Feli tidak menyadari jika keberadaannya yang telah menggantikan posisi duduk Dela di samping Arfy, yang kini duduk di belakang bagai penonton tunggal drama dua sejoli yang dimabuk asmara. Gadis berambut sebahu itu benar-benar harus diberi tahu bagaimana Arfy dan Dela begitu dekat di kelas Film.
“Bang, makasih ya udah mau anterin Feli ke stasiun,” ungkap gadis itu dengan nada bicara yang halus.
“Kata siapa? Abang mau nganterin sampe Bogor dong, sekalian jalan-jalan, iya kan, Del?”
Merasa namanya terpanggil, Dela terkejut melihat cowok itu sudah menoleh ke arahnya. “Sampe Bogor? Nanti kita kemaleman dong, Bang, lo kan ngantukan.”
“Lo yang tadi tidur sepanjang perjalanan, perasaan.”
“Iya, gapapa sampe stasiun aja, Bang, biar cepet istirahat abangnya.” Feli mulai bernegosiasi.
Arfy menunjukkan eye smile mematikannya. “Kamu pengertian banget sih, semakin aku pengen nganterin kamu sampe rumah.”
Dela melongo di belakang.
***
Untung saja tadi sore, pertemuannya dengan Anggara Nanda bikin Dela merasa dipenuhi energi yang bagus buat melewati momen-momen yang menyebalkan seperti ini. Setibanya di Kota Bogor dan sampai di rumah Feli, membuat Dela lega.
“Bang Arfy, Dela, makasih banget ya kalian udah nganter dan nemenin Feli pulang sampe rumah. Mampir dulu yuk?”
“Enggak, Fel, kita-“
“Hayuk, Abang haus banget nih.” Arfy memotong ucapan Dela yang belum kelar.
Dela terkejut. “Kan di mobil masih ada kopi kalengan, Bang!”
“Gue pengennya air putih, lupa beli.”
Mau tidak mau, Dela harus terpaksa masuk rumah mengikuti Arfy yang kesenangan berlama-lama dengan gadis bersetelan kasual yang pembawaannya santai itu. Bahkan ibunya membuatkan makanan khas yaitu Mie Bogor. Mie diameter bulat berwarna kuning transparan yang ditumis dan diberi saus pecel.
Sial, ini enak banget! Batin Dela yang membuatnya keenakan menikmati setiap suapan porsinya.
“Enak banget, Tante, kalau nanti Feli ke Bandung, bawain ya buat aku.” Arfy berbicara meskipun mulutnya terlihat penuh. Dan wanita itu tampak tidak keberatan dengan ekspresi apa pun yang mereka tunjukkan.
“Siap dong, Nak, silakan ditambah lagi ya.”
“Tante, Saya mau lagi ya,” pinta Dela tidak ragu-ragu melihat paras ibu dari saingannya itu tampak ramah menyambut mereka.
“Ayo Dela, jangan sungkan-sungkan, abisin,” tambah Feli.
Arfy melirik tajam ke Dela sambil berbisik, “Doyan kan lo!”
***
Sebuah mobil berhenti di tepi jalan depan gerbang sebuah rumah. Arfy tidak berniat masuk rumah Dela, dalam hatinya, tapi ia ingat betapa cukup menyeramkannya ayah dari gadis itu sehingga berubah pikiran.
Dela turun dan membuka gerbang yang memang tidak terkunci, kemudian mendorongnya ke samping. Mobil sudah masuk, ia mengikuti dari belakang dengan langkah yang lesu.
Arfy hanya membantu menurunkan koper Dela dan mengembalikan gadis itu pada orangtuanya. Setelah itu, berpamitan. Mereka sejenak berbicara di luar gerbang.
“Ternyata pacar yang harus lo jaga hatinya itu ... Feli, Bang?” tanya Dela menatap cowok di dalam mobil, di balik kemudi, tampak bingung, hanya berdeham.
“Tenang aja, gue bisa ke kondangan sendirian kok.” Dela berbicara lagi, seolah membiarkan cowok yang tak ingin bersuara itu.
Setelah mengucapkan terimakasih, Dela kembali menutup gerbangnya dan masuk ke dalam rumah.
***
Tidak ada seseorang yang bisa Dela ajak untuk menemaninya ke pesta pernikahan Lisda. Mamanya jelas tidak mau, mengingat tidak mengenal siapa si pengantin. Lalu saudara-saudaranya terlalu sibuk dengan pasangannya masing-masing. Termasuk Widia, sahabatnya yang sibuk dengan skenario striping.
Dela berjalan seorang diri menapaki karpet merah yang terbentang di ruangan memanjang yang dipenuhi berbagai dekorasi khas pesta pernikahan. Ia menatap bagaimana cewek itu tampak biasa saja, baginya, berdampingan dengan mempelai pria. Tampak sibuk dengan tamu yang bersalaman dan meminta foto.
Para tamu berlalu dan pandangan Lisda tidak terhalang lagi untuk mendapati rivalnya yang datang seorang diri. Menatapnya penuh kasihan. Lalu seorang tamu lain tidak sengaja menyenggol Dela yang baginya terasa tidak sakit, tetapi seperti ada sesuatu yang menghujam ke ulu hatinya.
Apa cuman gue yang datang sendirian? Benaknya bertanya-tanya. Hingga ia tiba di hadapan teman bermuka dua itu yang langsung melontarkan pertanyaan, “Kok sendirian?”
Dela merasa tersentak, entah apa, seperti ada palu godam yang tiba-tiba berusaha merobohkan hatinya. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara tak asing yang memanggilnya dari belakang. Ia menoleh dan matanya terbelalak, bagaimana mungkin saat ini Arfy tengah beberapa langkah lagi berjalan ke arahnya. Ia ingin bertanya tapi lebih dulu orang itu berbicara.
“Udah aku bilang tunggu, kunci mobil jatuh ke kolong!” katanya membuat Dela berpikir. “Gak sabaran sih.” Cowok itu lanjut ngomong sambil menyenggol bahunya. Ia heran kenapa cewek itu masih saja tidak paham, lantas menatapnya lekat-lekat dan mengerlingkan mata beberapa kali.
Dela yang baru ngeuh langsung auto membuka mulutnya untuk ketawa tapi tertahan. Ia menyenggol balik cowok itu dengan kekuatan tinggi, tapi malah dirinya sendiri yang terpental. “Kamu sih banyak gaya banget, jadi lompat kan itu kunci!”
“Gapapa, yang penting kita sampe dan bisa ngasih selamat buat pasangan serasi ini, iya gak?” tanya Arfy sambil merangkul bahu gadis itu dengan tiba-tiba dan membuat wajahnya lebih merona dari warna blush on di kedua pipinya.
“Makasih-makasih. Gue pikir lo sendiri, gak mungkin lah ya hehehe. Ayo silakan makan dan cobain semua dessert-nya. Buatan koki bintang lima lho!” ujar Lisda setelah mereka saling bertukar basa-basi yang terasa busuk bagi Dela.
***
“Harusnya lo gak usah datang, Bang. Meski Feli di luar kota, kalau gue jadi dia, sama-sama nggak akan bisa memaklumi pacar yang nemenin temen ceweknya buat kondangan. Meski cuman ngebantu pura-pura jadi pasangannya.”
Arfy cengo menatap cewek itu ngedumel sambil meninggalkan meja dessert setalah mendapatkan banyak makanan di tangannya.
Sambil berdiri, cowok itu ngomong, “Bukannya bersyukur karena gue menyelamatkan nasib lo.” Sambil kemudian berjalan mengikutinya.
“Lo seneng kalau Feli tau dan mengasihani gue, Bang?” tanya Dela setelah duduk sambil mendelik ke arah cowok itu.
“Kan dia nggak tahu, ribet emang cewek!” Arfy duduk dan langsung makan tanpa mau meladeni cewek di hadapannya lagi.
Bola mata Dela tidak sengaja mendapati sang pengantin perempuan yang mengamati mereka dari pelaminan di kejauhan. Menyadari wajah cemberut dirinya sendiri dapat memunculkan banyak pertanyaan di benak cewek itu, Dela segera bersikap manis dan menyuapi Arfy dengan paksa.
Tapi ... apa yang dibalas cowok itu, membuat Dela terbuai dalam sandiwaranya sendiri.
“Gak gitu caranya nyuapin, sayang. Gini,” ungkapnya dengan suara lembut dan langsung menyendok keik dan disodorkan pada bibirnya yang masih terkatup, dengan kelopak mata yang menganga. Terpikat.