Luna hanya berdiri di tempatnya. Matanya masih menatap Belinda yang sedang memeluk Albert. Untuk beberapa detik, Luna bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin percaya kalau ada alasan di balik semua itu. Mungkin Belinda sedang sangat sedih. Mungkin Albert hanya sedang menenangkannya. Namun melihat wanita lain memeluk suaminya tetap membuat d**a Luna terasa sangat sesak.
“Luna?”
Suara Albert membuatnya tersadar dan Belinda langsung melepaskan pelukannya.
Albert menatap Luna dengan wajah terkejut. “Kamu datang?”
Luna menganggukkan kepalanya pelan dengan senyumnya yang dipaksakan. “Aku mau mengantarkan sesuatu.”
Albert menyadari senyum yang dipaksakan itu dan segera berjalan mendekati istrinya. “Jangan salah paham, tadi Belinda sedang ada masalah.”
Luna melihat Belinda sebentar sebelum kembali menatap Albert. “Masalah keluarga?”
Albert mengangguk. “Iya.”
Luna tersenyum kecil meskipun hatinya terasa tidak nyaman. “Oh.”
“Luna, tadi tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Luna terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Aku tidak berpikir apa-apa.”
Albert menatap istrinya. “Kamu yakin?”
Luna menganggukkan kepalanya. “Iya. Aku percaya sama kamu.”
Belinda yang berdiri tidak jauh dari mereka kemudian berkata, “Maaf kalau tadi membuat kamu salah paham.”
Luna menoleh kepadanya. “Tidak apa-apa.”
Belinda tersenyum kecil.
Setelah itu Luna memberikan barang yang dibawanya kepada Albert dan meminta suaminya pulang ketika pekerjaannya selesai.
Malam itu Luna tidak banyak bicara. Albert beberapa kali bertanya apakah Luna baik-baik saja, tetapi Luna selalu menjawab hal yang sama.
“Aku tidak apa-apa.”
Luna memang tidak ingin bertengkar. Ia juga tidak ingin menjadi istri yang terlalu curiga hanya karena melihat suaminya memeluk wanita lain. Luna masih percaya kepada Albert. Namun sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.
Ia mulai lebih memperhatikan suaminya.
Beberapa hari kemudian, Belinda kembali menghubungi Albert. Kali ini bukan tentang pekerjaan.
Dokter Albert, apakah kamu sedang sibuk?
Albert membalas. Tidak terlalu. Kenapa?
Saya sedang ingin bicara.
Albert menatap pesan tersebut cukup lama. Kemudian ia membalas. Nanti setelah saya selesai bekerja.
Belinda tersenyum ketika membaca balasan itu. Sejak kejadian di rumah sakit, Belinda semakin yakin kalau Albert sudah memberikan ruang untuknya. Ia tahu Albert tidak akan langsung meninggalkan Luna. Tetapi Belinda tahu, Albert sudah mulai memberikan ruang untuknya. Karena itu Belinda tidak terburu-buru. Ia hanya semakin sering berada di dekat Albert.
Ketika Albert sedang bekerja, Belinda akan datang membawa kopi. Ketika Albert terlihat lelah, Belinda akan bertanya apakah dia sudah makan. Ketika Albert sedang memiliki masalah di rumah sakit, Belinda selalu menjadi orang yang pertama menanyakan keadaannya. Hal-hal kecil itu semakin membuat Albert terbiasa dengan kehadiran Belinda.
Suatu sore Luna sedang menunggu Albert di rumah ketika suaminya mengirim pesan.
Aku mungkin pulang terlambat.
Luna membalas. Ada pekerjaan?
Iya.
Luna tidak bertanya lagi. Namun malam itu Albert tidak langsung pulang. Ia masih berada di rumah sakit bersama Belinda.
Mereka duduk di ruang dokter sambil berbicara.
“Terima kasih sudah mau menemani saya,” kata Belinda.
Albert tersenyum. “Tidak apa-apa.”
“Saya kadang merasa hanya kamu yang bisa mengerti saya.”
Albert terdiam.
Belinda kemudian menatapnya. “Saya tahu kamu sudah menikah. Saya juga tidak ingin membuat masalah.”
Albert menarik napas pelan. “Belinda...”
“Saya hanya ingin kamu tahu kalau saya menghargai kamu sebagai teman.”
Albert menganggukkan kepalanya. Namun setelah mendengar kalimat itu, Albert justru merasa semakin sulit menjaga jarak.
Belinda tahu dirinya sudah menikah. Belinda juga tidak pernah memaksanya. Setidaknya itu yang Albert pikirkan.
Malam itu ketika Albert pulang, Luna sudah tidur. Albert melihat istrinya cukup lama sebelum akhirnya berbaring di sampingnya. Ia tahu Luna mencintainya. Ia juga mencintai Luna. Tetapi sekarang ada sesuatu yang mulai membuat pikirannya tidak tenang. Perhatian Belinda. Cara wanita itu mendengarkannya. Cara Belinda selalu ada ketika dia sedang lelah.
Albert tidak ingin memikirkan semua itu. Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering wajah Belinda muncul dalam pikirannya. Beberapa hari kemudian, Belinda kembali meminta Albert menemuinya. Kali ini mereka bertemu di apartemen Belinda.
Belinda mengatakan ada masalah yang membuatnya tidak sanggup sendirian. Albert awalnya hanya ingin memastikan wanita itu baik-baik saja. Namun malam semakin larut. Mereka terus berbicara. Belinda menangis.
Albert mencoba menenangkannya. “Sudah. Jangan menangis.”
Belinda menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu harus bagaimana.”
Albert mendekat.
Belinda kemudian menatapnya. “Kenapa kamu selalu baik kepada saya?”
Albert tidak langsung menjawab. “Saya hanya tidak ingin kamu sendirian.”
Belinda tersenyum sedih. Kemudian wanita itu mendekat dan memeluk Albert. Kali ini Albert tidak langsung menjauh. Ia hanya berdiri diam. Untuk beberapa detik, tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Belinda kemudian mengangkat wajahnya.
Albert tahu seharusnya ia pergi. Ia tahu Luna sedang menunggunya. Tetapi malam itu Albert tidak pergi.
Ketika Belinda mencium bibirnya, Albert sempat terdiam. Ada kesempatan bagi Albert untuk menghentikan semuanya. Namun... ia tidak melakukannya.
Ciuman itu akhirnya menjadi awal dari sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi. Malam itu Albert mengkhianati Luna.
Ketika pagi datang, Albert pulang seperti tidak terjadi apa-apa. Luna sedang menyiapkan sarapan ketika Albert masuk ke rumah. “Kamu sudah pulang?”
Albert menganggukkan kepalanya. “Iya.”
Luna tersenyum seperti biasanya. “Kamu mau sarapan?”
Albert menatap istrinya. Untuk beberapa saat pria itu tidak mampu menjawab. Ada rasa bersalah yang muncul di dalam dirinya. Namun Luna tidak tahu apa yang sudah dilakukan suaminya malam itu. Luna masih percaya kepada Albert. Masih mencintainya. Luna masih berpikir bahwa pernikahan mereka baik-baik saja.
Sementara Albert hanya berdiri di sana, menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak diketahui Luna. Sebuah rahasia yang bisa menghancurkan pernikahan mereka dalam sekejap mata.