BAB 2
Dara melirik jam dipergelangan tangannya. “Ayo Sora, kamu make up tipis aja. Kamu sih, dibangunin dari tadi susah bener. Kalo kita telat datang ke kantor Pizza nanti ga dikasih gaji loh Sora,” tukas Dara yang berdiri dan menyambar jaket dan helmnya.
“Aku Cuma pake bedak bayi sama lipstick aja, ini kan udah keliatan kaya pake make up.”
“Bener-bener ni bocah. Untung aja cantik kamu kupret. Coba kalo jelek, apa ga disamber
Ceramah tiga hari tiga malam sama tu manager.”
Sora memilih diam tak menanggapi ocehan Dara tentang pak Girindra, beliau merupakan seorang manager muda yang tampan dan baik. Namun, sedikit minusnya beliau terkenal cerewet dan tegas dengan karyawan yang tidak sesuai SOP.
Perjalanan itu memakan waktu 18 menit. Kini keduanya telah tiba di pintu masuk kantor pusat Pizza hot, gedung kantor ini sangat luas dan megah. Terletak di antara deretan gedung retail raksasa lainnya yang namanya juga sudah melambung tinggi di seluruh Indonesia.
“Dara! Dara! Kamu disuruh pimpin doa dulu di sini bentar, bagian freelance bakal kumpul di sini lima menit lagi,” ucap resepsionist kantor.
“Oh gitu Mita, ya udah aku tunggu sini. Kamu duluan aja naik Sora.”
“Nah untuk Sora, kamu disuruh Pak Girindra naik lift khusus. Beliau udah nunggu kamu di ruangannya dari tadi.”
“Loh, ada perlu apa si. Masih pagi gini juga,” protes Sora.
“Udah ah, nasib karyawan freelance. Ga boleh banyak protes.”
Sora bergegas berjalan menuju lift khusus yang biasanya hanya digunakan oleh para atasan dan para tamu atau investor penting lainnya. Lebih harum, lebih bersih dan interior lebih mewah. Kesan itu yang pertama kali menancap di otak Sora ketika memasuki lift khusus tersebut. Dan hal yang paling mengejutkan Sora adalah saat pintu lift itu akan tertutup. Seorang pria yang menolong ia kemarin saat bertengkar dengan Jack juga menerobos masuk ke dalam lift khusus.
“Maaf.” Pria itu langsung menekan tombol 3 untuk tujuan lantai 3.
“Tak salah lagi, wajah pria ini sangat mirip dengan Gala,” batin Sora dalam hati.
Sora tak mengatakan apapun, begitu juga pria tampan itu yang diam seribu bahasa. Tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba terjadi konsleting listrik dan lift mengalami guncangan keras.
Ciiittt! Akhirnya lift berhenti.
“AAAkkkh! Tolong! Tolong aku! Jangan mati dulu Sora, kamu belum punya pacar dan belum menikah. Masa iya mau mati dulu,” teriak Sora sambil menggedor-gedor dinding lift. “Kenapa gelap sekali, apa aku sudah ada di Surga sekarang?” imbuh Sora dengan polosnya.
“Ini masih di dalam lift, kamu kira udah di Surga? Memang amal apa yang sudah kamu perbuat, sehingga dengan percaya dirinya setelah mati mendarat di Surga?” Pria tampan itu akhirnya berbicara sambil menyalakan lampu senter dari ponselnya.
“Sora, panggil aku Sora. Kalau kamu?”
“Pram.” Gala terpaksa menggunakan nama panjangnya, agar Sora tak dengan mudah mengenali dirinya jika ia mengucapkan nama Gala.
Seketika mata Sora membulat, sedikit tak percaya dengan nama yang baru saja didengarnya. Apa benar dia bukan Gala cinta masa kecilku?
“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa namaku terlalu mengecewakan?”
Sora hanya menggeleng kepala dan tak menjawab apapun.
“Pakai ini.” Pram melmparkan jas hitamnya ke arah Sora.
“Ga mau, di sini udah panas. Masa iya lagi aku pake jas.”
“Silahkan saja tolak jas ku, jika kamu memang berniat pamer dua gunung kembarmu itu kepada orang-orang yang datang menolong kita nanti.”
Seketika Sora menunduk ke bagian tubuh yang di maksud pria itu. Akh, bagaimana ceritanya. Dua kancing bajunya terlepas entah kemana, itu berarti pria bernama Pram itu sudah melihat puncak gunung miliknya. Sora menggigit bibir kuat, dengan malu ia menerima jas itu dan segera memakainya dengan posisi terbalik. Petugas lift yang bergerak cepat mencoba menolong mereka, hingga akhirnya Sora dan Pram bisa segera dievakuasi.
Rambut yang berantakan, jas yang kedodoran dan make up yang kucel jadi penampilan Sora saat keluar dari lift yang rusak.
Hal itu tak mengurangi niat dari rekan-rekan yang lain, terutama Girindra untuk tetap memberikan surprise ulang tahun kepada Sora.
Happy birthday Sora … happy birthday Sora … happy birthday … happy birthday … happy birthday Sora ….
Prok prok prok!
Tepuk tangan menjadi ujung dari nyanyian itu. Sora yang terkejut hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangan, hal itu ia lakukan semata hanya untuk menutupi rasa haru yang menjerat hatinya. Terakhir kali ia mendapatkan surprise ulang tahun seperti ini saat masih berusia 10 tahun, itupun ia rayakan hanya bersama Gala.
Tiup lilinya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga.
Girindra berjalan mendekati Sora sembari membawa kue yang bertengger lilin dengan angka 20 di atasnya. Sora memejamkan matanya sejenak, ia berdoa di dalam hati. Dengan harapan semoga di antara doa yang ia panjatkan, akan ada satu doa yang akan dikabulkan Tuhan.
Fuuuh! Dengan semangat Sora meniup lilin angka 20 itu hingga padam.
Prok prok prok!
Semuanya bersorak bahagia dan saling mengucapkan selamat dan doa kepada Sora. Girindra bahkan menyodorkan satu kotak kado kepada Sora, ia cepat-cepat mengucapkan terima kasih. Manik gadis itu langsung sibuk mencari sosok laki-laki bernama Pram. Tiap sudut ia cari, tapi tak kunjung menemukan sosoknya.
“Kamu clingak-clinguk cari siapa sih dari tadi? Ooh ya, kamu ga ada yang luka kan? Nyuruh kamu naik lift khusus memang bagian dari rencana, tapi kalo kejadian lift yang tiba-tiba mati itu bukan bagian dari rencana kita semua Sora,” jelas Dara kepada Sora yang terlihat masih tak focus.
“Aku ga apa, kamu liat Pram ga Dara?”
“Pram? Siapa dia?” tanya Dara sambil menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.
“Laki-laki yang tolong aku kemarin waktu berantem sama Jack. Namanya Pram, dan dia tadi satu lift bareng aku.”
“Tadi pas kamu keluar dari lift aku ga terlalu memperhatikan yang lain Sora. Jadi aku ga lihat, berarti ini jas milik si Pram itu?”
Sora lekas mengangguk. Padahal masih banyak yang ingin aku tanyain ke dia Dara, dia bisa ada di lift juga apa mungkin dia bekerja di sini?”
“Logikanya dipake dong Sora, mana ada karyawan di sini ada yang pake jas semahal ini?” ucap Dara sambil memicingkan sedikit bagian jas yang dikenakan Sora, “Sekalipun Pak DBM di sini juga ga pernah pake jas, rata-rata cuma pada pake kemeja. Mereka bakal pake jas cuma kalo hari senin buat metting zoom dengan distrik wilayah lain. Atau ga kalo pas ada acara pertemuan metting outdoor.”
“Iya yah.”
“Ya udahlah cus kita balik. Kayanya upah amplopmu lebih tebel deh Sora,” ledek Dara.
“Apaan sih, sama aja kali. Hari ini ga ada jadwal kampus, aku mau pulang aja naik ojek. Sampai ketemu nanti malam di Bar.”
“Wokey.” Dara melambaikan tangannya kepada Sora sebagai perpisahan sementara mereka.
Tiga puluh menit berlalu, Sora baru saja mengembalikan helm dan membayar ongkos ojeknya di ujung gang rumah petaknya. “Makasih Neng.”
“Sama-sama Pak.”
“Sora! Cepat tolong Ibu dan Adikmu! Tadi ada orang jahat datang acak-acak rumahmu!” teriak para tetangga dengan heboh saat melihat Sora baru saja turun dari motor tukang ojek.
Panik langsung menyerang Sora, ia berlari kencang menuju rumahnya yang hanya berjarak 50 meter dari ujung gang. Tubuh Sora seketika lemah ketika melihat wajah Ibunya lebam dan adiknya terus saja menangis histeris.