Adnan yang telah selesai mengusir pasangan itu kembali berjalan menuju ke dalam ruangannya, di dalam Anandita saat ini masih sibuk memegang hasil tes kehamilannya. Anandita tampak ragu, dia di sisi lain telah mencintai Steve namun melihat pengkhianatan Steve hatinya terasa begitu sakit dan terluka.
Anandita mengangkat kepalanya saat mendengar pintu terbuka dari luar, air matanya yang tadi sudah kering mulai jatuh kembali saat Adnan masuk.
"Aku hamil, Ayah! Bagaimana caranya sekarang? Tidak mungkin anak ini hidup tanpa ayahnya, Ayah!" rengek Anandita lagi, kali ini beruntung Anandita memakai maskara anti air kalau tidak mungkin matanya sudah menghitam.
Adnan mengembuskan napas kesal, dia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Kalau dia tahu Anandita hamil dia pasti akan memikirkan cara lain, Adnan duduk di kursinya, dia tampak memikirkan sesuatu sebelum tiba-tiba saja menggelengkan kepala.
"Terserah padamu sekarang, dulu kau memaksa Sherly mengugurkan kandungannya karena kau menginginkan lelaki ini. Sekarang kau sudah lihat seperti apa lelaki yang kau rebut paksa itu kan? Kau tanyakan saja pada ibumu solusi terbaik, ayah tidak selicik ibumu itu ayah tidak tahu solusi terbaik untukmu." Adnan menggeleng, ia benar-benar tidak tahu hal apa yang harus dia lakukan sekarang.
Anandita mengangguk, dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke menuju ke arah pintu yang terbuka. "Kapan kau pulang, Ayah? Aku dan ibu mengkhawatirkan dirimu, kami ingin makan bersama denganmu seperti biasa." Setelah mengatakan itu Anandita melangkah pergi menjauh dari kantor.
Office boy masuk membawa minuman untuk Adnan, pria itu salah satu dari mereka yang tadi membersihkan ruang kerja Steve. "Ruangan itu sudah bersih, Tuan! Pakaian mereka juga sudah dibuang ke tempat sampah. Apalagi yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya office boy itu pada Adnan.
Adnan tampak berpikir, satu tangannya berada di dagu sedangkan tangan lain mengetuk sandaran tangan yang ada di kursi. Dia berpikir cukup lama namun tidak mendapatkan solusi untuk masalahnya saat ini.
"Biarkan saja dulu! Kalian lanjutkan saja pekerjaan yang lain," usir Adnan pada office boy itu.
Adnan memeriksa berkas-berkas yang telah tersusun rapi di atas mejanya dengan teliti, sesekali matanya akan melirik pada layar telepon selulernya seolah sedang menunggu panggilan dari seseorang.
Ananta di sisi lain terus memperhatikan apa yang Atlanta lakukan pada pelayan baru itu. Atlanta tampak begitu buas di ranjang, suara gerakan di ranjang makin lama makin keras dan cepat menunjukkan kalau energi Atlanta begitu kuat dan hebat.
Atlanta menengadah ke atas menikmati kelezatan yang disuguhkan di depannya itu, matanya terbuka dan menutup sesuai dengan gerakannya tubuhnya yang maju mundur. Apalagi saat dia mendengar suara merdu gadis di bawahnya yang terus memohon dan merintih, Ananta mendekat ke arah pasangan itu juga.
Ia melepas pakaiannya hingga tidak menyisakan apapun lagi lalu naik ke tempat tidur di mana wajah si gadis terpampang jelas. Ananta menyentuh bukit kembar si pelayan, mencubitnya keras membuat si pelayan muda itu memekik antara senang dan sakit.
Ananta meraih wajah Atlanta lalu saling menautkan bibir mereka, keduanya saling mencecap rasa tanpa mau melepaskan meski tubuh Atlanta masih sibuk bergerak turun naik tidak karuan. Si pelayan yang sejak tadi memejamkan mata terbelalak melihat adegan di depan matanya, mulutnya terbuka lebar dengan mata melotot nyaris ke luar dari tempatnya saat melihat adegan itu.
Ananta melepaskan tautan di bibir mereka, ia menjilati bibirnya dengan gerakan memutar lalu berpaling pada pelayan yang masih tidak mengerti tentang adegan di depannya. Ananta kembali mencubit puncak kembar si pelayan lalu bermain dengan mulut si pelayan.
"Kenapa? Kau terkejut? Kau mau mengatakan ini pada orang lain atau menggunakan alasan ini untuk mengancam kami?" tanya Ananta lembut tapi gerakan tangannya di bibir si pelayan semakin cepat.
Si pelayan menggeleng, dia tidak tahu harus berbuat apa meski apa yang Ananta katakan terlintas di benaknya. Dia yakin Ananta pasti punya sesuatu yang dapat membuatnya tutup mulut, dia melihat Ananta dengan tatapan bingung bercampur takut yang dibalas tawa lembut Ananta.
"Anak pintar, kau harus tutup mulut tentang masalah ini jika tidak ingin keluargamu terutama adikmu yang sakit-sakitan itu meninggal. Kau tahu bukan kalau kami punya ribuan cara untuk membuat dirimu tutup mulut, jadi kau tinggal pilih saja mana yang terbaik untuk dirimu dan keluargamu." Ananta berbisik di telinga si pelayan, ia bangkit lalu mendorong tubuh Atlanta hingga tautan antara si pelayan dan Atlanta terlepas.
"Kau pasti tidak menyangka bukan? Kenikmatan yang kau dapatkan beberapa hari ini adalah jebakan yang sengaja kami susun agar kau jatuh dalam permainan kami. Aku sangat puas melihat reaksi yang kau berikan saat aku masuk tadi, bagaimana kejutannya? Menyenangkan bukan?" Ananta memposisikan diri di samping si pelayan bersiap menerima Atlanta di dalam dirinya.
Rasa dingin menjalar di tubuh si pelayan, dia memang terbuai akan sikap manis serta bujuk rayu Atlanta itu sebabnya dia menyerahkan diri pada Atlanta begitu saja. Apalagi saat dia mendengar dari semua pelayan kalau Atlanta adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini, dia memang terlena akan perlakuan manis Atlanta di ranjang serta perhatian lebih yang Atlanta berikan padanya. Jika dia tahu akan seperti ini maka dia tidak akan tertipu sama sekali.
Atlanta bermain dengan cepat di dalam Ananta, dia bergerak tidak tentu arah untuk mendapatkan kesenangan. Saat mendapatkan pelepasannya Atlanta tampak begitu bahagia, dia melepaskan diri dari Ananta lalu berjalan ke lemari kamarnya di mana ada beberapa benda aneh tampak tersimpan rapi.
Dia mengambil benda panjang bulat dan dua penjepit aneh yang memiliki tombol di bagian sampingnya lalu berjalan kembali dengan santai ke tempat tidur. Pelayan muda yang berada dalam keadaan terikat itu tampak ketakutan, wajahnya memucat dengan cepat karena dia belum pernah melihat benda-benda aneh yang dipegang Atlanta.
Ananta di sisi lain langsung bangun dari tidurnya, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri membiarkan Atlanta bermain sepuasnya. Ananta menyunggingkan senyum aneh pada si pelayan muda sebelum masuk ke dalam kamar mandi menyebabkan pelayan itu gemetar ketakutan.
"Apa yang akan Anda lakukan, Tuan Muda?" tanyanya dengan suara bergetar, ia mencoba mengubah posisi tubuhnya dan bahkan mencoba melepas tangannya yang terikat namun harapannya tidak membuahkan hasil, semakin ia bergerak ikatan di tangan dan kakinya semakin terasa kuat.
Atlanta hanya tersenyum, dia berjalan ke sisi ranjang menaikinya dengan hati-hati lalu berdiri di antara ke-dua kaki si pelayan. "Bukankah kau ingin kesenangan Ratih? Aku akan memberimu itu, kau juga butuh uangkan maka aku akan memberimu dalam jumlah banyak."
Atlanta menekan pinggang Ratih erat lalu mendorong benda itu dengan kasar pada bagian pribadi Ratih, Ratih mendesis kesakitan saat benda itu menerobos dirinya. Setelah berhasil Atlanta menekan tombol on di benda itu menyebabkan benda itu bergerak dengan sendirinya menghadirkan sensasi aneh pada Ratih.
Dua benda lainnya yang ada di tangan Atlanta juga dipasang pada puncak kembar Ratih, sama seperti benda pertama Atlanta juga menekan tombol on hingga menyebabkan tubuh Ratih bergetar. Suara-suara aneh ke luar dari mulut Ratih dengan sendirinya membuat Atlanta meras bahagia, dia mengambil telepon seluler yang ada di atas meja merekam semua itu untuk koleksi barunya karena semua video tentang Amanda telah menghilang.
Ananta ke luar kamar mandi dengan pakaian rapi, dia berjalan membuka pintu lalu pergi meninggalkan kamar Atlanta tanpa berniat kembali lagi. Dia harus menyusun rencana yang bagus atas kemalangan Anandita yang disakiti oleh tunangannya.
"Halo," sapa Ananta dengan lembut saat dia berhasil menghubungi seseorang.
Ya, setelah ke luar dari kamar Atlanta tadi Ananta langsung ke kamarnya mencari di daftar kontak seseorang yang bisa membantunya menyebar luaskan foto perselingkuhan tunangan Anandita. Setelah mendapatkan kontak orang itu Ananta langsung menghubunginya dengan segera
"Halo kembali, apa yang kau inginkan kali ini? Anak dari keluarga mana yang akan mengalami kehancuran?" tanya orang itu dari seberang seolah dia sudah hapal gerak-gerik Ananta.
Ananta yang mendengar itu langsung tertawa lebar, dia berjalan ke jendela memandang taman yang tampak layu padahal cahaya pagi matahari tidak terlalu menyengat. "Kau tahu betul siapa aku, kali ini aku ingin kau menyebar beberapa foto dan video ke media sosial. Aku ingin orang yang berada di dalam foto dan video itu hancur sehancur-hancurnya hingga dia tidak bersisa sedikitpun."
Ananta mengatakan apa yang ingi dikatakannya lalu memutus sambungan komunikasi di antara mereka karena dia memang tidak ingin terlalu banyak bicara. Setelah panggilan terputus, dia mengirim foto beserta video itu secara berurutan lalu dia mengirim pesan suara yang mengatakan kalau anaknya yang sedang hamil disakiti oleh kedua orang di foto.
Tidak sampai setengah jam, beberapa media mulai terlihat heboh dengan berita paling atas di pencarian, sosok tanpa sehelai benang itu tampak begitu intim di sebuah ruangan. Apalagi pakaian mereka yang berserakan terlihat jelas di dalam rekaman, berita heboh itu langsung membuat keluarga Steve naik darah.
Mereka menyuruh beberapa orang untuk menghapus video yang tersebar namun harapan hanya harapan, berita itu telah menyebar dengan luas dan bahkan Adnan terus menghubungi keluarga Steve meminta solusi atas video yang tersebar luas itu. Steve yang saat ini telah membawa si wanita itu ke apartemen miliknya bahkan tidak mengetahui berita itu, dia masih sibuk mencari kesenangan dengan si wanita tanpa tahu kalau keluarganya sedang mencari dirinya.
Anandita memeriksa telepon selulernya, betapa terkejutnya ia saat mengetahui kalau video Steve telah tersebar luas, air matanya kembali jatuh dengan cepat. Buru-buru ia turun dari mobil untuk mencari keberadaan Ananta karena Anandita yakin Ananta lah yang menyebabkan hal ini diketahui oleh media.
Saat sampai di dalam rumah, Anandita melihat Atlanta berjalan ke luar dengan pelayan muda yang baru dipekerjakan ibunya. Jalan wanita itu tampak aneh karena kedua kakinya terlihat merapat dengan suara tertahan yang terdengar jelas, baju seksi yang dipakai wanita itu lebih terlihat seperti para wanita di tempat hiburan dengan kaus kaki panjang hingga ke paha bewarna putih.
Anandita tidak ambil pusing bahkan saat mereka berpapasan sekalipun Anandita tidak peduli pada rintihan pelayan itu. Mulutnya mendesis meski si pelayan sudah mencoba sekuat tenaga untuk tidak bersuara, Atlanta memaksa pelayan itu berjalan ke dapur menyuruhnya berdiri di depan tempat cuci piring.
Anandita sampai di kamar Ananta, tanpa mengetuk pintu Anandita langsung masuk ke dalam kamar. Ia menemukan Ananta tengah berbicara kasar dan penuh amarah dengan telepon terletak di dekat telinganya. Ananta memaki serta menghina orang di seberang lalu menutup telepon dengan cepat seolah tidak ada yang terjadi lagi.
Hentakan kaki yang menggema di dalam ruangan tidak mengganggu Ananta sama sekali, dia sibuk membalas pesan yang masuk serta mengirim pesan ke berbagai nomor yang ada di kontak telepon selulernya. Anandita duduk di sebelah Ananta, dia tampak merajuk dengan bibir bergerak maju membuatnya tampak aneh.
"Ada apa? Apa kau tahu di mana Steve? Ayo kita ke sana!" ajak Ananta saat Anandita duduk di sebelahnya.
Anandita tampak merajuk, dia mencebik kesal dengan tangan seperti ingin mencubit Ananta. "Bu! Kenapa kau menyebarkan semua video dan foto itu? Apa kau tahu aku masih ingin bersama dirinya? Aku akan memaafkan Steve sekali ini." Anandita berusaha menyakinkan Ananta tapi Ananta terlihat tidak peduli.
Ananta menatap tajam Anandita, ia meletakkan telepon yang dipegangnya secara asal lalu berdiri dengan tangan terlipat ke d**a. "Apa? Kau ingin menentang ibumu ini? Iya? Lebih baik kau mengambil calon suami Sisil, pria itu jauh lebih kaya dan lebih baik dari Steve. Dia rela meninggalkan Sherly demi dirimu dan sekarang dia melakukan perbuatan seperti itu dengan orang lain apa menurutmu dia masih bisa diberi kepercayaan lagi?"
Tidak memberi Anandita kesempatan menjawab, Ananta langsung menarik Anandita agar bisa mengikuti dirinya. Anandita dengan pasrah langsung mengikuti langkah kaki Ananta.