Malam hari telah tiba di kos-kosan dekat kampus, namun kamar Viona masih tergelapkan kecuali sinar bulan yang menerobos celah tirai jendela.
Dia duduk bersila di atas ranjangnya, tubuhnya menggigil meskipun udara kamar terasa cukup hangat.
Tangannya menekan d**a dengan erat, napasnya menjadi pendek dan tidak teratur, sementara mata nya penuh dengan rasa takut yang mendalam.
Serangan panik yang datang secara tiba-tiba ini sudah menjadi hal yang biasa terjadi selama beberapa minggu terakhir.
Mulai dari rasa sesak di d**a, berkeringat dingin, hingga perasaan seolah-olah dunia akan segera berakhir,semua itu datang tanpa peringatan dan membuat Viona merasa sangat tidak berdaya.
Beberapa menit kemudian, setelah napasnya mulai pulih dan tubuhnya tidak lagi menggigil, Viona mengambil bantal dan memeluknya erat-erat.
Air mata mulai mengalir deras di pipinya, menetes ke atas bantal yang sudah basah akibat tangisan yang sering dia tahan sendiri.
Dia menangis dengan suara yang teredam, takut jika teman sekosnya mendengar dan khawatir padanya.
"Lina pasti sudah tidur," bisiknya pelan sambil mengusap air mata dengan lengan bajunya. "Aku tidak ingin menyusahkan dia lagi. Dia sudah banyak membantu aku."
Sejak situasi di kampus semakin memburuk, Viona sering menghabiskan malam harinya menangis sendirian di kamar.
Kadang dia menangis karena rasa sakit yang ditimbulkan oleh kata-kata menyakitkan dari teman-teman kampus, kadang karena rasa minder yang semakin dalam, dan kadang hanya karena merasa sangat sendirian meskipun tahu bahwa masih ada orang-orang yang menyayanginya.
Pada pagi harinya, Lina masuk ke kamar dengan membawa secangkir teh hangat dan roti bakar.
Dia melihat Viona yang sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang pucat dan mata yang bengkak akibat menangis semalaman.
"Viona, kamu menangis lagi ya?" ucap Lina dengan suara yang penuh kesedihan. Dia segera mendekat dan duduk bersebelahan dengannya, memberikan teh hangat tersebut. "Kamu tidak boleh menyimpan semua rasa sakit itu sendiri. Aku selalu ada di sini untukmu."
Viona menerima teh dengan tangan yang gemetar, mengangguk pelan tanpa bisa berkata apa-apa.
Suara tangisnya mulai muncul kembali, dan kali ini dia tidak bisa lagi menahannya.
Dia menangis dengan teresak-isak di pelukan Lina, mengeluarkan semua beban yang telah dia simpan dalam hati selama ini.
"Aku merasa sangat takut, Lin," ucapnya dengan suara yang terengah-engah. "Setiap kali aku mau tidur, aku selalu membayangkan kata-kata mereka dan pesan ancaman yang aku terima. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi. Malam ini aku bahkan merasa seperti tidak bisa bernapas."
Lina memeluknya erat dan mengelus punggungnya dengan lembut. "Aku tahu rasanya sangat menyakitkan," kata Lina dengan lembut.
"Tapi kamu tidak sendirian dalam ini. Kita akan mencari cara untuk membantumu. Mungkin kamu perlu berbicara dengan orang yang ahli dalam menangani masalah seperti ini?"
Viona menggeleng perlahan, masih menangis. "Aku takut, Lin. Aku takut orang akan berpikir aku gila atau lemah. Aku tidak ingin orang lain tahu bahwa aku sedang mengalami masalah seperti ini."
Namun kondisi Viona semakin memburuk seiring berjalannya waktu.
Dia mulai sering mengalami serangan kecemasan bahkan di siang hari, terutama ketika dia harus berada di tempat yang ramai atau mendengar nama Julian disebutkan.
Kadang dia bahkan harus berlari keluar dari kelas karena merasa tidak bisa bernapas dan ingin segera menemukan tempat yang tenang dan sendirian.
Pada suatu hari, ketika Viona sedang berada di perpustakaan untuk mencari referensi kuliah, dia tiba-tiba merasa dunia mulai berputar dan telinganya berdenging.
Rasa sesak di dadanya muncul kembali, dan dia merasa seperti akan segera pingsan.
Tanpa berpikir dua kali, dia segera berdiri dan berlari keluar dari perpustakaan, menarik perhatian banyak mahasiswa yang ada di sana.
Dia berlari hingga sampai ke taman belakang kampus yang sunyi, kemudian jatuh tersungkur di bawah pohon besar yang pernah menjadi tempat dia dan Julian berbicara bersama.
Dia duduk menyandar pada batang pohon, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis dan bernapas dengan cepat.
"Aku tidak bisa lagi..." bisiknya dengan suara yang lemah. "Aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini..."
Saat itu, Julian sedang mencari Viona setelah tidak melihatnya di kelas. Ketika mendengar dari teman bahwa Viona telah berlari keluar dari perpustakaan dengan kondisi yang tidak baik, dia segera mencari ke mana-mana hingga menemukan dia di taman belakang kampus.
Melihat Viona yang sedang mengalami kesusahan membuat hati Julian merasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Dia mendekat dengan hati-hati dan duduk bersebelahan dengannya, tidak berani menyentuhnya takut akan membuatnya semakin terkejut.
"Viona..." panggilnya dengan suara yang sangat lembut. "Aku ada di sini. Kamu baik-baik saja kan?"
Viona mengangkat wajahnya dan melihat Julian dengan mata yang berkaca-kaca.
Ketika melihat wajah Julian yang penuh dengan perhatian dan cinta, dia tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia meraih lengan Julian dan menangis dengan semakin deras.
"Kak Julian, aku takut..." ucapnya dengan suara yang terengah-engah. "Aku selalu merasa takut sekarang. Takut untuk pergi ke kampus, takut untuk bertemu orang lain, bahkan takut untuk hidup seperti biasanya lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Julian memeluknya dengan lembut, menjaga agar tidak terlalu erat agar tidak membuatnya merasa terkurung.
Dia mengelus punggungnya dengan lembut dan berbicara dengan suara yang menenangkan.
"Tenang saja, sayang," ucapnya dengan lembut. "Aku ada di sini. Kamu tidak perlu takut lagi. Kita akan melalui ini bersama-sama."
Dia membawa Viona untuk duduk di tempat yang lebih nyaman, di bawah naungan pohon yang memberikan rasa tenang.
Dia membantu Viona untuk bernapas dengan benar, mengajaknya untuk menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.
Setelah beberapa saat, napas Viona mulai pulih dan dia tidak lagi menggigil.
"Aku sudah merasakan ini beberapa kali belakangan ini," ucap Viona dengan suara yang sudah lebih tenang.
"Aku merasa seperti dunia sedang runtuh dan aku tidak bisa mengendalikan apa-apa. Kadang aku bahkan berpikir apakah aku benar-benar layak untuk hidup seperti ini."
Julian segera menepuk pipinya dengan lembut dan melihatnya dengan penuh dengan cinta dan kekhawatiran. "Jangan pernah berpikir seperti itu, Viona," katanya dengan tegas.
"Kamu adalah orang yang sangat berharga dan layak untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Yang kamu alami sekarang adalah hasil dari semua tekanan dan rasa sakit yang kamu terima dari orang lain. Kamu tidak salah apa-apa."
Dia mengambil tangan Viona dengan lembut dan menjamahnya dengan erat. "Aku akan membawamu berbicara dengan profesional yang bisa membantumu menangani semua ini," katanya dengan suara yang penuh tekad. "Kamu tidak perlu menghadapi ini sendirian lagi. Aku akan selalu ada di sisimu, tidak peduli apa yang terjadi."
Meskipun masih merasa takut dan ragu, Viona merasa sedikit lega mendengar kata-kata Julian.
Dia menyadari bahwa dia tidak bisa lagi terus menyimpan semua rasa sakit dan kegelisahan ini sendiri.
Dia perlu bantuan untuk mengatasi semua yang telah dia alami, dan mungkin saja dengan dukungan dari Julian dan teman-teman baiknya, dia bisa menemukan jalan untuk pulih dan kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.
"Ketika beban hidup menjadi terlalu berat untuk ditanggung sendirian, kita seringkali merasa seperti tidak punya jalan keluar. Namun dalam setiap kegelisan, selalu ada cahaya harapan yang bisa membantu kita menemukan kekuatan untuk bangkit kembali, terutama ketika kita memiliki orang-orang yang benar-benar mencintai dan mendukung kita."