Beberapa hari setelah pertemuan Luna dengan Belinda di rumah sakit, kehidupan Luna dan Albert masih berjalan seperti biasanya. Albert tetap sibuk dengan pekerjaannya dan Luna juga tetap menjalani aktivitasnya di kantor. Tidak ada perubahan besar dalam kehidupan mereka. Setidaknya Luna masih berpikir seperti itu...
Namun semakin hari, Luna mulai menyadari kalau Belinda memang semakin sering berada di sekitar Albert. Beberapa kali nama wanita itu kembali disebut Albert ketika mereka sedang berbicara tentang pekerjaan.
“Besok saya mungkin pulang sedikit terlambat.”
“Kenapa?”
“Ada pasien yang harus saya tangani bersama Dokter Belinda.”
Luna hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh.”
Albert yang melihat perubahan kecil pada wajah Luna kemudian bertanya, “Kamu kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Benar?”
Luna tersenyum. “Benar.”
Albert kemudian mencium kening Luna sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya. Luna tidak pernah melarang Albert bekerja dengan Belinda. Dia juga tidak pernah bertanya terlalu banyak tentang wanita itu karena menurutnya tidak ada alasan untuk melakukan hal tersebut.
Belinda adalah rekan kerja Albert. Itu saja.
Suatu siang Luna datang ke Global Hospital untuk mengantarkan beberapa dokumen yang sebelumnya tertinggal di mobil Albert. Luna berjalan menuju ruang dokter dan melihat Albert sedang berdiri bersama Belinda. Keduanya sedang membicarakan sesuatu. Belinda memegang beberapa berkas sementara Albert sesekali menunjuk bagian tertentu pada berkas tersebut.
Luna berjalan mendekati mereka. “Mas.”
Albert langsung menoleh. “Luna?”
“Aku mau mengantarkan ini. Tadi aku menemukannya di mobil.”
Luna menyerahkan sebuah map kepada Albert.
Albert menerima map tersebut. “Terima kasih. Aku memang mencarinya dari tadi.”
Belinda tersenyum melihat Luna. “Kamu datang lagi?”
“Iya. Aku sengaja datang untuk mengantarkan dokumen.”
Belinda menganggukkan kepalanya. “Dokter Albert sering sekali membicarakan kamu.”
Luna sedikit terkejut. “Benarkah?”
Albert langsung menoleh kepada Belinda. “Saya tidak sering membicarakan istri saya.”
Belinda tertawa kecil. “Dokter Albert mungkin tidak sadar kalau dia sering membicarakan istrinya.”
Luna ikut tertawa. “Dia memang begitu.”
Albert hanya menggelengkan kepalanya.
Tidak ada yang aneh dalam percakapan mereka. Luna bahkan merasa Belinda memang cukup menyenangkan. Belinda juga tidak pernah bersikap kasar kepadanya. Bahkan wanita itu selalu tersenyum setiap kali bertemu dengannya.
Setelah berbicara sebentar, Luna memilih meninggalkan mereka karena Albert masih harus menyelesaikan pekerjaannya.
“Hati-hati pulang,” Albert berucap.
“Iya.”
Luna berjalan meninggalkan ruang dokter. Namun ketika sudah cukup jauh, Luna sempat menoleh ke belakang. Albert dan Belinda masih berdiri di tempat yang sama. Mereka kembali membicarakan pekerjaan. Luna menghela napas kecil lalu memilih melanjutkan langkahnya. Mungkin memang tidak ada yang perlu dipikirkan.
Malam itu Albert pulang lebih lambat dari biasanya. Luna sudah selesai makan ketika pria itu baru sampai di apartemen.
“Kamu sudah makan?” Luna bertanya.
“Belum.”
“Aku panaskan makanannya.”
Albert tersenyum. “Terima kasih.”
Luna berjalan menuju dapur sementara Albert duduk di meja makan. Beberapa menit kemudian Luna meletakkan makanan di depan suaminya. Albert mulai makan.
“Mas.”
“Hm?”
“Belinda memang sering membantu kamu menangani pasien?”
Albert mengangguk. “Iya. Belakangan ini kami memang sering bekerja bersama dan sebentar lagi dokter Belinda akan mengisi posisi dokter Anita untuk urusan operasional rumah sakit.”
“Oh.”
“Kamu kenapa tiba-tiba bertanya?”
Luna menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku cuma penasaran.”
Albert tersenyum lalu kembali makan. Luna tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak ingin membuat masalah dari sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Namun entah kenapa setelah malam itu, Luna mulai lebih memperhatikan hubungan Albert dan Belinda. Bukan karena dia curiga. Setidaknya belum. Hanya saja Luna mulai menyadari kalau Belinda sepertinya mengetahui beberapa hal kecil tentang Albert. Hal-hal yang biasanya hanya diketahui oleh orang yang cukup sering bersama seseorang...
Sampai suatu sore Luna datang menjemput Albert di rumah sakit. Ketika sampai di depan ruang dokter, Luna melihat Belinda sedang berdiri di sana. Wanita itu memegang dua gelas kopi. Satu gelas diberikan kepada Albert dan Albert menerima gelas tersebut.
“Kamu masih ingat kopi yang saya suka?”
Belinda tersenyum. “Tentu saja.”
Luna yang baru saja datang berhenti beberapa langkah dari mereka.
Albert kemudian melihat Luna. “Luna.”
Luna tersenyum dan berjalan mendekat. “Aku mau menjemput kamu.”
Albert mengangguk.
Belinda menoleh kepada Luna. “Oh, Luna.”
Luna melihat gelas kopi di tangan Albert. “Itu dari Dokter Belinda?”
Belinda menjawab sebelum Albert. “Iya. Saya kebetulan membeli dua.”
Luna tersenyum. “Oh.”
Tidak ada yang aneh. Hanya sebuah gelas kopi. Tetapi Luna tiba-tiba teringat kalau selama ini hanya dirinya yang tahu kopi seperti apa yang disukai Albert. Bahkan Albert sendiri pernah mengatakan kalau Luna adalah satu-satunya orang yang selalu tahu pesanannya tanpa perlu bertanya. Namun sekarang Belinda juga tahu...
Luna tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum kepada Belinda. “Kalau begitu saya pamit dulu. Kami mau pulang.”
Belinda menganggukkan kepalanya. “Hati-hati.”
Albert kemudian berjalan bersama Luna menuju lift. Beberapa saat mereka berjalan dalam diam.
“Mas.”
“Iya?”
“Kamu suka kopi yang tadi?”
Albert menoleh. “Iya.”
“Oh.”
Luna tersenyum kecil.
“Belinda ternyata tahu kopi kesukaan kamu.”
Albert tertawa kecil. “Dia sering melihat saya membeli kopi di rumah sakit.”
Luna menganggukkan kepalanya. “Begitu.”
Albert kemudian menggenggam tangan Luna. “Kenapa?”
Luna menoleh kepada suaminya. “Tidak ada apa-apa.”
Albert tersenyum lalu kembali menggenggam tangan Luna. Luna ikut tersenyum. Namun ketika pintu lift tertutup, senyum di wajah Luna perlahan menghilang. Bukan karena dia mencurigai Albert. Bukan juga karena dia menganggap Belinda sebagai ancaman.
Luna hanya merasa sedikit aneh. Karena tanpa Luna sadari, ada seseorang yang mulai mengetahui hal-hal kecil tentang suaminya.
Dan Luna tidak tahu... sejak kapan Belinda mulai memperhatikan Albert sedetail itu...