Dela turun di depan gerbang dan masuk ke halaman rumah ketika mama dan papanya sudah berdiri tegak di depan pintu.
“Jadi maksudmu pake taksi online itu, Arfy?” tanya papanya.
“Nggak sengaja ketemu di hajatan, Pa.” Dela auto salaman ke mama dan papanya.
“Terus kapan kalian nikah?” tanya mamanya. Putrinya hampir terkena serangan jantung.
“Asstagirullah, Mama, kita cuman temenan. Udah ya, Dela mau istirahat.” Lantas ia segera masuk mendahului orangtuanya yang ngedumel merasa sikap anaknya tidak sopan.
Dela harus menyelesaikan plot bagiannya, sambil menunggu pemeriksaan sinopsis yang sudah disetujui oleh Emil. Ia tidak sabar akan bertemu lagi dengan Arfy dan Anggara secara bersamaan. Dua cowok yang berhasil membuat hatinya berbunga-bunga dalam waktu sekaligus.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering, telepon dari Emil. “Gimana? Ide gue cemerlang kan?” tanya Dela berbicara lebih dulu tanpa peduli apa maksud dari temannya itu menelepon di tengah malam.
“Bagus sih bagus, tapi lo kalo nulis jangan sekarepnya dong! Sama sekali gak logis!”
Dela terkesiap dan menjauhkan ponselnya dan bertanya dengan nada suara lebih tinggi. “Di mana gak logisnya? Lo nyuruh gue cepet-cepet setor tulisan dan ngomel-ngomel tengah malam, gimana kalau mental gue kena hah?!”
“Buset! Lo gak ingat kata mentor, masuk dunia perfilman gak boleh baperan!”
“Gak nyambung, lo!”
“Tulalit banget sih loh, pantesan tulisan gak pernah bener! gue kirim di drive dan lo cek sendiri deh!”
Buru-buru Dela mematikan teleponnya dan mengecek menu internet di laptopnya, membuka google drive dan matanya langsung terbelalak melihat banyak paragraf yang diblok warna merah dan banyak coretan.
Dela langsung menutup laptopnya. Bangkit dari kursi dan berbalik menuju kasur, tapi belum saja melangkah, ia sudah kembali duduk dan membuka laptop. Bayangan betapa menakjubkannya bertemu dengan seorang aktor sehebat Anggara Nanda matanya yang sepet kembali melek.
***
Pagi-pagi sekali Dela sudah mencium wangi yang menusuk hidungnya dan membangkitkan tubuhnya dari rasa kantuk. Ia selalu terbangun dalam keadaan lapar meski malam hari mulutnya selalu dijejali berbagai kudapan. Apalagi ketika menghisap aroma penuh godaan ini, imannya seakan runtuh.
Dari atas tangga yang terbuka menuju ruang cahaya di tengah rumah mereka yang futuristik, Dela menyaksikan bagaimana ibunya dan Seri kakak perempuannya yang sepengetahuannya berada di luar kota kini sedang berjibaku di dapur. “Kak Seri!” ia langsung berlari menuruni tangga yang memutar dan memeluk perempuan itu dari belakang.
Seri adalah kakak Dela yang bekerja sebagai arsitek dan tinggal bersama suaminya di Surabaya. Seri membalikkan badan dan membalas pelukannya. “Kakak kan mau ngasih kejutan, kok udah bangun duluan sih, biasanya kan kamu kebo!” Di hadapan sang kakak, Dela adalah adik yang masih kekanakan.
“Aku kan lagi terkejut sekarang! Kalian lagi apa sih?”
“Kata Mama, kamu berhasil dapat projek series pertama kamu, kita harus merayakannya dengan biki nasi kuning!”
Mama Dela lagi sibuk memasukan geprek sirih dan daun jeruk ke dalam panci berisi opor ayam dan menyambung kalimat Seri. “Mama bangga sama kalian sayang, jadi Mama bakalan bagi-bagi ke tetangga!”
“Bagi-bagi sekalian pamer maksudnya?” goda Dela sambil lirik-lirikan dan tertawa lebar dengan kakaknya.
Mereka tertawa terbahak-bahak pagi itu. Papa mereka yang sedang asyik sarapan biskuit dengan kopi, tampak antusias menyambung obrolan ringan dengan mereka.
“Heh, apa kabar?” sapa seorang lelaki dewasa lain yang duduk tidak jauh dari papanya. Ia adalah Candra, pria tinggi hitam manis suami Seri.
***
Bersama kantong berisi macbook yang ditentengnya, Dela berjalan memasuki starbucks dan memilih meja paling sudut dengan pemandangan ke segala arah. Selagi menulis sambil sesekali menikmati es kopi dan keik di samping alat tempurnya, ia meminta abang iparnya seperti biasa untuk memotretnya.
Anak ini memang kurang ajar, benak Seri yang sebetulnya ia tahu semua dimulai karena Candra terlalu baik pada adik iparnya itu hingga membuatnya tidak segan-segan lagi untuk meminta tolong pada mereka.
“Punya pacar makanya, biar gak nyuruh-nyuruh suami gue!” protes Seri nyengir.
“Ya udah sana cariin buat gue, jan ngomong doang, dikira cari pacar itu gampang!”
Mereka berakhir foto bertiga dengan berbagai pose yang jika dilihat kembali, muncul mual dari perut mereka masing-masing.
***
Lama tidak berjumpa membuat mereka rindu melakukan aktifitas bertiga. Dulu semasa pacaran mereka senang membawa Dela ke alam dan suatu ketika memasuki gua gelap peninggalan masa penjajahan Belanda.
Sekarang mereka kembali ke alam untuk bermain outbone. Sejak kecil Dela terbiasa memanjat ketika mereka masih tinggal di sebuah kampung, dan meski sudah lama tidak terlatih, bakat naturalnya itu tidak membuatnya terlalu melupakannya.
Dela menggoyang-goyangkan jembatan papan tambang yang menggantung di udara, di antara hutan pinus, hanya untuk menakut-nakuti kakak perempuannya. Kemudian mereka melanjutkan dengan bermain pontball.
Dela muncul di balik tong besar dan mendapati kakaknya juga menyembul dari balik bongkahan pohon kayu besar sambil menunjukkan wajah tololnya. “Ada ular di belakang Kakak!” teriak Dela seketika membuat perempuan itu histeris melihat ke sekelilingnya dan pada detik yang sama satu tembakan menerobos lingkaran kertas di atas kepalanya.
“Ups, kena deh!” ucap Dela nyengir. Lalu tanpa ampun kakaknya mengejarnya sambil terus menembakkan cairan berwarna itu.
***
Malam mereka sudah duduk bersantai ditemani berbagai minuman dan makam malam di kawasan kuliner yang menyajikan pemandangan Kota Bandung. Dulu mereka kerap menghabiskan malam minggu bersama hingga Dela tertidur di mobil Candra.
Esok harinya mereka akan kembali mengunjungi beberapa tempat wisata yang tidak terlalu ekstrim, untuk memanjakan mama dan papanya. Dela juga tidak pernah ingin ketinggalan meskipun sekarang ia harus tetap sambil membawa laptop dan menulis di mana saja dan kapan saja.
***
“Gue udah kirim semuanya, cek dulu ya, agak lama, biarin gue menghirup udara dengan damai dulu, lagi quality time sama family nih.”
Bibir Dela terlihat seolah tak pernah berhenti sejak dia mengambil makanan dari meja parasmanan restoran makanan khas sunda dan membawanya berjalan menuju meja.
“Jangan teleponan mulu!” omel mamanya. Hal paling dibencinya adalah melihat orang selalu berjibaku dengan benda pipih itu.
“Soal kerjaan ini, Ma.”
Seri juga penasaran. “Siapa? Suara cowok sampe kedenger banget.”
“Ketua tim tukang ngomel!”
“Cocok lu berdua, kayak suami-istri berantem di telepon ketimbang nanyain kunci rumah yang ilang!” gerutu Seri ketawa puas, diiringi suaminya.
“Suami lagi, suami lagi, mentang-mentang udah punya suami. Lupa ya kalau dulu sebelum nikah yang diomongin itu cuman bisnis atau kerjaan, jadi wajar kalo gue sekarang juga luper prever ke kerjaan!”