Ananta mengambil botol kecil di atas meja, memasukkan benda itu ke dalam tas lalu meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Ananta menaiki mobil Anandita meminta untuk di antar ke tempat Steve saat ini berada.
"Di mana dia sekarang?" tanya Ananta kesal sambil melirik jam tangan yang dipakainya.
Ananta mengambil cermin kecil di dalam tasnya memperhitungkan wajahnya yang terlihat mulai muncul beberapa kerutan. Ananta mencubit bagian yang mengalami kerutan lalu mendecakkan lidahnya, beban pikiran yang dialami Ananta beberapa hari ini menyebabkan kerutan samar itu terbentuk dengan cepat.
Ananta yang melihat orang berjualan di tepi jalan langsung menghentikan Anandita membuat Anandita mengerem mendadak dan hampir menabrak orang lain.
"Kau kenapa sih, Ibu? Kalau kita mengalami kecelakaan bagaimana?" tanya Anandita kesal namun dia tetap menepikan mobilnya.
Ananta buru-buru turun, dia membeli dua botol air mineral kemasan membayarnya segera lalu naik ke atas mobil menyuruh Anandita melaju dengan cepat ke apartemen Steve.
"Lekas ke sana!" perintah Ananta saat Anandita menyetir dengan pelan.
Laju kendaraan semakin dipercepat, Anandita sampai di lobi apartemen Steve, dia memarkir mobil di luar apartemen lalu turun untuk membayar parkir. Saat Anandita membayar uang parkir barulah Ananta turun dari mobil, dia menyerahkan sebotol air mineral pada Anandita untuk dikonsumsi.
Anandita menerima air itu, menenggaknya hingga tinggal setengah lalu buru-buru berjalan menuju lift agar bisa segera sampai di lantai tempat kamar Steve berada. Ananta tersenyum senang saat melihat itu, buru-buru dia minum air miliknya lalu meraih air Anandita menggantinya dengan air yang dia minum tadi.
Ketika Anandita lengah, air milik Anandita yang diambilnya tadi dibuang begitu saja ke tong sampah, Ananta melanjutkan langkah dengan santai di belakang Anandita melirik pada jam tangan mahal yang selalu ia bawa ke mana-mana itu. Senyum menyeramkan yang Ananta berikan sedikitpun tidak diketahui oleh Anandita, mereka sampai di depan kamar Steve dengan cepat.
Anandita menekan kode kamar yang diberikan Steve lalu masuk begitu saja karena dia tidak menaruh curiga sama sekali, saat masuk ke dalam Anandita terpaku di tempatnya. Matanya menatap tidak percaya pada wanita tadi pagi yang ia temui sedang bermesraan dengan Steve di kantornya.
Wanita itu memakai kemeja kebesaran milik Steve tanpa pakaian dalam, dia berjalan begitu bebas di dalam apartemen Steve sedang mengumpulkan barang-barang mahal yang sengaja Anandita tinggalkan di sana. Wanita itu tampak bahagia saat mencoba pakaian, tas dan sepatu mahal Anandita.
Saat ia melihat Anandita masuk hanya ada senyum kemenangan di bibirnya, secara asal wanita itu melempar tas mahal Anandita ke sofa lalu ia berjalan mendekat ke arah Anandita. Langkah kakinya yang membawa gerakan centil serta menggoda memang akan membuat siapa saja tergiur.
Kaki jenjang wanita itu terlihat mulus, putih bersih tanpa cacat ataupun bekas luka. Matanya cerah, ia seperti peri tanpa dosa yang turun ke bumi jika kita melihatnya hanya melalui tatapan mata saja, Anandita semakin murka melihat itu.
Ia juga ikut melangkah maju bersiap menyerang wanita itu, satu tangan Anandita terangkat bersiap untuk menampar si wanita namun si wanita malah bergerak ke samping menghindari gerakan Anandita. Hal itu semakin membuat Anandita kesal, Anandita ingin menyerang lagi namun tangannya ditahan oleh wanita itu.
"Apa? Kau ingin memperlihatkan dirimu kuat padaku iya? Maaf, aku bukan orang yang mudah ditindas, buang saja mimpimu itu jauh-jauh. Aku bukan adik tirimu yang lemah dan mudah menyerah," ejek wanita itu dengan seringai kecil di bibir.
Dia mendorong Anandita kuat menyebabkan Anandita tersandung oleh karpet jatuh mengarah ke meja membuat perutnya terbentur. Anehnya Anandita yang kuat tadi menghilang berganti dengan Anandita yang lemah tidak bertenaga, dengan mudahnya perut Anandita membentur meja membuat Anandita berteriak kesakitan dengan air mata mengalir begitu deras.
Saat itulah Steve yang mendengar keributan langsung berjalan ke luar kama, tubuhnya hanya berbalut handuk sampai ke pinggang. Melihat Anandita di lantai dan si wanita yang berdiri tegak tanpa rasa bersalah sama sekali Steve berada di dalam dilema.
Steve berniat menghampiri Anandita namun melihat darah merah segar yang ke luar dari kaki Anandita wajahnya langsung memucat, Steve melangkah mundur tanpa sadar dan hampir tersandung sofa. Steve menatap pada wanita yang berdiri di depan Anandita, wanita itu juga merasa takut sama seperti Steve dia juga melangkah mundur dengan sendirinya.
"Aku tidak sengaja melakukannya! Aku benar-benar hanya ingin mendorongnya saja, aku tidak tahu kalau dia hamil!" tutur wanita itu ketakutan.
Saat itulah Ananta buru-buru masuk, dia berpura-pura terkejut saat melihat kondisi Anandita di lantai lalu berteriak dengan keras. "Apa yang kalian lakukan, ha? Cepat bawa dia ke rumah sakit!" perintah Ananta lagi saat dia melihat kedua orang di ruang itu masih berdiri dengan tubuh gemetar.
Mendengar itu, Steve langsung bergerak maju. Dia melangkah menuju Anandita meraih tubuhnya lalu berjalan cepat menuju ke luar. Darah segar masih terus menetes di sepanjang jalan meninggalkan jejak basah menakutkan, wanita itu buru-buru mengambil baju di dalam kamar Steve lalu pergi dari sana secepat mungkin.
Anandita meringis, air matanya jatuh tanpa henti apalagi saat dia merasa ada kekosongan di dalam perutnya. Rasa perih dikhianati oleh Steve hilang begitu saja tergantikan dengan kesedihan yang begitu luar biasa.
Steve buru-buru menaiki mobil Anandita membawa Anandita ke rumah sakit terdekat agar bisa mendapatkan pertolongan pertama. Steve bahkan tidak sadar kalau dirinya hanya memakai handuk saja ke rumah sakit, dia berdiri di depan UGD menunggu kabar terbaru Anandita bersama Ananta.
Rasa bersalah menyeruak di dalam hati Steve saat melihat tangannya tertutup darah merah. Saat mereka merasa putus asa dokter ke luar dari dalam ruangan dengan wajah sedih, dia menatap Steve dan Ananta bergantian lalu menggeleng.
"Janinnya tidak tertolong, benturan keras di perutnya menjadi penyebab utama. Sekarang pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang inap, pastikan untuk membiarkan pasien istirahat terlebih dahulu." Setelah menyampaikan berita itu dokter yang menangani Anandita berlalu pergi.
Anandita didorong ke luar dari UGD menuju ruang rawat inap, Ananta mengikuti dari belakang bersama Steve yang masih terlihat ketakutan. Setelah sampai di ruang rawat inap Steve menghembuskan napas lega namun ternyata masalah tidak sampai di sana.
"Ganti bajumu terlebih dahulu lalu kembali ke sini menemani Anandita, jika terjadi sesuatu pada putriku maka kau akan melihat seperti apa kemarahanku!" ancam Anandita dengan telunjuk menunjuk hidung Steve.
Steve buru-buru ke luar kamar inap, ia langsung berlari cepat menuju tempat parkir lalu mengemudi ke apartemennya kembali. Sesampainya di sana Steve terkejut bukan main saat barang-barang miliknya dilempar ke luar oleh beberapa orang, mereka berpakaian serba hitam dengan tampang sangar seperti preman di pasar.
"Apa-apaan ini?" tanya Steve tidak terima saat melihat semuanya berserakan di luar.
Salah satu dari beberapa orang yang datang melangkah maju, dia berdiri di depan Steve dengan tangan terlipat di d**a menatap Steve dengan pandangan meremehkan. Steve menciut, dia langsung mundur beberapa langkah namun masih enggan untuk menyerah pada keadaan.
"Ini milikku! Apartemen ini adalah hadiah yang diberikan orangtuaku padaku, kalian jangan berbuat seenaknya seperti ini. Ini dibeli lunas jadi tidak ada hak kalian untuk mengambilnya dariku," tutur Steve keras meski takut.
Pria itu bergerak maju beberapa langkah, dia mengeluarkan surat bukti pembelian apartemen lalu memperlihatkan itu pada Steve. Di atas sana tertulis nama Sherly sebagai pembeli yang membuat Steve terkejut namun tidak curiga kalau Sherly yang ditulis di sana adalah mantan tunangannya.
Steve ingin merebut kertas itu namun si pria kekar langsung menolak, dia menyimpan kertas bukti pembelian lalu membiarkan yang lain mengeluarkan barang-barang yang tersisa dari dalam. Steve masih tidak percaya, melihat telepon selulernya di tumpukan baju Steve langsung mengambil benda itu untuk menghubungi anggota keluarganya.
"Halo, Kak! Kenapa barang-barang milikku dikeluarkan dari apartemen yang dibelikan ayah? Kenapa mereka mengatakan kalau apartemen ini telah dijual?" tanya Steve bingung tanpa rasa curiga.
Pria yang dihubungi Steve tidak menjawab, dia diam cukup lama lalu batuk-batuk beberapa kali. "Ayah yang menjualnya, tempat itu ditawari dengan harga mahal oleh seseorang. Kau tahu kan kalau perusahaan kita saat ini membutuhkan biaya untuk bangkit lagi itu sebabnya ayah menjual apartemen milikmu."
Steve yang awalnya percaya diri langsung kehilangan nyali, dia menatap pada pria sangar yang berdiri di depan apartemennya lalu mengambil barang-barang yang berserakan membawanya satu-persatu menuju tempat mobilnya terparkir. Steve menemukan kunci mobil miliknya di dalam koper baju lalu menyusun semua pakaiannya ke dalam mobil.
Saat itulah Steve memakai pakaiannya lalu menuju rumah sakit karena harapannya satu-satunya saat ini adalah Anandita. Steve berharap Anandita mau memaafkannya, Steve akan membujuk Anandita untuk memulai kehidupan baru lagi.
Sesampainya di rumah sakit Steve berjalan menuju ke kamar inap Anandita, tidak lupa dia membeli seikat mawar serta sekeranjang buah untuk membesuk Anandita. Senyum palsu tercetak di bibirnya, Steve tidak merasakan tatapan tajam yang diberikan orang-orang di rumah sakit padanya karena tujuannya saat ini adalah mendapatkan kembali hati Anandita.
Steve sampai di depan ruang rawat, dia membuka pintu perlahan hanya untuk menemukan Adnan menatap dirinya dengan pandangan bermusuhan. Di ranjang, Anandita sudah terbangun, dia masih menangis sesenggukan dengan tangan memegang perutnya.
Ananta di sisi lain duduk di samping tempat tidur terus berbisik pada Anandita seolah sedang menghibur padahal sebenarnya dia sedang menghasut Anandita agar menuntut ganti rugi atas kehilangan janinnya. Ananta terus membisikkan sesuatu pada Anandita, mengatakan keuntungan perpisahan yang terjadi antara dirinya dan Steve.
Melihat pintu terbuka Anandita menengadah, dia melirik Steve asal lalu kembali menunduk sedih. Dia merasa apa yang dikatakan oleh Ananta adalah sebuah kebenaran, jika dilihat dengan seksama pacar Sisil saat ini memang lebih kaya dari mereka.
Steve melangkah masuk meski ragu-ragu, dia berjalan menuju ranjang namun belum sempat mendekat langkah kakinya langsung dihentikan oleh Adnan.
"Apalagi yang kau inginkan? Belum puas kau menghancurkan hati putriku? Apalagi yang kau cari di sini ha?" tanya Adnan tidak terima.
Adnan menghadang jalan Steve dengan tubuhnya membuat Steve tidak bisa maju lagi. Steve terlihat kesal namun sekuat mungkin dia menahan diri agar tidak menimbulkan pertengkaran yang semakin besar. Penolongnya saat ini adalah Anandita jadi dia harus menyerah pada keadaan, dia harus mengalah terlebih dahulu agar bisa menang.
"Sayang! Tolong bujuk ayahmu! Tolong katakan padanya bahwa aku akan berubah, aku berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi! Aku juga berjanji kalau ini adalah kesalahan terakhir yang aku lakukan padamu," bujuk Steve pada Anandita dengan suara yang begitu lemah lembut.
Anandita terlihat tidak peduli, sedikitpun dia tidak berniat untuk mengangkat kepala, bagi Anandita sekarang rayuan Ananta adalah sesuatu yang menggiurkan. Dia tidak ingin memperbaiki masalah ini lagi, apalagi saat ini perusahaan keluarga Steve sedang mengalami masalah dan hampir bangkrut.
Anandita tidak menjawab ucapan Steve, dia meraih tangan Ananta seolah takut lalu menangis lebih keras. "Aku ingin memutuskan hubungan pertunangan kami, aku ingin dia masuk penjara karena telah menghilangkan nyawa anakku yang belum lahir. Ayah! Semua ini kesalahannya, aku ingin Ayah memberinya pelajaran yang setimpal." Anandita menangis lebih keras saat mengatakan itu.
Adnan semakin marah, dia meraih kerah kemeja Steve menyeret Steve ke luar dengan amarah besar lalu mendorongnya. Adnan ingin memukul Steve namun ketika mengingat dia bisa mendapat hukuman Adnan langsung mengurungkan niatnya.
Saat Adnan akan masuk ke dalam kamar inap kebetulan keluarga Steve datang terburu-buru, ada ayah dan ibu Steve serta kakaknya yang menjalankan perusahaan keluarga. Melihat Steve di lantai bukannya menolong keluarga Steve malah mengejar Adnan meminta maaf.
"Tuan Adnan maafkan kesalahan putraku, dia khilaf! Tolong beri ia kesempatan untuk berubah kami berjanji dia tidak akan mengulangi hal ini lagi." Ibu Steve memohon, wanita paruh baya itu melangkah maju berusaha meraih tangan Adnan namun gerakannya langsung dihentikan oleh Ananta yang buru-buru berlari ke luar.