Charlie masih teringat dengan interaksi Marie dan Jonathan saat dirinya dan Nirmala memutuskan untuk pergi bersama. Saat itu ia melihat jelas jika Jonathan berbisik sesuatu kepada Marie sebelum Marie berkata jika ia ada urusan lain. Charlie ingin sekali mengikuti apa yang akan keduanya lakukan di luar sana, hanya saja ia sudah ada janji dengan Nirmala yang mana ia tidak bisa membatalkannya.
Sebenarnya dirinyalah yang mengajak Nirmala untuk bersama. Ia ingin membahas mengenai Marie kepada Nirmala karena tidak ada orang yang bisa dia ajak untuk ngobrol selain Nirmala. Charlie tidak ingin membicarakan hal ini kepada Nicky karena ia tidak merasa aman bersama dengan perempuan itu.
Sementara Nirmala, ia masih diam, menatap Charlie yang pikirannya sudah kemana-mana. Seakan mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Charlie nantinya, gadis itu memilin bajunya. Ia yakin sebenarnya pria itu ingin membahas mengenai Marie, tidak yang lain. Bagi Nirmala, Marie adalah jembatan antara dirinya dengan Charlie, jadi meskipun rasanya menyakitkan, ia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan apapun yang menjadi keluh kesah Charlie mengenai Marie.
Hal ini menurutnya lebih baik daripada ia tidak melakukan apapun.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Nirmala, memulai percakapannya dengan Charlie yang sedari tadi tidak dimulai-mulai,
“Hmm? Aku? Sedikit…” ujarnya dengan jujur.
“Apa ini karena Marie pergi bersama dengan Jonathan?” tanyanya yang membuat pria itu tertegun untuk sejenak. Ia tidak menyangka jika Nirmala memiliki dugaan yang benar,
“B-bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya penasaran. Setahunya ia tidak pernah memberitahu Nirmala mengenai perasaannya kepada Marie dan sangat mengejutkan baginya jika gadis itu mengetahui perasaannya kepada Marie.
Nirmala tersenyum kecil, menyembunyikan luka yang sedang menganga di hatinya,”Tentu saja… bukannya kamu memang menyukai Marie?” tuturnya yang membuat pria itu mengerjapkan matanya dengan cepat,
“Apa kau mengetahuinya dari Nicky?” tebaknya karena menurutnya Nicky memiliki mulut yang bocor.
Nirmala menggeleng,”Tidak,” jawabnya dengan jujur,
“Jadi kok bisa tahu kalau aku suka Marie?”
“Menurutku, dari tingkahmu itu sudah tampak jelas jika kamu menyukai Marie,” balasnya dengan jujur pula. Charlie menggaruk tengkuknya, ia tidak tahu jika sebenarnya Nirmala sudah memerhatikannya sejak lama dan ia tidak sangka juga jika gadis itu menyadari perasaannya kepada Marie hanya dari tingkahnya kepada Marie.
“Apa terlalu ketara kalau aku terlihat menyukainya?”
Kembali gadis itu mengangguk,”Menurutku sih iya… hanya saja aku sangat bingung, kenapa Marie sama sekali tidak peka dengan perasaanmu?” tanyanya yang disetujui oleh Charlie.
“Aku juga tidak paham dengan dia, aku tidak tahu bagaimana dia agar bisa sadar dengan perasaanku. Haruskah aku mendatanginya dan berkata ‘aku menyukaimu’ secara terang-terangan begitu kepadanya?” omelnya yang membuat Nirmala menemukan sisi lucu dari Charlie. Melihat Nirmala yang tertawa kecil, pria itu menyipitkan matanya,
“Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?” tanyanya yang digelengkan oleh Nirmala,
“Aku mengerti bagaimana rasanya menyukai seseorang namun perasaan itu tidak berbalas…” ujarnya sebelum dia menyeruput kopi susunya,
“Apa kau sedang mengalami hal seperti itu juga?” tanya Charlie yang penasaran. Tanpa berpikir panjang, Nirmala pun mengangguk,”Ya… sekarang aku sedang mengalaminya juga,” jawabnya dengan jujur.
“Apa kau tidak berniat untuk menyatakan perasaanmu kepada dia?” tanya Charlie, membuat gadis itu tersedak. Charlie yang melihat gadis itu terbatuk-batuk pun segera memberikannya tisu dan mengingatkan gadis itu untuk pelan-pelan meminum kopinya,
“Pelan-pelan… kita kan sedang tidak terburu-buru,” ujarnya yang diangguki oleh Nirmala,
Nirmala mulai duduk dengan tegap dan dia pun menjawab pertanyaan Charlie,”Aku tidak tahu apa aku harus memberitahu perasaanku kepada dia, karena aku tidak ingin pertemanan kami hancur,”
Charlie menatap Nirmala begitu dalam, dia juga memiliki alasan yang sama mengapa ia tidak langsung memberitahu Marie mengenai perasaannya. Ia memilih untuk memendamnya hingga Marie menyadari perasaan Charlie kepadanya. Pria itu merasa di titik yang serba salah, jika saja dia memberitahu Marie mengenai perasaannya, bisa saja Marie memutuskan persahabatan mereka dan dirinya berujung pada penolakan. Namun jika ia tidak memberitahu apapun kepada Marie, ia tidak bisa menahan kecemburuannya kepada Marie yang selalu baik kepada siapapun termasuk orang yang dia suka, Jonathan.
“Selain aku tidak ingin pertemanan kami renggang, sebenarnya aku tahu dia sedang menyukai seseorang dan itu bukan aku… aku tidak ingin dia menolakku karena rasanya itu akan menyakitkan,”
“Sepertinya kita berada di posisi yang sama,” ujar Charlie yang diangguki oleh Nirmala,
“Marie menyukai Jonathan dan tampaknya mereka berdua mulai dekat,” ujar Nirmala yang membuat pria itu terdiam untuk sejenak,”Benarkah?”
Nirmala mengangguk,”Benar… lihat saja tadi, mereka pergi bersama…” ujarnya dengan santai. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia melihat Jonathan dan Marie bersama-sama, ia sudah melihatnya berkali-kali. Hanya saja ia tidak berani untuk mengatakan hal tersebut kepada Charlie karena dia tidak ingin pria itu merasa sakit hati.
“Jonathan sialan… apa dia berniat untuk mempermainkan Marie?” ujar pria itu dengan kesal. Nirmala hanya bisa diam melihat kekesalan Charlie. Ia tidak berani berkomentar apapun karena ia tidak ingin Charlie melampiaskan kekesalannya kepada dirinya. Nirmala memilih untuk diam saja, memendam perasaannya yang sebenarnya ingin sekali meledak.
“Jadi apa kamu akan membiarkan Marie berteman dengan Jonathan?”
Charlie menghela napasnya,”Aku tidak bisa melarangnya, aku merasa jahat jika aku melakukan itu kepadanya. Sebelumnya aku bertindak demikian kepadanya dan aku menyesalinya karena dia terlihat tertekan untuk memberitahuku yang sebenarnya. Lagipula aku bukanlah pacarnya, aku tidak punya hak apapun untuk melarangnya melakukan apapun yang ingin dia lakukan,”
Nirmala mengangguk mengerti sembari menyeruput kopinya. Setelah ngomong sebegitu panjang, pria itu mulai tertarik dengan kisah asmara Nirmala. Entah mengapa ia sangat penasaran siapa yang gadis itu sukai,
“Bagaimana denganmu? Aku sangat penasaran siapa yang kamu sukai,” ujarnya kepada Nirmala yang mulai gugup. Ia akan berusaha sedemikian rupa supaya pria itu tidak tahu jika dirinya lah yang disukai Nirmala,
“Aku tidak bisa memberitahumu,” ujarnya yang berusaha untuk tenang,
“Oh ayolah, aku bisa merahasiakannya dari siapapun,”
Nirmala kembali menggeleng, membuat pria itu mengerucutkan bibirnya sebelum dia berkata,”Begini saja, sebutkan ciri-ciri pria itu kepadaku,” ujarnya yang begitu penasaran. Nirmala menatap Charlie dan dia mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa mendeskripsikan orang yang ada di hadapannya ini?
“Umm… dia memiliki mata yang berwarna hitam, hidung yang mancung dan bibir yang tidak terlalu tipis. Rambutnya sedikit ikal dan dia adalah pria yang cukup tampan,” ujarnya dengan tatapan yang masih melekat pada Charlie,
“Wow, sangat detail ya…” ujarnya yang diangguki gadis itu,”Tentu saja,”
Sementara itu, Jonathan dan Marie tengah bersama di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari rumah Marie. Makanan mereka belum datang dan keduanya masih sama-sama canggung dan bingung mau ngobrolin apa. Jonathan yang sebenarnya terbebani untuk membuka topik pembicaraan pun akhirnya memulai perkataannya dengan menyanjung dandanan Marie hari ini.
“Kau terlihat cantik hari ini,” ujarnya sembari tersenyum. Gadis itu sangat malu-malu, rasanya ia ingin sekali berteriak saking senangnya namun ia tidak bisa melakukannya di tempat ini dan sekarang ini.
“Terima kasih…” balas gadis itu tanpa menatap mata dari pria itu,
“Kamu memang benar-benar berbeda saat kamu tidak memakai kacamata…”
Pria itu tidak berbohong, ia merasa tersihir begitu ia melihat mata gadis itu yang ternyata begitu indah untuk dilihat. Ia juga memiliki bulu mata yang begitu panjang dan pria itu menyukainya, dan juga cara gadis itu menatapnya juga dapat membuatnya terpana disaat itu juga,
“Mamaku menyuruhku untuk berdandan… sepertinya setelah ini aku akan belajar berdandan darinya,” ujarnya sembari ia memainkan sedikit rambutnya. Pria itu tampak mengangguk dan raut wajahnya berubah ketika ia mendengar kata ‘mama’ dari mulut Marie.
“Mama ya… sepertinya kamu memiliki keluarga yang begitu harmonis,” ujarnya sembari tersenyum kecut. Marie terlihat bingung dengan reaksi Jonathan yang tidak menyenangkan, ketika ia hendak membuka mulutnya, seorang waiter datang dan menyusun makanan mereka berdua, sehingga Marie sendiri hanya bisa diam dan menatap Jonathan yang mulai tersenyum lagi ketika makanan keduanya sudah sampai.