Sela merasa bingung. Perempuan itu di tengah orang yang saling menatap. Ingin rasanya kabur dari sini. Namun, sedari tadi tangannya di pengang oleh Manggala. Ia sudah berusaha melepaskannya. Bukannya melonggar, lelaki itu semakin erat. Tak memperbolehkannya pergi ke mana-mana.
Sedangkan sedari tatapan wanita yang memanggil Manggala tertuju padanya. Seolah sedang menilai penampilannya kali ini. Dan tentu saja itu membuatnya merasa risi. Tak suka dengan cara pandang perempuan tersebut.
Sesekali ia melirik ke Manggala. Berharap lelaki itu segera melepas tangannya. Ia tak ingi berada di antara mereka. Kenal pun tidak. Dan rasanya ia benar-benar ingin menghilang.
“Gala-”
“Apa maumu?” sela Gala dengan nada sinis, “bukankah kita sepakat tidak saling mengenal satu sama lain?”
Sela bisa merasakan aura ketegangan diantara mereka. Entah apa hubungan mereka dahulu. Yang pasti ia berada dalam kondisi tak menyenangkan.
“Itu mau kamu, ‘kan?”
“Cukup, Luve,” Gala membuang napas dalam. Kalau sampai Aya tahu dirinya bertemu dengan Luvena, habis sudah riwayatnya. Karena sang adik benar-benar tidak menyukai perempuan itu. Sama seperti dengan Lie. Kedua wanita itu memiliki catatan buruk dalam hati Aya. “Aku pergi-”
“Kamu tetap seorang pengecut, Manggala!” teriakkan perempuan itu mampu menghentikan langkah Gala, “kamu menikah hanya untuk melupakanku, bukan?”
Gisela yang mendengar itu terasa ditampar. Menatap tak percaya kepada wanita tersebut. Lalu melihat ke arah Manggala yang diam. Terlihat kalau lelaki itu tegang dan terkejut. Seolah menjelaskan kalau perkataan orang tersebut benar adanya.
Pantas saja lelaki itu tak bisa mencintainya. Karena memang perempuan yang berdiri di sampingnya sangat cantik luar biasa. Tak ada apa-apanya dibanding dengan dirinya. Sekarang, dirinya mengerti alasan kenapa perasaan ini bertepuk sebelah tangan.
Mungkin Gala tak mengatakannya secara langsung. Namun, gesture tubuhnya sudah menjelaskan. Sejak awal saat lelaki itu bertemu dengan sosok tersebut terlihat berbeda. Dan kini, ia tahu alasannya.
“Jangan bicara omong kosong!”
“Tapi itu kenyataannya, ‘kan?” tanya wanita itu balik, “sekarang aku ada di sini. Kamu tidak membutuhkan perempuan itu lagi, bukan?”
Sela terkejut. Terbelalak tak percaya mendengar ucapan wanita tersebut, “Kakak-”
“Perkenalkan aku, Luvena,” selanya dengan senyuman menawan, “kamu bisa panggil aku, Luv.”
Sebuah nama yang tidak asing untuk Sela. Perempuan itu memutar memori dalam otaknya untuk mencari tahu tentang wanita tersebut. Karena terasa familiar. Dan benar sekali, nama itu pernah diucapkan oleh Aya. Kawan baiknya yang kini menjadi adik iparnya tersebut pernah menyinggung tentang sosok wanita yang bernama Luvena.
Dan kini, berada di sampingnya. Menatap Manggala penuh cinta dan juga luka. Begitu pula dengan sebaliknya. Gala memandang dengan kelembutan. Dan sesaat ia merasa tertampar oleh keadaan.
Luve yang dicintai oleh Manggala. Dan dirinya merasa menjadi orang ketiga di sini. Tak semestinya ia berada di tengah-tengah mereka. Menjadi penghalang cinta kedua orang tersebut.
“Kamu-”
“Jangan sentuh istriku!” Gala menarik Gisela untuk mendekat ke arahnya. Memeluk dengan posesif, “kalau sampai itu terjadi. Aku tidak akan tinggal diam!”
Tubuh Sela membeku seketika. Baru pertama ini mereka melakukan kontak fisik. Terlebih lagi jaraknya sangat dekat sekali. Dan tentu saja itu membuat perempuan tersebut lupa caranya bernapas.
Apalagi mendengarkan lelaki itu mendeklarasi siapa dirinya. Ada rasa bangga dan juga tersanjung. Tak menyangka saja pria tersebut akan berkata seperti itu. Serasa dirinya memang ada dan nyata. Namun, ia tak mungkin gembira begitu saja. Karena dirinya harus sadar, pasti ada alasan lain kenapa Gala melakukan hal ini.
“Kamu berubah-”
“Bukankah ini semua karena dirimu sendiri, Luve?”
Gala tak mungkin melupakan itu semua. Lelaki itu memang mencintai perempuan itu. Bahkan sampai detik ini rasa itu masih ada dan memanggil nama Luvena. Akan tetapi, kenyataan menamparnya. Kalau wanita itu memilih meninggalkannya bersama lelaki lain.
Bukan hanya itu, Luve juga pernah melukai adik kesayangannya. Dan tentu saja ia tak akan tinggal diam. Meskipun dirinya begitu mencintai dan tergila-gila. Akan tetapi, otaknya masih bekerja dengan benar.
Walaupun perasaan ini begitu dalam. Tetap saja Aya menjadi prioritas utamanya. Tak seorang pun yang boleh melukainya. Karena itu sama saja menabuh genderang perang dengannya. Dan tentu ia tak melupakan yang dilakukan Luve kepada adik tercintanya.
“Gala, kumohon,”
Manggala menggeleng, “Maaf, Luve-”
“Kamu masih mencintaiku, ‘kan?” Luvena benar-benar tak inging kehilangan Manggala. Gara-gara mendengarkan ucapan Lie, dirinya harus kehilangan lelaki tersebut. “Aku bisa jelaskan-”
“Apalagi?” tanya Gala menahan emosi, “mau bilang kalau itu kecelekaan dan kamu nggak sengaja?”
Luve mengangguk, “Iya-”
“Bohong!”
Sela terkejut mendengar lelaki itu berteriak. Perempuan itu tahu, Manggala sedang menahan emosinya. Dan ia bingung harus berbuat apa. Yang bisa dilakukan hanya mengelus lembut lengan lelaki itu. Mengatakan semua akan baik-baik saja. tak perlu marah dan juga berteriak seperti itu. Karena bukan menyelesaikan masalah, malah membuat mereka menjadi bahan tontonan gratis.
“Gala-”
“Kalian harus bicara dengan tenang dan kepala dingin,” sela Gisela yang menatap mereka satu persatu. Dengan pelan melepaskan genggaman lelaki itu. “Aku tinggal, ya-”
“Sela!”
“Nggak papa,” Gisela tersenyum, “ada yang perlu kalian selesaikan terlebih dahulu. Aku balik ke kamar,”
“Tapi-”
Entah mendapat keberanian dari mana, Sela mencium pipi lelaki tersebut. “Aku tunggu di kamar. Selesaikan dengan kepala dingin. Jangan marah-marah, oke!”
Gala terkejut bukan main. Ini pertama kalinya perempuan melakukan hal tersebut. Dan tanpa bisa dikendalikan, lelaki itu mengangguk pelan. Membiarkan perempuan itu pergi terlebih dahulu meninggalkan rasa hangat yang menjalar pada pipinya.
“Aku duluan!”
Gisela mengutuk dirinya. Bisa-bisanya berbuat seperti itu. Bisa dipastikan nanti akan merasa canggung. Sungguh ini di luar kendalinya.
Ah, diriya benar-benar bodoh. Bisa-bisanya melakukan hal tersebut. Bagaimana kalau lelaki itu marah dan menganggapnya kurang ajar. Namun, ia hanya ingin menunjukkan kalau Manggala suaminya. Biar wanita itu tahu diri dan tak mengganggu lagi.
Akan tetapi, ia lupa. Kalau pernikahan ini hanyalah diatas kertas. Dirinya tak perlu melakukan hal itu. Terlebih lagi ikut campur dalam permasalahan Gala. Bukannya sudah jelas kalau diantara mereka tidak boleh ada yang ikut campur dalam persoalan masing-masing.
Gisela membuang napas dalam. Memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar otaknya kembali berfungsi dengan normal dan bisa digunakan untuk berpikir kembali. Setidaknya ia harus menyiapkan alasan atas tindakan yang dilakukan tadi.
Ah, semua ini terasa sangat menyebalkan dan juga menjeggalkan. Kenapa bisa melakukan hal gila seperti itu. Dirinya benar-benar telah tergila-gila.