“Gue bakal jadi pacar lo kok tanpa lo takut gue akan marah!”
“Hah?” Dela terkaget-kaget. Bagaimana mungkin cowok itu bisa mengajaknya atau mau menjadi pacarnya secara mendadak dan belum mengenal satu sama lain.
“Dia itu sahabat bermuka dua kan? gue akan bantuin lo ngaku-ngaku kalau kita pacaran, biar dia nggak mempermalukan lo lagi!”
Otomatis napas terhela dari mulut mungil Dela. “Oh kirain,” gumamnya buru-buru menutup mulut, untung cowok itu tidak mendengarnya. Ah, tapi masa bodo. Suatu anugerah bila cowok sekece Afry benaran mau pacaran dengannya, tetapi lupakan itu, untuk sementara ini menjadi pacar pura-puranya pun terkesan lebih baik.
“Kalau begitu, kita bakalan bisa pengakuan resmi di nikahan Lisda dong ya?!” tanyanya dengan mata berbinar-binar.
“Kaga ada. Nggak bisa. Cukup barusan doang!” tegas Afry membuat gadis itu berubah mood seketika dan menampar lengannya. Cowok itu malah berbalik membelakanginya.
Plak!
“Ayolah, habis itu kita putus!” rayu Dela melangkah untuk menghadapnya.
“Gue gak jadian benaran ya sama lo!”
“Jadian bohongan otomatis putus bohongan lah!”
“Enggak!”
“Kalau gitu, cuman nemenin kondangan bisa kan?”
“Nyesel gue ketemu lo di sini!” keluh cowok itu segera meninggalkannya.
“Bang, serius gak mau bantuin gue?!” tanya Dela sekali lagi dengan mata yang nanar.
“Gue ada pacar yang harus dijaga hatinya!”
***
Dela masih diam sesaat setelah masuk taksi yang dipesan oleh Arfy. Gadis itu kira, dia akan benaran mengantarnya pulang dengan motor setelah berpamitan dari Lisda dan Bimo. Wajahnya tertekuk menatap lurus. Tidak peduli jika wajah konyol cowok itu masih merayunya dari jendela.
“Anak gadis jangan cemberut. Siapa yang bakal naksir? Senyum dong.”
“Jalan, Pak!” perintah Dela ketus.
Arfy hanya bisa berdiri sambil menggaruk rambut gondrongnya melihat taksi mulai pergi.
Jarak dari tempat acara ke rumahnya cukup memakan waktu 30 menit. Cukup membosankan rasanya di tengah suasana hati yang kurang baik. Suasana ramai Kota Bandung di malam hari adalah favoritnya, tapi untuk saat ini tidak.
Lama merenung sambil memperhatikan pengendara motor yang lalu-lalang dan berpasangan, membuatnya jenuh di tengah kemacetan. Tiba-tiba ponselnya berdering, muncul panggilan dari Emil.
“Ya?” sapa Dela ketus.
“Galak amat, pantes jomlo!”
“Ish!” Dela geram kenapa sih sejak tadi orang-orang begitu menyebalkan. Seolah-olah di dunia ini hanya dirinya lah yang tidak pantas mendapatkan pasangan.
“Jangan marah. Mending lo pikirin ide selanjutnya. Sinopsis series yang kita ajukan, ACC.”
“Oh,” jawab Dela acuh tak acuh. Dua detik kemudian matanya yang sayup kembali melek. “Eh, serius ACC series kita?!”
“Iya.”
Dela meletakkan ponsel di dekat mulutnya sambil berteriak, “Serius beneran?!”
Tut-tut. Telepon malah dimatikan secara sepihak oleh Emil. Dela tidak peduli dan malah menjatuhkan dirinya ke jok tanpa rasa malu akan dianggap gila oleh driver.
***
Gadis bertubuh mungil berisi itu baru saja tiba di rumah dan langsung merebahkan diri di kasur dengan sprei bermotif kotak-kotak putih. Baru saja beberapa menit matanya terlelap, sudah diganggu oleh suara bising telepon. Ia kesal karena lupa mematikan ponselnya.
Disambarnya ponsel yang tergeletak di sampingnya tanpa melihat siapa nama si penelepon. “Siapa nih?”
“Gue belom kelar ngomong!”
Gadis dengan rambut yang sudah tidak jelas modelnya itu bangkit dari kasur dengan wajah terkejut. “Elo? Suruh siapa matiin telepon!”
“SURUH SIAPA TERIAK-TERIAK?!”
Wajah Dela memberengut. “Aduh berisik tahu!”
“Anda gak pernah berisik ya?”
“Ada apa sih? Lama gak ketemu bikin lo kangen?”
“Besok lo harus ke Jakarta, buat brainstorming series.”
“Hah? Besok? Gila aja lo!”
“Hah heh hoh! Makanya lo cepetan tidur dan jangan bergadang mikirin Angga mulu, dia gak mikirin lo!”
“Astaga, Mil, gue belum pesen kendaraan, belum siapin baju dan lain-lain. Lagian ini tuh jaman modern, online meeting aja kali!”
“Bukan urusan gue.” Telepon kembali dimatikan sepihak oleh Emil.
Dela auto panik tapi ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Oke, dia cuman nge-prank.” Dan kembali terbaring dengan mata terpejam. Lima detik kemudian matanya kembali melotot. Kesal karena ia tipe tidak bisa gampang tidur. Rasa lelah tadi membuatnya nyaris tertidur, tapi cowok rese itu membuyarkan waktu istirahatnya.
“Gila ya, orang yang komunikasi sama gue di hari ini, pada rese semua!”
***
Sejak telepon di malam itu, Dela tidak bisa tidur. Sudah kebiasaannya dari kecil, jika esoknya akan bepergian jauh maka malamnya akan terjaga. Dan menggunakan waktu yang ada untuk memasukkan perlengkapan ke dalam koper. Tapi setelah semuanya selesai, ia terduduk lesu di sudut kasur sambil bersidekap ke atas koper yang sudah berdiri.
“Gue nggak dapat kendaraan. Kehabisan gegara dadakan. Emang b******k tuh si Emil. Kenapa nggak kasih estimasi kalau gue harus keluar kota!”
Matanya ngantuk, perlahan mulai tertidur. Benar-benar terlelap. Kemudian terdengar suara klakson nyaring. Tetangga terkadang memang menyebalkan. Dela masih bisa mengabaikannya karena rasa kantuk yang tak tertahankan.
“Dela!” teriak mamanya tiba-tiba membuka pintu kamar dengan rusuh. Membuat anak yang dipanggil jadi kaget banget.
Gadis itu auto jadi ingin menangis. “Ada apa sih, Ma? Dela nggak bisa tidur, kenapa orang-orang seneng banget liat Dela menderita?!” Dan benaran menangis.
“Jangan bad mood melulu jadi orang, gak baik, tuh ada temanmu ngejemput. Bukannya kamu ada kerjaan ke Jakarta?”
Wanita berambut keriting itu melihat putrinya menjeda tangisan dan memasang wajah terkejut sekaligus penasaran. “Temen? Ngejemput?”
“Iya, orangnya nunggu di luar, tapi barusan udah Mama suruh masuk.”
“Siapa sih, Ma?” tanyanya langsung berdiri dan mengintip di jendela. Tampak sebuah sedan mungil terparkir di halaman depan rumahnya. Dan seseorang duduk di depan kendaraan, entah siapa, tidak terlalu jelas karena tertutupi kanopi.
Dela bertanya lagi pada mamanya, “Yakin itu tamu ke Dela?”
“Dia nanyain kamu, masa iya tamu ke bapakmu?”
Dela buru-buru menarik koper dan menyeretnya keluar. Saat turun tangga dan melihat pintu depan tidak terbuka terlalu lebar, membuatnya semakin penasaran siapakah gerangan yang tiba-tiba datang dan menjemputnya bagai pangeran?
Seseorang yang duduk di muka mobil itu berdiri ketika penghuni rumah keluar dengan tatapan terkejut sekaligus heran. “Bang Apri?”
Cowok itu memutar matanya dengan malas, selalu mendengar Dela selalu salah melafalkan namanya.
“Kok, lo...?” Dela bingung harus memulai kata dari mana.
“Kemarin temen gue Emil ngehubungi kalau dia butuh pengganti penulis yang terpaksa mengundurkan diri. Dia juga yang ngasih alamat rumah lo ke gue.”
“Nak ganteng, nggak masuk rumah dulu?” tanya mamanya Dela.
Arfy tersenyum santun. “Oh enggak, Tante, makasih.”
“Kalau begitu, Om pengen lihat KTP kamu!” tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bariton yang muncul dari halaman samping. Papanya Dela menodong cowok itu dengan wajah yang tidak galak, tetapi juga tidak terlalu ramah.
“KTP?” ulang Arfy terkejut.
“Anak gadis Saya mau pergi keluar kota sama kamu. Saya perlu tahu identitas kamu.”
“Ya Allah, Pa, dia kelihatan anak baik-baik kok, Dela juga nggak bergaul dengan sembarang orang,” komentar istrinya.
“Iya, Bapak lebay nih.” Dela ikut berkomentar.
Tanpa meribetkan komentar para perempuan, Arfy langsung mengambil dompet di dasbor mobil dan menyerahkan KTP agar urusan cepat selesai. Selama ini dia hanya takut kepada polisi, tetapi papanya Dela jauh lebih menakutkan, bahkan ketika dirinya hanya teman dari putrinya.
“Kalian boleh berangkat.” Papa Dela mengembalikan KTP setelah memotretnya di ponsel.
Dela tampak girang dan segera berpamitan. “Ma, Pa, Dela pamit, doain anak bungsu ini sukses jadi penulis kenamaan Indonesia!” ujarnya sambil cipika-cipiki pada mamanya dan bersalaman dengan papanya.
“Terimakasih, Om, Tante, kami pamit pergi ya. Wassalammualaikum.”
Untuk pertama kalinya, Papa Dela tersenyum, bersama sang istri menatap kepergian putri bungsunya masuk mobil dan keduanya melambai dari jendela sebelum berlalu di balik gerbang.