Hujan gerimis menyiram pelataran kampus pada pagi hari itu, membuat jalan-jalan menjadi licin dan udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Julian berdiri di depan gerbang fakultas ekonomi, memegang payung hitamnya dengan erat sambil menunggu Viona keluar dari ruangan kuliah.
Ia telah memutuskan bahwa dari hari itu mulai, ia akan selalu mengantar dan menjemput Viona setiap hari agar tidak ada yang berani mengganggunya lagi.
Setelah beberapa menit, Viona muncul dengan wajah yang pucat dan kepalanya sedikit menunduk.
Ketika melihat Julian berdiri di sana menunggunya, ekspresi wajahnya berubah menjadi campuran antara senang dan khawatir.
"Kak Julian, apa kamu benar-benar harus melakukan ini?" tanya Viona dengan suara yang lembut saat mereka berjalan bersama menuju kedai kecil dekat kampus. "Aku khawatir jika kamu selalu mengikutiku seperti ini, akan membuat situasi menjadi lebih buruk."
Julian menggeleng perlahan, menyelaraskan langkahnya dengan langkah Viona yang lebih kecil. "Aku tidak bisa tinggal diam dan melihatmu disakiti oleh orang lain, Viona," ucapnya dengan suara yang penuh tekad. "Aku harus melindungimu, itu adalah hak dan kewajiban ku sebagai orang yang mencintaimu."
Namun apa yang Julian lakukan ternyata memiliki efek yang tidak diinginkan.
Ketika mereka berjalan bersama di koridor kampus, beberapa mahasiswi hukum melihatnya dan mulai memberikan komentar yang semakin menyakitkan.
"Lihat aja, sekarang Julian jadi penjaga badan aja untuknya," ucap seorang mahasiswi dengan nada yang penuh sindiran, membuat teman-temannya tertawa dengan suara yang kasar.
"Ya dong, dia pasti takut kalau tanpa pengawalan, orangnya akan jadi target lagi," tambah yang lain dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
Viona merasa wajahnya menjadi panas karena malu dan segera menarik lengan Julian untuk berjalan lebih cepat.
Ia tahu bahwa kehadiran Julian di sisinya hanya akan membuat orang lain semakin melihatnya dengan mata negatif.
Julian juga mulai sering menghadiri kelas-kelas fakultas ekonomi hanya untuk menjaga Viona, meskipun ia tidak memiliki kuliah di sana.
Ia akan duduk di sudut ruangan atau di luar pintu kelas, membuat beberapa dosen merasa tidak nyaman dan beberapa mahasiswa mulai mengeluhkan keberadaannya.
"Saya menghargai kekhawatiran Anda terhadap teman sekampus Anda, Julian," ucap salah satu dosen fakultas ekonomi dengan nada yang tegas ketika menemui Julian di koridor. "Namun keberadaan Anda di kelas-kelas yang bukan milik Anda dapat mengganggu proses pembelajaran dan membuat mahasiswa lain merasa tidak nyaman."
Julian mengangguk dengan rasa hormat namun tetap bersikeras bahwa dia hanya ingin memastikan keamanan Viona. "Maafkan saya, Bapak. Saya hanya khawatir ada yang akan menyakitinya saat saya tidak ada di dekatnya."
Meskipun dosen tersebut memahami kekhawatirannya, ia tetap menyuruh Julian untuk tidak datang lagi ke kelas-kelas fakultas ekonomi kecuali jika ia memiliki alasan akademik yang sah.
Hal ini membuat Julian merasa frustasi karena dia merasa tidak bisa lagi melindungi Viona saat dia sedang kuliah.
Situasi menjadi semakin memburuk ketika kelompok Maya memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih ekstrem.
Mereka mulai menyebarkan foto-foto Julian dan Viona yang diambil secara diam-diam saat mereka berjalan bersama, dengan caption yang sangat menyakitkan dan menyesatkan.
Beberapa dari mereka bahkan mulai mengirim pesan ancaman ke nomor telepon Viona dan akun media sosialnya.
"Jika kamu tidak menjauh dari Julian, konsekuensinya akan lebih parah dari ini," tulis salah satu pesan yang diterima Viona.
Di bawahnya ada gambar wajah Viona yang digambar dengan sangat buruk dan diberi tanda silang.
Viona merasa sangat takut dan segera menunjukkan pesan itu kepada Julian.
Ketika melihatnya, darah Julian mendidih karena kemarahan.
Ia segera mencari Maya dan kelompoknya untuk membentak mereka dan memberi peringatan bahwa jika mereka melakukan hal serupa lagi, ia akan melaporkan mereka ke pihak kampus dan bahkan ke kepolisian jika perlu.
"Apa maksud kalian dengan mengirim pesan ancaman pada Viona?" tanya Julian dengan suara yang dingin dan penuh dengan kemarahan saat bertemu dengan mereka di halaman fakultas hukum. "Kalian sudah terlalu jauh dalam melakukan hal-hal yang kejam ini!"
Maya hanya mengangkat dagu dengan sombong. "Kita hanya melakukan apa yang harus kita lakukan, Kak Julian," jawabnya dengan suara yang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Kamu sudah terlalu terlena oleh dia dan melupakan tanggung jawabmu terhadap fakultas dan keluarga kamu. Kita harus membuatmu sadar kembali."
"Jangan pernah mencoba untuk mencampuri urusan pribadiku lagi!" seru Julian dengan suara yang semakin tinggi. "Jika kalian menyakitinya satu kali lagi, saya tidak akan segan-segan untuk mengambil tindakan hukum terhadap kalian semua!"
Pertemuan itu menarik perhatian banyak mahasiswa dan bahkan beberapa dosen yang sedang lewat.
Berita tentang bentrokan antara Julian dengan kelompok mahasiswi hukum segera menyebar dengan cepat di seluruh kampus, dan ini hanya membuat nama Viona semakin terkena dan menjadi bahan pembicaraan yang lebih buruk.
Pada hari berikutnya, Viona menemukan bahwa beberapa hal penting dalam tasnya, termasuk buku catatan kuliah dan lembar kerja proyek yang sedang dia kerjakan, telah hilang.
Dia mencari ke mana-mana namun tidak menemukan jejaknya. Akhirnya, teman sekelasnya memberitahunya bahwa dia melihat beberapa mahasiswi hukum sedang membakar sesuatu di belakang gedung fakultas ekonomi tadi malam.
Ketika Viona dan Julian datang ke lokasi tersebut, mereka menemukan sisa-sisa kertas yang terbakar dan masih mengeluarkan asap tipis.
Di antara puing-puing itu, Viona mengenali beberapa potongan kertas yang berasal dari buku catatannya yang berharga.
"Aku tidak percaya mereka bisa melakukan hal seperti ini," ucap Viona dengan suara yang getar dan mata yang berkaca-kaca. Dia meraih beberapa potongan kertas yang masih utuh dengan tangan yang gemetar. "Semua catatan pentingku... semua kerja kerasku..."
Julian memeluknya dengan erat, merasa sangat bersalah karena merasa bahwa tindakannya untuk melindungi Viona malah membuat situasi menjadi lebih buruk. "Aku minta maaf, sayang," ucapnya dengan suara yang penuh dengan rasa sakit. "Aku berpikir dengan berada di sisimu, aku bisa melindungimu. Tapi sepertinya aku hanya membuatmu menjadi target yang lebih besar."
Viona menggeleng perlahan dan menepuk d**a Julian dengan lembut. "Ini bukan kesalahanmu, Kak Julian," katanya dengan suara yang lembut namun tegas. "Mereka yang salah adalah mereka yang tidak bisa menerima bahwa kamu memilih aku."
Namun meskipun demikian, efek dari semua kejadian ini semakin terasa pada kondisi Viona.
Dia mulai sering mengalami serangan panik, terutama ketika berada di tempat umum atau di sekitar banyak orang.
Kadang dia bahkan merasa sulit untuk bernapas dan harus duduk atau berbaring hingga rasa cemas itu mereda.
Julian merasa sangat tidak berdaya melihat kondisi Viona yang semakin memburuk.
Ia mencoba berbagai cara untuk membantu, membawa dia berobat ke dokter, mencari konseling untuknya, bahkan berbicara dengan pihak kampus untuk mengambil tindakan terhadap pelaku bullying.
Namun semua upayanya sepertinya tidak memberikan hasil yang diinginkan, dan bahkan terkadang membuat situasi menjadi lebih kompleks.
Pada malam hari itu, Julian duduk di kamar kosnya dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan rasa bersalah.
Dia melihat foto Viona yang ditempel di dindingnya dan merenungkan semua yang telah terjadi selama ini.
Ia menyadari bahwa upayanya untuk melindungi Viona malah menjadi sumber masalah baru bagi dia, dan dia harus mencari cara lain untuk membantu tanpa membuat situasi menjadi lebih buruk.
"Aku tidak akan menyerah, Viona," bisiknya dengan lembut sambil menatap foto tersebut. "Aku akan menemukan cara untuk membantumu dan membuat semua ini berakhir. Kita akan bersama-sama menghadapi semua ini, tidak peduli apa yang harus aku lakukan."
"Ketika kita mencoba melindungi orang yang kita cintai, terkadang tindakan kita justru membuat situasi menjadi lebih buruk. Namun cinta yang sejati akan selalu menemukan cara untuk beradaptasi dan mencari solusi yang terbaik, bahkan ketika semua upaya sepertinya tidak memberikan hasil yang diinginkan."