Beberapa hari setelah kembali dari Paris, kehidupan di Unisev University perlahan kembali seperti biasa.
Jadwal kuliah kembali padat. Tugas-tugas mulai menumpuk, kegiatan organisasi kembali berjalan, dan para mahasiswa yang sebelumnya sibuk dengan program kampus di Paris mulai kembali menjalani rutinitas masing-masing.
Sampai suatu siang, grup mahasiswa Unisev tiba-tiba ramai.
Sebuah pengumuman dari pihak kampus muncul.
«📢 PENGUMUMAN
Dalam waktu dekat, Unisev University akan kembali mengadakan Pasar Rakyat Mahasiswa, kegiatan tahunan yang melibatkan seluruh mahasiswa dalam berbagai kegiatan seperti kuliner, minuman, pertunjukan, permainan, stan kreativitas, dan kegiatan mahasiswa lainnya.
Seluruh mahasiswa yang mengikuti program kampus di Paris diwajibkan mengikuti rangkaian kepanitiaan.»
Clara yang sedang duduk di salah satu sudut kampus membaca pengumuman itu sambil menyeruput minumannya.
"Pasar rakyat lagi." Ia tidak terlalu memikirkannya.
Sudah menjadi kegiatan tahunan kampus, jadi menurutnya tidak ada yang aneh.
Beberapa saat kemudian, muncul pesan berikutnya.
«📋 DATA KEPANITIAAN
Seluruh peserta program kampus di Paris diminta mengecek nama masing-masing dalam daftar panitia yang telah dilampirkan.»
Clara membuka file tersebut.
Matanya bergerak perlahan menyusuri daftar nama.
Sampai akhirnya ia menemukan namanya.
Clara Collins — Panitia.
"Ya." Clara mengangguk kecil.
Wajar.
Peserta program kampus di Paris memang otomatis mendapat tugas.
Ia kembali menggulir layar.
Beberapa baris di bawahnya, ada nama yang tidak asing.
Glenzo Parker
Clara hanya mengangkat alis sebentar.
Tidak ada reaksi lebih.
Glenzo juga peserta program yang sama. Jadi sudah pasti namanya ada di sana.
Tidak jauh dari tempat Clara berada, Glenzo sedang melihat daftar yang sama.
Ketika menemukan namanya sendiri, ia hanya mengangguk.
"Panitia."
Selesai.
Sama sekali tidak ada yang istimewa.
Mereka bahkan belum tahu bahwa beberapa jam lagi nama mereka akan kembali muncul dalam satu daftar yang sama.
---
Keesokan siangnya, seluruh panitia diminta berkumpul di aula gedung barat.
Aula yang cukup besar itu mulai dipenuhi mahasiswa.
Ada yang duduk bersama teman-temannya, ada yang sibuk membuka ponsel, dan ada pula yang masih bercanda sebelum acara dimulai.
Clara datang seorang diri beberapa menit lebih awal.
Ia memilih tempat duduk dan membuka buku catatan.
Tak lama kemudian, Glenzo muncul bersama Kenzo dan Wiliam, mereka duduk santai.
Beberapa menit kemudian, seorang dosen berdiri di depan aula.
"Baik, semuanya. Tolong perhatiannya sebentar."
Suasana perlahan tenang.
Dosen tersebut mulai menjelaskan konsep Pasar Rakyat Mahasiswa, pembagian tugas, jadwal kegiatan, serta beberapa aturan yang harus diperhatikan selama acara berlangsung.
Setelah itu, tibalah saat pembagian tim.
"Untuk mempermudah koordinasi, kalian akan dibagi menjadi beberapa tim."
Satu per satu nama mulai dibacakan.
Sampai akhirnya dosen itu mengatakan,
"Untuk tim tiga, ketua timnya adalah..."
Ia berhenti sebentar. "Clara Collins."
Clara yang sejak tadi mencatat langsung mengangkat kepala.
"Saya, Bu?" Tanya Clara bingung
"Iya, Clara."
Beberapa mahasiswa di sekitar Clara langsung menoleh kepadanya.
Clara hanya mengangguk kecil. "Baik, Bu."
Belum sempat dosen melanjutkan, sebuah tangan terangkat dari sisi lain aula.
"Bu."
Dosen itu menatap ke arah Glenzo. "Ya, Glenzo?"
"Ketuanya kok bukan saya?"
Seketika beberapa mahasiswa tertawa.
Clara menoleh, Glenzo terlihat sangat serius.
Dosen itu justru tersenyum tipis. "Kamu mau jadi ketua?"
"Mau lah, Bu."
"Kenapa?"
Glen mengangkat bahu. "Saya merasa punya jiwa kepemimpinan, saya juga ketua tim."
Teman-temannya langsung tertawa lagi.
Dosen itu mengangguk pelan. "Ibu juga merasa kamu punya jiwa kepemimpinan."
Glen tersenyum puas."Nah, kan—"
"Tapi jiwa kepemimpinanmu terlalu bebas."
Tawa di aula langsung pecah.
Glenzo terdiam. "Bu..."
Dosen itu masih santai. "Kalau kamu yang jadi ketua, Ibu khawatir acara ini belum dimulai tapi sudah berubah konsep."
"Berubah jadi apa?"
"Jadi acara yang tidak punya konsep, dan tidak ada tujuan yang terarah."
Aula kembali dipenuhi tawa.
Glenzo menggeleng. "Saya bisa serius, Bu."
"Bisa."
Glenzo tersenyum. "Tuh."
"Tapi biasanya cuma lima menit."
Kali ini Glen tidak bisa membantah.
"Udah bro, kalah telak lo." Ucap Kenzo menarik tangan Glenzo.
Dia akhirnya bersandar ke kursinya sambil menghela napas. "Oke deh."
Clara yang sejak tadi berusaha menahan senyum akhirnya tidak tahan, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Glen yang kebetulan melihatnya langsung menunjuk. "Lo ketawain gue?"
Senyum Clara langsung hilang. "Nggak."
"Gue lihat tadi lo ketawa."
"Salah lihat."
Glenzo menyipitkan mata. "Ternyata lo bisa ketawa juga."
Clara kembali menatap ke depan. "Diam."
Glen justru tersenyum. "Siap, Ketua."
Clara meliriknya. "Gue belum jadi ketua lo."
"Tapi lo udah ditunjuk, resmi."
Clara menghela napas.
Baru beberapa menit diumumkan menjadi ketua tim, sudah ada satu orang yang terasa paling berpotensi membuat pekerjaannya bertambah.
---
Setelah pembagian ketua selesai, dosen meminta seluruh panitia berkumpul berdasarkan tim masing-masing.
Clara segera berpindah tempat bersama anggota timnya.
Ia duduk sambil membuka catatan.
"Pertama, kita perlu menentukan pembagian tugas..." Clara mulai menjelaskan beberapa hal yang perlu mereka kerjakan.
Semua anggota memperhatikan, kecuali satu orang.
Glenzo.
Awalnya ia masih diam, lima menit, sepuluh menit.
Lalu ia menoleh kepada Clara. "Cla."
Clara masih membaca catatan. "Hm?"
"Kamu suka es krim?"
Clara berhenti menulis, menoleh kearah Glenzo. "Apa?"
"Es krim."
Clara mengerutkan kening. "Es krimnya kenapa?"
"Penasaran."
Clara kembali melihat catatannya. "Vanila."
"Oh." Glenzo mengangguk.
Beberapa detik berlalu. "Cla."
"Apa lagi?"
"Kamu takut kecoa?"
Clara berhenti menulis untuk kedua kalinya. "Glenzo."
"Iya?"
"Lo emang suka ngomong ya?"
"Kok lo tau"
"Kelihatan."
Glen terkekeh. "Tapi lo belum jawab."
Clara menatapnya beberapa detik. "Takut."
Glen mengangguk puas. "Oke."
"Oke? apanya?"
"Karena ini iformasi penting."
Clara mengernyit. "Penting buat apa?"
Glenzo mengangkat bahu. "Hm.. nggak atu, belum kepikiran."
Clara menatapnya datar, lalu kembali menulis.
Tapi Glenzo belum selesai. "Kamu lebih suka hujan atau panas?"
"Hujan."
"Kenapa?"
"Lebih tenang."
"Lo banyak tanya bnget si Glen?" ucapa Wiliam yang dari tadi memperhatikan Glenzo dan Clara
"Salah sendiri bukan gue yang jadi ketua, kan gue jadi gabut." Jawab Glenzo menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Clara mendengar ucapan Glenzo hingga dia melirik kearahnya
"Oh iya.. kalau lo bisa jadi hewan sehari, mau jadi apa?" Ya pertanyaan random keluar lagi dari mulut Glenzo dilontarkan untuk Clara.
Clara berhenti menulis dan berpikir sebentar. "Kucing."
Glen tertawa kecil. "Kenapa, kok kucing sih?"
"Bisa tidur, bisa santai."
Glen mengangguk. "Ternyata lo random juga orangnya "
Clara menatapnya. "Nggak juga, gue cuma jawab pertanyaan-pertanyaan nggak jelas yang keluar dari mulut lo."
Kenzo dan Wiliam yang mendengar jawaban Clara pun tertawa terbahak bahak.
"Diem nggak kalian." ucap Glenzo memukul mereka dengan buku catatan yang dia pegang dari tadi. "Berarti gue boleh tanya lagi?" Sambungnya.
Clara menghela napas panjang. "Silakan."
"Kalau gue jadi partner lo sampai acara selesai, kira kira lo bakal marah berapa kali dalam sehari?"
Clara terdiam, ia menatap Glenzo beberapa detik. "Tergantung, tingkat keresek-an yang lo buat."
"Berarti ada kemungkinan ya?"
"Bukan kemungkinan lagi, udah pasti." Clara kembali menulis.
Glenzo langsung tertawa.
Dan untuk pertama kalinya, Clara ikut tersenyum kecil.
Bukan karena sesuatu yang lucu sekali.
Hanya karena pertanyaan Glenzo memang terlalu tidak masuk akal untuk tidak ditanggapi.
Namun tanpa mereka sadari, percakapan kecil itu membuat suasana di antara keduanya sedikit berbeda.
Mereka mulai berbicara.
Mulai saling mengenal.
Dan Glenzo mulai menemukan satu hal, Clara ternyata tidak seserius yang ia kira.
---
Malam harinya, seluruh panitia kembali berkumpul untuk gladi bersih.
Suasana kampus jauh lebih ramai, panggung sedang diperiksa.
Beberapa mahasiswa mengatur stan.
Tim perlengkapan mondar-mandir membawa barang.
Sementara Clara sibuk memastikan anggota timnya menjalankan tugas masing-masing. "Glen, tolong lo cek bagian perlengkapan di sebelah sana."
Glen mengangguk. "Siap, Ketua."
Clara menatapnya. "Jangan panggil gue kayak gitu."
"Why?"
"Aneh aja."
"Lo emang ketua tim kita kan."
"Udah sana jangan ngomong terus, kerjakan dulu."
Glenzo pergi.
Beberapa menit kemudian Glenzo kembali.
Clara sedang menyusun beberapa lembar kertas.
Glenzo lewat di depannya.
Satu lembar kertas digeser sedikit Clara merapikannya.
Glenzo lewat lagi, kertas itu digeser lagi.
Clara berhenti. "Glenzo!"
Glenzo menoleh dengan wajah polos.
"Iya ketua, lo panggil gue?"
"Lo yang geser?"
"Geser apa?"
Clara menunjuk kertas. "Ini."
Glenzo melihatnya. "Buka." Ia berpikir sebentar. "Mungkin angin."
Clara menatapnya. "Kita di dalam ruangan Glen."
Glen mengangguk serius. "Berarti anginnya pintar."
Clara memejamkan mata. "Astaga.. Glenzo..."
Glen tertawa lalu pergi, belum lima menit, ia kembali lagi. "Cla."
Clara bahkan tidak menoleh. "Apa?"
"Gue lapar nih."
"Terus?"
"Mau makan."
"Ya makan sana."
"Nggak ada makanan."
Clara akhirnya menoleh. "Terus gue harus gimana?"
"Temenin."
"Lo nggak liat gue kerja?."
"Oh." Akhirnya Glenzo pergi.
Clara mengira akhirnya dia akan berhenti mengganggunya.
Ternyata beberapa menit kemudian Glenzo muncul lagi. "Cla."
Clara menutup matanya sebentar. "Ya tuhan.. Apa lagi?"
"Haus."
Clara menatapnya tajam. "Minum."
"Nggak ada."
"Ambil noh dipojok" Clara menunjuk kearah dispenser yang sudah disediakan pihak kampus.
"Malas ah."
"Glen! Gue udah sabar banget lho ngadepin lo"
Glen malah tertawa.
Clara menggelengkan kepala. "Kenapa sih lo dari tadi gangguin gue terus, nggak capek?"
Glen tersenyum santai. "Nggak, malah seru."
"Apanya yang seru?"
"Soalnya setiap gue ganggu, lo selalu jawab."
Clara terdiam dengan ekspresi datar.
Glen tersenyum semakin lebar.
Clara menghela napas panjang. "Glenzo! Gue capek banget sama lo asli"
"Sabar Ketua"
"Jangan panggil gue KETUA!"
Glen tertawa dan segera berlari menjauh sebelum Clara benar-benar mengejarnya.
Clara hanya berdiri di tempat sambil menggelengkan kepala.
"Dasar Parker..."
Sementara dari kejauhan, Glenzo masih tertawa.
Malam itu ia menemukan sesuatu yang baru.
Bukan tentang acara, bukan tentang kepanitiaan.
Tapi tentang Clara, ternyata melihat Clara kesal adalah hiburan yang cukup menyenangkan.
Dan tanpa ia sadari, sejak malam itu... menjahili Clara resmi menjadi salah satu hobi baru Glenzo.