Sinar matahari pagi menerangi kamar kos Viona yang kecil namun rapi.
Buku-buku akuntansi yang dulunya tersusun rapi di atas meja kini tertutup debu tipis, sementara catatan kuliah yang pernah diisi dengan penuh semangat kini tergeletak terbuka di halaman yang sama selama berhari-hari.
Viona duduk di tepi ranjangnya, menatap jendela dengan pandangan kosong, tidak menyadari bahwa sudah lewat jam kuliahnya.
Sejak bullying semakin intensif, Viona mulai berubah drastis. Wanita yang dulunya aktif dan ceria kini menjadi pendiam dan tertutup diri.
Dia mulai menarik diri dari semua kegiatan kampus yang dulunya dia nikmati, baik itu organisasi mahasiswa, acara kerja sama antar fakultas, maupun pertemuan kelompok studi.
Pada hari itu, teman sekosnya, Lina, masuk ke kamar dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
Dia membawa secangkir bubur ayam hangat yang dibuatnya sendiri. "Viona, kamu sudah dua hari tidak keluar kamar dan tidak makan apa-apa lho," ucapnya dengan suara yang lembut. Dia meletakkan mangkuk di atas meja samping ranjang. "Makan sedikit saja ya, badan kamu akan lemah jika terus begini."
Viona hanya mengangguk pelan tanpa melihatnya.
Dia masih terus menatap jendela, melihat mahasiswa lain yang sedang berjalan dengan riang ke arah kampus.
"Aku tidak ingin pergi ke kampus lagi, Lin," ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Semua orang melihatku dengan pandangan yang menyakitkan. Aku merasa seperti tidak punya tempat di sana lagi."
Lina duduk bersebelahan dengannya dan menepuk punggungnya dengan lembut.
"Kamu tahu itu bukan benar, kan? Masih ada banyak orang yang menyayangimu dan mendukungmu,aku, Riza, dan tentunya Julian juga."
Namun kata-kata itu tidak bisa membuat Viona merasa lebih baik. Dia menggeleng perlahan. "Aku sudah terlalu lelah, Lin. Setiap kali aku pergi ke kampus, aku harus menghadapi pandangan menyakitkan dan komentar yang menyebalkan. Aku tidak bisa lagi menghadapinya."
Sejak minggu lalu, Viona sudah mulai tidak datang ke sebagian besar kuliahnya.
Dia hanya menghadiri kuliah yang dianggap sangat penting, dan bahkan saat itu dia datang terlambat dan pergi lebih awal, menghindari kontak mata dengan siapapun.
Dia juga mengundurkan diri dari semua posisi yang dia pegang di organisasi mahasiswa, dengan alasan kesehatan yang sedang tidak baik.
Ketika dosen pembimbingnya, Bapak Sudarto, datang mengunjunginya di kos untuk memastikan kondisinya, Viona hanya bisa menangis dan mengatakan bahwa dia perlu waktu untuk pulih.
Bapak Sudarto merasa prihatin melihat kondisi murid kesayangannya yang dulunya aktif dan berbakat menjadi seperti ini.
"Viona, kamu adalah salah satu mahasiswa terbaik yang pernah saya ajar," ucapnya dengan suara yang penuh dengan perhatian.
"Saya tahu kamu sedang menghadapi masa-masa sulit, tapi jangan biarkan hal ini merusak masa depanmu yang cerah. Jika kamu perlu bantuan atau izin untuk menyelesaikan tugas dengan jadwal yang lebih fleksibel, saya akan dengan senang hati membantumu."
Viona menerima dukungan dari dosennya dengan rasa syukur, namun dia masih merasa tidak siap untuk kembali ke kehidupan kampus yang normal.
Dia lebih memilih untuk belajar sendirian di kamar kosnya, meskipun terkadang dia merasa kesulitan untuk memahami materi kuliah tanpa penjelasan dari dosen dan diskusi dengan teman-teman sekelasnya.
Sementara itu, Julian merasa sangat khawatir melihat perubahan pada Viona.
Dia sering datang ke kosnya untuk mengunjunginya, namun Viona seringkali tidak mau membuka pintu atau mengatakan bahwa dia sedang tidur.
Kadang dia hanya bisa berbicara dengannya melalui pagar kos atau melalui teman sekosnya.
Pada suatu hari hujan, Julian datang ke kos Viona dengan membawa makanan khas dari rumahnya dan beberapa buku yang mungkin bisa membantu dia belajar.
Dia berdiri di depan pintu kamar Viona dengan jas hujan yang basah, mengetuk pintu dengan lembut.
"Viona, aku tahu kamu di dalam sana," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas terdengar. "Aku hanya ingin memberikan sesuatu padamu dan memastikan kamu baik-baik saja."
Setelah beberapa saat tanpa ada tanggapan, Julian mulai merasa kecewa dan ingin pergi.
Namun tepat pada saat itu, pintu kamar sedikit terbuka dan wajah Viona yang pucat muncul dari balik pintu.
"Maafkan aku, Kak Julian," ucapnya dengan suara yang getar. "Aku hanya tidak bisa menghadapi siapapun sekarang, termasuk kamu."
Julian melihatnya dengan mata yang penuh dengan rasa sakit dan cinta. "Kamu tidak perlu minta maaf padaku, sayang," katanya dengan lembut. "Aku hanya ingin membantumu. Jika kamu tidak ingin bertemu, itu tidak apa-apa, aku akan selalu menunggumu sampai kamu siap."
Dia meletakkan tas yang berisi makanan dan buku di depan pintu. "Aku meninggalkan ini untukmu ya. Jangan lupa makan dan rawat dirimu dengan baik. Aku akan selalu ada untukmu, tidak peduli apa yang terjadi."
Setelah mengatakan itu, Julian berbalik dan pergi, menyisakan Viona yang berdiri di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia membuka tas yang diberikan Julian dan melihat makanan hangat yang masih terbungkus rapi serta buku-buku dengan catatan tangan dari Julian sendiri.
Perasaan hangat muncul di hatinya, namun segera digantikan oleh rasa takut dan minder yang kembali datang.
Perubahan pada Viona tidak hanya terlihat dari penarikan dirinya dari kegiatan kampus, namun juga dari cara dia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Dia yang dulunya suka berbagi cerita dan tertawa bersama teman-teman kini menjadi pendiam dan sering menyendiri.
Kadang dia bahkan menghabiskan seluruh hari di kamar kosnya tanpa berbicara dengan siapapun.
Lina mencoba berbagai cara untuk membuatnya kembali seperti dulu, mengajaknya jalan-jalan ke pusat kota, menonton film bersama, atau hanya berbincang santai di kamar.
Namun semua itu tidak berhasil. Viona selalu menemukan alasan untuk menolak atau hanya memberikan tanggapan yang sangat singkat dan tidak peduli.
Pada suatu malam, Lina menemukan Viona sedang duduk di lantai kamar dengan tubuh menggigil, sedang melihat foto lama bersama teman-teman kampus dan Julian.
Air mata mengalir deras di pipinya, namun dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Viona..." panggil Lina dengan suara yang penuh dengan kesedihan. Dia segera mendekat dan memeluknya dengan erat. "Kamu tidak sendirian berjuang, kamu tahu kan? Kita semua akan selalu membantumu."
Viona akhirnya bisa mengeluarkan suara tangisnya yang telah dia tahan selama ini.
Dia menangis dengan teresak-isak di pelukan Lina, mengeluarkan semua rasa sakit, kesedihan, dan rasa tidak berdaya yang telah dia simpan dalam hati.
"Aku merasa sangat sendirian, Lin," ucapnya dengan suara yang terengah-engah. "Semua orang seolah-olah sudah meninggalkanku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Kamu tidak sendirian, Viona," kata Lina dengan lembut sambil mengelus punggungnya. "Kita semua masih ada di sini untukmu. Dan Julian juga selalu merindukanmu dan ingin membantumu. Kamu hanya perlu memberinya kesempatan untuk membantu."
Namun meskipun demikian, Viona masih merasa tidak siap untuk kembali menghadapi dunia luar.
Dia merasa bahwa dinding yang dia bangun di sekitar dirinya adalah satu-satunya cara untuk melindungi dirinya dari rasa sakit dan kebencian yang datang dari orang lain.
Dia tidak menyadari bahwa penarikan diri ini hanya akan membuat kondisinya semakin parah dan menjauhkannya dari orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
Sementara itu, Julian dan teman-teman baik mereka mulai merencanakan cara untuk membantu Viona kembali bangkit.
Mereka tahu bahwa tidak akan mudah untuk melepaskan dinding yang dia bangun, namun mereka juga tidak akan pernah menyerah pada wanita yang telah mencuri hati Julian dan menjadi bagian penting dalam hidup mereka semua.
"Ketika dunia seolah-olah sedang berusaha untuk menghancurkan kita, terkadang kita merasa bahwa menarik diri dan membangun dinding di sekitar diri adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Namun sebenarnya, cinta dan dukungan dari orang-orang terkasih adalah kunci untuk melewati masa-masa sulit dan menemukan kekuatan untuk bangkit kembali."