Mereka berdua saling terdiam. Tak ada satupun orang yang memulai bicara. Terlebih lagi Sela yang memilih menyandarkan tubuhnya di sofa. Membiarkan kehadiran lelaki tersebut. Karena tubuhnya masih terasa lemas. Tak mempunyai tenaga sama sekali untuk mengungkapkan kata. Lagian, pria itu juga tak mau mengatakan sesuatu. Buat apa dirinya yang memulai hal ini. Kalau sebenarnya Manggala yang mengawalinya.
Terdenga embusan napas dari lelaki itu. Gala mencoba membuat tubuhnya rileks dan tenang. Akan tetapi, dirinya sama sekali tak bisa duduk dengan anteng. Perasaannya campur aduk. Apalagi saat melihat Sela sangat dingin dan cuek. Membuat nyalinya ciut juga.
Memang, ya. Puncak marahnya seorang perempuan adalah diam. Jangan pernah sekali pun menganggap remeh dengan hal ini. Karena bisa membuat j