Sela merentangkan kedua tangannya dengan bebas. Membiarkan angin laut menyapanya sore ini. Entah mengapa dirinya sangat suka melihat matahari terbenam dari bibir pantai. Dengan gradasi warna senja yang menyatu dengan birunya laut membuat perpaduan luar biasa.
Dan kali, ini bisa merasakannya lagi. Sudah lama rasanya tak pergi ke pantai. Entah mengapa dari banyak tempat wisata yang ada, pantai tak akan pernah dilupakan. Selalu menjadi destinasi pertama yang wajib didatangi.
Sela merasa sangat senang. Karena lelaki itu benar-benar menyiapkan segalanya. Mereka tak tinggal di hotel yang telah disediakan Aya. Melainkan sebuah resort yang dekat dengan pantai. Jadi dirinya bisa kapan saja ke sini. Dan tentu saja pemandangannya pun tak kala menakjubkan.
Dalam ruangan itu terdapat dua tempat kamar tidur. Jadi, mereka masing-masing menetapi kamar sendiri. Tak perlu canggung dan juga risi karena tidur pada tempat yang sama. Bukankah mereka sudah biasa tinggal bersama. Karena Gala tak mungkin meninggalkan Sela sendirian. Di mana adiknya selalu datang ke apartemen.
Beruntung sekali perempuan itu tak menemukan kamar rahasia. Dan semuanya masih aman terkendali. Akan tetapi, pada akhirnya mereka harus tinggal pada satu atap yang sama. Karena Manggala selalu pulang bersama Iman yang sekalian menjemput istrinya.
“Kamu suka?”
Sela menoleh ke sebelah. Tiba-tiba saja sudah ada lelaki tersebut. Perasaan dirinya jalan ke sini sendirian. Sedangkan Gala berada di kamarnya. Lagian, ia tadi tak mengatakan apa-apa. Namun, kenapa lelaki itu dirinya berada di sini.
“Aku melihatmu keluar,” ujar Gala yang mengerti akan isi otaknya Gisela, “jadi aku ikutin,”
“Kenapa?”
Manggala tertawa kecil, “Takut kalau kamu kesasar.”
Perempuan itu mencebik kesal. Dipikir dirinya masih anak kecil yang tidak tahu jalan. Ia kembali ke penginapan dengan sendirinya. Tak perlu khawatir berlebihan seperti ini. Yang ada dirinya malah beranggapan lebih. Dan membuat rasa itu semakin kuat.
Kalau seperti ini, lama-lama ia tak akan bisa melupakan perasaan kepada lelaki tersebut. Padahal ia tahu betul kalau ini semua yang tersisa hanya luka. Karena cinta bertepuk sebelah tangan. Dan tentu saja ini akan menjadi luka kesekian kali untuknya.
Mungkin kebanyakan orang, tak suka jatuh pada kesalahan yang sama. Namun, tidak dengan Gisela. Sudah berulang kali tahu rasanya menyakitkan. Tetap saja menaruh perasaan itu pada lelaki yang sama sekali tak akan membalasnya.
Seolah tak ada kata jera dan menyerah. Padahal sudah tahu akhirnya seperti apa. Tetap saja menjadikannya pelabuhan. Tempatnya untuk bersandar dan pulang. Akan tetapi, dirinya sama sekali tak bisa memasukinya. Karena pintu itu terkunci. Dan bukan dirinya pemilik kunci tersebut.
“Apa yang kamu sukai dari pantai?”
Sela berpikir sejenak. Sampai kedua bola matanya mentap langit tanpa ujung. “Tidak ada batasnya,”
“Maksudnya?” Manggala sama sekali tak mengerti yang diucapkan perempuan itu. Terkadang ucapan Sela terlalu romantis dan juga mempunyai banyak teori. Seperti saat ini, ia sama sekali tak bisa menebak isi pikiran dari gadis tersebut. “Apanya yang tidak ada batas?”
“Lautnya,” Kedua bola mata melihat ke arah pantai. Dan lelaki itu pun mengikuti. “Tidak ada ujung, bukan?”
Manggala mengangguk. Mulai mengerti maksud dari perempuan itu. Memang lautan sama sekali tak memilki sudut mati. Terbentang luas tanpa tahu ujungnya di mana.
“Kata orang, lautan adalah ibu dari segalanya,” Sela membuang napas dalam, “karena terpampang jauh tanpa ada batasan. Sama halnya dengan kasih sayang ibu. Yang tak memiliki sekat dan juga ujung.”
Gisela tersenyum kecut. Selain itu sama dengan cinta kepada lelaki tersebut. Perasaan ini tak memiliki akhir. Karena sampai kapan pun, ia akan mencintai Gala. Walauapun ia tahu, pria itu tak akan membalas kisahnya. Namun, ini masalah hati yang tak bisa ia kendalikan dengan mudah.
Ia hanya mengikuti arus yang ada. Karena pada dasarnya hidup ini sudah ada yang mengatur. Tergantung bagaimana cara diri ini menyingkapi dan menjalani. Memilih bertahan atau menyerah.
“Sama seperti perasaanmu saat ini, ‘kan?” Manggala sangat tahu itu. Lelaki itu bisa merasakannya. Akan tetapi dirinya sendiri yang menetang untuk menerima hal ini. “Bukankah sudah jelas, bulan dan bumi tak bisa bersatu?”
“Akan tetapi bisa berjalan beriringan, bukan?”
Manggala terdiam. Lelaki itu menanti ucapan perempuan itu mengarah ke mana. Karena yang diucapkannya memang ada benarnya. Kalau mereka masih bisa berjalan beriringan sebagai kawan dan juga sahabat. Sebab selamanya tak akan bisa menyatu.
“Bukankah seperti kita saat ini?” tanya Sela yang masih menatap ke arah lauatan, “tak bisa saling memiliki, namun dapat tinggal bersama.”
Perempuan itu tersenyum kecut. Menertawakan takdir yang sama sekali tak berpihak kepadanya. Bisa-bisanya sudah tahu tak bisa bersatu. Bagai air dan minyak. Namun, malah memilih tinggal bersama.
“Sela-”
“Nggak papa, Kaka,” Perempuan itu menyela. Melirik ke arah lelaki itu sejenak, “begini saja sudah membuatku bahagia. Tak lebih.”
Setelah mendengarkan ucapan perempuan itu, Manggala benar-benar merasa sangat bersalah. Membuat Gisela terbelunggu oleh perasaan yang tak mungkin terbalaskan. Namun, ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Karena ini keputusan mereka tanpa mengaruh dari orang lain.
Baik Manggala maupun Gisela memilih diam. Menikmati senja yang sebentar lagi menghilang. Digantikan dengan malam yang penuh dengan kegelapan. Meskipun terdapat dira dari pijaran bintang dan bulan. Akan tetapi, tidak mentupi warna gelap yang menjadi latar dari segalanya.
“Makasih,” ujar Sela sembari membuang napas dalam, “terima kasih sudah mengajak aku ke sini,”
Manggala mengangguk, “Tak masalah.”
Bila takdir sudah menggariskan mereka. Sejauh apapun Manggala pergi, pada akhirnya akan tetapi bersama dengan Sela. Meskipun lelaki itu menolak. Tak akan bisa lepas dari perempuan tersebut.
Hanya waktu yang bisa menjawab ini semua. Karena semua bisa berubah dengan sendirinya. Dan bila itu terjadi tak ada yang bisa menolak dan menghentikan.
Gisela menutup mata sejenak. Merasakan kembali angin yang selalu membelainya. Terasa nyaman dan menyenangkan. Tentu saja ia sangat menanti hari ini. Di mana ia bisa kembali melihat lautan yang begitu luas.
Tiba-tiba saja kedua bola matanya terbuka saat mendengar seseorang memanggil lelaki sampingnya. Terlihat jelas Manggala terkejut. Bahkan tubuh pria itu terlihat menegang. Entah apa yang pernah terjadi di antara mereka. Namun, dengan cepat Gala menarik tangannya agar mengikuti langkah kakinya.
“Manggala!” teriak wanita yang sangat cantik dan modis, “haruskah kamu pergi lagi? Bukankah kamu merindukan aku?”