Suasana pagi di koridor fakultas ekonomi terasa lebih sepi dari biasanya.
Viona berjalan dengan langkah yang kecil dan cepat menuju ruangan kuliah, kepalanya sedikit menunduk agar tidak menarik perhatian siapapun.
Sejak berita tentang hubungan dia dengan Julian menyebar, hidupnya di kampus menjadi semakin sulit.
Hanya dalam beberapa hari saja, suasana yang dulunya hangat dan ramah berubah total.
Beberapa mahasiswa yang dulunya bersahabat dengannya sekarang mulai menjauhi dan mengucilkannya.
Mereka berhenti mengajaknya untuk makan bersama atau bekerja kelompok, bahkan kadang menyembunyikan buku atau alat tulisnya ketika dia mendekat.
Pada hari itu, Viona baru saja memasuki kantin kampus ketika dia melihat beberapa mahasiswi hukum sedang duduk di meja besar dekat pintu masuk.
Ketika mereka melihat Viona datang, mereka segera berhenti berbicara dan melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Lihat dech, orang yang berpikir dirinya pantas untuk Julian datang lagi," ucap salah satu dari mereka dengan suara yang cukup keras sehingga bisa terdengar oleh semua orang di kantin.
Wanita itu bernama Maya, salah satu mahasiswi hukum yang dikenal aktif dalam berbagai organisasi dan sudah lama menyukai Julian.
"Tentu saja dia akan datang ke kantin ini, mau cari perhatian lagi kan?" tambah teman Maya dengan nada yang penuh sindiran. "Padahal jelas-jelas dia tidak cocok dengan Julian yang pintar dan berasal dari keluarga baik."
Viona merasa wajahnya menjadi panas karena malu dan sakit hati. Ia segera mengambil makanan dengan cepat dan mencoba mencari meja kosong di sudut paling jauh kantin.
Namun ketika dia mau duduk, seorang mahasiswi ekonomi yang dulunya teman baiknya berdiri dengan cepat dan berkata, "Maaf ya Viona, meja ini sudah kita tempati untuk kelompok studi."
Padahal jelas meja itu kosong dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan sudah ditempati.
Viona hanya bisa mengangguk pelan dan mencari meja lain. Namun setiap kali dia mendekat ke meja mana pun, mahasiswa yang ada di sana akan segera berdiri dan pergi meninggalkan meja tersebut, seolah-olah dia membawa penyakit yang menular.
Akhirnya Viona terpaksa makan di lantai belakang kantin, di bawah pohon rindang yang memberikan naungan. Ia makan dengan cepat sambil menangis diam-diam, merasa sangat kesepian dan tersisihkan.
Situasi menjadi semakin parah ketika rumor buruk mulai menyebar di kampus.
Beberapa orang menyebarkan kabar bahwa Viona sengaja mendekati Julian hanya karena ingin mendapatkan keuntungan dari keluarga Julian yang kaya dan terkenal.
Ada juga yang mengatakan bahwa Viona tidak layak menjadi mahasiswa fakultas ekonomi karena hasil studi nya diduga diperoleh dengan cara curang.
Pada suatu hari, Viona menemukan catatan kasar yang ditempel di lemari lokernya: "Jangan berpikir kamu bisa meraih hati Julian dengan cara kamu yang murahan. Kamu tidak pantas untuknya!" Di samping catatan itu, ada juga gambar wajah Viona yang digambar dengan buruk dan diberi komentar menyakitkan.
Viona merasa tubuhnya menjadi kaku dan menangis terisak-isak di depan lokernya.
Ia tidak mengerti mengapa mereka harus melakukan hal yang begitu kejam padanya hanya karena cinta seorang pria.
Dia tidak pernah berniat menyakiti siapapun atau mengambil apa yang bukan miliknya, dia hanya ingin bekerja sama dengan Julian dan mungkin saja membangun hubungan yang lebih dalam dengannya.
Ketika Julian mengetahui tentang hal itu, dia merasa sangat marah dan sakit hati.
Ia segera mencari Maya dan kelompoknya untuk membicarakan masalah ini. Mereka bertemu di ruang rapat kecil fakultas hukum yang kosong.
"Apa maksud kalian dengan melakukan hal itu pada Viona?" tanya Julian dengan suara yang dingin dan penuh dengan kemarahan. Matanya menunjukkan pandangan yang sangat tidak senang.
Maya hanya mengangkat dagu dengan sombong. "Kita hanya ingin membuat dia sadar diri, Kak Julian. Dia tidak cocok untukmu dan hanya akan menghambat karirmu yang cerah."
"Siapa kalian untuk memutuskan siapa yang cocok atau tidak cocok untukku?" balik Julian dengan nada yang semakin tinggi. "Viona adalah orang yang baik dan jujur, jauh lebih baik dari kalian yang hanya bisa melakukan hal kejam dan menyebarkan kebohongan!"
"Kamu hanya terlena oleh dia, Kak Julian," ucap Maya dengan suara yang sedikit getar namun tetap berusaha menunjukkan wajah yang kuat. "Kita melakukan ini karena kita peduli denganmu dan masa depanmu. Kamu tidak boleh terjerumus dengan orang seperti dia."
Julian menghela napas dengan kesal. "Saya tidak akan pernah berhenti mencintai Viona hanya karena kata-kata kalian yang penuh dengan kebencian," katanya dengan tegas.
"Dan jika saya mendengar kalian melakukan hal buruk padanya lagi, saya akan melaporkan semua ini ke dekan dan pihak kampus. Saya tidak akan membiarkan kalian menyakitinya lagi!"
Setelah mengatakan itu, Julian segera keluar dari ruangan, menyisakan Maya dan kelompoknya dengan wajah yang penuh dengan rasa marah dan kecewa.
Mereka tidak menyangka bahwa Julian bisa begitu tegas membela Viona dan bahkan mengancam untuk melaporkan mereka.
Namun hal itu hanya membuat mereka semakin bertekad untuk memisahkan Viona dari Julian.
Bullying yang dilakukan oleh kelompok Maya semakin intensif seiring berjalannya waktu.
Mereka mulai menyebarkan foto-foto Viona yang diubah dengan buruk di media sosial kampus, memberikan komentar yang sangat menyakitkan dan mengancam.
Beberapa kali, Viona menemukan tasnya terbuka dan barang-barangnya tersebar di lantai koridor, atau buku catatannya yang penuh dengan catatan penting dibuat kotor dengan tinta atau cat.
Pada suatu sore, Viona sedang berjalan pulang ke kos ketika beberapa anggota kelompok Maya menghalangi jalannya di gang sempit dekat kampus.
"Kamu masih berani datang ke kampus ya?" ucap salah satu dari mereka dengan suara yang kasar. "Kita sudah bilang kan bahwa kamu tidak pantas untuk Julian dan harus pergi dari kampus ini?"
Viona mencoba untuk berlari namun mereka segera mengelilinginya. "Kamu tahu kan apa yang akan kita lakukan jika kamu tidak pergi dari sini?" tambah mereka dengan tatapan yang mengerikan.
Saat mereka mau melakukan sesuatu yang lebih kejam, tiba-tiba suara Julian terdengar dari kejauhan. "Jangan sentuh dia!"
Julian datang dengan cepat bersama Riza dan beberapa teman lainnya. Ia segera berdiri di depan Viona untuk melindunginya dari kelompok Maya.
"Kalian benar-benar punya keberanian untuk melakukan hal ini di luar kampus?" tanya Julian dengan suara yang penuh dengan kemarahan.
Kelompok Maya segera mundur ketika melihat banyak orang datang untuk membela Viona.
Mereka memberikan tatapan benci pada Viona dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Julian segera menoleh ke arah Viona dan melihatnya dengan pandangan yang penuh dengan perhatian. "Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya dengan suara yang lembut.
Viona hanya bisa menangis dan menggenggam lengan Julian dengan erat. Ia merasa sangat takut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Julian mengelilingi pundaknya dengan lembut dan membawanya pergi dari tempat itu, menuju kedai kecil Warkop Buku yang dulunya menjadi tempat yang membuat mereka merasa tenang.
Di kedai tersebut, Viona akhirnya bisa mengeluarkan semua rasa sakit dan kesedihan yang telah dia tahan selama ini. "Mengapa mereka harus begitu padaku, Kak Julian?" tanyanya dengan suara yang terengah-engah karena menangis. "Saya tidak pernah melakukan apa-apa yang salah pada mereka."
Julian memeluknya dengan erat dan menghapus air mata di pipinya dengan lembut. "Itu bukan kesalahanmu, sayang," ucapnya dengan suara yang penuh dengan cinta dan rasa sakit. "Mereka hanya tidak bisa menerima bahwa hatiku sudah terpaut pada orang lain selain mereka."
Ia melihat mata Viona dengan pandangan yang penuh dengan tekad. "Aku akan selalu ada untukmu dan melindungimu dari semua yang bisa menyakitimu. Tidak peduli apa yang mereka lakukan atau katakan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian."
Namun meskipun ada dukungan dari Julian dan beberapa teman baik lainnya, efek dari bullying tersebut sudah mulai terasa pada kondisi mental Viona.
Ia mulai sering merasa cemas, sulit tidur, dan kehilangan nafsu makan. Kadang dia bahkan merasa takut untuk pergi ke kampus dan menghadapi semua orang yang selalu melihatnya dengan pandangan tidak baik.
Julian menyadari bahwa masalah ini tidak akan mudah diselesaikan dan bahwa dia harus melakukan sesuatu yang lebih untuk membantu Viona menghadapi semua tantangan ini.
"Kebencian dan iri hati bisa membuat orang melakukan hal yang sangat kejam dan menyakitkan. Namun cinta yang sejati akan selalu menjadi pelindung dan sumber kekuatan bagi orang yang kita cintai, bahkan ketika dunia seolah-olah sedang berusaha untuk memisahkan kita."