BAB 1
"Diputuskan Sepihak"
Matahari begitu terik, Sora menarik napas dalam-dalam. Mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Sora bahkan mengangkat wajahnya untuk bisa menatap wajah pria yang kini ada di hadapannya dengan seksama. Berharap pria yang lima menit lalu masih berstatus sebagai kekasihnya itu tengah membuat lelucon atau yang sekarang sering kita kenal dengan istilah Ngeprank doang.
"Ternyata kamu kerja sampingan sebagai penjual Pizza, Sora? Sangat memalukan. Apa kata teman-teman aku nanti jika Jack, orang yang kaya raya dan tampan. Memiliki kekasih yang bekerja sampingan sebagai penjual Pizza di pinggir jalan! Kita Putus!" Kata-kata itu masih terngiang di otak Sora. Membuat wanita energik ini diam mematung dalam beberapa detik.
Brak!
Jack bahkan menendang standing baner dengan penyangga kayu, yang berukuran 130 x 50 cm yang bertuliskan promo! Beli Pizza 4 hanya 100.000,-.
"Cukup Jack! Kamu boleh hina aku, tapi jangan merusak fasilitas pekerjaanku!" teriak Sora sembari menyeka bulir-bulir air mata yang jatuh begitu saja membasahi pipinya.
"Cih! Berapa memangnya harga baner ini? Bahkan untuk membeli harga dirimu juga aku sanggup Sora!"
Plak!
Tamparan keras telah mendarat di pipi Jack. Sora benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi. Jack yang merasa tidak terima dirinya ditampar, hendak menampar balik Sora. Namun, tangan Jack ditahan kuat oleh seorang pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria bertubuh jangkung dengan aroma maskulin yang semerbak bisa tercium meski jarak pria itu dengan Sora sekitar dua meter.
"Stop! Sebaiknya anda segera pergi dari sini. Sudah cukup keributan yang telah anda buat. Lihat! Jalanan macet hanya karena ulah anda yang tidak berfaedah ini. Ribut boleh, tapi melakukan kekerasan fisik pada wanita sangat tidak dibenarkan. Anda seorang pria bukan? Apa aku perlu membuka segitiga bermuda di dalam sana untuk memastikan bahwa anda memiliki burung?" ucap pria itu santai, tapi sangat menohok dan mampu membuat Jack terdiam malu.
Jack menepis tangannya dari cengkeraman pria asing di depannya. "Urusan kita belum selesai Sora!" ancam Jack, "Ayo kita pergi Galang, lama-lama aku bisa terkena alergi di sini."
Jack dan sahabatnya yang bernama Galang segera masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan sisa-sisa keributan dan kemacetan panjang akibat ulahnya begitu saja.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya pria jangkung itu setelah mengembalikan baner yang ditendang Jack ke dalam posisi semula.
Sora yang ditanya hanya diam saja, otak gadis itu kini tengah berkelana memikirkan sesuatu ketika melihat dengan jelas wajah pria yang menolongnya baru saja.
“Sora tidak apa-apa Kak, iya kan Sora?” jawab Dara segera dan menginjak ujung sepatu Sora, berharap jika sahabatnya itu segera sadar dari lamunannya yang membuat posisinya sebagai wanita seketika rendah. Situasi seperti ini menggambarkan jika wanita sekelas mereka tidak pernah meilhat pria tampan sebelumnya, sehingga saat mendapati pria tampan di depan mereka. Reaksi mereka adalah melamun dan menikmati wajah tampan yang belum pernah dilihatnya.
“Akh- iya, aku tidak apa. Terima kasih,” ujar Sora yang baru saja sadar dari lamunannya.
Pria jangkung itu berlalu begitu saja setelah mendapati keadaan gadis itu baik-baik saja.
“Hey tampan, namamu siapa? Jangan jadikan aku sebagai orang yang tak tau terima kasih!” teriak Sora tanpa rasa malu.
Pria itu tak menjawab apapun, ia hanya melambaikan kedua tangannya. Bahkan untuk menoleh saja pria itu enggan melakukannya. Sora dan Dara kembali fokus ke dagangan Pizza mereka, karena setelah kejadian itu. Beberapa orang langsung berbodong-bondong untuk membeli Pizza yang mereka jual.
Matahari mulai meredup, indahnya jingga mulai menyapa para penikmatnya sore itu. Tak ada yang special lagi untuk Sora lakukan di penghujung hari. Karena lokasi event promo Pizzanya hari ini berdekatan dengan rumah Dara. Jadi Sora memutuskan untuk menginap di sana malam ini. Lokasi rumahnya lumayan jauh dengan rumah Dara, jika Sora memaksakan untuk pulang hari ini menggunakan ojek online. Itu bisa dikatakan sebuah pemborosan, karena uang ongkos itu lebih baik ia simpan untuk biaya cuci darah Serly minggu depan.
“Sudah mandi, sudah makan … terus kita mau ngapain lagi nih Sora?” tanya Dara kepada Sora yang sudah 15 menit lamanya melamun di hadapan jendela kamarnya.
Sora yang buyar dari lamunannya segera menutup jendela kamar Dara. “Tidur aja dah beb, aku ngantuk,” jawab Sora singkat.
“Yakin? Ga keluar dulu nih jalan-jalan? Siapa tau ketemu cowo tadi ya kan? Makan apa kira-kira tu cowok ya, kok bisa-bisanya seganteng itu. Wajahnya mulus, glowing, licin udah kaya belut sawah aja. Kalo nyamuk hinggap di kulit tu cowok, udah pasti kepleset tuh.”
Bugh!
Sora melempar guling ke arah Dara, “Jangan dalem-dalem kalo mikirin cowok Dara, takut lupa jalan pulang nanti.”
“Ye, biarin. Aku rela kok kalo harus tersesat sama cowo kaya tadi. Ga pulang-pulang juga ga apa-apa,” imbuh Dara.
“Udah mulai konslet and ngaco ni bocah. Ga tau ah, aku mau tidur. Good night Dara.”
“Good night Sora….”
**
Mencium bibir dan aroma indahnya pantai. Sudah cukup untuk hati dengan kenangan kita dulu. Sora, gadis yang pernah menikmati, pahatan Tuhan yang sempurna. Tanpa adanya cinta- kamu tidak akan pernah terbentuk di dunia.
Hal-hal kecil berarti besar ketika Sora kembali mengingat tentang Gala, berharap seulas senyum selalu menghiasi bibir manis itu. Berharap hati itu hanya berisi nama itu, memohon dan bersimpuh agar Tuhan selalu menjaga Gala di manapun ia berada.
Terkadang rasa cinta, akan bertemu di persimpangan jalan dengan rasa benci yang membuncah. Semoga Tuhan tidak membolak-balikan hati ini dengan mudah. Bahagia akan melebur menjadi satu dengan kesedihan, sebuah pertemuan akan berebut tempat dengan sebuah perpisahan.
Andai Sora punya tongkat ajaib yang bisa mengabulkan satu permintaan, ia hanya akan meminta. Untuk bisa berada disisi Gala selamanya dengan berbalut kebahagiaan yang tiada tara. Tapi kenyataanya, Sora hanya bisa diibaratkan seorang upik abu yang mengharapkan sang pujangga. Sadar diri dengan pantulan cermin yang ada.
Pagi itu, Sora secara kebetulan bertemu kembali dengan pria yang telah menolongnya saat berdebat dengan Jack. Saat itu ia tengah duduk santai di Point Café tempat ia biasa nongkrong dengan Dara jika bolos dari kuliahnya. Ajaibnya, pria dingin dengan ketampanan di luar batas itu datang menghampirinya dan menanyakan sebuah alamat hotel yang kebetulan ia tau persis letak hotel itu. Bahkan ia juga meminta tolong untuk membantunya mengantar ke hotel itu, dan berjanji akan memberikan imbalan yang pantas nantinya.
Sora dengan hati-hati mulai melajukan sepeda motornya. Secara diam-diam gadis bermanik hitam coklat ini juga mencuri pandang pada pria itu lewat kaca spion. Sungguh, ini bukti pahatan Tuhan yang paling sempurna. Baru kali ini Sora memiliki kesempatan memandang wajah tampan itu dengan mata telanjangnya.
Setibanya di lobby hotel, pria itu menyerahkan helm yang ia pakai. Dan tiba-tiba ia menggenggam kedua tangan mungil Sora, mengecup keningnya dengan lembut seraya berkata, “Will you marry me?”
Bak tersambar petir di siang bolong, Sora mencoba menggigit bibirnya dengan keras. Apakah ia sedang bermimpi? Sora mencoba mencubit pipinya sendiri, tidak terasa sakit. Justru Sora merasakan jika tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan, seperti akan jatuh.
Brugh!
Sora terjatuh dari kasur Dara setinggi satu meter, suara ayam jantan berkokok mengiringi teriakan Dara yang sudah berusaha membangunkannya sedari tadi.
Sora bangun, ia masih terdiam sambil menggosok pinggul dan pantatnya yang terasa panas setelah mencium lantai kamar Dara.
“Bangun woi! Mimpi apa sih sampe tidur kaya kebo gitu? Udah pagi ini, niat mau ambil gaji ga ke kantor ga?” gerutu Dara yang kesal, begitu sulitnya membangunkan sahabatnya yang sepertinya tengah dilanda mimipi indah.