Althaf yang masih memakai seragam putih birunya berlari cepat menuju kelasnya. Jam tangannya tertinggal di kolong meja. Althaf mendengus berkali-kali, otaknya sudah cukup lelah menerima pelajaran yang masuk beruntun untuk UN nanti, dan kini fisiknya harus ikut lelah juga menaiki tiga lantai untuk sampai di kelasnya.
Dengan napas terengah Althaf berjalan menuju kelasnya, dahinya mengernyit saat mendengar suara decakan yang aneh. Ia memelankan langkahnya, mengintip dengan hati-hati dan langsung melotot kaget.
"Kalian ngapain?!" Raka dan Luna pun langsung terhentak dan menjauhkan wajah mereka. Pakaian atas seragam Luna sudah nampak sedikit kusut.
"Al-althaf..."
"Gue jijik liat kalian," desis Althaf dengan mata menyipit dan langsung berlari meninggalkan Raka dan Luna. Luna yang notabene kekasihnya pun hanya bisa diam memandangi kepergian Althaf.
"Gue khilaf," gumam Raka seraya mengusap wajahnya.
Luna menoleh menatap Raka dengan senyum miringnya, "Mau lanjut?"
Raka menggeleng cepat dan langsung menyambar tasnya. "Mending lo minta maaf sama Althaf sebelum diputusin."
o0o
Dengan langkah yang teramat berat Althaf mendekati rumah Luna, jika ia tidak terpaksa dan mempunyai niat terselubung Althaf bersumpah tidak akan mengunjungi rumah ini.
"Eh, Den Althaf, mau cari Non Luna, ya?" Althaf tersentak saat asisten rumah tangga Luna menyapanya semangat.
"Iya Mbak, ada?"
"Ada, bentar ya, Mbak panggilin dulu." Althaf mengangguk seraya menjatuhkan tubuhnya di teras rumah Luna. Rumah yang dulunya menjadi persinggahannya dengan Raka. Rumah yang lumayan penuh kenangan.
"Althaf!" Althaf menoleh dan tersenyum saat Luna datang dan duduk di sebelahnya. "Tumben nyariin gue? Kenapa?" lanjut Luna.
"Ntar malem sibuk?"
"Engga! Kenapa? Mau ngajak jalan?"
Althaf tertawa kecil. "Temenin gue ngisi undangan, nyanyi."
"Wah! Raka waktu SMP satu band sama lo kan, dia ikut dong?" ujar Luna antusias yang seketika membuat Althaf dongkol setengah mati.
"Ga usah bahas dia, dia udah keluar."
Luna akan membuka mulutnya lagi, namun baru saja melihat wajah dingin Althaf, Luna buru-buru menutup mulutnya sebelum Althaf berubah pikiran.
"Oke, oke gue mau kok. Lo pasti bosen kan sama Kalila mulu," ujar Luna dengan senyum puasnya. Althaf ingin mendecih, tapi ia dengan cepat menahannya.
"Gue jemput lo abis maghrib, lama gue tinggal," ujar Althaf seraya bangkit dari duduknya, Luna tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat.
Althaf berlari kecil menuju rumahnya saat ia mendapati Kalila sedang menyapu halaman.
"Al! Althaf!" Althaf menggerutu kecil saat Kalila mengejarnya. Althaf menghentikan langkahnya dan langsung memutar tubuhnya dengan ekspresi dingin yang dipaksakan.
"Apaan?"
"Lo ngapain di rumah Luna?"
"Kenapa? Bukan urusan lo," sahut Althaf datar yang dengan cepat membuat alis Kalila tertaut.
"Kok lo gitu sih?! Nyebelin!"
"Terserah, kaya lo ga nyebelin aja," sahut Althat cuek. Kalila berdecak dan langsung berlari memasuki rumahnya.
Althaf menatap Kalila cengo, seketika ia menepuk dahinya gemas. "b**o! Gue kok malah ikutan childish sih!"
---
Althaf mengintip dari cela-cela jendela kamarnya saat mendengar suara klakson dari rumah sebelah, dapat ia lihat mobil jazz hitam terparkir di depan gerbang rumah Kalila. Sudah pasti itu milik Raka.
Dengan mata jelinya ia melihat Kalila keluar dari gerbang dengan pakaian cukup terbuka, dress tanpa lengan dan sepanjang lututnya. Althaf mendesis jengkel.
Althaf segera melepas kacamata yang sedari tadi ia pakai, membentuk jambulnya, dan melipat lengan tuxedo nya sampai sikut. Ia menyambar kunci mobilnya dan langsung berlari keluar.
"Hai, Al!" Althaf hampir saja terlonjak saat Luna sudah berdiri di sebelah pagarnya.
"Anjir! Ngagetin aja."
"Abisnya gue ga sabar!" ujar Luna dengan bertepuk tangan kecil.
"Yaudah, ayo masuk." Dan dengan sedikit lompatan Luna langsung memasuki mobil Althaf.
"Lo nyanyi lagu apa, Al?"
"Thinking Out Loud."
"Bareng Chan sama Leon doang?" Althaf menoleh sebentar, dan langsung mengangguk.
Althaf menatap jalanan di depannya dengan tak bersemangat, harusnya yang duduk di sebelahnya saat ini adalah Kalila. Ia sengaja memilih lagu itu, maksud hati lagu itu sekalian ia persembahkan untuk Kalila. Althaf menghela napasnya, Raka menang start untuk saat ini.
Setelah hampir setengah jam di jalan, akhirnya mobil Althaf sudah terparkir di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Luna mengamit lengannya saat berjalan menuju aula hotel.
Seperangkat alat band sudah tertata rapi diatas panggung, Althaf menyalami Mas Taufik dan istrinya.
"Akhirnya Mas, laku juga lo," ujar Althaf tertawa kecil seraya meninju pelan bahu Mas Taufik.
"Sialan lo. Ngomong-ngomong siapa nih?" tanya Mas Taufik seraya menunjuk Luna dengan dagunya.
"Oh, ini Luna--"
"--pacarnya Althaf," lanjut Luna dengan cepat dan memamerkan senyum menawannya.
"Serius, Al? Gue kira lo pacar Kalila, eh tapi tadi Kalila udah gandeng cowo baru sih, lebih ganteng dari lo," ujar Mas Taufik sengaja menggoda Althaf yang sudah menampilkan wajah kecutnya.
"Bacot lo, Mas. Gue siap-siap dulu ya, inget Mas bayarannya gue tunggu." Althaf langsung melepas tangan Luna dari lengannya dan berjalan menuju belakang panggung untuk bersiap. Luna berdiri kikuk dan langsung berlari menuju salah satu meja yang penuh dengan makanan ringan.
Kalila yang sedari tadi memperhatikan Althaf dan Luna hanya berdecak beberapa kali. Raka yang tak melihat Althaf dan Luna pun hanya menatap Kalila dengan bingung.
"Kenapa sih?"
Kalila segera menoleh ke Raka dan langsung menampilkan cengiran lebarnya. "Gapapa kok."
"Nanti dansa, yuk?"
"Dansa? Gue ga bisa, ga pernah juga ih."
"Gue juga ga bisa, tapi kayanya gampang kan. Emang lo ga pernah liat di tv?" tanya Raka seraya menyeruput es jeruknya.
"Pernah sih, yaudah deh."
"Good girl," sahut Raka seraya mengacak rambut Kalila, dan pemandangan itu tertangkap basah oleh Althaf yang baru saja menaiki panggung dan duduk di kursi yang memang sudah disediakan.
"Ehem," Althaf berdehem pelan di depan microfon dan semua yang mendengar itu langsung menoleh ke panggung. Termasuk Raka dan Kalila.
"Gue disini mau nyanyi khusus buat Mas Taufik dan lo semua yang kesini bareng pasangan lo," ujar Althaf dengan sesekali tersenyum tipis. Terpaksa tentunya. Bisik-bisik langsung hinggap di telinga Kalila, rata-rata mengagumi ketampanan Althaf malam ini.
Althaf, Chan dan Leon memulai aksinya. Berbagai alat musik berbunyi menjadi satu.
When your legs don't work like they used to before
Suara berat Althaf langsung mengalun indah memenuhi ruangan mewah itu. Kalila menahan senyumnya, sementara Raka langsung bangkit dengan menarik tangan Kalila. Berjalan menuju tengah aula dan bergabung berdansa dengan tamu lainnya.
And I can't sweep you off of your feet
Will your mouth still remember the taste of my love?
Will your eyes still smile from your cheeks?
Pandangan Althaf langsung terkunci di mata Kalila. Kalila terlihat risih mendapati pandangan mengintimidasi dari Althaf.
And, darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
Teriakan para gadis semakin menjadi-jadi saat Althaf mencapai lirik yang ditunggu-tunggu. Althaf melempar senyum tipis, pandangannya masih terkunci dengan Kalila yang sudah tidak menatapnya.
And I'm thinking 'bout how people fall in love mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
"Gue suka sama lo," bisik Raka disela-sela kesibukannya mengatur gerakan yang seirama dengan Kalila.
Well, me I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
"Gue juga, Rak. Suka sama lo," sahut Kalila tanpa ragu, kata-kata itu mengalun lancar dari bibir tipis Kalila.
So, honey, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
Raka tersenyum puas, dengan cepat ia memeluk Kalila setelah mengecup kilat kening Kalila. Althaf yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum miris, bagaimana bisa ia bernyanyi sementara Raka memanfaatkan keadaan itu untuk menembak Kalila.
I'm thinking out loud
Maybe we found love right where we are
o0o
"Pulang sekarang?" tanya Raka seraya menatap Kalila yang sudah tampak sayu.
"Ayo deh, ngantuk," ujar Kalila dengan sesekali menguap. Sedari tadi juga ia tidak melihat Althaf, terakhir itu saat Althaf menyanyi.
Raka merangkul Kalila seraya berjalan menuju mobilnya. "Gue seneng lo mau pake baju yang gue beliin," ujar Raka seraya tersenyum.
"Tapi terlalu terbuka, Rak."
"Sekali-sekali gapapa kok."
---
"Thanks ya, Rak. Gue masuk dulu," ujar Kalila dengan sedikit menunduk agar bisa menatap Raka yang hanya terdiam di dalam mobil.
"Sama-sama, yaudah gue duluan ya." Kalila hanya mengangguk dan Raka langsung melajukan mobilnya. Kalila memutar tubuhnya, menatap rumahnya yang masih tampak terang. Itu tandanya Faro dan Laura sudah datang dan mereka belum tidur.
Kalila hampir saja berteriak saat tangannya ditarik seseorang. Lagi-lagi punggung yang ia kenal berhasil membungkam mulutnya. Althaf menarik Kalila menuju taman terbuka di perumahan mereka.
Althaf mendudukkan Kalila di salah satu bangku taman itu, sementara Althaf berdiri di depannya dengan tangan bersidekap.
"Kenapa, Al?" tanya Kalila takut-takut.
"Kenapa pake baju kaya gini? Lo kira keliatan cantik? Ngga, ngga sama sekali," ujar Althaf dingin. Kalila menundukkan kepalanya malu, malu mendengar kata-kata menyakitkan Althaf.
"Ini baju dari Raka. Gue tau kok ga cantik, ga secantik Luna."
Althaf menghela napasnya. Ia melepas tuxedo yang ia pakai sehingga hanya meninggalkan kaos putih yang melekat di tubuhnya.
"Pake," ujar Althaf seraya melempar tuxedo itu ke pangkuan Kalila. Sesekali Kalila menatap Althaf dan langsung memakainya.
"Makasih."
"Ayo, gue anter pulang," ajak Althaf seraya menarik pergelangan Kalila namun Kalila langsung menahannya. "Kenapa?"
"Mama sama Bang Faro ga tau kalo gue pake baju kaya gini," ujar Kalila pelan.
"Yaudah ke rumah gue aja, ntar gue pinjemin baju Mama."
"Serius?"
"Iyalah, ayo."
Kalila tersenyum lebar, ia langsung menyambar tangan Althaf dan jalan bersisian dengan laki-laki itu.
---
"Jam berapa nih?" tanya Kalila sebelum memasuki rumahnya, pakaiannya sudah berganti dengan piyama milik Lila.
Althaf melirik sebentar jam tangannya, "Setengah sebelas."
"Duh mampus, Bang Faro pasti ngamuk," ujar Kalila gelisah, wajahnya pucat menahan takut. Althaf menggenggam tangan Kalila sekilas dan langsung mengetuk pintu rumah Kalila.
"Al!" Kalila memekik tertahan, derap langkah seseorang terdengar dan pintu rumah itu langsung terbuka lebar.
"Darimana?" tanya Faro cepat dengan wajah dinginnya menatap Kalila yang ketakutan.
"D-dari undangan,"
"Sama siapa?"
"S-sam-ma-"
"-sama gue, Bang. Maaf bawa adek lo kelamaan," sahut Althaf cepat. Faro menatap Kalila yang masih menunduk, ia mengangkat dagu adiknya agar gadis itu menatapnya.
"Lain kali jangan pulang sampe malem, jangan lama-lama diluar," ujar Faro yang membuat Kalila tersenyum lebar dan mengangguk semangat. Faro tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah.
Kalila menatap Althaf dengan mata berbinar dan langsung berhambur memeluk laki-laki tinggi itu. Bayangkan, puncak kepala Kalila hanya setinggi dagu Althaf.
"Makasih udah bantuin gue, Al."
Althaf membalas pelukan Kalila, untuk beberapa saat Althaf memeluk Kalila erat.
"Udah, entar ada yang marah," ujar Althaf seraya melepas pelukan Kalila.
"Raka? Tau darimana gue sama dia jadian?"
"Keliatan kok, yaudah gue balik dulu ya," sahut Althaf seraya berbalik meninggalkan rumah Kalila, belum sampai Althaf keluar dari gerbang, laki-laki itu kembali menoleh.
"Baju dari Raka gue buang ya."
To be continued