Suasana pagi di Warkop Buku terasa lebih tenang dari biasanya. Riza duduk di meja sudut yang dulunya menjadi favorit Julian dan Viona, memegang secangkir kopi hangat sambil menatap jalanan yang masih sepi.
Matanya menunjukkan ekspresi yang penuh dengan kekhawatiran setelah melihat kondisi Viona yang semakin memburuk selama beberapa minggu terakhir.
Sebagai teman dekat Julian yang juga pernah bekerja sama dengan Viona dalam beberapa acara kampus, Riza merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk membantu.
Dia tahu betapa Julian mencintai Viona dengan tulus, dan melihat kedua orang yang dia sayangi mengalami kesusahan seperti ini membuat hatinya merasa sangat berat.
Pada hari itu, Riza datang ke kos Viona dengan membawa makanan yang dibuat oleh ibunya sendiri,rendang padang yang terkenal lezat dan bubur sumsum yang manis.
Dia mengetuk pintu kamar Viona dengan lembut, menyadari bahwa Viona mungkin sedang tidak dalam kondisi yang baik.
"Viona, ini aku Riza," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas terdengar. "Aku membawa makanan untukmu. Bolehkah aku masuk sebentar?"
Setelah beberapa saat tanpa ada tanggapan, Riza hampir ingin pergi.
Namun tepat pada saat itu, pintu kamar sedikit terbuka dan wajah Viona yang pucat muncul dari balik pintu. Mata nya masih bengkak akibat menangis, dan wajahnya terlihat sangat lelah.
"Hai, Riza," ucap Viona dengan suara yang lemah. "Maafkan aku ya, aku baru saja bangun."
Riza memasuki kamar dengan hati-hati, melihat kondisi kamar yang dulunya rapi kini menjadi sedikit berantakan.
Buku-buku dan pakaian berserakan di beberapa tempat, sementara tirai jendela tertutup rapat sehingga kamar terasa agak kegelapan.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Riza dengan suara yang penuh perhatian. Dia meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja samping ranjang. "Ibuku membuat ini khusus untukmu. Katanya makanan lezat bisa membuat hati menjadi lebih baik."
Viona tersenyum pelan dan mengangguk. "Terima kasih banyak, Riza. Aku sangat menghargainya." Namun ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak memiliki nafsu makan sama sekali.
Riza duduk bersebelahan dengannya di tepi ranjang, melihatnya dengan mata yang penuh dengan kesedihan.
"Aku tahu kamu sedang mengalami masa-masa sulit sekarang, Viona," ucapnya dengan lembut. "Julian sangat khawatir padamu. Dia bahkan tidak bisa fokus pada kuliah dan pekerjaannya karena selalu memikirkan kamu."
Viona menunduk dan bermain-main dengan ujung seprai ranjangnya. "Aku tahu. Dan itu membuat aku merasa semakin bersalah," katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Aku tidak ingin menjadi beban baginya atau siapapun."
"Itu bukan beban, Viona," kata Riza dengan tegas. "Kamu adalah orang yang sangat berharga, dan semua orang yang menyayangimu akan senang membantu kamu melalui masa-masa sulit ini. Kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini."
Riza mulai berbicara dengan Viona tentang berbagai hal, mulai dari cerita lucu selama kerja sama kampus dulu hingga rencana masa depan yang mungkin bisa mereka lakukan bersama.
Dia berusaha untuk membuat Viona tertawa dan merasa lebih baik, namun upayanya hanya berhasil sebentar saja. Viona hanya bisa memberikan senyum yang terpaksa dan tanggapan yang sangat singkat.
Beberapa hari kemudian, Riza mengajak Viona untuk pergi jalan-jalan ke taman kota yang terkenal dengan keindahan kebun bunganya.
Dia berpikir bahwa menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah bisa membantu Viona merasa lebih baik dan rileks.
"Aku tahu kamu suka dengan bunga-bunga kan?" ucap Riza saat mereka berjalan di antara hamparan bunga mawar merah dan putih. "Kita bisa duduk di taman dan hanya menikmati pemandangan saja. Tidak perlu berpikir tentang apa-apa lainnya."
Viona mengangguk dan mencoba untuk menikmati keindahan sekitarnya.
Namun tidak lama kemudian, dia melihat beberapa orang muda yang sedang berbicara dan tertawa bersama, dan dia merasa seperti mereka sedang membicarakannya dan memberikan tatapan yang menyakitkan.
Rasa cemas kembali muncul dengan cepat, membuat napasnya menjadi pendek dan tangan nya mulai berkeringat dingin.
"Riza... aku merasa tidak enak badan," ucap Viona dengan suara yang gemetar. Dia mulai merasa dunia berputar dan ingin segera pergi dari tempat itu. "Aku harus pulang sekarang."
Riza segera membawanya pergi dari taman, merasa sangat khawatir melihat kondisi Viona yang tiba-tiba memburuk.
Dia membawanya kembali ke kos dan membantu dia berbaring di ranjang, memberikan dia air putih dan handuk dingin untuk ditempelkan pada dahinya.
"Aku minta maaf, Viona," ucap Riza dengan suara yang penuh rasa bersalah. "Aku berpikir jalan-jalan bisa membantumu, tapi sepertinya aku salah."
Viona menggeleng perlahan dan menepuk tangan Riza dengan lembut. "Jangan salahkan dirimu ya, Riza," katanya dengan suara yang lembut. "Kamu sudah sangat baik padaku. Aku hanya tidak kuat menghadapi keramaian dan orang banyak sekarang."
Tidak mau menyerah, Riza kemudian mencoba untuk membantu Viona dengan cara lain.
Dia mengumpulkan beberapa teman baik dari fakultas ekonomi dan hukum yang benar-benar mendukung hubungan Viona dan Julian, merencanakan untuk membuat acara kecil yang bisa membuat Viona merasa diterima dan dicintai kembali.
Mereka menyewa ruangan kecil di fakultas ekonomi dan menghiasinya dengan bunga-bunga serta dekorasi yang menyenangkan.
Mereka juga menyiapkan makanan dan minuman kesukaan Viona, serta menyusun acara kecil dengan pidato dukungan dan lagu-lagu yang bisa membuat hati menjadi hangat.
Ketika Riza mengajak Viona untuk datang ke acara tersebut, Viona merasa sangat ragu. Namun karena tidak ingin menyakiti perasaan Riza dan teman-teman baiknya, dia akhirnya menyetujui untuk datang.
Namun ketika mereka tiba di lokasi acara, Viona melihat bahwa ada banyak orang yang datang, lebih banyak dari yang dia harapkan.
Rasa takut dan cemas segera muncul kembali, membuatnya merasa seperti tidak bisa bernapas. Dia melihat beberapa wajah yang tidak dikenal dan merasa seperti mereka sedang menilai dan membicarakannya.
"Aku tidak bisa melakukan ini, Riza," ucap Viona dengan suara yang getar. Dia segera berbalik dan berlari keluar dari ruangan, menyisakan Riza dan teman-teman lainnya dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan kecewa.
Riza mengejarnya hingga ke luar fakultas, menemukan Viona sedang menangis di bawah pohon besar di halaman depan. Dia mendekat dengan hati-hati dan membungkus tangan di sekitar bahu Viona dengan lembut.
"Maafkan aku ya, Viona," ucap Riza dengan suara yang juga sudah mulai berkaca-kaca. "Aku hanya ingin membantumu merasa diterima dan dicintai kembali. Aku tidak sengaja membuatmu merasa tidak nyaman."
Viona menggeleng perlahan dan menangis semakin deras. "Itu bukan kesalahanmu, Riza," katanya dengan suara yang terengah-engah.
"Aku sangat berterima kasih atas semua yang kamu lakukan untukku. Tapi aku merasa seperti aku tidak bisa lagi menjadi diri ku yang lama. Aku tidak kuat menghadapi semua orang dan pembicaraan mereka."
Riza memeluknya dengan erat, merasa sangat tidak berdaya melihat kondisi Viona yang semakin memburuk.
Dia telah mencoba segala cara untuk membantu,dari mengunjunginya di kos, mengajaknya jalan-jalan, hingga merencanakan acara khusus untuknya, namun semua upayanya tidak berhasil membuat Viona merasa lebih baik.
"Aku tidak akan menyerah, Viona," ucap Riza dengan suara yang penuh tekad. "Kita akan menemukan cara untuk membantumu. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian yang kamu butuhkan."
Meskipun merasa sangat kesal karena tidak bisa membantu Viona dengan lebih baik, Riza tetap tidak akan menyerah.
Dia tahu bahwa Viona adalah orang yang sangat baik dan berharga, dan dia akan melakukan apa saja untuk membantu temannya yang sedang mengalami kesusahan seperti ini.
Dia juga akan membicarakan hal ini dengan Julian untuk mencari cara terbaik untuk membantu Viona pulih dan kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.
"Ketika kita melihat orang tersayang mengalami kesusahan, kita seringkali melakukan segala cara untuk membantu mereka. Namun terkadang upaya kita tidak memberikan hasil yang diinginkan. Namun cinta dan dukungan yang tulus akan selalu menjadi sumber kekuatan bagi orang yang kita cintai, bahkan ketika semua upaya sepertinya sia-sia."