Jonathan pulang ke apartemennya dengan begitu gundah gulana. Setelah mengantar pulang Marie, sepanjang jalan pikirannya tidak berpikir dengan jernih. Bayang-bayang kematian menghantuinya, misalnya saja ketika ia menyetir, seakan-akan ada cuplikan yang menunjukkan dirinya untuk banting setir dan menghantam pembatas jalan.
Ia benar-benar kecewa dan sama sekali tidak tenang.
Selama ini, ia terus berjuang untuk tetap hidup karena ia sudah memiliki Marie di dalam hidupnya. Namun tidak ia sangka Marie malah mengkhianatinya. Mungkin apa yang Marie lakukan terkesan sepele, namun baginya hal tersebut sangat mengecewakan dirinya.
Jonathan membuka pintu apartemennya ketika ia sudah memasukkan passcode. Ia berjalan masuk ke dalam apartemennya dan senyap-senyap ia mendengar suara piring yang seda