"Gue suka sama lo, Kal."
Kalila menoleh cepat kearah Althaf. "Ap-apa?"
"Gue suka sama lo."
Kalila tertawa, semakin lama tawanya semakin terdengar puas. Dengan dahi berkerut Althaf memperhatikan Kalila.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
"Haha iyalah. b**o banget, masa suka sama gue. Kita kan sahabat, gimana sih lo."
Althaf mengeraskan rahangnya mendengar kata-kata Kalila, matanya menajam tanpa ia sadari.
"Becandaan lo berhasil buat gue ketawa, Al," seru Kalila seraya menepuk pundak Althaf. Althaf tersenyum getir, ia tadi benar-benar serius. Ia sudah memantapkan otak, hati dan lidahnya agar bisa mengatakan sederet kalimat itu dengan lancar. Tapi malah dikatain bercanda.
"Lucu ya?"
Kalila menghentikan tawanya seraya mengusap sudut matanya yang berair. "Lagian gue lagi suka sama Raka. Lo jangan baper ya kalo gue suruh lo jauhin Luna, gue ga cemburu kok, gue kesel aja sama Luna."
Althaf tiba-tiba merasakan dadanya menyempit saat mendengar kata-kata Kalila itu. Sesak sekali. Althaf tidak tau apa yang ia rasakan, mau kesal tapi rasanya Kalila tidak pantas di benci.
"Gue balik dah ya, mau ke rumah Leon."
"Yaudah, hati-hati Al," sahut Kalila santai dan langsung memasuki rumahnya. Althaf berlari menuju rumahnya, mengambil motor dari garasi dan langsung melajukannya.
Althaf menarik pedal gasnya kuat, tidak peduli suara klakson sana-sini yang menegurnya. Dengan cepat ia memakirkan motornya dan langsung memasuki rumah Leon. Rumah Leon itu sepi sekali, jadi jangan heran kalau Althaf bisa langsung masuk.
"Astaghfirullah!" pekik Leon saat Althaf tiba-tiba membuka pintu kamarnya.
"Gue pengen ngajak lo berantem," ujar Althaf seraya menyandarkan tubuhnya di dinding kamar Leon.
"Ha?"
Althaf mendesah. Ia berjalan menuju kasur Leon dan menjatuhkan tubuhnya, menempelkan wajahnya di kasur Leon.
"Heh alay! Kenapa lo?" tegur Leon seraya melemparkan satu komik yang tepat mengenai kepala Althaf. Althaf mendesis dan langsung merubah posisinya menatap langit-langit kamar Leon.
"Gue ditolak."
"Sama?"
"Kalila."
"SERIUS?!" Althaf berdecak. Respon Leon itu selalu berlebihan.
"Iya lah. Dikira gue bercanda ngomong gitu, ck nyesel gue bilang gitu ke Kalila," decak Althaf seraya menghentak-hentakkan kakinya di kasur Leon.
"Ett tunggu dulu, inget ga kemaren gue bilang apa? Kalo cewek itu-"
"Ah basi! Diem lo nyet, Kalila itu ga kaya cewe lainnya," sungut Althaf cepat, tidak ingin mendengar kata-kata Leon yang menyesatkan.
"Tau banget lo."
"Sepuluh tahun gue kenal dia."
"Gue masih ga percaya Kalila nolak lo, gue pikir lo berdua friendzone," ujar Leon dengan raut wajah tak mengerti.
"Iya emang friendzone, gue doang tapi, baperan banget sih gue jadi cowok," dengus Althaf seraya menutup wajah dengan lengannya. Leon yang mendengar kata-kata Althaf hanya tertawa.
"Terus sekarang lo mau gimana? Mau lepas Kalila buat Raka? Dua kali lo diginiin sama dia."
"Gue ga tau. Liat Kalila nya aja, kalo dia seneng ya gue mundur," jawab Althaf lesu.
"Ah payah. Gue ga setuju Kalila sama Raka. Raka gitu-gitu suka mainin perempuan."
Althaf tertawa getir. "Cocok kan sama Kalila."
o0o
Kalila berguling kesana kemari mencoba mencari posisi yang pas agar ia bisa terlelap. Berbagai macam posisi tidur sudah ia coba. Menghitung domba pun sudah, tapi hasilnya nihil. Mata Kalila selalu terbuka lebar.
"Ah! Gue kenapa sih!" gerutunya kesal seraya menyingkap selimutnya. Ia memandangi jendela balkonnya yang tertutup, pikirannya melayang ke kejadian tadi sore. Kalila tidak tau kata-kata Althaf serius atau tidak.
Sementara Kalila sendiri masih bingung dengan perasaannya. Rasa senang menjalar begitu saja saat Althaf mengatakan sederet kalimat itu, tapi kini ia resah. Entah resah karena apa.
Kalila melangkahkan kakinya, beranjak menuju dapur. Mungkin beberapa kotak s**u bisa membuatnya mengantuk.
"Anjir!" pekik Faro tertahan. Kalila terkejut saat melihat Faro yang baru mau naik ke atas terhentak karena melihatnya yang berdiri di anak tangga teratas.
"Kenapa, Bang?"
"Setan! Lo ngagetin aja, rambut benerin dulu kek."
Kalila tertawa seraya melanjutkan jalannya. "Abang pikir Lala kuntilanak ya?"
"Gue kira lo sundel bolong," dengus Faro. "Yaudah ya, gue ke atas."
"Eh, j-jangan dulu," cegah Kalila seraya menahan lengan Faro.
"Kenapa? Takut?" goda Faro dengan bibir terangkat satu, Kalila dengan kesal menyentakkan tangan Faro.
"Ih! Ga takut!"
"Terus?"
"Lala mau cerita," sahut Kalila pelan.
Faro membetulkan posisi berdirinya dan menarik senyum simpul untuk Kalila. "Yaudah, gue tunggu di kamar."
Kalila mengangguk senang, dengan cepat ia melesat menuju dapur, mengambil beberapa kotak s**u untuk dibawa ke atas. Ia kembali berlari menuju kamar Faro.
"Bang," sapa Kalila seraya membuka pintu kamar Faro, dapat Kalila lihat Faro sedang rebahan dengan ponsel di tangannya.
"Sini, La," ujar Faro seraya memberi ruang agar Kalila bisa rebahan juga. Kalila membuka satu s**u kemasannya dan langsung tertelungkup di kasur Faro.
"Bang, Lala galau."
Faro terkekeh lalu ikut tertelungkup.
"Adek gue udah ngerti galau?" ujarnya seraya mengacak rambut berantakan Kalila. Kalila mendengus kesal.
"Lala serius, Lala mau cerita."
"Iya iya sayang, Abang dengerin kok," Kalila mendecih saat mendengar suara Faro yang dibuat-buat.
"Bang," panggil Kalila pelan.
"Hm?"
"Althaf nembak Lala, tapi ga tau serius atau ga," cicit Kalila pelan. Antara malu, senang dan bingung.
"Dia serius," sahut Faro dengan tertawa kecil.
"Eh? Tau darimana?"
"Althaf ngomong gitu natap mata lo kan? Dia serius, La. Lagian dia nembak depan rumah, gue bisa liat dia jelas." Kalila tertawa getir seraya merapatkan wajahnya di bantal Faro. Malu sekali.
"Terus menurut Abang gimana?"
"Emang lo beneran ga ada rasa sama Althaf?"
Kalila terdiam sebentar. "Lala ga tau."
"Coba lo pikirin lagi, La. Gue ga mau lo nyesel karena perasaan ga jelas lo itu."
"Nyesel maksudnya?"
"Althaf itu cowok. Ga semua cowok itu bakal nunggu cewek yang dia sayang, sebagian bakal berpikir akan ngerelain cewenya asal cewek itu bahagia sama pilihannya. Dan, gue mau tanya, Raka siapa?"
Kalila mengulum senyum malunya begitu mendengar nama Raka. "Temen sekolah. Lala kenal Raka dari kelas sebelas, tapi deketnya baru akhir-akhir ini."
"Sayang sama dia?" Kalila mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Faro.
"Sayang itu gimana?"
Faro menjentikkan jarinya di depan wajah Kalila. "Nah itu PR lo, lo cari tau rasa sayang itu gimana. Gue harap lo bisa berpikir jernih, La."
"Lala bingung, suka sama cowok aja ribet banget."
"Udah ah, sekarang tidur aja ya, ngantuk gue," ujar Faro seraya merubah posisinya. Kalila pun langsung merebahkan tubuhnya menghadap Faro yang kini dalam posisi telentang.
Kalila mengerjapkan matanya, masih tidak bisa tidur.
"Gue nih kenapa sih?" gumam Kalila jengkel. Faro mengernyit mendengar suara lirih Kalila.
"Kenapa, La?"
"Loh? Abang belum tidur?" tanya Kalila kaget.
"Belum, lo kenapa?"
"Ga bisa tidur."
Faro menarik senyumnya, kebiasaan Kalila sedari dulu, susah tidur jika sedang banyak pikiran.
"Tarik selimut lo," ujar Faro. Kalila langsung menarik selimutnya sampai dagunya tertutupi.
Faro merubah posisinya menghadap Kalila, memeluk adiknya seraya mengusap punggung Kalila secara perlahan dan teratur. Tak sampai lima menit, mata Kalila sudah terasa berat. Kalila semakin menyamankan posisi tubuhnya dan secara perlahan matanya langsung tertutup diiringi dengan dengkuran halus milik Kalila.
"Dasar bocah."
---
"Bang, anterin Lala yuk. Lala pengen sama Abang." Faro yang masih bermalas-malasan di sofa mendengus kesal.
"Biasa juga lo sama Althaf dih, sana ke rumah dia gih."
"Ih! Abang kan tau Lala sama dia lagi kenapa."
Faro lagi-lagi mendengus. "Bocah ya emang, abis nembak malah diem-dieman."
"Terserah apa kata Abang, yang penting sekarang anterin Lala."
"Berisik, yaudah ayo," ujar Faro seraya menyambar kunci mobilnya. Kalila berlari kecil menuju gerbang dan membukakan gerbang itu. Dapat ia lihat Althaf yang juga sedang membuka gerbangnya.
Kalila membuang wajahnya cepat tanpa sadar. Ih b**o banget, gue kenapa malah buang muka. Batin Kalila gemas.
"Malah bengong, ayo masuk," ujar Faro. Kalila mengerjap cepat dan sudah menemukan mobil Faro di depannya. Kalila dengan cepat kembali menutup gerbangnya dan langsung masuk ke mobil Faro.
"Althaf baru jalan kan? Kenapa ga bareng?"
"Althaf ga ngajakin Lala."
"Kenapa?" tanya Faro heran.
"Mungkin karena kemarin."
Faro menghela napasnya. "Lo pikirin baik-baik tuh omongan gue semalem."
o0o
Althaf menjatuhkan tubuhnya di deret kursi nomer tiga, bangkunya yang biasa. Kelas masih sepi, ia merapatkan wajahnya pada tas miliknya.
Althaf mendesah ketika merasakan kantuk berlebih. Semalam ia hanya tidur dua jam. Kata-katanya kemarin sore malah berdengung di telinganya sendiri saat malam hari.
Althaf tegang sendiri saat mendengar derap langkah seseorang. Ia hafal sekali, ini derap langkah Kalila.
"L-lo kenapa?" Kalila sontak memukul bibirnya saat ia rasa suaranya tersendat.
Althaf langsung menatap Kalila dengan pelipis yang tetap merapat pada tas miliknya. "Gapapa," sahutnya pelan.
Kalila jadi kikuk sendiri saat Althaf menatapnya lekat, Ia mengambil satu buku di dalam tasnya dan langsung menggeplak wajah Althaf.
"Jangan ngeliatin gue kaya gitu."
Althaf tertawa kecil. "Salah tingkah, ya?"
"Ngga! Apaan sih!"
"Oh iya lupa, sukanya kan sama Raka."
To be continued