"Yaudah Kal, gue balik ya, anak-anak mau ke rumah, entar gue dikira ngapa-ngapain lagi sama nyokap lo."
Kalila tertawa kecil. Tadi dirinya dan Althaf memang diintrogasi oleh Laura perihal posisi jatuh mereka. Althaf pun dengan wajah super seriusnya menjelaskan kronologis kecelakaan itu. Dan akhirnya Laura percaya setelah mulut Althaf nyaris berbuih.
"Yaudah sana balik, rumah di sebelah juga."
Althaf nyengir lebar dan langsung bangkit dari teras Kalila.
"Bye, Kal, jangan kangen."
"Najis tralala," sahut Kalila dengan tertawa kecil. Althaf ikut tertawa dan langsung memutar tubuhnya, berlari kecil menuju rumahnya dengan tangan menutupi kepalanya dari titik-titik hujan yang mulai deras.
Althaf mengibaskan rambut dan kausnya begitu sampai di rumah. Didapatinya Chan dan Leon sudah duduk nyaman di ruang tamu dan mengobrol kecil dengan Lila.
"Udah dateng aja," ujar Althaf seraya duduk di sebelah Lila.
"Lo sih, ngapel mulu, untung ada Tante cantik, jadi ga bosen nungguin lo," sahut Chan santai. Lila hanya tertawa kecil, Chan memang begini sejak SMP, selalu memanggil Lila dengan sebutan tante cantik.
"Oiya Al, katanya Raka masuk jurusan IPA ya di sekolah?" ujar Lila seraya menepuk paha Althaf. Althaf yang mendengar nama keramat itu langsung menatap nyalang ke arah Chan dan Leon.
"Mama tau darimana?"
"Dari Leon, kok kamu ga pernah ajak Raka kesini lagi sih? Kan lumayan dia bisa bantuin Mama masak."
Ya, Raka saat SMP dulu senang sekali menemani Lila yang sedang masak. Alasannya karena Raka tidak pernah melihat ibunya memasak, yang Raka lihat selalu asisten rumah tangganya.
Althaf menghela nafasnya. "Dia sibuk, Ma. Udah ga suka main-main kaya dulu. Udah ya, aku mau ke atas dulu," ujar Althaf seraya bangkit dari sofa, "yuk." ajaknya pada Leon dan Chan.
-
"Mama gue kenapa tiba-tiba ngomongin Raka? Sebelum gue dateng lo berdua ngomongin apa sih?" tanya Althaf dengan pandangan terpaku pada televisinya. Kebiasaan mereka jika berkumpul, main playstation.
"Tadi nyokap lo nanya, temen kita lagi satu mana, ya gue akhirnya buka mulut," sahut Leon yang juga fokus menatap televisi. Sementara Chan, laki-laki itu dari tadi hanya tengkurap di lantai yang beralaskan karpet seraya membaca komik-komik lama Althaf yang entah sudah berapa kali ia baca.
"Lo ga cerita tentang masalah itu kan?"
"Ngga lah, b**o apa." Althaf hanya mengangguk lega. Setidaknya Lila tidak tau jika Althaf bermasalah dengan Raka.
"Ngomong-ngomong gue tadi liat cewek di rumah Luna, anak baru?" tanya Chan setelah menutup komiknya dan menatap Althaf dan Leon yang duduk di pinggir ranjang.
"Luna."
"Ha?" tanya Chan dan Leon bersamaan.
"Itu Luna, dia udah balik dari Bali."
"Anjir. Itu anak ngapain balik lagi sih, bikin rusuh aja," decak Chan, pasalnya Chan dan Luna tidak pernah akur. Luna bahkan tidak segan menjambak Chan saat laki-laki itu mencibir di depannya.
"Tau ga sih, tingkahnya lama-lama kaya cabe-cabean kepanasan. Kesel gue liatnya." Begitulah Althaf jika sedang curhat, asal bunyi tanpa berpikir.
"Halah lo ngomong gitu emang lo udah move on dari dia?"
Althaf kicep mendengar pertanyaan cepat Leon. Althaf yakin ia sudah tak punya perasaan lagi terhadap Luna, tapi entah kenapa mulutnya lebih memilih bungkam. Mungkin terlalu lelah untuk menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Lo suka ga sama Kalila?" tanya Chan tiba-tiba.
Althaf melirik Chan sebentar lalu menggeleng pelan. "Kenapa?" tanya Althaf.
"Serius ngga suka?"
"Lagian dia sahabat gue, ngga mungkin gue bisa suka sama dia," sahut Althaf seraya mengusap tengkuknya dan menjilat bibirnya singkat yang terasa kering, rasanya tidak enak mengatakan kalimat itu.
"Bagus deh, berarti ga bakal ada keributan lagi," seru Leon seraya menatap Althaf dan mem-pause game-nya.
"Maksud lo keributan?"
"Raka suka sama Kalila."
Althaf menegang mendengar kalimat itu. Bibirnya terkatup rapat membentuk segaris kaku lurus nan tajam.
"Saran gue, Al, kalo lo suka sama Kalila perjuangin aja. Gue tau lo berdua emang sahabatan dari kecil, tapi kalo lo udah terlanjur jatuh cinta, lo bisa apa?" Althaf semakin bungkam setelah mendengar perkataan Leon.
"Gue juga udah cape liat Kalila jadi playgirl, gue takut itu cewe kena karma dan disakitin sama Raka. Udah cukup gue liat lo tertekan karena Raka dulu," sambung Chan masih dengan posisi tengkurapnya.
"Kalo pun gue suka sama Kalila, dia ga bakal suka sama gue. Dia mengutamakan persahabatan kita."
"Ck," Leon berdecak kesal. "Al, gue kasih tau ya, cewek itu kadang gengsian, apa yang dia omongin sama apa yang dia rasain itu beda, mana tau dia suka sama lo kan."
Althaf terdiam, berpikir sebentar. "Tapi dia juga pernah bilang kalo dia mau deketin Raka," ujar Althaf.
Leon dengan gemas menggerakkan jari telunjuknya menoyor dahi Althaf. "Lo pinter tapi kalo masalah ginian otak lo berasa otak udang. Ya seperti yang gue bilang, omongan sama hati itu kadang beda. Cewek bro, ya malu lah mau ngaku di depan orang yang dia suka."
"Terus gue harus gimana?"
"Ya berjuang lah, jangan sampe Raka sama Kalila jadian," sahut Chan gemas kepada Althaf.
Althaf terdiam lagi, matanya melirik ke pintu balkon di depan kamarnya yang tertutup. Pintu balkon kamar Kalila tentunya. Althaf merebahkan tubuhnya dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
"Ga usah terlalu dijadiin pikiran, gue yakin Kalila pasti milih lo."
Althaf menghela napas. "Ya kalo dia suka sama gue."
o0o
"Hai, Kal." Kalila yang baru saja memasuki kantin langsung menoleh begitu mendengar seseorang menyapanya.
"Oh, hai Dim," balas Kalila dengan tersenyum, membalas senyuman kaku Dimas. Dimas itu anak dari kelas XII IPS 3.
"Lo ke nikahannya mas Taufik sama siapa?"
Kalila berpikir sebentar, dia belum membuat janji dengan siapa-siapa.
"Ga tau, lo mau ngajakin gue?" tanya Kalila seraya mengedipkan satu matanya dengan jail. Dimas menahan nafas seraya memegang dadanya. Kalila yang melihat itu tak bisa menahan tawanya.
"E-emang l-lo mau s-s-sama gue?" tanya Dimas gugup. Dimas itu tipe cowok culun. Kancing bajunya terkancing sempurna sampai atas dan di kerah bajunya tergantung dasi yang menjulur melebihi sabuknya.
"Kenapa engga? Lo ganteng kok, cocok sama gue," sahut Kalila seraya melilitkan dasi Dimas dan menghempasnya.
Dimas menganga lebar dengan wajah merona. Ia membentulkan letak kacamata tebalnya itu dan memperbaiki letak dasinya.
"Yaudah, kalo gitu gue jemput lo besok!" ujar Dimas semangat dengan senyum lebarnya.
"Jemput apaan?" Kalila segera menatap ke belakang Dimas saat mendengar suara rendah itu. Kalila meringis, itu Althaf. Althaf bergerak mendekati Kalila dan berdiri di hadapan Dimas dan membelakangi Kalila.
"Tadi lo bilang apa? Jemput?" tanya Althaf lagi seraya bersidekap. Entah sejak kapan Althaf menanggalkan kacamatanya. Biasanya ia tak pernah lepas dari kacamata baca itu.
"Ah-engga Al, g-gue ga ada ngomong apa-apa," sahut Dimas gugup. Siapa yang tak segan dengan Althaf? Hampir semua segan dengan laki-laki rapi ini. Jambulnya tertata sempurna, seragamnya selalu disetrika walau kadang-kadang bajunya tidak dimasukan. Seperti saat ini. Jangan lupakan kemampuan di bidang akademiknya yang semakin menunjang popularitas Althaf di sekolah.
"Yakin?" tanya Althaf jail. Senang juga menggoda Dimas yang terlihat gugup.
"I-iya yakin. G-gue ke kelas ya." Althaf mengangguk sebagai jawaban dan Dimas langsung melesat dari hadapan Althaf.
Kalila tak bisa menahan tawanya dan langsung memukul punggung Althaf, Althaf pun ikut tertawa seraya memutar tubuhnya.
"Jahat banget sih lo, anak orang sampe keringet dingin gitu," ujar Kalila seraya mendekati salah satu kursi kantin dengan diikuti Althaf.
"Gue heran, dia gugupan banget jadi orang," balas Althaf masih merasa geli dengan kelakuan Dimas tadi.
"Udah jangan diomongin lagi, kasian," ujar Kalila dengan tertawa kecil. "Oia Al, entar temenin ke bandara ya?" lanjut Kalila.
"Ngapain?" tanya Althaf dengan dahi berkerut.
"Bang Faroo! Dia dateng!" sahut Kalila bersemangat seraya bertepuk tangan. Althaf tertawa pelan seraya menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.
"Alay lo."
"Biarin, alay aja banyak yang suka apalagi kalem," balas Kalila santai. Lagi-lagi Althaf hanya tertawa. Debar-debar pelan dapat ia rasakan di dadanya. Mungkin benar, Althaf menyukai Kalila.
"Hai, Kal," sapaan itu kini membuat Althaf dengan cepat menahan senyumnya. Raka datang dan dengan santainya duduk di salah satu kursi di antara Althaf dan Kalila. Jadi Althaf dan Kalila itu berhadapan dengan terhalang satu meja. Dan di sisi-sisi lain meja itu terdapat dua kursi, dan salah satunya ditempati Raka barusan.
"Oh, hai. Kenapa?" tanya Kalila ke arah Raka namun mata Kalila berkali-kali melirik Althaf yang memandangnya dingin.
"Gue mau ngajak lo ke acaranya Mas Taufik, bisa?"
Kalila mengerjap senang. Siapa yang tidak senang saat ditawari oleh targetnya. Raka yang melihat raut senang Kalila langsung melirik Althaf sebentar. Althaf pun membalas lirikan itu.
"Bisa kok. Lagian gue belum ada janji sama siapa-siapa."
Althaf melotot kaget saat mendengar nada bersemangat Kalila. Sementara Raka, laki-laki itu tertawa kecil seraya bangkit dari kursinya.
"Besok gue jemput jam tujuh malem," ujarnya seraya menepuk puncak kepala Kalila dan langsung melenggang begitu saja. Kalila terpesona seketika. Wajah gadis itu dengan cepat memerah.
Althaf menghela napas kasar dan langsung bangkit dari kursi itu. Kalila menatap Althaf kaget. Bagaimana ia bisa tiba-tiba lupa kalau ada Althaf.
"Althaf, tungguin!"
Althaf berhenti berjalan dan langsung memutar tubuhnya, membuat Kalila yang tadinya berlari ngebut langsung menahan langkah kakinya.
Bugh
Kalila meringis saat menuburuk tubuh tinggi Althaf. Napas gadis itu tersengal, ia mengambil langkah mundur dan menatap Althaf takut-takut.
"Lo marah?" cicit Kalila.
"Iya, gue marah," sahut Althaf ketus seraya bersedekap.
"Maaf, lagian lo ga ada ngajakin gue sih."
Althaf mengerutkan dahinya dan langsung menghela napas kesal.
Kalila itu tidak peka atau gimana sih. Althaf melarang Kalila dengan Dimas kan karena Althaf bermaksud mengajak Kalila.
"b**o," ujar Althaf datar seraya menoyor dahi Kalila dan meninggalkan gadis itu.
Kalila hanya bisa melongo karna Althaf benar-benar marah hanya karena Raka. Biasanya Althaf tak pernah ambil pusing saat tau Kalila menerima ajakan dari laki-laki sekolah ini.
"Dia kenapa sih?"
To be continued