Part 3
Lisda menarik lengan cowok tinggi besar di sampingnya ketika mendapati gadis berponi dengan ombre warna merah muda itu baru saja tiba di pesta syukuran dan berjalan ke arahnya.
Dela sudah tidak asing dengan lirikan bola mata besar itu yang memutar dan seakan menggelinding. Segitunya banget pengen menyombongkan diri merasa lebih baik daripada orang yang dianggapnya saingan.
“Hai!” sapa Dela menunjukkan keceriaannya.
“Akhirnya lo datang juga!” sergap cewek berambut urai panjang tanpa poni itu langsung ngajak cipika-cipiki. Satu lagi, dia juga sangat suka memamerkan jidat lebarnya.
“Oh ya, kenalin ini calon suami gue.” Lisda berhasil menarik perhatian keduanya untuk saling melihat satu sama lain.
“Hai, Dela, temennya Lisda.” Dela menjabat tangan cowok murah senyum itu.
“Bimo. Silakan berdua dulu. Sayang ... aku ke toilet dulu ya,” pamit cowok itu segera meninggalkan mereka.
Lisda tersenyum sangat lebar, selaras dengan matanya. “Biasa, cowok gue emang sepengertian itu, tahu kapan kalau ceweknya butuh waktu sama temen.”
“Syukur deh kalo udah punya pasangan idup, jadi lo nggak akan curhat-curhat lagi ke gue kan kalau ada masalah hidup.” Alis tebal Dela terangkat.
Ada satu kebodohan yang menjadi kekurangan gadis keturunan ningrat itu di mata Dela, dia menganggapnya sebagai saingan utama tetapi tidak berpikir dua kali untuk menceritakan semua aibnya. Padahal jika Dela setega itu, ia bisa saja menjadikan aib tersebut sebagai senjata.
“Selamat malam semuanya. Terimakasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk datang ke perayaan berhasilnya penggarapan series, di sini. Tidak menunggu lama, mari kita langsung saja tunggu pembawaan dari produser, sutradara, penulis kita. Dan menuju penghujung acara nanti akan diselenggarakan meet and great bersama para pemain series kita. Selamat menikmati!”
Suara gaduh dari MC cukup membuat Lisda kehilangan kata-katanya. Ia segera menarik tangan Dela untuk duduk di meja bundar dan mengenalkannya pada beberapa relasi. “Eh gapapa gue di sini?” tanyanya.
“Gapapa, lu kan sahabat gue!”
Dela langsung berdecak dalam hati, sahabat dari hongkong!
“Bentar lagi gue dipanggil ke depan, kan biar lo bisa melihat dengan jelas gimana cemerlangnya gue di atas sana!”
Dela diam saja, selain tersenyum miring dengan tatapan sinis.
“Del, thanks ya, ternyata gue selama ini benar, gak perlu dengerin kata-kata lo yang menyakitkan itu, buktinya gue tetep berhasil meskipun sering gembar-gembor di sosial media.”
“Lo apaan sih? Kata-kata menyakitkan yang mana? dan lagi pula dulu itu gue udah minta maaf. Omongan gue itu gak ada sakit-sakitnya buat lo, tapi gue paham kok gak semua orang bisa menangkap maksud dari apa yang gue ungkapkan!”
Lisda memasang wajah antagonis dan segera melenggangkan kaki menuju podium.
Dela menatapnya penuh penyesalan. Ia seharusnya tidak berada di tempat ini hanya untuk menemui atau menghargai orang yang salah.
“Selamat malam semuanya. Saya sebagai penulis merasa terharu sekaligus terhormat karena sudah diberi kepercayaan oleh produser dan sutradara, meski ada banyak kendala ketika brainstorming. Saya berharap series ini tidak hanya mampu menghibur masyarakat, tapi juga sekaligus mengedukasi. Dan di sini saya kedatangan salah satu sahabat, Dela, penulis profesional juga, mari kita doakan semoga dia juga mencapai keberhasilan seperti Saya .... Terimakasih.”
Dela sontak saja tubuhnya menegang dilirik banyak orang, menjadi pusat perhatian dengan cara yang tak pernah terbayangkan olehnya. Menatap gadis itu yang tersenyum menang dan puas, berlagak malaikat yang polos, benar-benar menjengkelkan.
***
Dela mengambil gelas berisi minuman. Menenggaknya seolah tenggorokan sedang terkena peradangan. Sulit sekali ditelan. Perutnya butuh asupan tetapi kue-kue di tangannya terasa berat untuk diangkat. Dela memutuskan untuk ke toilet.
“Kemana?” tanya Arfy tiba-tiba ada di hadapannya saat berbalik badan, membawa minum dan kue. Dela semakin merasa tubuhnya kaku dan canggung. Kenapa harus bertemu cowok itu lagi di situasi seperti ini sih?
“Eh, bikin jantungan aja,” gumam Dela gemetar.
Arfy menatapnya penuh telisik. Meskipun baru satu kali bertemu dan tidak begitu mengenalnya, tapi rasanya gadis ceria itu terkesan mengherankan bila dalam keadaan gugup seperti itu.
“Emh, toilet,” tambah Dela.
“Silakan, gue tunggu di sini.” Arfy minggir.
“Hah?”
“Udah sana katanya mau ke toilet?!” pelotot cowok itu ngegas sambil menegakkan tubuhnya.
***
“Dunia sempit ya!” gumam Dela ketika duduk di WC. Saat keluar dan mencuci tangan, mulutnya masih berkomat-kamit di depan cermin. “Gue kan hidup di unia kepenulisan. Hmm, lagian bagus, seenggaknya bakal kelihatan ada yang nyamperin gue. Biar itu nenek lemper mikir kalau gue gak sendirian amat kalau-kalau dia melakukan sesuatu yang lebih kejam!”
Ia keluar dari toilet setelah memastikan penampilannya baik-baik saja. Bekas minuman tadi cukup membuat warna di bibirnya pudar. Peduli setan tentang waterproof, ia suka menjilati bibirnya sendiri jika sedang beraktifitas mengkonsumsi.
Dela lihat cowok itu benar-benar menunggu di meja tadi dan dari arah lain tampak Lisda sedang mengekang lengan pacarnya sambil menyapu pandangan seperti sedang mencarinya. Dela langsung saja menghampiri Arfy.
“Hai, maaf nunggu lama.”
Arfy berbalik ke samping. “Itu yang biasa diucapkan sama perempuan,” ungkapnya bikin gadis itu nyengir.
“By the way, kok bisa di sini?”
“Aku nemenin salah satu temen, sekalian mendalami suasana kayak begini, itung-itung latihan kalau suatu saat nanti dipanggil ke atas podium juga.”
“Del, dicariin, kemana aja ... eh sama siapa?” panggil Lisda yang tahu-tahu sudah ada di belakang mereka.
Dela sedikit tersentak dan langsung memperkenalkan mereka. “Hai, kenalin pacar gue!” ungkapnya sontak membuat semua orang kaget, termasuk dirinya sendiri. Sejak kapan seorang Delara Arasya bisa berbohong?
Arfy yang sedang mengunyah keik banyak-banyak ke dalam mulutnya mendadak berhenti dan kesulitan untuk protes. Dan semakin terkejut ketika gadis pinky itu melingkar di lengan dan bersender di bahunya.
“Sejak kapan punya pacar?” todong Lisda kaget setengah mati, “lo kan gak pernah update!”
Alis Dela kembali terangkat. “Sejak kapan ada peraturan harus pamer pacar di sosmed?”
“Lo bohong kan? cuman pura-pura, atau ... ini pacar sewaan?”
“Ngapain sewa? Buang-buang duit aja! Kita beneran pacaran kan sayang?” Dela menatap cowok di sampingnya penuh tekanan sambil terus menyuapinya dengan keik agar bibir tipisnya itu tidak bisa berkutik.
“Kalau benaran, kalian berdua harus pengakuan secara resmi di pesta pernikahan gue!”
“Gak bisa!”
“Ya udah, bukan pacar berarti!”
“Lo lihat aja nanti!”
Arfy langsung menyeret gadis gila itu ke suatu tempat, tidak peduli jika bibir, mata dan wajahnya masih terus ingin mencerocos.
“Lo apa-apaan sih?!” pekik Arfy di sudut tempat yang sepi.
Dela melipat tangannya sendiri dan memasang wajah malas. “Maaf, gue terpaksa, dan barusan cuman akting.”
“Lo gak perlu masukin itu semua kue ke dalam mulut gue! Mana jinjit-jinjit segala sampe kaki gue keinjek!”
“Hah? Yang bener? sori ... abis lu ketinggian sih!”
“Elunya yang pendek.”
“Gue udah minta maaf, malah ngatain!”
“Ya elu gak perlu nyuapin gue juga!”
“Ya maaf!”
“Gue bakal jadi pacar lo kok tanpa lo takut gue akan marah!”