Marie melirik Jonathan yang masih memakan makanannya. Semenjak makanan keduanya tiba, mereka tidak berbicara banyak selain mengunyah makanan mereka sendiri. Perkataan Jonathan terus bergema di pikirannya, ia bisa mendengarkan lirihan yang begitu sedih melalui nada pria itu.
Ia sangat penasaran, selama ini Jonathan belum berbicara banyak mengenai keluarganya. Gadis itu sangat kepo, dia ingin sekali tahu apapun itu jika itu berhubungan dengan Jonathan. Hanya saja, ia berpikir, bagaimana caranya agar pria itu mau menceritakan hal privasi seperti itu kepadanya?
Haruskah ia menunggu? Namun mau sampai kapan dia harus menunggunya? Jika diulang lagi, nada pria itu membuat Marie menduga jika pria itu tidak terlalu dekat dengan ibunya.
“Bagaimana… bagaimana caraku untuk mengetahui apapun mengenai dirinya?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
“Oh iya… aku ingin tahu… kamu kok tumben berdandan begini?” tanya Jonathan, memecah lamunan Marie seketika itu juga. Sepertinya ini adalah pertanyaan yang tertunda dari Jonathan kepada dirinya.
“Hmm? Apa aku terlihat aneh?” tanya gadis itu dengan sungkan.
Jonathan menghela napasnya dan dia melipat tangannya,”Berhentilah berkata kalau kamu itu aneh. Kan sudah kubilang kalau kamu itu memang sudah cantik dari awal…” ujarnya sembari menggelengkan kepalanya. Gadis itu tersenyum tipis, ia tidak menyesal mengikuti saran ibunya untuk mengubah penampilannya seperti ini,
“Ya… walaupun sebenarnya aku lebih suka penampilan kamu yang biasanya sih,” lanjut pria itu lagi yang membuat alis Marie naik seketika.
Bukan tanpa alasan Jonathan berkata seperti itu, karena ia tidak senang jika gadis itu terlihat cantik di mata orang lain juga. Ia hanya ingin gadis itu terlihat cantik jika hanya bersama dengannya.
“Begitu ya…” ujar gadis itu dengan sedih. Sekarang Marie merasa down dan sedikit gloomy sehingga Jonathan merasa tidak enak dengan perkataannya barusan.
“T-tunggu, jangan hiraukan perkataanku barusan… a-aku cuman mmm… aku cuman tidak…”
“Aku tidak ingin pria lain menyukaimu,” lanjut Jonathan di dalam hatinya.
“Tidak apa?” tanya Marie dengan bingung,
“P-pokoknya bagaimana pun kamu berpenampilan, menurutku kamu itu udah cantik,” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya dengan kaku. Pria itu terlihat salah tingkah dan itu membuat Marie tertawa kecil,
“Sebenarnya aku berencana untuk mengganti penampilan culunku dengan penampilanku yang sekarang… Sudah beberapa orang menyuruhku untuk lebih memerhatikan penampilanku dan kurasa sudah saatnya untukku merawat diriku,”
“Karena aku ingin terlihat cantik di matamu,” lanjut gadis itu di dalam hatinya.
“Begitu ya… apa ini ada hubungannya dengan seseorang?” tanya Jonathan sembari membuang pandangannya. Marie mengerjapkan matanya dengan cepat dan bertanya kepadanya,”B-bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya yang sudah was-was jika Jonathan mengetahui sesuatu mengenai perasaan Marie kepadanya,
“Aku hanya menebaknya, mengingat kamu pernah berkata kalau kamu memiliki seseorang yang kamu sukai,” ujarnya yang masih juga belum menatap Marie.
“Jadi semua ini demi lelaki itu ya…” batin Jonathan yang mengira perubahan penampilan Marie dikarenakan oleh Charlie.
Marie tersenyum kecil dan dia tertunduk sedikit, ia tidak ingin mengelak lagi karena semakin banyak dia berbohong, semakin banyak perasaan bersalahnya,”Iya… bisa dikatakan sih karena dia aku ingin berubah. Aku hanya ingin terlihat cantik di depan dia,” ujar Marie sembari meluruskan pandangannya kepada Jonathan, ia berkata seperti ini untuk Jonathan, namun Jonathan malah mengira jika Marie melakukan ini demi Charlie.
“Apa dia menyukai penampilanmu yang sekarang ini?” tanya Jonathan kepada Marie.
“Hmm… dia tidak mempermasalahkan penampilanku. Aku senang dia memujiku,” ujarnya sembari tersenyum kecil. Jonathan tersenyum kecut, ia semakin cemburu dengan Charlie,
“Begitu ya…” ujarnya sembari memalingkan wajahnya. Ah… ia sangat iri dengan Charlie, seandainya saja dia menemukan Marie dengan cepat, mungkin saja Marie memiliki perasaan kepadanya.
Begitulah yang ada di pikiran Jonathan. Namun meskipun begitu, entah mengapa Jonathan tidak ingin melepas Marie begitu saja, menurutnya masih ada kesempatan untuknya mendapatkan hati Marie karena tampaknya Charlie belum benar-benar bergerak untuk mendapatkan Marie.
“Jonathan…” panggil gadis itu kepadanya,
“Panggil saja Jojo,” pinta Jonathan kepadanya. Jojo adalah panggilan sayang yang dulu sering ia dapatkan dari mamanya ketika keluarganya dulu masih sangat harmonis. Juga, menurutnya Jojo adalah panggilan untuk orang-orang yang dekat kepadanya. Ia sempat merasa hambar dengan panggilan itu semenjak keluarganya perlahan mulai retak, bahkan sang ibu juga sudah tidak lagi memanggilnya dengan sebutan itu karena mereka sudah tidak lagi sedekat dulu. Namun jika Marie memanggilnya dengan sebutan itu, mungkin perasaan spesial akan panggilan itu akan muncul kembali, juga ia ingin merasa Marie adalah salah satu orang yang dekat dengannya.
“Apa tidak masalah jika aku memanggilmu dengan sebutan itu?” tanya Marie yang tahu jika nama itu adalah panggilan yang spesial. Tentu saja dia mengetahuinya dari Gianna yang sering sekali memanggilnya dengan sebutan Jojo ataupun Jo…
“Tidak apa kok… aku hanya merasa kita sudah dekat, jadi tidak masalah jika kau memanggilku dengan sebutan itu,” ujarnya sembari tersenyum. Marie merasa berbunga-bunga, ia sangat senang jika Jonathan menganggap dirinya adalah orang terdekatnya.
“Oke, Jojo… jika seandainya ada seseorang yang menyukaimu, apa kamu akan senang?”
“Siapa memangnya yang suka denganku?” tanya Jonathan kepada Marie yang salah tingkah seketika,
“Ada seseorang yang kukenal, dia menyukaimu dari lama…”
“Aku maunya kamu, bukan orang lain…” batin Jonathan sembari memikirkan jawabannya kepada Marie,
“Hmm… entahlah… selama ini aku sering mendapat pernyataan cinta dari para siswi-siswi lainnya dan aku terus menolak mereka karena aku tidak memiliki perasaan kepada mereka. Terkadang aku merasa jahat melihat mereka yang menangis dan kecewa ketika aku menolak mereka, namun mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin menjadi seorang yang suka mempermainkan perasaan orang lain dan aku juga tidak ingin berbohong kepada siapapun termasuk kepada diriku sendiri,” ujarnya sembari menyilangkan sendoknya pertanda ia sudah siap makan.
“Begitu ya… kamu seperti Charlie… banyak juga yang menyatakan perasaan mereka kepada dia dan dia menolak mereka semua dengan alasan yang sama,” Perkataan Marie membuat Jonathan sedikit penasaran akan sesuatu. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya dan bertanya kepada Marie,
“Menurutmu, jika kamu bisa memilih, kamu akan memilih aku atau lelaki itu?” tanya Jonathan yang enggan untuk menyebut nama Charlie.
“Maksudmu Charlie?”
Jonathan mengangguk,
Marie berpikir sejenak, ini adalah pilihan yang berat, terlebih mengapa Jonathan bertanya begitu kepadanya? Jonathan adalah pria yang ia sukai dan Charlie adalah sahabatnya yang berharga. Kedua-keduanya adalah pria yang penting di dalam kehidupannya, bagaimana ia bisa memilih salah satunya?
“Aku tidak bisa memilih, kalian adalah orang yang berharga bagiku,”
Jonathan tidak tahu apakah ia merasa senang atau bagaimana karena ia senang begitu Marie berkata dia adalah orang yang berharga untuknya, hanya saja ia juga merasa sedih karena gadis itu tidak memilihnya. Jonathan tahu, ini terdengar egois jika dirinya mau gadis itu untuk memilihnya ketimbang Charlie. Namun ia tidak ingin memaksakan apa yang menjadi pilihan Marie. Ia juga tidak ingin terburu-buru untuk memenangkan hati Marie, menurutnya masih ada waktu untuknya bisa membuat Marie menjadi miliknya.
Di lain sisi, Marie sebenarnya ingin sekali bertanya dan meminta pria itu untuk memilih antara dirinya dengan Gianna. Namun hal itu tidak mungkin ia tanyakan karena Gianna belum muncul dan Jonathan belum mengenal Gianna. Jika saja Gianna muncul, ia berpikir, apakah bisa ia mengalihkan perasaan pria itu dari Gianna? Walaupun ia sangat ingin Jonathan menjadi miliknya, hanya saja ia tidak yakin dengan dirinya sendiri.
“Jikalau memang bisa, bisakah aku memalingkan perasaannya dari Gianna kepadaku?”
Berulang kali gadis itu mengingatkan dirinya jika prioritas utamanya adalah menyelamatkan Jonathan dari kematian, bukan untuk memalingkan perasaannya dari Gianna. Namun seiring berjalannya waktu, dirinya semakin menginginkan Jonathan menjadi miliknya.
“Salahkah aku jika aku berharap demikian?” tanyanya lagi kepada dirinya sendiri
“Marie?” panggil Jonathan yang membuat Marie terkesiap dari lamunannya,
“Y-ya?”
“Jika aku memintamu untuk terus bersama denganku, apa kamu mau?” tanya pria itu dengan serius. Marie tidak menyangka jika perkataan itu keluar dari Jonathan. Tentu saja gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Tentu saja…”