Ananta mendorong Adnan masuk ke dalam ruang rawat Anandita lalu menutup pintu dari luar, dia melihat keluarga Steve dengan tatapan peringatan. Tangan Ananta terlipat di d**a, dia tersenyum mencemooh menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu masuk.
"Apa yang kalian inginkan? Aku tahu kedatangan kalian ke sini bukan hanya ingin meminta maaf soal kelakuan putra kalian saja kan? Aku dengar perusahaan kalian mengalami masalah dan hampir menjadi bangkrut apa kalian ke sini ingin meminta bantuan suamiku?" Pertanyaan Ananta begitu tepat sasaran karena hal itu langsung membuat keluarga Steve diam tidak berkutik.
Ananta melirik ketiga orang itu dengan pandangan meremehkan, pandangan yang dulu diberikan orang-orang padanya sebelum ia menikahi Adnan.
"Kami akui putra kami memang bersalah dalam hal ini, kali ini kami mohon berikan ia kesempatan lagi! Kami berjanji dia tidak akan mengulangi hal ini lagi." Kali ini ayah Steve yang berbicara, pria itu tanpa malu berjalan mendekat ke arah Ananta dengan senyum manis.
Risih dengan tatapan ayah Steve, Ananta menggeser posisi berdirinya. "Aku tidak akan memaafkan keluarga kalian, hari ini aku katakan dengan sangat jelas pada kalian semua. Aku ingin biaya ganti rugi atas kegagalan pertunangan ini, aku ingin semua uang yang telah kami berikan dikembalikan lagi. Oh, putriku mengalami keguguran karena putramu dan biaya perawatannya selama di rumah sakit akan ditanggung oleh kalian semua."
Setelah mengatakan itu pada keluarga Steve, Ananta langsung masuk ke dalam ruangan. Ia mengunci pintu ruang rawat agar tidak terganggu lalu menghubungi satpam rumah sakit untuk mengusir keluarga Steve dari sana.
Di dalam ruang rawat Adnan telah berhasil membuat Anandita tenang, Adnan memaksa Anandita untuk tidur agar dirinya bisa pulang sebentar menemui Amanda. Melihat Ananta masuk sebuah ide melayang di dalam pikiran Adnan, kebetulan telepon seluler Adnan juga berbunyi di saat yang begitu tepat.
"Halo," jawab Adnan pelan, Adnan memberi kode pada Ananta agar Ananta diam dan tidak berbicara.
Adnan mendengar penuturan orang di seberang lalu menjawab, "baik, saya akan segera ke kantor sekarang juga. Siapkan materi meeting hari ini! Oh, kumpulkan semuanya di ruang meeting kita akan membahas masalah ini juga nanti dengan karyawan yang mendapatkan tugas."
Setelah mengatakan itu Adnan memutuskan sambungan komunikasi mereka lalu menyimpan telepon itu di dalam kantong celana, Adnan melihat Ananta dengan perasaan bersalah karena tidak bisa menemani Ananta merawat Anandita di rumah sakit.
"Tidak apa-apa! Kau pergi saja bekerja, kami tidak masalah kau tinggalkan. Maafkan aku tidak bisa menemanimu saat kau pulang!" pinta Ananta lembut dengan suara menggoda.
Adnan berjalan ke arah Ananta, mengecup kening Ananta lembut lalu pergi dari sana secepat mungkin. Adnan masuk ke mobilnya, ia langsung menuju kantor, memarkir mobilnya di tempat parkir kantor lalu berjalan menuju ke apartemen tempat Amanda tinggal.
Ia menaiki lift menuju rumah Amanda, sesampai di depan kamar ia mengetuk pintu kebetulan yang membuka pintu adalah pelayan yang Adnan pekerjakan merawat Amanda. Adnan buru-buru masuk, lalu membiarkan pelayan itu melihat keadaan sekitar dengan cara berpura-pura membuang sampah ke bawah.
Adnan mencari keberadaan Amanda yang ternyata sedang menonton televisi di kamar mereka. Amanda duduk bersandar di tempat tidur dengan makanan ringan di sampingnya, ia tampak fokus pada layar televisi hingga tidak sadar akan kedatangan Adnan ke sana.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Sayang? Apakah kau baik-baik saja?" bisik Adnan lembut sembari mengelus kepala Amanda dengan penuh kasih sayang.
Amanda yang terkejut dengan kedatangan Adnan yang tiba-tiba langsung melonjak kaget, makanan di tangannya hampir saja tumpah. "Kau mengagetkan diriku! Kalau aku jantungan bagaimana?" tanya Amanda manja sambil mencubit pinggang Adnan.
Cubitan lembut Amanda membuat Adnan tertawa, Adnan merengkuh Amanda ke dalam pelukannya lalu menyatukan bibir mereka. Lama mereka bermesraan hingga Adnan menghentikan gerakan tangannya di perut Amanda, Adnan mengecup perut Amanda lama lalu naik ke tempat tidur memeluk Amanda dari samping.
"Anandita keguguran! Bayinya tidak bisa diselamatkan akibat benturan yang ia terima, Ananta padahal ada di sana tapi dia tidak bisa melindungi putrinya dari bahaya seperti itu." Adnan mengeluh pada Amanda, kepalanya ia letakkan di bukit Amanda membuat Amanda sedikit susah menonton televisi.
Amanda menggeser posisinya, ia melirik Adnan lalu pada televisi lagi seolah ingin berbicara tapi ragu. Dia takut apa yang akan dikatakannya akan membuat Adnan marah, melihat itu Adnan mengecup pipiku Amanda sayang.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Aku janji hanya akan mendengarkan tanpa memarahi dirimu sedikitpun." Adnan menggenggam tangan Amanda.
"Aku takut itu adalah rencana Ananta, kau ingat dia pernah mengatakan kalau pacar Sisil saat ini adalah orang kaya bukan. Kekayaan pria itu bahkan melebihi kekayaan kalian, aku rasa ini adalah salah satu rancangan Ananta agar Anandita terbebas dari Steve tapi mereka tidak mengalami kerugian." Amanda mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Dia melirik Adnan sambil menghela napas, "Ananta itu licik, dia akan menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan kekuasaan dan kekayaan. Ananta tidak peduli dosa ataupun hukum karena baginya uang dan kekuasaan dapat membeli segalanya." Sekali lagi apa yang dikatakan Amanda adalah kebenaran.
Adnan tampak berpikir, dia mulai menyusun semua hal yang pernah dilakukan Ananta lalu menyimpulkan sendiri apa yang terjadi saat ini dengan sendirinya. Kemarahan yang dia rasakan untuk keluarga Steve langsung menghilang digantikan kekesalannya pada Ananta.
"Saran ku sebaiknya kita keluarkan Ananda dari rumah itu segera, Ananda itu gadis baik sayang jika dia dirusak oleh ibunya. Kirim dia ke luar negeri kalau bisa agar hubungannya dengan Ananta terlepas." Amanda telah memikirkan ini sejak lama hanya saja dia tidak sempat mengatakannya pada Adnan.
Selagi lagi Adnan dibuat khawatir, Ananda adalah gadis polos dan murni jika dia ikut dirusak oleh Ananta maka tidak ada lagi putrinya yang baik hati. Adnan mengeluarkan telepon selulernya, dia menghubungi seseorang untuk mengurus kepergian Ananda..
Melihat reaksi Adnan Amanda merasa puas, Amanda tidak ingin Ananda dirusak oleh Ananta demi kekayaan dan harta. Sudah cukup dirinya dirusak oleh Ananta, dia tidak ingin ada korban lain, ada gadis lain yang kehilangan keluguannya hanya karena materi.
Setelah selesai berbicara dengan orang di telepon Adnan kembali memeluk Amanda, tangannya menyentuh perut rata Amanda berharap di dalam sana segera hadir buah cinta mereka. Adnan takut jika ditunda lagi maka harapannya untuk mengikat Amanda akan pupus, Adnan memeluk Amanda semakin erat, berbagai cara dipikirkan Adnan di dalam otaknya agar bisa segera mempunyai anak dari Amanda.
"Ada apa?" tanya Amanda bingung saat merasakan perubahan Adnan.
Amanda mengangkat kepala Adnan melihat wajah tua yang sendu itu dengan pandangan aneh. Amanda coba memikirkan perkataannya barusan namun dia tidak dapat menemukan jawaban atas kesalahan yang telah ia lakukan.
"Apa ada perkataan ku yang salah?" tanya Amanda tidak mengerti, Amanda memperbaiki posisi duduknya namun ia kesusahan karena terhalang bobot tubuh Adnan.
"Tidak ada yang salah dengan perkataanmu barusan, hanya saja aku sudah tidak sabar menunggu kehamilanmu. Aku ingin buah cinta segera hadir di dunia ini," bisik Adnan parau.
Adnan menyembunyikan wajahnya di leher Amanda menghirup aroma parfum yang Amanda kenakan, Adnan bangkit dari tempat tidur. Ia mengunci pintu lalu melepas pakaian yang dikenakannya, dia langsung menerkam Amanda berharap apa yang ia inginkan segera terpenuhi.
Hari itu Adnan tidak jadi ke kantor, ia menemani Amanda di rumah. Karena Adnan ada maka pelayan yang bertugas setelah selesai memasak langsung diizinkan untuk pulang hingga pasangan itu bebas melakukan apa saja di dalam rumah mereka.
Sisil yang mendapat kabar tentang Anandita hanya tersenyum simpul, sedikitpun dia tidak merasakan apa-apa terhadap kemalangan Anandita sebab dia tahu semua pasti sudah dalam perhitungan Ananta.
"Kak, balas dendam kita telah dimulai sekarang! Pria itu, dia yang telah membuat dirimu seperti ini sudah sekarang sedang menjalani hukuman. Perusahaan keluarganya sebentar lagi akan bangkrut, mereka juga sudah mulai menjual barang-barang mereka. Apartemen yang dulu kau inginkan juga sudah aku dapatkan," tutur Sisil lembut pada Sherly yang masih tidur nyenyak.
Keadaan Sherly sudah meningkat dengan pesat, kondisi tubuhnya sudah mulai membaik begitu pun dengan mentalnya yang sempat down. Sekarang mereka hanya harus melewati proses penyembuhan di mana akan memakan waktu yang sangat lama.
"Aku berhasil membuat mereka jatuh, Kak! Aku menjual hati nuraniku serta tubuhku untuk kebahagiaan kita. Tidak masalah aku menjadi orang jahat seperti mereka asalkan kau sembuh dan dendam kita terbalaskan aku puas akan itu." Sisil menatap jauh ke depan.
Dendam, sakit hati serta kebencian miliknya yang terpendam lama hari ini akhirnya mulai dibalaskan satu-persatu meskipun prosesnya lambat. Dia sudah berhasil membuat keluarga Steve bangkrut dan hari ini dia akan memperlihatkan pada Steve seperti apa pembalasan yang sebenarnya.
Sisil bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan ke jendela lalu memeriksa telepon seluler yang diberikan Farrel apakah ada notifikasi masuk atau balasan pesan dari Farrel. Lama Sisil berdiri di jendela memandang gedung-gedung tinggi yang ada di sekitar rumah sakit, melihat tidak ada tanda-tanda Sherly akan bangun Sisil memilih mengemasi perlengkapannya.
Sisil berniat datang ke kediaman Steve untuk mengambil perusahaan serta rumah yang mereka tempati sekarang. Di luar sudah ada beberapa bodyguard suruhan Farrel yang menunggu, melihat Sisil ke luar empat dari delapan orang itu langsung bersiap.
"Hari ini kita akan pergi ke rumah Steve, kita akan mengambil rumah serta barang-barang miliknya sebagai ganti rugi uang yang dipinjamkan Farrel pada mereka." Sisil melangkah perlahan menuju ke lift.
Dia sudah menyiapkan hadiah besar untuk keluarga Steve dan hadiah itu akan dikirim hari ini juga. Sisil tidak sabar untuk melihat bola mata Steve melotot ketika melihat dia yang sudah membeli rumah serta yang mengambil alih perusahaan milik keluarga Steve.
Di tempat parkir sopir yang mengantar Sisil ke manapun sudah bersiap, dia membuka pintu ketika melihat kedatangan Sisil meski Sisil masih jauh dari tempatnya berdiri. Sisil melempar senyum pada sopir itu lalu naik ke atas mobil di bagian penumpang, di sisi lain salah satu pengawal naik ke bagian samping kemudi.
Selebihnya menaiki kendaraan khusus mereka di mana sopir dari kendaraan itu juga telah disediakan oleh Farrel. Sopir mengemudi sesuai dengan arah tujuan Sisil, mereka mengemudi dengan cepat hingga sampai di kediaman Steve di komplek perumahan mewah.
Saat ini keluarga Steve telah sampai di rumah, mereka diusir secara tidak terhormat. Ketika menginjakkan kaki di rumah orang suruhan Ananta berserta pengacara miliknya juga datang menuntut biaya ganti rugi.
Keluarga Steve memandang Steve dengan mata merah penuh kebencian, mereka kesal lantaran Steve membuat harapan mereka untuk tidak jadi bangkrut hancur. Kakak Steve melempar Steve dengan kertas hutang milik mereka, dia benci dengan kesalahan yang telah Steve lakukan tapi tidak sadar akan apa yang telah ia perbuat.
Padahal, perusahaan mengalami kebangkrutan gara-gara dia salah menanam saham, hanya bisa bermain judi di sana-sini serta suka menghamburkan uang untuk kesenangan bersama wanita. Steve yang menjadi karung tinju keluarganya sebagai pelampiasan kesalahan yang kakak tampak tidak terima.
"Apa? Aku hanya mengikuti apa yang Kakak lakukan saja, kalian hanya bisa memarahiku tapi kalian tidak berani menyalahkan Kakak. Aku tidak pernah memakai uang perusahaan untuk bersenang-senang, aku menggunakan gaji yang aku dapatkan dengan keringatku sendiri." Steve melawan.
Dia berdiri dari duduknya lalu menunjuk wajah kedua orangtuanya yang tidak pernah bersikap adil padanya. Steve marah, dia benci akan perbedaan yang selalu dia dapatkan.
"Kau, kau yang menggunakan uang perusahaan untuk judi dan menyewa wanita lalu kenapa aku yang disalahkan untuk itu, ha? Kalian cari saja solusi masalah kalian toh perusahaan ini juga tidak akan pernah jatuh ke tanganku. Aku lelah dengan sikap kalian padaku," bentak Steve kesal.
Steve memilih untuk pergi, ia mengambil kunci mobilnya di atas meja namun baru beberapa langkah pintu dibuka dari luar. Orang-orang Farrel masuk ke dalam melindungi Sisil dengan baik di segala sisi. Kehadiran Sisil membuat keluarga Steve terkejut, apalagi Farrel yang berdiri di posisi paling depan.