Di sisi lain Manggala berusaha menghubungi Sela. Namun tak ada jawaban sama sekali. Membuat lelaki itu kelimpungan sendiri. Mana lagi, ia harus menyelesaikan urusan dengan Luve. Dan bisa dipastikan perempuan itu tahu tentang wanita yang kini duduk di depannya.
Mereka berdua memilih duduk di sebuah café dekat bibir pantai. Setelah kepergian Sela tadi, Luve mengajaknya untuk berbicara sebentar. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Dan tentu saja, ia tak bisa menolak. Karena semua yang berkaitan dengan Luvena dirinya sama sekali tidak dapat mengatakan nggak. Selalu saja ditiruti.
Akan tetapi, sedari tadi wanita itu diam. Tak berbicara apapun. Dan itu membuatnya merasa sangat kesal. Belum lagi teleponnya sama sekali tak diangkat oleh Sela. Lengkap sudah rasa kesal dalam dirinya.
“La-”
Manggala membuang napas dalam, “Apa? Kalau nggak ada yang dibicarakan aku pergi,”
“Tunggu!” Luve memegang tangan lelaki itu. Menatapnya dengan pandangan sayu, “bagaiman aku bisa bicara kalau sedari tadi yang kamu perhatikan hanya telepon genggam?”
Gala mengerjap pelan. Tak menyadari akan hal itu. Bagaimana mungkin dirinya bisa mengabaikan perempuan tersebut dan sibuk menghubungi Sela. Padahal selama ini, selain Aya. Luve adalah prioritasnya. Jadi tak mungkin dirinya mengacuhkan begitu saja.
Pikiran lelaki itu sama sekali tak focus. Yang berada dalam otaknya hanya Sela. Di mana keberdaan perempuan itu. Sedang apa sekarang. Apakah sudah makan atau belum. Karena setahunya tadi mereka belum menyantap hidangan apapun.
Ini benar-benar di luar kendalinya. Tak biasanya ia seperti ini. Semua terasa hampa tanpa adanya perempuan itu. Meskipun di depannya ada Luvena. Sama sekali tak membuatnya berhenti memikirkan Gisela.
“Kamu kenapa?” tanya Luve yang merasa aneh dengan tingkah laku Gala. Tak mungkin lelaki itu jatuh cinta pada istrinya, ‘kan. Karena itu tak akan ia biarkan. Manggala harus menjadi miliknya. “Gala, kamu mengabaikan aku!”
Manggala membuang napas dalam, “Mau kamu apa?”
Lelaki itu sama sekali tak peduli dengan nada merajuk Luve. Entah mengapa ia merasa sangat lelah dan ingin segera pergi istirahat. Namun, ia tak bisa berlalu begitu saja. Karena masih ada Luvena di depannya.
Lelaki itu merasa tak ada minat dengan wanita yang duduk di depannya. Mungkin dulu masih ada rasa penasaran dan juga daya tarik yang memikatnya untuk mendekati Luve. Akan tetapi, tidak untuk sekarang. Dirinya merasa biasa saja. Tak ada getaran seperti dulu. Bahkan rasa menggebu-gebu itu sudah menghilang. Hingga yang tersisa hanya biasa saja.
Dan ia sama sekali tak mengetahui kenapa ini terjadi. Padahal sebelum pernikahannya, ia masih mengharapkan calon pengantinya kala itu adalah Luvena. Namun sekarang, setelah menjalani bersama Sela. Semua berubah. Tak ada lagi hal yang sama.
“Gala!” Luvena tak menyangka lelaki itu akan dingin seperti ini. Padahal terakhir bertemu tidak seperti ini. “Kamu berubah!”
“Bukannya itu kamu?” tanya Manggala balik. Lelaki itu memandang lekat kedua bola mata Luvena. “Kamu sudah mempunyai kekasih lain, ‘kan?”
Luvena sangat terkejut. Namun, ia mencoba terlihat biasa-biasa saja. Agar lelaki itu tak bertanya-tanya, “Kamu biacara apa,”
“Masih belum mengaku?”
Perempuan itu memilh diam. Membuang pandangan ke segala arah. Asal tidak bertemu dengan bola mata lelaki tersebut. Karena tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Untuk sekarang yang terpenting mereka kembali seperti dulu. Ia harus bisa membuat lelaki itu jatuh cinta kepadanya lagi. Apapun caranya akan ia lakukan.
“Kenapa diam?”
Luvena membuang napas dalam, “Aku nggak tahu maksud pertanyaanmu. Kenapa bisa-bisanya kamu menuduhku seperti itu!”
“Apa kamu bilang?” Manggala bertanya balik. Menatap perempuan itu dengan saksama, “jangan mengelak lagi, Luve. Aku tahu itu semua!”
Luvena menggeleng tak percaya, “Kamu meragukanku? Bukankah jauh dalam lubuk hatimu masih menyimpan namaku? Atau kamu hanya cemburu?”
Lelaki itu terdiam. Tak bisa menjawab ucapan perempuan itu. Apakah dirinya bersikap seperti ini karena marah dengan Luve. Sebab dirinya mendapatkan berita kalau wanita itu menjalani hubungan dengan lelaki lainnya. Apa benar ini cemburu. Namun, kenapa ia juga memikirkan Sela diwaktu yang sama.
Gala membuang napas dalam. Semua terasa sangat membingungkan. Di sisi lain, ia mengkhawatirkan Sela. Ke mana perginya sang istri. Dihubungi sedari tadi tidak ada jawaban sama sekali. Dan di waktu yang bersamaan dirinya juga penasaran. Apa benar Luvena memiliki kekasih lain. Semestinya ia sudah menghapus nama itu. Akan tetapi, ia tak bisa. Masih terbelenggu oleh jeratan perempuan tersebut.
Semua terasa memusingkan. Kalau seperti ini, menghindar adalah pilihan yang tepat. Memberi ruang pada otaknya untuk bisa berpikir jernih. Karena bila dipaksa, ia takut akan melangkah pada sebuah kesalahan.
“Gala-”
“Maaf,” sela Gala yang sudah berdiri, “aku harus pergi,”
“Kenapa?”
Manggala mengedikkan bahu, “Nanti akan aku hubungi lagi,”
“Beneran?” kedua bola mata Luvena membola bahagia, “kamu nggak bohong?”
Manggala hanya bisa mengangguk untuk mempersingkat pembicaraan ini. Tanpa berkata apa-apa lagi lelaki itu langsung pergi dan berlalu. Pikirannya tertuju di mana keberadaan Sela sekarang ini. Karena sama sekali tak bisa dihubungi.
Sedangkan di sisi lain, Luvena memandang kepergian lelaki itu. Dengan senyuman tipis, perempuan itu yakin Manggala akan jatuh pada pelukannya lagi. Buktinya saja lelaki itu akan menghubungi dirinya. Bukankah ini awal yang baik.
Andai saja kala itu ia tak termakan omomgan Lei, mungkin sekarang dirinya sudah menikah dengan lelaki tersebut. Namun gara-gara Kalei, ia harus melupakan ini semua. Dan membiarkan lelaki itu harus menikah dengan perempuan lain.
Perempuan itu sempat takut bila Manggala sudah tak mencintainya. Namun, melihat gesture lelaki itu, ia yakin namanya masih bersemayam dalam hati Gala. Karena lelaki itu terlihat sangat cemburu dan juga tak suka bila dirinya berdekatan dengan pria lain.
Dengan begini, mungkin ia bisa mendapatlan lelaki itu kembali. Tak peduli bila dirinya dicap perebut suami orang. Karena ia hanya mengambil miliknya kembali.
Sejak awal Manggala adalah untuknya. Bukan wanita itu. Dan tak ada salahnya untuk kali ini ia merebut kembali lelaki itu. Hanya dirinya yang pantas mendapatkan pria tersebut. Karena Luvena sangat layak berdiri di sisi Gala.
Tunggu saja sampai waktu itu tiba. Dan ia bisa buktikan pada dunia, kalau memang Manggala adalah jodohnya. Apapun itu, ia harus bisa mendapatkan miliknya kembali. Sudah cukup ia berdiam diri dan mengalah. Kini saatnya ia untuk bergerak. Karena dirinya tak ingin kehilangan kembali.