Gisela termenung sendirian di dalam kamar. Pikiran wanita itu bercabang ke mana-mana. Semua terasa sulit dan dirinya sama sekali tak menemukan jalan untuk keluar dari masalah ini. Seharusnya dengan mudah ia meninggalkan lelaki tersebut. Namun, nyatanya ia tak sanggup.
Seakan ada magnet yang menariknya kembali. Tak membiarkan dirinya untuk pergi menjauh. Apalagi semenjak hamil ini. Dirinya benar-benar tak bisa lepas. Namun, untuk bersama pun bukan pilihan yang tepat. Karena dirinya sadar diri bukan termasuk type dari lelaki tersebut. Kalau seperti ini, menjauh bukan menjadi pilihan yang salah, bukan.
Dirinya ingin bahagia meskipun bukan dengan Manggala. Gisela mencoba menerima ini semua dengan lapang d**a. Melepaskan semuanya yang berkaitan dengan Manggala. Akan tetapi, bukannya menghila