Setengah perjalanan menuju Jakarta, Arfy yang sedari tadi fokus mengemudi baru sadar kalau sejak tadi gadis di sampingnya itu masih mengabaikannya dan tampak pulas dengan headphone ramping desain kucing di telinga yang masih menempel.
Dia nyaris membangunkannya sebelum mengurungkan niat. Teringat bagaimana cewek itu seperti kucing yang manis tapi galak di suatu waktu. Arfy tidak ingin Dela memaksanya lagi untuk menjadi pacar pura-pura hanya demi gengsi yang terkesan egois.
Cewek ini persis seperti papanya, ungkapnya dalam hati sambil sesekali memerhatikan wajah mungil yang tersandar ke jendela. Arfy berusaha mengemudikan kendaraannya dengan halus agar kepalanya yang keras itu tidak kepentok.
***
Perlahan kelopak mata Dela terbuka dan langsung mendapati sinar matahari yang masuk entah dari mana tetapi suasana terasa begitu silau. Diliriknya ke samping dan supir dadakannya itu sudah tidak ada. Ditatapnya ke sekitar, ternyata mobil sudah berhenti di sebuah halaman parkir yang tidak terlalu penuh.
Dela reflek langsung membuka pintu tapi terkunci, ia tidak bisa keluar. Sejenak panik dan pening bercampur menjadi satu. Kenapa ia harus tertidur di situasi yang kurang nyaman. Tapi setidaknya, matanya sudah tidak mengantuk lagi dan berganti badan yang terasa agak remuk.
“Bang Apri!” panggilnya sambil melihat sekeliling dan menepuk kaca jendela. “Jangan-jangan dia mau nyulik gue! Atau ngejual gue?!” Buru-buru dikeluarkannya ponsel dari saku jaket dan mencari kontak.
Panggilannya tidak mendapatkan jawaban, sontak membuatnya semakin meyakini apa yang menjadi ekspektasi. Di tengah kekacauan, Dela tiba-tiba dikejutkan oleh penampakan wajah seseorang dari samping. “Aaarg!” Ternyata itu adalah Arfy yang langsung membukakan pintu sambil nyengir jahil.
“Ditelepon gak diangkat, beneran mau nyulik gue? Awas ya kalau sampe berani ngejual gue!” cerca cewek itu buru-buru keluar.
“Cewek berisik kayak lo siapa yang mau, hah?”
“Hah?”
“Lo mungkin nelepon sewaktu gue jalan ke sini tanpa bawa hape!”
Dela mengabaikan penjelasan cowok itu dan malah terpesona dengan pemandangan yang disadarinya. Bangunan pencakar langit dengan label yang terpampang besar, sebuah nama dari salah satu Production House terbesar di Indonesia.
***
Dela merasa senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan si kembar tak serupa, Emil dan Emir. Banyak hal yang berbeda dari mereka, kecuali nama dan kekompakan. Emil cowok dengan parawakan ramping dan hitam manis, sementara Emir tampak lebih berisi dan berkulit putih.
“Oii!” sapa Emil, diikuti senyum lebar Emir.
Dela melambai disertai tawa yang berujung mendatar. Ada cewek lain di samping mereka, yaitu teman ngobrol Arfy sewaktu pelatihan menulis. Hati Dela secara reflek menganggapnya sebagai saingan ... mendekati Arfy.
“Feli?” gumamnya dianggap oleh mereka sebagai sapaan.
“Hai Fel, sejak kemarin aku mikir akhirnya bisa ngobrol lagi sama kamu!” Belum apa-apa, Arfy sudah nyosor mendekatkan jaraknya dengan cewek itu.
Ada musim menyebalkan yang ternyata berkepanjangan di dalam diri Dela.
Mereka semua tiba-tiba saja membulatkan mata dan mengangguk santun disertai mata yang menyipit. Emil memberi kode untuk Dela. Cewek itu langsung ngeuh jika seorang produser dan sutradara baru saja memasuki ruangan.
Antusias, senang dan gugup menjadi perpaduan yang sempurna detik itu pula. Mulut Dela sedikit menganga menatap Prawira, salah satu produser besar dan kenamaan yang paling dihormati di Indonesia. Dengan tangan gemetar, ia ikut mengantri untuk berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
Sebagai tokoh sukses yang selalu memiliki kesibukan, Prawira meninggalkan ruangan lebih cepat dan membiarkan mereka berunding dengan sutradara.
***
“Ayo kita nongkrong di kafe baru yang lagi hits, punya relasi gue!” ajak Emil terdengar oleh Dela yang baru saja kembali dari toilet setelah brainstorming yang tidak memakan waktu lebih dari 3 jam saja.
“Udah beres emang?” tanyanya tak percaya.
“Udah.”
“Lah? Ide gue gimana?”
“Yang terakhir itu, gak kepake. Realistis aja deh, di sini tuh ceritanya si cowok yang antagonis, masuk akal kalau dia ghosting ceweknya. Bukan kebalikannya kayak yang lo paksain.”
“Tapi, Mil, kita harus bikin ide yang gak biasa. Cowok ghosting di mana-mana itu udah pasaran!” kekeuh Dela sambil menggerakkan kedua tangannya ke udara. Menggambarkan luasnya fenomena tersebut.
Emil sudah lelah mendebat, giliran Emir yang menyadarkan gadis itu. “Del, lo gak bisa bawa-bawa curhatan lo ke kerjaan, kecuali lo bikinlah novel sendiri, ngerti?!” Emir mengikuti kembaran tak samanya yang buru-buru keluar.
“Gila ya si Emil. Buat apa nyuruh gue perjalanan jauh ke sini sedangkan ide gue yang dipake seuprit. Tau gini mending gue zoom meet aja! Terus gue harus balik lagi ke Bandung? Ya Allah ....” keluh Dela sebelum kakinya terhentak untuk menyusul mereka yang sudah tak terlihat di ambang pintu.
***
Dela keluar dari mobil lebih lambat, menatap kesal mereka semua yang berjalan lebih dulu. Apalagi melihat Arfy yang seolah tak menyadari keberadaan dirinya yang seperti udara hampa sejak bertemu dengan Feli.
Gadis ini terkejut saat memasuki kafe di mana Emil tampak akrab menyapa beberapa orang di salah satu meja. Mungkin itu salah satu relasinya dan ... Anggara Nanda!
“Angga!” pekik Dela matanya bak auto menjadi hijau seperti dompet kosong yang menemukan selembar uang bernilai tinggi. Ia langsung bersidekap di salah satu meja bar tinggi dan menatap aktor itu dengan mata yang mungkin bisa menyemburkan kobaran api.
Dengan tidak mengubah posisinya dan tetap terlihat santai, cowok bersetelan hoodie dengan model lengan bersambung dan terlihat robek itu menyapanya. “Hai.”
Gadis pemilik poni dengan sebagian warna merah muda itu mengerjap. Otaknya masih berpikir menyimpulkan apakah benar aktor besar di usia mudanya itu menyapanya? Belum saja ia membalas, Emil sudah menariknya sedikit mundur ke belakang.
“Maaf, cewek ini agak gila. Salah satu anggota tim penulis yang akan garap skenario series kita,” ungkap Emil dengan mimik wajah meminta pemakluman dari cowok di hadapannya.
Dela ternganga. “Jadi Angga bakalan main di series kita? Artinya, gue akan nulis skenario buat Angga?” pekiknya terus bertanya-tanya.
Emil menatap cewek di hadapannya lekat. “Iya, ini tujuan utama gue manggil lo ke Jakarta.”
Gadis di hadapannya tampak mengulum bibirnya sendiri sambil berseri-seri menatap ke arahnya. “Thanks ya, Mil, lo emang sahabat gue, bukan cuman rekan kerja.”
“Dan ....” Ucapan Dela menggantung. Ia buru-buru membuka ransel dan merogoh benda pipih yang langsung dijulurkan pada Emil. “Fotoin gue!” Ia segera berbalik melihat Angga dan bertanya, “Boleh Saya minta foto?”.
“Boleh dong!” jawab Angga memberi isyarat kepada rekan satu mejanya untuk minggir dan memberi kursi pada gadis itu.
Emil senang melihat keceriaan gadis itu kembali terbit, meski dirinya harus sabar mengambil beberapa jepretan yang membidik berbagai pose sorang fangirl gila bersama idolanya.