BAB 3
Malam itu, Sora berangkat menuju Bar, tempat ia bekerja ketika malam tiba. Sebelumnya Sora hanya menjadi pengantar minuman, sama dengan Dara. Namun, karena Sora membutuhkan uang lebih untuk biaya cuci darah Sherly setiap bulannya. Sora memutuskan untuk menjadi gadis penunggu minuman, ia hanya bertugas sebagai wanita yang akan menuang kembali minuman pelanggan dalam gelas jika sudah habis. Dan pelanggan yang bisa memakai jasanya, hanyalah pelanggan kelas VIP dan VVIP.
“Kamu baik-baik aja kan Sora?” Dara ingin memastikan keadaan Sora sebelum ia memulai pekerjaannya malam itu. Wajah Sora terlihat murung, dan banyak memikirkan suatu hal.
“Aku baik Dara, kamu lakukan saja pekerjaanmu. Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja.”
Malam ini memang Sora terlihat sedih, ia masih memikirkan keadaan Ibu dan adiknya yang sama sekali tidak mau menceritakan apa yang terjadi di rumah saat ia tadi tak ada. Sora kembali teringat dengan kejadian tadi siang, saat ia mencoba mengobati luka di ujung bibir sang Ibu. Tangannya ditampik keras, Sora tak mengerti, salahnya di mana? Bahkan ia sendiri tak tahu, siapa orang yang sudah membuat Ibu dan adiknya demikian.
“Sora, tamu VIP udah dateng. Tamunya dari jepang, kalau dapet tips gede Madam bagi loh.” Suara Madam membuyarkan lamunannya.
“Iya Madam.” Dengan langkah lunglai Sora berjalan menuju kursi VIP.
Sora membuat peraturan dasar kepada pelanggan yang akan memakai jasanya. Pelanggan tak boleh menyentuhnya, kecuali ia sendiri yang akan menyentuh pelanggan jika berminat. Tidak ada transaksi jasa di luar jam kerja Bar. Jika sudah keluar dari Bar, otomatis Sora sudah tidak punya urusan lagi dengan pekerjaannya di Bar.
“Can you speak Indonesian?”
“Yes, I can.”
Sora langsung menyuguhkan minuman ke dalam gelas dengan iringan senyum termanis yang ia miliki.
“Apa malam ini aka nada pertunjukkan?” tanya pelanggan itu setelah meneguk segelas minuman pertamanya.
“Setiap malam Bar ini selalu memiliki pertunjukkan, yang tidak bisa anda pesan dan bungkus adalah para gadis pertunjukkan dan gadis penuang minuman. Jika anda ingin membungkus wanita setelah minum di sini, silahkan pesan dengan Madam dan anda bisa memilih wanita mana yang akan anda ajak. Mereka berdiri di sepanjang deretan di ujung sana.”
“Oh, beda pasaran? Beda tarif?”
Sora mengangguk, ia segera menuangkan minuman kembali ke gelas yang sudah kosong.
Dj mulai berteriak antusias, music hits dengan perubahan ritme yang sudah Dj racik sebaik mungkin. Dentuman music membuat antusias para pelanggan yang hadir seketika naik. Terlebih, beberapa detik setelah Dj memainkan music, para gadis-gadis sexy satu persatu keluar berdiri di atas panggung. Para wanita dengan tubuh nyaris sempurna, dan hanya bagian intim saja yang tertutup sedikit kain membuat hormone para pengunjung seketika naik.
Tubuh mereka meliuk-liuk, lima gadis tetap stay di atas panggung. Melilitkan tubuh mereka dan bermain-main dengan tiang besi sebagai sarana menari mereka. Dan sepuluh gadis lainnya turun dari panggung, menari-nari di antara deretan meja VVIP dan VIP. Itulah alasan mengapa tarif VVIP dan VIP selalu lebih mahal. Karena fasilitas yang mereka nikmati juga jauh lebih banyak.
Musik semakin menghentak, dan teriakan pria-pria mabuk yang mulai kesetrum berdiri di bagian sensitifnya mulai terdengar. Tak berbeda dengan pelanggan yang menyewa Sora saat itu. Terlihat dari cara duduk pria itu yang sudah mulai tak benar, semakin mendekat dan terus mendekat ke samping Sora.
“Anda harus ingat tuan, anda tidak boleh menyentuh saya.” Sora mencoba memberi peringatan ketika pelanggan itu mulai menggesekkan bagian pusakanya ke paha Sora.
“Aku tidak menyentuhmu, aku hanya menggodamu. Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat jika kamu mau tidur denganku.”
“Bukankah sudah aku katakana di awal tuan, jika anda ingin bungkus. Silahkan pesan pada Madam dan memilih salah satu wanita di sana.”
“Aku tak ingin mereka, aku ingin kamu. Sepertinya kamu masih perawan. Makanya aku berani membayarmu berkali-kali lipat.”
“Sudah aku tegaskan, bahwa aku tidak bisa dibungkus tuan.”
“Wanita munafik!”
Pria berasal dari Jepang itu mulai merangsak menindih tubuh Sora yang mungil, dan mencoba mencium bibir Sora dengan paksa.
“Aku mohon tuan, jangan.” Sekuat mungkin Sora mencoba menahan bibir pria itu dengan kedua telapak tangannya. Bulir air mata mulai menetes dari mata bening Sora.
Orang-orang di sekitar mereka hanya sekilas melihatnya lalu focus kembali kepada para gadis penari. Pemandangan seperti Sora alami hanyalah adegan biasa-biasa saja bagi orang-orang di sana.
“Gadis ini tidak mau tuan, jadi jangan suka memaksa!” Pram datang dan menarik kerah baju pria jepang itu.
“Apa urusanmu dengannya! Jangan sok suci di tempat haram seperti ini.” Pram hampir saja memberi bogem mentah kepada pria jepang itu. Beruntung saja Madam segera datang, Sora mencoba menahan tubuh Pram. Dan Madam memanggil gadis penari untuk menggoda pria jepang agar lupa dengan keributan ini. Beruntung gesekan dan belaian dari gadis penari itu mampu mengalihkan amarah pria jepang itu menjadi napsu membara lagi.
“Lebih baik kamu pulang dulu Sora, Madam tidak mau ada keributan di sini. Bawa juga laki-laki ini jika kamu mengenalnya.”
Sora hanya bisa mengangguk dan menarik tangan Pram untuk segera pergi meninggalkan Bar.
“Terima kasih, terima kasih sudah menolong saya untuk yang ketiga kalinya.”
“Bagaimana cara dirimu menjaga diri saat aku belum menemukanmu Sora,” gumam Gala dalam hati yang terasa begitu sesak, melihat dengan mata kepala sendiri. Wanita yang ia cintai hampir saja dinodai oleh pria b******k hidung belang tanpa ada seorangpun yang akan menolongnya.
“Kamu naik apa tadi berangkat kerja kesini?” tanya Pram yang sangat tidak nyambung dengan kata-kata Sora sebelumnya.
“Naik ojek,” jawab Sora dengan memasang raut jengkel kepada Pram. “Aku bilang apa, situ bilang apa. Kagak nyambung,” imbuh Sora.
“Kalau begitu aku mau kita duduk di sana, aku haus. Minuman di dalam tadi mahal-mahal, jadi aku ga jadi beli minum.”
“Hah?”
Otak Sora baru akan berpikir, mencerna kata-kata Pram tadi. Tetapi sudah lebih dulu buyar karena tangannya ditarik oleh Pram menuju Point Café yang berada tak jauh dari lokasi Bar.
Sora terkejut bukan main, saat Pram meninggalkannya di meja pelanggan untuk memesan minuman. Sora baru mengingat, tempat ini adalah tempat saat ia bermimpi bertemu dengan Pram hingga membuat ia bangun kesiangan. Ternyata mimpinya jadi nyata, lalu pertanyaan “Will you marry me?” Akankah juga menjadi nyata? “Ya Tuhan … aku memang belum punya pacar dan ingin menikah. Tapi tolong, jangan kabulkan sekarang juga, aku belum siap,” gumam Sora di dalam hatinya saat melihat Pram berjalan menuju ke arahnya sambil membawa dua minuman di tangannya.