Suasana aula utama fakultas masih ramai dengan suara tepuk tangan dan percakapan hangat setelah acara penyampaian hasil proyek penelitian berakhir.
Bunga-bunga yang menghiasi setiap sudut ruangan memberikan sentuhan meriah pada acara yang penuh dengan rasa kebanggaan dan kegembiraan.
Viona berdiri di pojok ruangan bersama teman-teman dari divisi keuangan, tersenyum saat mendengar pujian dari dosen dan mahasiswa lain tentang hasil proyek mereka.
Sementara itu, Julian berdiri di dekat podium, menerima ucapan selamat dari teman-teman fakultas hukum.
Namun matanya terus mencari sosok Viona di antara kerumunan orang. Ketika akhirnya menemukan dia, ia melihat bahwa Viona juga sedang melihatnya dengan pandangan yang sedikit bingung namun penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Setelah acara resmi selesai dan kerumunan mulai menyebar, Julian berjalan dengan cepat menuju arah Viona. Ia menghentikannya sebelum ia bisa pergi bersama teman-temannya.
"Viona, bolehkah saya bicara denganmu sebentar?" ucap Julian dengan suara yang jelas namun sedikit gugup. Ia melihat ke mata Viona dengan pandangan yang penuh dengan harapan.
Viona merasa detak jantungnya menjadi cepat. Ia mengangguk pelan dan berkata pada teman-temannya untuk pergi duluan. "Aku akan menyusul sebentar ya," katanya dengan senyum yang sedikit terpaksa.
Julian mengajak Viona keluar dari aula menuju taman belakang kampus yang lebih sunyi.
Jalan kaki yang ditutupi dedaunan kering mengeluarkan suara lembut setiap kali mereka menginjaknya.
Udara malam yang sejuk menyegarkan, sementara cahaya bulan yang terang menerangi jalan mereka menuju gazebo kecil yang terletak di sudut paling dalam taman, sebuah tempat yang jarang dikunjungi oleh mahasiswa kecuali pada saat-saat tertentu.
Gazebo kecil itu terbuat dari kayu yang sudah agak tua, dengan atap berbentuk limas yang ditutupi dengan genteng kayu.
Beberapa tanaman merambat melingkari tiang gazebo, memberikan kesan hangat dan alami.
Julian mengajak Viona duduk di bangku kayu yang terletak di tengah gazebo, kemudian duduk bersebelahan dengannya.
Keduanya terdiam selama beberapa saat, menikmati keheningan taman dan suara gemericik air mancur yang berada tidak jauh dari sana.
Julian merasa hati nya berdebar kencang, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengutarakan perasaannya.
"Viona..." mulai Julian dengan suara yang sedikit getar.
Ia menoleh ke arahnya, melihat mata Viona yang penuh dengan rasa penasaran namun juga sedikit ketakutan. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah aku simpan dalam hati selama ini."
Viona merasa wajahnya menjadi hangat. Ia mengerti bahwa momen yang sudah lama dia khawatirkan akhirnya tiba. "Apa itu, Kak Julian?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Julian mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Sejak kita bekerja sama dalam acara kerja sama dan kemudian proyek penelitian, aku merasa ada yang berbeda denganmu. Kamu tidak hanya pintar dan kerja keras, tapi juga memiliki hati yang hangat dan penuh perhatian pada orang lain."
Ia mengambil tangan Viona dengan lembut, membuat Viona merasa tubuhnya menjadi kaku karena terkejut. "Viona, aku suka padamu. Lebih dari sekadar teman kerja atau teman kampus. Aku ingin kita bisa lebih dekat, membangun hubungan yang lebih dalam dari ini."
Viona merasa kepalanya berputar. Ia tidak menyangka bahwa Julian akan menyatakan cintanya dengan begitu tulus dan langsung.
Meskipun di dalam hati nya juga merasakan perasaan yang sama, rasa minder dan ketakutan segera muncul menghalangi dia untuk merespon.
"Kak Julian..." ucapnya dengan suara yang getar. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Julian, kemudian berdiri dengan tergesa-gesa. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku harus segera kembali ke kos sekarang, teman sekosku sedang menungguku."
Sebelum Julian bisa berkata apa-apa lagi, Viona sudah berjalan cepat meninggalkan gazebo, menyisakan Julian sendirian dengan wajah yang penuh dengan rasa kecewa dan sakit hati.
Ia melihat sosok Viona yang semakin jauh hingga hilang di balik pepohonan, merasa bahwa semua harapannya tiba-tiba hancur berkeping-keping.
Mulai dari hari itu, Viona mulai sering menghindar setiap kali bertemu Julian di kampus.
Ketika melihat Julian datang ke arahnya, ia akan segera berbalik atau mencari cara untuk pergi ke tempat lain. Ia bahkan mengubah jadwal kuliahnya agar tidak bertemu dengan Julian di kelas atau ruangan studi bersama.
Pada suatu hari, Julian melihat Viona sedang duduk di perpustakaan bersama teman sekosnya.
Ia segera mendekat dengan harapan bisa berbicara dengannya, namun saat melihat Julian datang, Viona langsung mengambil tasnya dan mengatakan pada temannya bahwa ia harus pergi ke kamar mandi. Namun dia tidak pernah kembali lagi ke meja itu.
Julian juga mencoba menghubungi Viona melalui telepon dan pesan singkat, namun semua pesannya tidak pernah mendapatkan balasan.
Ia bahkan datang ke kos Viona beberapa kali dengan harapan bisa bertemu, namun selalu diberitahu oleh teman sekos Viona bahwa dia sedang tidak ada atau sedang tidur dan tidak bisa diganggu.
"Aku sudah bilang padamu, Kak Julian, Viona sedang tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa sekarang," ucap salah satu teman sekos Viona dengan nada yang sedikit kasar ketika Julian datang ke kos untuk ketiga kalinya. "Mungkin kamu harus memberikan dia waktu untuk berpikir."
Julian merasa hati nya semakin sakit setiap kali harus menghadapi penolakan dan penghindaran dari Viona.
Ia tidak mengerti mengapa Viona menghindar padanya begitu jauh setelah dia menyatakan perasaannya.
Apakah dia terlalu cepat dalam mengutarakan cinta? Ataukah ada sesuatu yang salah dengan dirinya yang membuat Viona tidak mau menerima cintanya?
Pada akhir pekan berikutnya, Julian memutuskan untuk mencari Viona di kedai kecil Warkop Buku, tempat yang dulunya menjadi favorit mereka untuk berdiskusi dan bekerja bersama. Ia datang dengan harapan bahwa Viona akan ada di sana dan bersedia untuk berbicara dengannya.
Betapa terkejutnya Julian ketika melihat Viona sedang duduk di sudut kedai bersama seorang mahasiswa ekonomi lain yang sedang menunjukkan sesuatu padanya di buku catatan.
Mereka berdua tertawa dan tampak sangat akrab, membuat hati Julian merasa seperti ditusuk dengan jarum.
Julian mendekat dengan hati-hati dan menyapa Viona dengan suara yang lembut. "Hai, Viona. Bolehkah aku duduk disini?"
Viona terkejut melihatnya datang. Ia mengangguk pelan namun wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman. "Ya... silakan."
Mahasiswa lain tersebut segera berdiri dan berkata bahwa dia harus pergi.
Setelah dia pergi, hanya tersisa Julian dan Viona yang duduk berdampingan dengan suasana yang sangat tegang.
"Aku hanya ingin tahu mengapa kamu menghindar padaku," ucap Julian dengan suara yang penuh dengan rasa sakit. "Aku tidak mengerti apa yang salah. Apakah aku melakukan sesuatu yang membuat kamu tidak senang?"
Viona menunduk dan bermain-main dengan sedotan di gelasnya. "Tidak ada yang salah denganmu, Kak Julian. Kamu adalah orang yang baik dan pintar. Tapi aku... aku tidak pantas untukmu."
Sebelum Julian bisa memberikan jawaban atau meminta penjelasan lebih lanjut, Viona berdiri dengan cepat. "Aku harus pergi sekarang. Maafkan aku."
Sekali lagi, Viona pergi meninggalkan Julian sendirian di kedai tersebut.
Julian melihat sosoknya yang semakin jauh dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasa sakit di hatinya semakin dalam, namun di balik rasa sakit itu ada tekad yang kuat, bahwa dia tidak akan pernah menyerah pada cinta yang dia rasakan pada Viona.
Ia akan menunggu dengan sabar hingga Viona siap untuk menerima cintanya, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
"Perasaan cinta yang tulus tidak akan pernah mudah untuk diutarakan, dan terkadang akan menghadapi penolakan atau penghindaran. Namun, cinta yang sejati akan selalu menemukan cara untuk bertahan dan menunggu dengan sabar hingga saat yang tepat tiba."