lagi dalam 3,4 detik.]
Tiga detik.Tiga detik adalah selamanya bagi seorang yang sudah mati satu kali.
Raven menajamkan mata. “Ruyin! Bawa Yuwei ke belakang mobil. SEKARANG!”
He Ruyin terkejut, masih memegangi lengan yang tadi ditarik Raven.
“Raven kau”
“BURUAN!”
Nada itu bukan permintaan. Itu perintah.
Ruyin tersentak dan mengangguk, menarik Yuwei yang masih ketakutan.Raven sendiri mengambil ancang-ancang.
Detik berikutnya peluru kedua meluncur.
WHIZZ!
Raven menukik ke samping, berputar di udara dua kali sebelum mendarat dengan lutut menyentuh tanah. Peluru lewat setengah jengkal dari wajahnya, cukup dekat untuk merasakan hembusan panas logam itu.
Sebelum ia sempat berdiri, System berbunyi lagi:
[Analisis lintasan peluru: Penembak telah memprediksi arah gerakan Anda.
Estimasi kecerdasan: Tinggi.]
“Jadi ini bukan amatir,” gumam Raven.
Matanya menatap gedung. Penembak itu gesit bergerak dari tepi kiri ke kanan dalam hitungan detik, nyaris seperti bayangan.Seseorang yang terlatih.Seseorang yang dibayar mahal.
Seseorang yang datang untuk membunuhnya.
Siapa di masa lalu yang berani secepat ini?
Di kehidupan sebelumnya, pembunuhan terhadapnya tidak terjadi sampai bertahun-tahun kemudian.Sekarang?
Raven kembali ke masa lalu satu hari, dan sudah ada sniper di kepalanya.Seseorang di balik layar bergerak terlalu cepat.Atau lebih menakutkan seseorang juga tahu bahwa ia kembali ke masa lalu.
Aksi: Perburuan Dimulai
Tanpa menunggu tembakan ketiga, Raven berlari menuju gedung sekolah.Gerakannya cepat, presisi, tanpa ragu.Ia memanfaatkan kendaraan, tiang lampu, dan tembok sebagai perlindungan.Peluru ketiga ditembakkan.
DOR!
Raven memantul dari tembok samping menuju selokan kecil, menghindari peluru yang melesat hanya sejengkal dari betisnya.Sialnya… penembak itu bukan hanya terlatih, tapi membaca pergerakannya seperti seseorang yang mengenalnya.
Itu membuat darah Raven mendidih.
Ia menyeringai kecil tanpa suara.
“Ayo. Kejar aku kalau bisa.”
[System] Peringatan: Penembak mengubah posisi, bergerak ke atap sisi timur.]
“Sudah kuduga.”
Raven mempercepat langkah, naik ke tangga darurat.Di lantai dua, seorang penjaga sekolah yang panik menghadangnya.
“Anak muda! Tidak boleh naik! Bahaya”
“Masuk ke dalam ruangan. Tutup pintu. Jangan keluar.”
Nada Raven tidak menerima jawaban lain.
Penjaga itu terpaku, lalu mengangguk cepat dan menghilang.Di lantai tiga, angin semakin kuat. Jendela terbuka, tirai berkibar liar. Raven melirik ke luar atap sudah dekat.Ia meraih bibir jendela dan melompat.Udara dingin menerpa wajahnya saat tubuhnya mendarat di atap dengan lembut, seperti kucing besar.
Namun begitu kaki menyentuh permukaan beton, ia tahu satu hal:
Atap itu kosong.
Penembak hilang.
“Dia cepat…” bisiknya.
[System] Deteksi: Suara langkah kaki—arah barat.]
Raven menoleh ke kiri.
Seorang pria berpakaian hitam memanjat pagar atap menuju tali zipline yang dipasang entah sejak kapan.
Gerakannya lihai, seperti pembunuh profesional.
“Bawa itu ke sini!” Raven menggeram dan mulai berlari mengejar.
Penembak menoleh.Untuk sesaat, wajahnya terlihat.Tertutup masker hitam.
Namun matanya mata cokelat gelap itu Raven membeku sejenak.
“Mata itu…”
Matanya bukan mata pembunuh biasa.
Terlalu familiar.
Terlalu dingin.
Dan entah mengapa… seperti seseorang yang pernah dilihatnya sebelum mati di kehidupan sebelumnya.Penembak itu tersenyum tipis di balik masker, seolah tahu Raven mengenalinya.
Lalu ia meluncur ke seberang menggunakan zipline.
Raven mengumpat pelan.Pengejaran Berbahaya
Tanpa ragu, Raven mengambil ancang-ancang dan melompat.Tangannya menangkap kabel zipline.Tubuhnya meluncur kencang, angin merobek wajahnya.Penembak melihat ini dan mempercepat langkah setelah mendarat di gedung seberang.
Raven turun lebih cepat dari seharusnya, melepaskan kabel sebelum mencapai ujung. Tubuhnya melayang turun beberapa meter sebelum mendarat dengan membungkuk.
Dislokasi? Tidak.
Ia bergerak terlalu cepat untuk itu.Pria bersenjata itu sudah berlari.Raven mengejarnya menembus lorong, melewati gudang, memasuki area parkir sekolah yang sepi.
Di antara deretan mobil, penembak itu berhenti.
Ia mengarahkan sniper lagi kali ini jarak dekat.
“Bodoh!” Raven berteriak.
Pria itu menembak.
Tapi saat Raven melompat ke samping, ia menyadari sesuatu: sniper itu tidak diisi penuh.
Peluru itu hanya peluru kecil, tidak mematikan lebih seperti…
“Aku hanya dibuat sibuk,” gumam Raven, langsung sadar.
Saat ia menatap sekitar, sesuatu dingin menyentuh tulang belakangnya.Di arah berlawanan di mana He Ruyin dan Yuwei bersembunyi ledakan kecil terdengar.
BOOM!
Bukan besar.Tapi cukup untuk membuat mobil berguncang.Raven tercengang.Mata melebar.Nafas tercekat.
“…Sial.”
Ia berbalik dan berlari dengan kecepatan penuh.
Penembak melepaskan tembakan terakhir, namun kali ini Raven tidak peduli.
Ia hanya fokus pada satu hal:
Yuwei.
Gadis kecil yang baru ia selamatkan.
Gadis kecil yang tidak seharusnya terluka.
Gadis kecil yang di masa lalu tidak pernah ada, namun kini menjadi bagian penting hidupnya.
“KALIAN BERANI MENYENTUH ADIKKU—?!”
Angin memukul wajahnya saat ia berlari begitu cepat hingga hampir terpeleset beberapa kali.
Di tengah jalan, System berbunyi:
[Kondisi Target Kecil: Stabil.
Tidak ada luka fatal.
Ledakan terjadi di sisi mobil, ditujukan sebagai peringatan.]
Raven menghentikan langkah mendadak, melemparkan tatapan penuh amarah ke arah gedung belakang.
“Peringatan…? Untukku?”
Itu berarti tembakan sniper dan ledakan kecil itu bukan untuk membunuh.Tapi tanda ancaman.
Seseorang ingin berkata:
“Kami tahu kau kembali. Kami tahu rencanamu. Dan ini baru permulaan.”
Urat-urat di tangan Raven menegang.
Jadi permainan sudah dimulai bahkan sebelum aku sempat bergerak.
Pertemuan Setelah Ledakan
He Ruyin berlari keluar dari balik mobil.
“Raven! Kau baik-baik saja?! Aku mobilnya tadi ada sesuatu”
Raven mengacungkan tangan, menandakan diam.
“Yuwei?”
Suara Raven datar, namun ada nada tak setuju yang membuat udara mengeras.Ruyin menunjuk ke belakang mobil.Yuwei duduk sambil menangis terisak, memegang telinganya yang masih berdenging karena ledakan kecil tadi. Namun tubuhnya tidak terluka.
Raven segera menghampirinya.
“Aku… aku takut…” suara Yuwei bergetar.
Raven berlutut dan memeluknya.
“Tidak apa-apa. Kau aman.”
Suaranya turun satu oktaf, lembut namun penuh tekanan emosional.
“Kakak tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.”
Yuwei menangis lebih keras, memegangi pakaian Raven.He Ruyin berdiri di belakang, menatap keduanya.Wajahnya rumit.
Bukan karena cemburu Ruyin terlalu dingin untuk itu.Namun karena melihat sisi Raven yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Kau…” Ruyin berbisik.
“Kau bukan Raven yang kukenal.”
Raven melepaskan Yuwei perlahan, menatap Ruyin dengan cara yang membuat wanita itu merasakan dorongan balik satu langkah.
“Aku memang bukan dia.”
Senyum tipis tanpa hangat muncul di bibirnya.
“Dan kau lebih baik mengingat itu.”
Ruyin terdiam, tidak bisa berkata apa pun.
System mengungkap pesan tersembunyi
Saat Raven berdiri, System berbunyi pelan:
[Satu pesan digital tertinggal oleh penembak.]
[Lokasi: Di bawah bumper mobil.]
[Isi pesan: Welcome Back, Raven.]
Raven mengepalkan tangan.
Ada yang menunggunya.
Ada yang tahu segalanya.
Ada yang mengamatinya sejak awal.
Dan mereka cukup berani untuk mengirimkan salam seperti itu.
Raven mengangkat kepala perlahan.
Tatapannya kini seperti raja murka gelap, dalam, dan mengancam.
“Baik.”
“Kalau perang yang kalian inginkan…”
“Maka perang yang akan kalian dapatkan.”
Cliffhanger akhir bab
Namun sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanyaSuara System kembali terdengar, kali ini lebih serius.
[Peringatan Baru.]
[Seseorang telah memasuki Timeline.]
[Sumber: Tidak Diketahui.]
[Identitas: Regressor kedua.]
Raven mematung.
Regressor… lain?
Seseorang selain dirinya kembali ke masa lalu.
Dan orang itu berbahaya.
Sangat berbahaya.