Pesawat masih melaju di atas langit malam.
Lampu kabin sudah diredupkan. Suasana yang sebelumnya cukup ramai kini berubah tenang. Sebagian penumpang sudah tertidur, sementara sebagian lainnya memilih menikmati perjalanan dengan menonton film atau membaca.
Clara masih berusaha membaca novel yang sejak tadi ada di tangannya.
Satu halaman, dua halaman.
Matanya mulai terasa berat.
Dia menguap kecil.
Glenzo yang duduk di sebelahnya melirik sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata.
Clara menggeleng pelan untuk mengusir kantuknya.
Glenzo mengangkat alis. “Kelopak mata lo udah turun setengah.”
Clara menatapnya sebentar dengan mata sayup. “Masih bisa baca.”
Glenzo tidak menjawab, dia bahkan kembali melihat ponselnya.
Beberapa menit berlalu, Clara masih memegang novelnya, tetapi tidak lagi membalik halaman.
Matanya akhirnya benar-benar terpejam, kepalanya perlahan miring ke samping.
Dan tanpa sadar bersandar tepat di bahu Glenzo.
Glenzo yang juga mulai mengantuk tidak langsung menyadarinya, beberapa saat kemudian, kepalanya ikut miring.
Kini kepala Glenzo bersandar ringan di atas kepala Clara.
Mereka tertidur dalam posisi yang sangat dekat.
Tepat kursi di depan mereka, Wiliam baru saja berdiri untuk meregangkan tubuhnya.
Saat melihat kearah kursi Glenzo, gerakannya tiba-tiba berhenti.
Dia menatap ke arah dua orang yang sedang tidur itu.
Wiliam mengerjapkan mata.
“...Hah?, Glen.. ini serius?!”
Dia menoleh kesamping kearah Kenzo.
Kenzo yang masih duduk tepat disampingnya menatap bingung Wiliam. “Apaan?” tanya Kenzo penasaran
Wiliam menunjuk ke arah Glenzo dan Clara. “Noh lihat ketua lo.”
Kenzo yang tadinya duduk santai akhirnya berdiri dan melihat kearah kursi Glenzo.
Begitu melihatnya, wajahnya langsung berubah. “Waduh!.” serunya
Wiliam menahan tawa. “Kita nggak salah lihat, kan Zo?”
“Enggak, ini real.”
“Glenzo tidur bareng Clara si ratu balerina coy?” ejek Wiliam menutup mulutnya tidak menyangka.
“Bukan tidur bareng goblok.” Jawab Kenzo mendorong lengan Wiliam.
“Ya maksud gue…”
Wiliam kembali melihat mereka. “Kok mereka bisa sedeket itu?”
Kenzo terkekeh. “Mungkin capek banget, mereka.”
Wiliam mengambil ponselnya. “Ini harus diabadikan, momen langka.”
Kenzo langsung menahan tangannya. “Jangan!”
“Kenapa?” tanya Wiliam bingung
“Kalau Glen tahu kita ambil foto dia sama cewek, kita mati.”
Wiliam nyengir. “Makanya jangan sampai tahu, ini tuh momen bagus Zo.”
Cekrek, satu foto berhasil diambil.
Wiliam melihat hasilnya. “Bagus, tapi kalo cuma satu kurang deh..”
Kenzo ikut melihat. “Ambil satu lagi dari sini.”
Wiliam menatapnya. “Katanya jangan.”
“Buat cadangan.”
Mereka berdua menahan tawa.
Cekrek. Foto kedua tersimpan.
“Udah udah, keburu bangun nanti.”
Wiliam kembali ke tempat duduknya sambil memasukkan ponsel ke saku.
Kenzo menatapnya. “Jangan disebar Wil, bahaya.”
“Gue nggak sebodoh itu.”
“Gue tahu lo.”
“Tenang aman di hp gue.” Wiliam tersenyum kecil. “Ini cuma buat kenang-kenangan.”
---
Beberapa waktu kemudian, Clara mulai terbangun, matanya terbuka perlahan.
Dia masih setengah sadar, tangannya bergerak untuk mencari novel yang tadi berada di pangkuannya.
Namun—
Plak!
Tangannya tidak sengaja mengenai wajah Glenzo.
Glenzo langsung terbangun. “Hah?!”
Clara ikut tersentak. “Astaga!”
Mereka saling menatap.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Kemudian Clara baru menyadari posisi kepalanya, dia langsung duduk tegak.
“Eh…” Glenzo mengusap pipinya. “Lo mukul gue?”
“Enggak sengaja!”
“Jelas-jelas tangan lo kena muka gue.”
“Ya karena gue nggak tahu lo tidur!”
Glenzo menunjuk bahunya. “Terus lo juga tidur di bahu gue.”
Clara menatap bahunya, kemudian wajahnya berubah sedikit malu. “Maaf.”
Glenzo menyeringai melihat bahunya. “Ihh... apaan ini lo ngiler ya.”
Clara langsung menatapnya. “Apa?”
“Ngiler.”
“Ha.. serius?”
“Iya nih liat.” Jawab Glenzo menunjukkan bahunya yang bersih tidak ada bekas air liur.
Clara refleks menyentuh sudut bibirnya.
Glenzo hampir tertawa. “Lihat tuh. Panikkan.”
Clara menyipitkan mata. “Jangan bohong lo ya.”
“Gue nggak bohong.” Jawab Glenzo tersenyum pada Clara.
Clara kemudian memperhatikan Glenzo. “Tapi lo juga.”
Glenzo mengernyit. “Juga apa?”
“Ngiler.”
“Ngawur, gue ngiler dimana?”
“Di kepala gue.”
Glenzo langsung terdiam. “Mana ada?”
“Tadi kepala lo nempel di kepala gue.”
Glenzo mencoba mengingat. Kemudian dia menatap Clara. “Lo yakin?”
“Yakin, nih cium pasti bau iler.” Jawab Clara menyodorkan kepalanya pada Glenzo.
“Jangan-jangan lo yang ngiler.”
Clara langsung melotot. “Enak aja.”
Glenzo menahan tawa. “Ya siapa tahu.”
Clara menghela napas. “Sudahlah.”
Dia merapikan rambutnya. “Pokoknya maaf. Gue tadi ketiduran.”
Glenzo mengangguk santai. “Ya udah.”
Clara kembali memasang earphone.
Namun sebelum kembali membaca, dia melirik Glenzo.
Glenzo tersenyum tipis. “Kenapa lihat lihat, mau mastiin iler?”
Clara langsung mengernyit. “Apaan sih nggak jelas”
Glenzo tersenyum seperti puas telah mengerjai Clara.
Clara mendengus.
Glenzo tertawa kecil.
Untuk beberapa saat, mereka kembali diam.
Namun kali ini keduanya tidak langsung tidur.
Mereka sama-sama sadar kalau beberapa menit sebelumnya mereka tertidur dalam posisi yang sangat dekat.
Dan entah kenapa, suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda.
---
Pesawat akhirnya mendarat.
Setelah mengambil barang masing-masing, Glenzo bergabung dengan rombongan timnya.
Clara juga kembali bersama teman-temannya.
Mereka hanya sempat saling melihat sebelum akhirnya berjalan ke arah berbeda.
Clara melangkah mendahului Glenzo dan tersenyum tipis
Glenzo yang memperhatikannya spontan mengangguk.
Clara pergi.
Glenzo masih sempat melihat ke arahnya beberapa detik.
Wiliam yang berdiri di sebelahnya langsung menyenggol lengannya.
“Kenapa Glen?”
“Apaan?”
“Ngelihatin Clara mulu?”
Glenzo langsung mengalihkan pandangan. “Enggak papa.”
Wiliam tersenyum penuh arti.
Glenzo menatapnya. “Lo kenapa sih, kayak orang gila senyum senyum?”
“Enggak kenapa-kenapa.” Wiliam berjalan lebih dulu sambil menahan senyumnya.
Glenzo mengikutinya.
Tapi dalam hati dia kembali teringat perempuan yang beberapa kali muncul di depannya selama perjalanan ke Paris.
Clara.
Aneh.
Mereka bahkan belum benar-benar saling mengenal.
---
Keesokan paginya, kehidupan kampus kembali seperti biasa.
Glenzo berjalan melewati koridor gedung teknik bersama Kenzo dan Wiliam.
Dia sedang membicarakan jadwal latihan ketika seseorang berjalan dari arah berlawanan.
Clara.
Glenzo langsung mengenalinya.
Clara juga melihat mereka, pandanga n Clara dan Glenzo bertemu, tapi mereka memilih sama sama diam.
Clara terus berjalan.
Sementara Glenzo masih menatap punggungnya.
Kenzo menoleh. “Kenapa Glen?”
“Apanya?”
“Tiba tiba berhenti, di ajak ngomong diem aja.”
“Enggak papa ”
“Dia lagi Nggak konek bro.” Sambung Wiliam
Glenzo kembali berjalan.
---
Siang harinya, Glenzo kembali bertemu Clara.
Kali ini di kantin.
Dia sedang membeli minuman ketika mendengar suara dari belakang.
“Berapa bu?”
Glenzo menoleh, ya dia mendengar Clara sedang membayar minuman dan beberapa camilan.
Clara berdiri beberapa langkah darinya. Dan menoleh kearahnya.
Clara tersenyum, ya kali ini dia tersenyum pada Glenzo.
Spontan Glenzo juga membalasnya dengan senyum manis dari wajahnya.
Glenzo mengangguk.
Clara melangkah pergi meninggalkannya.
Glenzo memperhatikannya sebentar.
Kemudian kembali ke tempat Wiliam dan Kenzo.
Kenzo langsung bertanya. “Kenapa lo, kayak orang kesambet?”
“Kenapa apaan?”
“Lo dari tadi lihat Clara.”
“Eh-ngaco”
“Kita punya mata Glen kita juga tau lo dari tadi liatin Clara.” Sambung Wiliam sambing membuka botol minumnya.
Glenzo duduk. “Gue cuma heran aja, kok gue pikir pikir jadi sering ketemu dia ya?”
Kenzo menatapnya. “Dia juga kuliah disini wajar lah kalo jadi sering ketemu.”
Glenzo terdiam, dia kemudian memasukkan roti kedalam mulutnya.
Wiliam tersenyunm yang memperhatikan Glenzo kebingungan.
---
Sore hari.
Glenzo kembali berpapasan dengan Clara.
Kali ini di depan gedung kampus.
Clara akhirnya menyapa Glenzo dengan lembut
“Hei.. ”
Glenzo tersenyum. “Oh hei..”
Clara tersenyum, manis.. sangat manis.
Senyumnya lembut bahkan jika orang melihatnya tersenyum ingin melihatnya terus menerus.
“Mari..” ucap Clara melangkah pergi
Glenzo belum sempat menjawab Clara sudah menjauh.
Setelah Clara pergi, Glenzo berhenti berjalan. Dia menatap sekitar.
Kemudian menghela napas. “Ini kampus gue atau kampus dia?”
Kenzo yang berada di sebelahnya tertawa. “Kenapa?”
“Dari pagi ketemu dia terus.”
“Terus masalahnya apa?”
“Ya.. nggak ada.” Glenzo kembali berjalan.
Tapi semakin dipikirkan, semakin aneh, kemarin di Paris mereka bertemu berkali-kali.
Sekarang setelah kembali ke kampus, mereka malah semakin sering berpapasan.
Padahal kampus mereka luas.
Jurusan mereka juga berbeda.
Harusnya kemungkinan bertemu sesering ini kecil.
Glenzo menggeleng. “Ini kebetulan apa gimana, sih?”
---
Malamnya, Glenzo berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Entah kenapa, pikirannya kembali pada kejadian pagi tadi.
Clara menatapnya, tersenyum padanya, bahkan menyapanya.
Sederhana.
Tapi anehnya, Glenzo masih mengingatnya sampai sekarang.
Dia menghela napas. “Gue kenapa, sih?”
Dia meletakkan ponselnya.
Kemudian menarik bantal dan menutup wajahnya. “Cuma disapa doang.”
Beberapa detik kemudian, dia menurunkan bantal.
Senyum kecil muncul di wajahnya, Glenzo langsung menggeleng.
“Enggak. Enggak. Gue nggak boleh aneh.” Dia memejamkan mata.
Namun senyum kecil itu masih belum hilang.
Dan tanpa Glenzo sadari, kebetulan-kebetulan kecil itu perlahan mulai membuat satu nama menjadi semakin sering muncul di kepalanya.
Clara.
Bukan karena dia sengaja mencarinya.
Bukan karena Clara sengaja mendekatinya.
Tapi entah kenapa…
Setelah perjalanan ke Paris, mereka seperti selalu menemukan jalan untuk kembali berpapasan.
Dan mungkin…
Kebetulan itu memang belum selesai.