Pintu gerbang rumah Farrel hari ini dibiarkan terbuka lebar karena hari ini di rumahnya ada acara, beberapa pejabat penting diundang datang bahkan beberapa mafia kelas kakap di negara itu juga diundang untuk datang. Makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja saat satu-persatu para tamu undangan mulai berdatangan.
Farrel duduk di kursinya menunggu semua orang datang sembari menikmati alunan musik lembut yang terdengar di dalam aula pertemuan. Musik lembut ini adalah musik kesukaan Angela, Farrel sangat menyukai apa saja yang aku sukai mulai dari bunga hingga kebiasaan kecil Angela diketahui oleh Farrel dengan baik.
Farrel menghembuskan asap rokoknya ke udara, rokok di tangannya juga hanya tinggal separuh saja. Ruangan yang tadinya sepi mulai terdengar ramai bahkan musik lembut itu mulai tidak terdengar lagi akibat suara percakapan orang-orang di dalam ruangan.
Makanan di atas meja juga mulai disantap oleh beberapa orang, mereka tampak menikmati suasana acara yang tidak terlalu berisik. Farrel terus memperhatikan wajah-wajah orang yang datang dari balik kaca hitam yang ada di aula pertemuan itu.
Sejak awal dia mengambil alih posisi ini tidak pernah sekalipun ia menampakkan diri ataupun wajahnya ke hadapan mereka. Jika pun harus menghadiri pertemuan maka tangan kanannya lah yang akan muncul dan mengaku sebagai dirinya.
Farrel melambaikan tangan pada pria yang sejak tadi berdiri di belakangnya lalu menunjuk pada seseorang yang saat ini tengah asyik berbicara dengan beberapa orang. Orang yang ditunjuk Farrel adalah seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut pirang panjang hingga ke pinggul, dia berbicara dengan senyuman manis yang tidak pernah hilang dari bibirnya
"Kau bawa wanita itu ke kamarku di lantai atas, ikat dia di ranjang! Jangan sampai ada orang yang tahu kalian membawanya ke kamarku! Hapus jejaknya seolah dia tidak pernah datang ke sini," perintah Farrel kemudian dengan senyum aneh di bibir.
Farrel terus memperhatikan mereka yang datang ke pesta sekaligus pertemuan besar-besaran antar sesama rekan kerjanya itu. Farrel memperhatikan gerak-gerik tamu yang datang menahan diri untuk tidak pergi, sekitar setengah jam pria yang tadi diperintahkan oleh Farrel telah kembali. Dia berjalan menuju ke belakang Farrel menyembunyikan tangannya di punggung lalu berdiri seperti tadi.
"Tugas telah diselesaikan, Tuan! Wanita itu dalam sudah terikat di kamar Anda dalam keadaan pingsan saat ini. Semoga ketika Anda kembali nanti dia sudah bangun!" ucap orang itu santai tanpa rasa bersalah sama sekali.
Farrel mengangguk, dia terus memperhatikan tamu yang datang meminum cairan merah yang ada di gelas lalu menyemburkan asap rokok ke udara.
"Bagaimana organ-organ baru yang kita dapat? Apakah semua sudah dikirim ke rumah sakit yang membelinya?" tanya Farrel santai sambil memutar cairan yang ada di dalam gelas dengan cara menggoyang gelas.
Pria di belakang menggeser posisi tubuhnya, dia mengambil telepon selulernya membuka file yang ada di dalam sana satu-persatu dengan hati-hati. "Sudah, Tuan! Semua sudah sampai di rumah sakit langganan kita dan uangnya juga sudah dikirimkan." Pria itu menjawab dengan cepat setelah mendapatkan jawaban.
"Bagaimana dengan senjata yang kita produksi? Apakah mereka sudah dikirimkan ke tempat perang itu? Obat-obatan yang dibuat perusahaan kita apakah sudah disalurkan?" Farrel bertanya lagi, kali ini dia melihat langsung ke arah anak buahnya itu.
Sekali lagi pria itu memeriksa data yang telah dikirimkan ke telepon genggam miliknya, ia membaca laporan itu berkali-kali lalu mengangkat kepala melihat ke arah Farrel.
"Anak buah Anda yang mengantarkan senjata ada yang terbunuh, dua orang mengalami luka serius dan satu orang tertangkap oleh pemerintah selebihnya berhasil menyelamatkan diri. Sedangkan obat-obatan laku keras dipasaran, mereka menyukai buatan tangan kita dan berjanji membelinya lebih banyak lagi. Ada beberapa rumah sakit yang meminta obat-obatan palsu tambahan dengan harga murah karena mereka mendapatkan keuntungan lebih besar." Pria itu menjelaskan lagi dengan tenang.
Mendapatkan jawaban yang diinginkannya Farrel mengangguk senang dengan senyum bahagia tidak pernah hilang dari bibirnya. Farrel berdiri, dia meninggalkan tempat itu berjalan menuju kamarnya melepas kemeja biru yang ia pakai tadi lalu menggunakan kemeja putih kesukaannya.
Farrel berjalan ke tempat tidur memperhatikan wanita yang masih memejamkan mata itu lalu mengelus wajahnya. Beberapa alat yang digunakan untuk memata-matai seseorang tersusun rapi di atas meja Farrel dalam keadaan mati yang menjelaskan kalau alat itu didapat dari tubuh di wanita
Farrel tersenyum sinis, dia membelai kepala si wanita lalu menekan tombol merah yang ada di bawah tempat tidur di mana ada brankas rahasia yang muncul dari bawah tempat tidur. Farrel mengambil gunting dari dalam sana lalu memotong rambut wanita itu hati-hati menyimpan rambut itu ke dalam kotak khusus yang ada di dalam brankas.
Setelah terpotong pendek Farrel mengambil mesin pemotong rambut untuk membersihkan rambut yang tersisa. Setelah si wanita menjadi botak Farrel tampak puas dengan hasil karyanya di mana ada beberapa luka kecil tercipta di kepala si wanita, Farrel mengambil benda panjang bulat aneh di dalam brankas memaksa benda itu masuk ke tubuh si wanita membuat wanita yang tadinya pingsan itu langsung terbangun karena kesakitan.
Wajahnya memucat dengan cairan merah kental ke luar dari sela-sela bagian pribadinya itu. Benda bulat besar itu tampak bergerak setelah Farrel menekan tombol on di bagian atas si benda, wanita itu tampak kesakitan dengan air mata mengalir deras. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa karena tali yang mengikatnya membatasi.
"Berani masuk ke kandang macam harusnya kau sudah tahu konsekuensi yang akan kau terima, sayang sekali keperawananmu terbuang sia-sia di tanganku." Farrel tersenyum mengejek, i mengeluarkan dua benda aneh lainnya dari dalam brankas memasang benda itu di bukit kembar si wanita tanpa melepas gaun yang dikenakannya.
Si wanita memekik kesakitan, dia menggelengkan kepala pertanda ingin menolak semua itu namun dia tidak berdaya sama sekali. Rasa sakit dari bagian pribadinya berubah menjadi kesenangan begitu pun dengan bagian atas tubuhnya. Suara aneh ke luar dari bibirnya meski si wanita berusaha menolak dengan cara mengigit bibir.
"Jangan menahan diri! Lepaskan saja! Aku belum terlalu baik untuk melepas orang yang berencana mengacaukan hidupku," bisik Farrel dengan tawa menakutkan, si wanita membeku dia menatap Farrel dengan mata memerah namun semua diabaikan oleh Farrel.
Farrel membiarkan wanita itu merengek serta memohon untuk dilepaskan, ia berjalan ke jendela menyalakan sebatang rokok menghembuskan asap kental ke udara. Farrel melihat orang-orang datang dan pergi dari sana sambil sesekali memperhatikan apakah ada yang mencurigakan atau tidak.
Saat ini Sisil sudah duduk di ruang tamu rumah Steve, tangannya terlipat di d**a dengan kaki saling saling menyilang satu sama lain. Dia menatap keluarga Steve dengan pandangan merendahkan membuat Steve mendengus jijik.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ada keperluan apa? Kalau kau meminta biaya pertanggung jawaban untuk kakakmu yang gila itu maaf saja kami tidak ada hubungan dengannya." Ibu Steve masih berlagak sombong, sama seperti Sisil tangannya juga terlipat di d**a.
Dia menatap Sisil dengan pandangan merendahkan sama seperti ketika dia melihat Sisil sewaktu datang ke sini memohon pada Steve untuk tidak memutuskan pertunangannya dengan Sherly. Sisil tidak menjawab, dia hanya mendengus dingin lalu menampungkan tangan pada pria di belakangnya tanpa melirik ke belakang sama sekali.
"Mana bukti hutang mereka?" ujar Sisil dengan senyum bangga pada keluarga Steve.
Buru-buru pria di belakang Sisil menyerahkan map yang dipegangnya, setelah menerima berkas itu Sisil langsung membukanya memperlihatkan tanda tangan kakak Steve di setiap kertas yang ada.
"Rumah ini, perusahaan kalian serta aset yang lain mulai hari ini akan aku sita sebagai bayaran atas hutang-hutang yang dimiliki Rocky padaku. Aku sudah berbaik hati mengurangi jumlah pembayarannya karena uang untuk modal perusahaan kalian beberapa hari yang lalu juga berasal dari diriku." Sisil meletakkan kertas itu di atas meja membiarkan semua orang melihat dengan jelas.
Rocky terkejut bukan main, dia langsung meraih surat perjanjian itu membukanya halaman demi halaman hanya untuk menemukan apa yang dikatakan Sisil adalah kebenaran. Hutang ratusan juta yang ia dapatkan dengan begitu murah beberapa hari ini ternyata adalah jebakan yang disiapkan Farrel untuk keluarga Steve demi bisa membantu Sisil balas dendam mengurangi kebencian yang ia miliki.
Steve merebut berkas itu dari tangan Steve, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sisil sebab selama ini yang Steve tahu Sisil hidup susah bahkan untuk bekerja saja dia tidak bisa. Steve memeriksa berkas salinan itu hanya untuk menemukan kebenaran yang tidak dapat dia sangkal sama sekali.
Steve mengangkat kepala dengan mulut terbuka lebar karena tidak percaya. Kenyataan yang menghantam dirinya membuat Steve mencubit tangannya membuat ia mengaduh kesakitan dan akhirnya sadar kalau dia tidak bermimpi sama sekali.
"Usir mereka dari rumah ini sekarang juga! Jangan biarkan mereka membawa barang apapun, pastikan barang-barang mewah di tubuh mereka dilepaskan." Sisil memberi perintah, sigap para pengawal yang mengantar Sisil langsung menarik keempat orang yang masih duduk membeku itu.
Ibu Steve yang paling pertama sadar, dia berteriak histeris berusaha menjangkau Sisil namun kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pengawal kekar itu.
"Ini pasti bohong! Ya, ini pasti penipuan. Kembalikan milik kami, kau itu hanya wanita miskin yang tidak punya apa-apa. Jangan berlagak sombong di depanku," ancam ibu Steve meraung marah.
Ia terus berusaha lepas dari tangan pengawal sebelum ayah Steve menenangkan dirinya.
"Nak, bagaimana kalau begini saja. Biarkan Steve kembali pada kakakmu dan anggap semua ini sebagai bagian dari hubungan keluarga kita. Aku yakin Steve pasti akan berbuat baik pada kakakmu mulai sekarang." Ayah Steve berusaha membujuk Sisil dengan suara lembut.
Rocky juga ikut bertindak dia memikirkan sesuatu sebelum berkata, "ya Sisil! Bukankah kakakmu sangat mencintai Steve? Bukankah waktu itu kau memohon agar Steve mau kembali bersama kakakmu? Bagaimana jika perusahaan kami dibalik nama atas nama Sherly dan biarkan mereka menikah."
Sisil tersenyum mengejek, dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah ke keluarga Steve yang hampir mencapai pintu. Ia memegang guci mahal yang dulu sangat dibanggakan oleh ibu Steve mendorongnya perlahan menyebabkan guci itu hancur berkeping-keping di lantai.
Ibu Steve terkejut bukan main melihat itu, dia kembali meraung marah dengan mata memerah seperti ingin memakan Sisil.
"Dasar wanita miskin! Berani sekali aku menghancurkan barang-barang mahal milikku, asal kau tahu kau tidak akan mampu membelinya sama sekali." Ibu Steve sangat marah, air matanya jatuh saat melihat pecahan guci di lantai.
Tawa lembut bergema di rumah itu, Sisil menatap keluarga Steve dengan tatapan meremehkan lalu menendang pecahan guci itu hingga sampai ke kaki ibu Steve membuat ibu Steve berhenti bergerak sembarangan.
"Kau lihat seperti apa guci itu kalau sudah pecah kan? Kalian sudah memahami tujuanku bukan? Dulu, saat aku memohon kalian ke mana? Dulu di saat kakakku dibawa ke rumah sakit untuk mengugurkan kandungannya apakah kalian berbicara? Tidak, kalian malah ikut menghina serta merendahkan kami." Sisil meremas tangannya kuat, kukunya yang panjang hampir masuk ke dalam daging, beruntung dia mengingat pesan Farrel untuk tidak menyakiti tubuhnya.
"Apa yang kalian katakan padaku saat aku datang ke sini setiap hari memohon dan meminta agar kalian memberi kami biaya pengobatan bahkan atas nama pinjam. Kalian menertawakanku, kalian mengejek diriku lalu membangga-banggakan keluarga Anandita, keluargaku sendiri di depanku." Sisil sekali lagi menendang pecahan guci kali ini pecahan itu sampai di kaki Steve.
Sisil mendengus, ia berjalan mendekat ke arah Steve yang ditahan dengan kuat oleh pengawal yang dibawa Sisil. "Kau, kau memilih Anandita yang kaya, Anandita yang memiliki dukungan, Anandita yang bisa memberimu uang serta jabatan. Lalu sekarang kenapa kau meninggalkan Anandita, ha?"
Kaki Steve ditendang oleh Sisil membuat Steve mengaduh kesakitan hingga tubuhnya membungkuk. Tulang kering di kaki Steve terasa begitu sakit tapi dia tidak bisa melawan. Ia hanya bisa menatap Sisil penuh peringatan seolah mengancam.