Suasana pagi di halaman kampus terasa berbeda dari biasanya.
Mahasiswa yang biasanya sibuk berjalan cepat menuju kelas kini berhenti di tengah jalan untuk berbicara dengan teman-temannya, dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran dan terkadang iri.
Udara pagi yang sejuk kini terasa dipenuhi dengan bisikan-bisikan tentang satu nama, Viona dan Julian.
Berita bahwa Julian Prasetyo, mahasiswa hukum yang dikenal dingin dan tidak pernah menunjukkan minat pada seorang wanita pun, menyukai Viona dari fakultas ekonomi sudah menyebar seperti api di padang rumput kering.
Mulai dari koridor kuliah hingga kantin kampus, tidak ada tempat yang tidak membicarakan kabar tersebut.
Pada hari itu, Viona baru saja keluar dari ruangan kuliah Akuntansi Biaya ketika dia merasakan beberapa pandangan yang menyinyaikan punggung.
Ia melihat beberapa mahasiswi hukum sedang berdiri di pojok koridor, mengangkat dagu dan melihatnya dengan tatapan yang tidak ramah. Ketika Viona melewati mereka, ia bisa mendengar bisikan yang jelas terdengar:
"bukankah itu dia? Viona dari fakultas ekonomi yang dikatakan Julian suka padanya?"
"Ya dong, katanya Julian bahkan sudah menyatakan cintanya di gazebo kecil kemarin."
"Tidak percaya, Julian yang selalu dingin dan tidak mau dekat dengan wanita, malah suka sama orang seperti dia?"
Viona merasa wajahnya menjadi panas karena malu dan sedikit takut.
Ia segera berjalan lebih cepat menuju perpustakaan, berharap bisa menemukan tempat yang tenang untuk menghindari semua pembicaraan itu.
Namun ketika memasuki perpustakaan, dia melihat beberapa kelompok mahasiswa sedang berkumpul dan mengacungkan ponsel mereka, seolah-olah sedang melihat sesuatu yang menarik.
Ketika Viona mendekat, dia menyadari bahwa mereka sedang melihat foto dirinya bersama Julian yang diambil saat mereka bekerja sama di Warkop Buku beberapa minggu lalu.
"Lihat aja, mereka tuh sering ketemu lho di kedai kecil dekat kampus," ucap salah satu mahasiswa dengan nada yang penuh dengan sindiran. "Kayaknya sudah lama aja mereka dekat, tapi baru sekarang baru terkuak."
Viona merasa tubuhnya menjadi kaku. Ia tidak menyangka bahwa momen-momen pribadi mereka bisa jadi bahan pembicaraan sembarangan seperti ini.
Tanpa berkata apa-apa, ia segera keluar dari perpustakaan dan berlari menuju taman belakang kampus yang dulunya menjadi tempat yang membuatnya merasa tenang bersama Julian.
Namun ketika sampai di sana, dia melihat beberapa mahasiswi hukum sedang duduk di gazebo kecil, tempat di mana Julian menyatakan cintanya padanya. Mereka melihat Viona dengan tatapan yang penuh dengan cemburu dan rasa tidak senang.
"Kamu benar-benar berani datang ke sini ya?" ucap salah satu dari mereka dengan suara yang kasar.
Wanita itu mengenakan baju seragam fakultas hukum dengan dasi yang rapi, wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan. "Tempat ini kan sudah jadi tempat spesial kamu sama Julian ya?"
Viona ingin menjawab namun kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa berdiri di sana dengan tubuh yang menggigil sedikit.
"Kamu tahu kan Julian adalah orang yang sangat dicari oleh banyak orang di kampus ini?" lanjut wanita itu dengan nada yang semakin tinggi. "Banyak mahasiswi hukum yang lebih pantas untuknya daripada kamu yang hanya dari fakultas ekonomi biasa."
"Ya dong, Julian adalah salah satu mahasiswa terbaik di fakultas hukum kita," tambah teman wanita itu. "Dia akan menjadi pengacara terkenal nanti, pasti butuh pasangan yang bisa mendukung karirnya, bukan orang yang hanya bisa menghitung angka."
Kata-kata mereka seperti anak panah yang menusuk hati Viona.
Ia sudah merasa minder karena latar belakang keluarga yang berbeda dengan Julian, dan kini kata-kata mereka semakin memperparah perasaan itu.
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Viona berbalik dan berlari meninggalkan taman, menangis diam-diam di dalam hati.
Sementara itu, Julian baru saja menyelesaikan kuliah Hukum Pidana ketika dia melihat beberapa teman sekelasnya sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu dengan antusias.
Ketika mereka melihat Julian datang, mereka segera terdiam dan memberikan senyum yang sedikit aneh.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Julian dengan suara yang datar, sudah merasa ada yang tidak beres.
Salah satu teman sekelasnya, Riza, segera mendekat dan menariknya ke sisi yang lebih sunyi. "Kak Julian, ada kabar yang sedang menyebar di kampus nih, tentang kamu dan Viona dari fakultas ekonomi."
Julian mengerutkan kening. "Kabar apa?"
"Kabarnya kamu suka sama dia dan sudah menyatakan cintamu padanya," jelas Riza dengan suara yang rendah. "Sekarang semua orang di kampus membicarakannya, terutama beberapa mahasiswi hukum yang sudah lama menyukaimu."
Julian merasa darahnya mendidih. Ia tidak menyangka bahwa perasaan pribadinya dengan Viona bisa menjadi bahan pembicaraan umum seperti ini. "Siapa yang menyebarkan berita ini?" tanyanya dengan suara yang sedikit marah.
"Kita tidak tahu pasti, Kak Julian," jawab Riza dengan pandangan yang penuh dengan kekhawatiran. "Tapi sekarang sudah banyak orang yang memberikan komentar tidak baik tentang Viona, bahkan beberapa dari mereka mulai mengganggunya."
Julian merasa hati nya menjadi berat mendengarnya. Ia tahu bahwa beberapa mahasiswi hukum memang sudah lama menunjukkan minat padanya, namun dia tidak pernah memberikan harapan pada siapapun karena hatinya sudah terpaut pada Viona.
Ia tidak bisa membayangkan bahwa mereka akan melakukan hal yang menyakitkan pada Viona hanya karena cemburu.
"Dimana Viona sekarang?" tanya Julian dengan suara yang penuh dengan kegelisahan.
"Kabarnya dia sedang di taman belakang kampus, tapi beberapa mahasiswi hukum juga ada di sana," jawab Riza dengan cepat. "Kak Julian sebaiknya pergi ke sana sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan."
Julian segera berlari menuju taman belakang kampus. Saat dia sampai di sana, dia melihat beberapa mahasiswi hukum sedang berdiri di depan gazebo kecil, sedang berbicara dengan nada yang tinggi.
Namun Viona sudah tidak ada di sana lagi. Dia menangkap beberapa kata terakhir yang mereka ucapkan:
"...dia pasti tidak pantas untuk Julian. Kita harus membuat dia sadar diri bahwa dia tidak cocok dengan orang seperti Julian."
Julian segera mendekat dengan langkah yang cepat dan tegas. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya dengan suara yang dingin dan penuh dengan kemarahan.
Para mahasiswi itu segera berbalik dan terlihat terkejut melihat Julian datang. Mereka segera berusaha untuk menunjukkan wajah yang sopan, namun ekspresi mereka tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu yang ada di dalam hati.
"Kak Julian, kami hanya membicarakan bahwa kamu sebaiknya memilih pasangan yang sesuai dengan statusmu saja," ucap salah satu dari mereka dengan suara yang sedikit gemetar. "Kita khawatir kamu akan terganggu dengan hubunganmu dengan dia."
Julian mengangkat alisnya dengan marah. "Hubungan saya dengan Viona adalah urusan pribadi saya, bukan urusan kalian semua," katanya dengan suara yang jelas dan tegas. "Dan saya tidak akan pernah menyukai siapapun selain dia, jadi harap kalian semua berhenti membuat komentar tidak baik tentang dia dan mengganggunya."
Ia melihat masing-masing wajah mereka dengan pandangan yang penuh dengan kekerasan. "Jika saya mendengar kalian mengganggunya lagi, saya tidak akan segan-segan untuk melaporkannya ke pihak kampus. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya."
Setelah mengatakan itu, Julian segera berjalan meninggalkan mereka, menyisakan para mahasiswi itu dengan wajah yang penuh dengan rasa malu dan sedikit takut.
Ia tahu bahwa kata-katanya mungkin akan membuat mereka marah padanya, namun dia tidak peduli, yang penting adalah melindungi Viona dari semua yang bisa menyakitinya.
Julian mencari Viona ke mana-mana, dari perpustakaan hingga kosnya, namun tidak menemukan jejaknya.
Akhirnya dia menemukan Viona sedang duduk di sudut paling dalam ruang studi bersama fakultas ekonomi, dengan wajah yang pucat dan mata yang berkaca-kaca. Ia sedang menatap buku catatannya namun jelas tidak bisa fokus pada apa yang dia baca.
Julian mendekat dengan hati-hati dan duduk bersebelahan dengannya. "Viona..." panggilnya dengan suara yang lembut.
Viona terkejut melihatnya datang. Ia segera mengusap mata nya dan mencoba menunjukkan wajah yang kuat. " Kak Julian, kenapa kamu ada di sini?"
"Riza memberitahu saya tentang apa yang terjadi," ucap Julian dengan suara yang penuh dengan perhatian.
Ia mengambil tangan Viona dengan lembut, membuat Viona merasa tubuhnya menjadi hangat. "Aku minta maaf karena berita tentang kita menyebar seperti ini. Aku tidak sengaja membuatmu menjadi pusat perhatian yang tidak menyenangkan."
Viona merasa air mata nya mulai menetes lagi. "Saya tidak mengerti mengapa mereka harus begitu padaku, Kak Julian. Saya hanya ingin bekerja sama denganmu dan..."
Julian segera menghentikannya dengan menyeka air mata di pipinya dengan lembut. "Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri ya, sayang. Ini bukan kesalahanmu,mereka hanya tidak mengerti bahwa cinta tidak melihat latar belakang atau fakultas mana kita berasal."
Ia melihat mata Viona dengan pandangan yang penuh dengan cinta dan tekad. "Aku akan selalu melindungimu dari semua yang bisa menyakitimu, Viona. Tidak peduli apa yang mereka katakan atau lakukan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Viona merasa hati nya menjadi hangat mendengar kata-kata Julian.
Meskipun rasa takut dan minder masih ada di dalam hatinya, dia merasa lebih kuat dengan kehadiran Julian di sisinya.
Namun dia juga tahu bahwa masalah ini tidak akan mudah hilang, berita yang menyebar akan terus menjadi pembicaraan dan mungkin akan menyebabkan masalah lebih besar di masa depan.
Sementara itu, di berbagai sudut kampus, berita tentang hubungan mereka terus menyebar dengan cepat.
Beberapa orang memberikan dukungan dan harapan agar mereka bisa bersama, namun sebagian besar memberikan komentar negatif dan bahkan mulai merencanakan cara untuk memisahkan mereka berdua.
Julian menyadari bahwa perjuangan untuk cinta mereka baru saja dimulai, dan dia harus siap menghadapi segala rintangan yang akan datang untuk bisa bersama dengan wanita yang dicintainya.
"Ketika cinta menjadi bahan pembicaraan umum, kita akan menghadapi berbagai bentuk ujian dan rintangan. Namun cinta yang sejati akan selalu menemukan cara untuk bertahan, terutama ketika kedua pihak bersedia untuk saling melindungi dan mendukung satu sama lain."