"Al, nanti jad--"
"Iya jadi, ayo buruan." Potong Althaf cepat seraya bangkit dari kursinya setelah merapikan buku-buku yang berserak di mejanya.
Kalila berlari kecil mengikuti langkah panjang Althaf, beberapa kali Kalila berdecak seraya menatap punggung bidang Althaf.
"Al, tungguin! Ih!" panggil Kalila ketus dengan sedikit menambah kecepatan larinya agar bersisian dengan Althaf. Lagi-lagi Althaf hanya melirik Kalila yang berlari kecil di sebelahnya. Kedua tangan gadis itu terlihat sibuk mengikat rambutnya. Baru saja Althaf ingin menarik senyumnya namun laki-laki itu harus dengan cepat menahannya saat kedatangan seseorang secara tiba-tiba.
Kalila melotot kaget saat ikat rambutnya ditarik tiba-tiba. Kalila menoleh dengan cepat dan langsung menemukan Raka yang sedang tersenyum puas.
"Balikin!" bentak Kalila.
"Nggak."
"Raka ga lucu! Balikin sekarang!" pekik Kalila. Terlihat sekali gadis itu tampak tidak nyaman, Kalila terus menggenggam gulungan rambutnya. Althaf masih diam, masih memandangi dua orang di hadapannya ini.
"Cantik kalo digerai. Muka lo keliatan unyu," ujar Raka dengan tersenyum dan sesekali tertawa.
Kalila melipat bibirnya ke dalam. Cewek mana yang tidak blushing dikatain kaya gitu. Kalila kembali melirik Althaf, nyalinya ciut seketika saat melihat wajah datar Althaf.
"Y-yaudah deh, Rak, gue sama Althaf duluan, ya? Bye!" ujar Kalila dan langsung menarik lengan Althaf agar segera berjalan. Althaf melirik Kalila, cantik sih, tapi Althaf tidak suka karena Raka yang membuat rambut Kalila tergerai.
"Bentar," ujar Althaf pelan dan langsung mengambil sesuatu di tanah, "nih pake," ujarnya seraya memberikan karet gelang.
Kalila menganga. Yang benar saja, masa Kalila harus memakai karet gelang yang dari bawah sih. Kan kotor.
"Tap-tapi Al-"
"Lo jelek kalo digerai, pake buruan." Oke. Kalila lumayan jengkel saat dikatai seperti itu. Kalila merampas karet gelang itu dan langsung memakainya dengan wajah tertekuk.
Diam-diam Althaf menarik senyumnya.
o0o
"Bang Farooo!" teriak Kalila melengking seraya berlari ke arah Faro yang sudah terlihat dari jarak yang lumayan cukup jauh.
Althaf yang kaget melihat Kalila tiba-tiba berteriak hanya menepuk dahinya seraya menggeleng-gelengkan kepala. Kapan gadis itu tidak membuatnya malu?
Kalila segera melompat ke pelukan Faro membuat Faro melepas genggaman di kopernya.
"Lo nih, bikin kaget aja," ujar Faro seraya tertawa kecil yang kini sedang membalas pelukan Kalila.
"Lala kangen," rengek Kalila yang masih memeluk Faro.
"Kangen juga kan lo, bilangnya bisa hidup tanpa gue." Kalila mengerucutkan bibirnya seraya melepas pelukannya.
"Lala kan bilang gitu pas kita berantem aja, ga serius, Bang."
"Yaudah, gue capek, ke Althaf yuk," ujar Faro yang kembali menggenggam kopernya. Kalila mengangguk dan langsung berlari kecil di depan Faro.
"Bang Faro," sapa Althaf seraya bersalaman kepada Faro dan saling membenturkan bahu.
"Thanks, Al, udah nemenin Kalila."
"Santai lah, Bang, kaya sama siapa aja."
---
Kalila yang sudah mengganti seragamnya kini terlihat sibuk membuka karet gelang yang kini melilit rambutnya. Beberapa kali ia berdecak saat merasa salah satu rambutnya tertarik.
Althaf yang berada di dalam kamarnya pun sedari tadi tertawa, masih belum niat menyapa Kalila.
"ANJIR!" pekik Kalila tanpa sadar saat karetnya semakin melilit.
"LA!"
"MAAP, MA!"
Althaf lagi-lagi terbahak. Akhirnya laki-laki itu berjalan menuju balkon dan langsung menaikinya.
"Susah, Kal?"
Kalila menoleh dengan wajah garangnya dan menemukan Althaf dengan cengiran jenakanya.
"Gara-gara lo nih! Rambut gue rusak!"
Althaf tertawa. "Sorry, gue mana tau jadinya bakal kaya gitu."
"Tanggung jawab nih! Susah tau ga dilepasnya!" ujar Kalila yang masih berada di tingkat emosi tertinggi.
"Yaudah turun sekarang," ujar Althaf. Kalila mendengus, ia mengambil sisir dan ikat rambut baru di atas meja riasnya yang hanya berisi bedak bayi, lipbalm dan beberapa bando.
Keduanya bertemu di teras rumah Kalila. Kalila dengan wajah masamnya duduk membelakangi Althaf yang sedang fokus membuka karet itu.
"Aduh b**o! Rambut gue udah banyak kecabut gara-gara lo!" pekik Kalila seraya mengusap sisi kepalanya yang merasa rambutnya tercabut.
"Susah banget elah. Gunting ya?"
"Enak aja! Makin rusak rambut gue!" Althaf berdecak. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada rambut Kalila, perlahan ia menarik karet itu. Sedikit mengabaikan teriakan membahana Kalila.
"UDAH BELUM SIH?!"
"Lagi dikit nih, jangan berisik," sahut Althaf kalem, sedikit lagi karet itu akan terlepas dan.... yas! Lepas. Althaf terkejut karena melihat beberapa helai rambut Kalila ikut terbawa. Dengan cepat Althaf membuang karet itu.
"Nah udah lepas, mana sisir?"
Kalila menghela napas lega seraya menyerahkan sisir berwarna hijau tosca itu, dengan telaten Althaf menyisir rambut Kalila.
"Kal, rambut lo gue kepang ya?"
Kalila menahan senyumnya. "Emang bisa?"
"Bisa, gue sering kepangin Mama di rumah."
Kalila tertawa geli, tidak menyangka Althaf ternyata seperti itu.
"Kenapa ketawa? Mau kan dikepang?"
"Iya iya, mau kok."
Althaf menarik senyumnya, dengan hati-hati Althaf membentuk simpul di rambut Kalila. Untung rambut Kalila lurus dan tidak terlalu tebal, jadi mudah diatur.
"Nah beres, coba liat," ujar Althaf. Kalila memutar tubuhnya dan langsung tersenyum manis menatap Althaf.
"Cantik," ujar Althaf santai yang membuat Kalila langsung membelalak kaget.
"Gue?"
"Rambutnya lah," ujar Althaf seraya menoyor dahi Kalila. "Lo itu manis," lanjutnya yang membuat Kalila dengan spontan memukul lengan Althaf.
"Gombalan lo basi."
"Gue serius. Emangnya gue kaya mantan-mantan lo apa."
"Ye si monyet baper."
"Lala!" Kalila meringis. Ia menoleh ke belakang, pintu rumahnya terbuka dan Laura duduk di ruang tamu. Pantas saja Laura mendengar kata-k********r yang dilontarkan Kalila.
"Althaf, lain kali kalo Kalila bilang gitu jewer aja ya."
"Kasian Tante kalo dijewer, cium aja ya?"
Laura melotot kaget mendengar kata-kata Althaf barusan. Faro yang sedari tadi diam di sebelah Laura pun langsung menatap Althaf tidak percaya.
"APA KAM-"
"Hehe. Althaf bercanda kok, Tante. Ga mungkin lah Althaf cium Kalila."
"Awas aja lo sampe macem-macemin adek gue."
Althaf meringis. Lupa kalau ada kakak laki-laki Kalila yang lumayan posesif.
"Ga kok, Bang, ga bakal."
Kalila tertawa. "Lo sih, asal bunyi."
"Niat gue kan bercanda," gerutu Althaf yang kembali membelakangi Laura dan Faro.
Keduanya mendadak diam. Sebenarnya Althaf memikirkan kata-kata Leon kemarin. Kalau suka, harus berjuang. Yakin aja bakal diterima.
Althaf melirik Kalila sedikit tapi langsung tertangkap basah. "Kenapa lirik-lirik?" Althaf menelan salivanya dan langsung menggeleng.
"Kal."
"Hm?"
"Menurut lo, persahabatan kita penting ga?" tanya Althaf hati-hati.
"Ya penting lah, Al."
"Kenapa?"
"Em kenapa ya? Mungkin karena jaman sekarang susah nyari orang yang bisa dijadiin sahabat yang bener-bener ngertiin kita selain keluarga. Ada, ngakunya sahabat, dengerin curhat segala macem, tapi malah menceritakan kembali curhatan itu kepada orang-orang kan? Itu sebabnya lo penting bagi gue. Karena lo ga kaya gitu."
Benar kan? Jaman sekarang banyak yang ngakunya sahabat. Bersikap seolah-olah ia perduli. Dengan gencar menanyai apa masalah yang sedang ditimpa, berkata kalau dia dapat dipercaya. Tapi, setelah ia mendapat kepercayaan untuk mengetahui semuanya, ia tanpa segan menyebarkan semuanya kepada orang banyak. Sahabat macam apa?
Oke. Masalah di atas cukup melenceng. Anggap aja pelajaran tentang kehidupan.
"Kalau misalnya ada yang hancurin persahabatan kita?" tanya Althaf yang kini sudah menatap Kalila.
"Emang ada yang mau hancurin? Siapa?"
"Gue."
"Ha?"
"Gue suka sama lo, Kal."
To be continued