Sudah hampir satu bulan sejak Luna pertama kali bertemu dengan Belinda Tanubrata di Global Hospital dan sejak saat itu nama wanita tersebut memang mulai beberapa kali terdengar dalam percakapan Luna dan Albert. Awalnya Luna tidak terlalu mempermasalahkannya. Baginya Belinda hanyalah salah satu rekan kerja Albert di rumah sakit dan Luna juga tidak pernah memiliki alasan untuk merasa curiga kepada wanita tersebut.
“Mas, kamu mau makan malam sekarang atau nanti?”
Albert yang sedang duduk di sofa sambil membaca beberapa berkas pasien menoleh kepada Luna. “Nanti saja. Aku masih harus menyelesaikan beberapa berkas.”
Luna menghela napas kecil. “Jangan terlalu sering makan malam terlambat. Nanti perut kamu sakit lagi.”
Albert tersenyum. “Aku tahu.”
“Kamu tahu tapi tetap dilakukan.”
Albert meletakkan berkas di tangannya lalu menarik tangan Luna agar wanita itu duduk di sampingnya. “Kalau aku tidak menyelesaikan berkas ini, nanti siapa yang mengobati pasien?”
“Dokter lain.”
Albert tertawa mendengar jawaban Luna. “Jadi sekarang kamu menyuruh suamimu berhenti bekerja sebagai Dokter?”
“Bukan begitu.” Luna ikut tersenyum. Hubungan mereka memang sudah seperti itu sekarang. Mereka bisa saling mengomel untuk hal-hal kecil tanpa merasa canggung seperti dulu.
Albert bahkan mulai terbiasa dengan Luna yang selalu mengingatkannya untuk makan, tidur dan membawa payung ketika pergi ke rumah sakit. Begitu juga dengan Luna yang sudah terbiasa menerima pesan dari Albert ketika pria itu belum pulang.
Namun beberapa hari terakhir Luna mulai menyadari kalau Albert semakin sering sibuk. Ponselnya lebih sering berbunyi. Panggilan dari rumah sakit datang bahkan ketika mereka sedang makan malam. Beberapa kali Albert juga harus kembali ke rumah sakit setelah sebelumnya mengatakan akan pulang lebih awal.
Luna tidak pernah melarang. Dia tahu pekerjaan Albert memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Hanya saja, malam itu ketika Albert kembali mendapat panggilan dari rumah sakit, Luna sempat melihat nama yang muncul di layar ponsel suaminya.
Belinda.
Albert langsung mengangkat panggilan itu. “Iya, Dokter Belinda?”
Luna yang sedang duduk di meja makan hanya diam. Albert berdiri lalu berjalan menjauh beberapa langkah dari Luna. Pria itu berbicara cukup lama sebelum akhirnya mematikan panggilan.
“Ada apa?” Luna bertanya ketika Albert kembali.
“Ada pasien yang membutuhkan bantuan. Saya harus kembali ke rumah sakit.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Luna menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu pergi saja. Hati-hati.”
Albert menghampiri Luna lalu mencium kening wanita itu. “Aku usahakan untuk tidak pulang terlalu malam.”
Setelah Albert pergi, Luna hanya menatap pintu apartemen yang kembali tertutup. Untuk beberapa saat wanita itu tidak memikirkan apa pun. Namun entah kenapa nama Belinda yang tadi muncul di layar ponsel Albert membuat pikirannya sedikit terganggu.
Bukan karena Luna mencurigai Albert. Luna hanya merasa nama itu mulai terlalu sering muncul dalam kehidupan mereka.
Beberapa hari kemudian Luna kembali datang ke Global Hospital. Kali ini bukan untuk mengantarkan makanan kepada Albert, melainkan menemani salah satu temannya yang sedang menjalani pemeriksaan. Setelah selesai, Luna memutuskan untuk menunggu Albert karena pria itu mengatakan sedang tidak terlalu sibuk hari itu. Namun ketika Luna berjalan melewati salah satu koridor rumah sakit, dia kembali bertemu dengan Belinda.
“Luna?”
Luna menoleh dan tersenyum. “Oh, Dokter Belinda.”
Belinda berjalan mendekat. “Kamu sedang apa di sini?”
“Aku menemani teman.”
“Oh.”
Belinda tersenyum lalu melihat ke arah belakang Luna. “Dokter Albert tidak bersama kamu?”
“Tidak. Dia masih bekerja.”
Belinda menganggukkan kepalanya.
“Dokter Albert memang begitu. Kalau sudah bekerja, kadang suka lupa waktu.”
Luna tertawa kecil. “Itu yang sering saya katakan kepadanya.”
Belinda ikut tertawa.
“Berarti kita punya masalah yang sama.”
Luna sedikit terdiam mendengar kalimat itu. “Kita?”
Belinda tampak menyadari ucapannya. “Maksud saya, saya juga sering mengingatkan Dokter Albert kalau sudah terlalu sibuk bekerja.”
Luna hanya tersenyum. Tidak ada yang aneh dari percakapan itu. Bahkan Belinda terlihat seperti wanita yang menyenangkan. Mereka berbicara beberapa menit sebelum akhirnya Belinda harus kembali bekerja. “Sampai bertemu lagi, Luna.”
“Iya.” Luna memperhatikan Belinda yang berjalan menjauh.
Ada sesuatu tentang wanita itu yang membuat Luna merasa familiar. Bukan wajahnya. Bukan juga cara berpakaiannya. Entah kenapa, cara Belinda tertawa dan berbicara terkadang membuat Luna teringat pada seseorang dari masa lalu.
Giska.
Namun Luna segera menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Sudah terlalu lama sejak nama itu menjadi bagian dari kehidupan Albert. Luna bahkan tidak tahu ada hubungan antara Giska dan Belinda. Karena itu Luna memilih mengabaikan pikirannya sendiri.
Malamnya Albert pulang lebih lambat dari biasanya. Luna yang sedang membaca buku di kamar langsung menoleh ketika mendengar pintu kamar terbuka.
“Kamu baru pulang?”
“Iya.”
Albert terlihat lelah. Luna bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri suaminya. “Kamu sudah makan?”
“Belum.”
“Aku sudah siapkan makanan.”
Albert tersenyum. “Terima kasih.”
Luna membantu Albert merapikan tasnya sebelum pria itu masuk ke kamar mandi. Semuanya masih terasa seperti biasanya. Tidak ada yang berubah.
Namun ketika Albert keluar dari kamar mandi dan meletakkan ponselnya di atas meja, ponsel itu kembali bergetar. Albert melihat layar ponselnya. Luna yang sedang duduk di tempat tidur tidak sengaja melihat nama yang sama seperti beberapa hari lalu.
Belinda.
Albert mengambil ponselnya. Namun sebelum pria itu sempat membuka pesan tersebut, Luna bertanya,
“Belinda?”
Albert menoleh. “Iya.”
“Ada apa?”
“Dia mengirim sesuatu tentang pasien tadi.”
Luna hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh.”
Albert kemudian kembali melihat ponselnya. Luna menatap suaminya beberapa detik sebelum akhirnya kembali membaca bukunya. Tidak ada alasan baginya untuk mencurigai Albert. Tidak ada alasan baginya untuk merasa takut. Tetapi untuk pertama kalinya sejak Belinda masuk ke dalam kehidupan mereka, Luna mulai bertanya dalam hati...
Kenapa nama wanita itu sekarang semakin sering muncul di antara dirinya dan Albert?
Luna tidak tahu bahwa pertanyaan sederhana itu nantinya akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan...