Gisela membuang napas dalam. Entah mengapa perasaannya kacau balau setelah kedatangan perempuan tersebut. Pertemuan ini memang yang pertama. Akan tetapi, Sela mengetahui kisah mereka. Dari mana lagi kalau bukan Aya yang menceritakannya. Dan sekarang, Gala sedang bersama wanita itu. Ia merasa sangat tak tenang meninggalkan mereka berdua.
Akan tetapi, ia pun tak bisa berada di tengah-tengah mereka. Siapa dirinya yang harus berada di sana. Ia tak mempunyai hak apapun untuk tetap tinggal. Meskipun lelaki itu yang meminta. Karena dalam perjanjian mereka sudah sepakat tidak saling ikut campur dalam persoalan pribadi.
Terlebih lagi, Sela mengerti kalau mereka membutuhkan waktu untuk berbicara. Meluruskan segala masalah yang belum selesai di masa lalu. Hingga tak ada lagi penyesalan di masa depan. Lagian, ia juga tak ingin terlalu jauh mendengar perdebatan mereka. Ada hati yang perlu di jaga. Agar tidak terluka terlalu dalam.
Sela membuang napas dalam. Memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatao langit-langit kamar yang entah kenapa membawanya ke ingatan masa lalu. Di mana sang kawan tiba-tiba saja menghubungi. Padahal saat itu masih berada di luar. Menikmati pemandangan malam di sebuah pantai seorang diri.
“Hallo,” sapa Sela mengangkat teleponnya yang berdiring. Tertara nama Aya memanggil. “Kenapa, Sayang?”
Terdengar suara kekehan di seberang sana. Tidak hanya sekali, bahkan sering mereka bertelepon dengan nada mesra. Karena itulah bentuk kasih sayang diantara mereka. Kalau tidak Sela yang memulai pasti Aya dengan manjanya. Hinggak kalau tidak tahu, dikira mereka lagi teleponan dengan pacar. Padahal, hanya sahabat karib yang berbagi kabar.
“Kamu di mana?” tanya Aya yang mendengar suara gemuruh air, “di pantai lagi?”
Perempuan itu selalu bisa nembak dengan benar. Tak perlu menjawab, Aya pasti tahu keberadaannya. “Ada apa, hem?”
Tak biasanya sang kawan menelepon malam-malam. Biasanya siang dan juga sore. Kalau pada jam segini bisa dipastikan ada pikiran yang menganggu perempuan itu. Di mana Aya tidak akan bisa tidur kalau otaknya penuh dengan persoalan.
Setidaknya dengan mendengarkan semua keluh kesahnya saja sudah membantu perempuan itu. Meskpiun tak ada saran yang benar-benar bisa membantu. Tak masalah asal mau menyimak ceritanya.
Kadang jadi pendengar adalah cara terbaik untuk menolong seseorang. Karena ada kalanya orang itu hanya butuh di dengarkan. Bisa jadi memang sudah menentukan langkah. Akan tetapi ingin berbagi dan mencari pendapat lain.
“Kak Gala,”
Sela mengernyit heran. Meskipun kawannya tak bisa melihat. Namun, ia merasa ada yang aneh dengan nada sahabatnya. “Kenapa lagi?”
Ini memang bukan kali pertama Aya menceritakan kakaknya. Akan tetapi mala mini terasa sangat berbeda. Bahkan ia mendengar isak tangis di seberang sana. Kalau seperti ini ia bingung harus berbuat apa.
Seandainya Aya berada di samping, tanpa banyak bicara ia langsung memeluk. Mendekap erat tubuh sang kawan. Dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Dirinnya tak perlu khawatir tentang hal itu.
Akan tetapi, ia tak bisa melakukannya. Mereka berada di tempat yang berbeda. Bahkan tidak berada di kota yang sama. Membutuhkan waktu kurang lebih dari tiga sampai empat jam untuk bisa menemui Aya. Jadi, tak mungkin untuk mereka untuk bertemu.
Yang bisa ia lakukan hanya mendengar semua keluh kesahnya. Pasti ada beberapa hal yan ingin disampiakannya. “Ya, Aya?”
“Kak Gala mau menikah.”
Sela sangat terkejut. Hampir saja ia menjatukan telepon genggamnya. Tak menyangka akan mendapatkan kabar ini. Dan mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Tentu saja ia merasa sangat senang dan gembira. Meskkipun bukan berasamanya. Ia hanya berharap pilihan terbaik untuk semuanya.
“Kan bagus?” tanya Sela yang bingung kenapa sang kawan tak merasa senang. Bukankah selama ini Aya bingung dengan percintaan sang kakak. Dan ini termasuk kabar yang membahagiakan. “Ada yang salah?”
“Aku tidak suka dengan calonnya,”
Sela membuang napas dalam, “Kenapa lagi?”
Bukan hanya kali ini Aya mengatakan hal itu. Sampai dirinya bingung, ini yang mau menikah Gala apa diriya. Kenapa setiap calon dari lelaki itu selalu ditolak. Padahal ini haknya Manggala untuk menentukan sosok yang menemani menghabiskan masa tua.
Dengan pernuh perhatian, Sela mendengarkan semuanya. Sembari ke dua bola matamnya memandang ke arah langit. Melihat banyak sekali bintang bertaburan diatas sana. Membuat suasan malam begitu syahdu dan juga tenang.
“Aku harus bagiamana, Sel?”
“Kamu percaya, setiap orang memiliki jodoh?” Meskipun dirinya tak bisa melihat apa yang dilakukan Aya. Namun, ia yakin peremuan itu mengangguk. “Kalaupun kamu tidak mau dan menolak. Bila mereka memang ditakdirkan bersama. Kamu bisa apa selain menerimanya?”
Aya terdiam. Perempaun itu membenarkan ucapan sang kawan. “Andai saja jodohnya Kaka Gala, kamu. Aku akan senang hati menerimanya.”
Sela tertawa kecil, “Berdoalah.”
Dan ternyata ucapan kala itu benar-benar terjadi. Ia menikah dengan Manggala. Meskipun status mereka hanya di atas kertas. Namun, secara agama dan Negara mereka telah dicatat sebagai pasangan suami istri.
Andai saja kala itu yang tak menyuruh sang kawan untuk berdoa. Mungkin, mereka tak akan terjebak dalam hal seperti ini. Dan mungkin dirinya tak mungkin menyentuh kembali tanah kelahiran. Karena untuk melupakan perasaannya sangatlah susah.
Mungkin, ini semua berkat doa Aya. Hingga ia tak bisa melupakan Manggala. Bahkan perasaan itu bertambah dalam setiap hari. Dan tentu saja itu semakin menyiksa dirinya sendiri. Karena tak bisa melepaskan begitu saja.
Gisela membuang napas dalam. Semua terasa berat. Pada akhirnya perempuan itu menutup mata. Bohonga kalau dirinya tak cemburu. Padahal dalam hati sudah ingin mengetahui keberadaan lelaki itu dengan kekasih masa lalunya.
Akan tetapi, dirinya sama sekali tak bisa berbuat banyak. Dan itu sangat menyebalkan. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Dan memberitahu dunia kalau Manggala adalah suaminya.
Tetapi, sebuah kenyataan menampar dirinya. Kalau hubungan ini tidak lebih dari itu. Mereka hanya menjalankan kontrak. Dna tak berhak untuk menuntut satu sama lainnya. Kalau seperti ini, dirinya bisa apa. Selain mengumpat sendiir dalam hati.
Pada akhinya, Sela memilih tidur. Meskipun dirinya belum mengisi tenanga sama sekali. Namun, tubuhnya terlalu lelah. Pemikiran telah menguras seluruh kekuatan dalam dirinya. Dan yang ia perlukan hanya istirahat untuk menenangkan sedikit kinerja otaknya. Karena selepas ini dirinya harus bisa menerima kalau Manggala berada dalam dekapan mantan terindahnya.
Ah, sangat menyebalkan dan menyakitkan. Akan tetapi, ia tak bisa berbuat banyak. Karena ini kosekuensi yang harus diterimanya, bukan.