Hujan turun deras malam itu ketika Kara akhirnya berani membuka lemari kayu jati di kamar ayahnya. Sudah tiga tahun lemari itu terkunci, sejak hari ayahnya, Profesor Hendra Wijaya, berangkat ke pedalaman Kalimantan dan tidak pernah kembali. Pihak ekspedisi menyatakannya hilang, lalu meninggal. Tetapi Kara tidak pernah percaya pada surat resmi bertinta merah itu. Ia hanya percaya pada satu hal: ayahnya tidak akan pergi tanpa pamit.
Kunci kuningan berputar dengan suara berderit. Aroma kamper dan kertas tua menyeruak. Di dalamnya tersusun rapi buku-buku catatan lapangan, kompas berkarat, dan sepasang sepatu bot yang masih berlumur tanah merah. Tangan Kara gemetar saat menyentuhnya. Ia bisa membayangkan langkah ayahnya, suaranya yang rendah saat menjelaskan peta dunia di meja makan, kebiasaannya mengetuk pelipis ketika berpikir keras.
Di dasar lemari, terselip sesuatu yang membuat napas Kara tertahan. Sebuah amplop kulit yang dijahit tangan, kaku oleh usia. Di permukaannya tertulis dengan tinta pudar: "Untuk Kara, jika aku tidak kembali." Jantungnya berdebar liar. Ia merobek jahitan dengan hati-hati, dan dari dalamnya jatuh selembar peta tua. Bukan peta cetakan biasa. Ini digambar tangan di atas kulit kambing yang sudah menguning, penuh garis sungai berkelok, gunung-gunung kecil bergerigi, dan di tengahnya sebuah simbol matahari berujung delapan dengan kata yang ditulis tegas: Tlatah Kencana.
Kara pernah mendengar nama itu. Bukan dari buku sejarah, melainkan dari dongeng yang diceritakan ayahnya sebelum tidur dulu. Tlatah Kencana, kota emas yang konon tersembunyi di jantung rimba paling berbahaya di Nusantara. Sebuah kerajaan kuno yang menghilang tanpa jejak, ditelan hutan, dijaga oleh kutukan dan jebakan yang tak pernah bisa ditembus. Ayahnya selalu tersenyum tipis ketika menceritakannya, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ia katakan.
Di balik peta, ada tulisan tangan ayahnya yang lebih baru, lebih tergesa. "Kara, jika kau membaca ini, berarti aku sudah terlalu jauh. Tlatah Kencana itu nyata. Aku menemukan pintunya. Tapi ada orang lain yang menginginkannya, dan mereka tidak akan berhenti. Jangan ikuti aku. Bakar peta ini. Aku mohon."
Tangan Kara mengepal. Ayahnya memintanya membakar peta. Tetapi ayahnya juga, dengan jelas, telah meninggalkan peta itu untuknya. Seorang pria yang memintanya menjauh tidak akan menyimpan petunjuk paling berharga di tempat ia tahu putrinya akan menemukannya. Kara mengenal ayahnya. Itu bukan larangan. Itu undangan yang dibungkus rasa takut.
Ia menghampar peta di lantai, menyalakan lampu meja, dan mulai mempelajari setiap goresan. Di pojok kanan bawah ada deretan angka kecil yang awalnya tampak seperti koordinat, namun tidak cocok dengan sistem mana pun. Kara mengambil buku catatan lapangan ayahnya, membandingkan tulisan tangannya. Angka-angka itu sama persis dengan kode yang ayahnya pakai untuk menyimpan rahasia. Bukan koordinat. Itu urutan. Sebuah teka-teki.
Petir menyambar di luar, menerangi wajah Kara sesaat. Di matanya bukan lagi duka, melainkan tekad. Tiga tahun ia hidup dengan lubang menganga di dadanya, dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab. Sekarang jawabannya ada di tangannya, ditulis dengan tinta yang sama dengan tangan yang dulu menggandengnya menyeberang jalan.
Ia teringat satu detail dari surat resmi yang dikirim ekspedisi. Mereka menulis ayahnya hilang di Sungai Mahakam hulu. Tetapi peta ini menunjuk ke arah yang sama sekali berbeda, jauh ke pedalaman, ke wilayah yang bahkan tidak punya nama di peta modern. Seseorang berbohong. Dan jika seseorang berbohong tentang di mana ayahnya hilang, mungkin saja mereka berbohong pula tentang apakah ayahnya benar-benar mati.
Malam itu Kara tidak tidur. Ia menyalin peta ke buku catatannya sendiri, mengemasi ransel, dan menelepon satu-satunya nomor yang ditinggalkan ayahnya di halaman terakhir catatan: nama kontak di Samarinda, kota gerbang menuju rimba. Suara di seberang serak, ragu, lalu berkata pelan, "Kalau kau anak Profesor Hendra, lebih baik kau lupakan semua ini." Lalu sambungan terputus.
Kara menatap teleponnya, lalu menatap peta. Bibirnya menarik senyum tipis yang mirip benar dengan senyum ayahnya. "Maaf, Ayah," bisiknya pada ruang kosong. "Tapi aku anakmu. Dan aku tidak akan membakar apa pun."