“Apa yang membuatmu jatuh cinta kepada Sela?” tanya Iman setelah keheningan beberapa saat. “Bukankah perempuan itu sama sekali bukan tipemu?”
Manggala mengangguk setuju untuk hal itu. karena itulah hal yang terjadi sebenarnya. Apalagi pas awal Aya menyuruhnya menjemput di stasiun. Sungguh dirinya ingin menghilang saja saat itu.
“Apa-apaan!” teriak Manggala tak terima dengan permintaan sang adik kala itu. Bisa-bisanya meminta hal gila yang membuatnya sangat malas untuk melakukan.
“Kakak,” Kedua bola mata Aya sudah berkaca-kaca. Perempuan itu tak bisa mendengar nada tinggi yang keluar dari mulut Gala. Sebab lelaki itu selalu bertutur lemah lembut. Bahkan selalu mengiyakan semua keingananya.
Manggala mengusap wajah kasar. Tanpa banyak bicara lelaki itu langsung memeluk tubuh sang adik.